Sorry 14

1579 Kata
Tak ada siapapun di kamar perawatan ini artinya tak ada siapapun yang menungguinya. Mungkin memang seperti itu, tak ada orang yang benar- benar mengharapkannya membuka mata. Ia teringat tadi ia terbangun karena memimpikan seorang anak kecil yang menggenggam jemarinya. Rasa hangat jemari mungil yang menggenggamnya itu bahkan masih terasa di jemarinya. Terdengar suara pintu dibuka dan ditutup. Saat menoleh ternyata Anjas keluar dari kamar mandi di ruang rawat Hans. "Sudah sadar?" Anjas menghampiri Hans yang hanya diam termenung melihat langit- langit kamar rumah sakit. "Sebentar aku panggil dokter," karena tak mendapatkan respon, Anjas hendak menekan tombol di sebelah ranjang Hans namun dicegah oleh Hans. "Tidak perlu, aku sudah lebih baik," katanya sambil tersenyum. "Kamu yakin?" Anjas memastikan. Hans mengangguk sebagai jawaban. "Syukurlah, kamu kok tumben nyetir gak hati- hati?" "Hhh.." Hans menghela napas pendek, " Aku emang agak kurang fokus, buru- buru pengen cepet sampai rumah, by the way thanks ya, udah nungguin aku." "Santai aja lah, Hans. Kayak sama siapa aja." Mereka mengobrol sebentar sebelum Hans mengusir Anjas pulang. Dia merasa tak enak merepotkannya. "Kamu ngusir aku nih critanya?" Anjas setengah kesal saat Hans menyuruhnya pulang. "Aku udah gak papa, sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Besok jangan lupa bawaain aku sarapan ya. Aku gak suka makanan rumah sakit." "Sialan. Ternyata ada maunya. Ya udah aku balik dulu." Sepeninggal Anjas ruangan kembali sepi. Dipejamkannya mata meresapi kesunyian yang membuat hatinya merepih. Bayangan Reyna muncul sekilas, tatapan terlukanya menghunjam hati Hans. Rasa penyesalan muncul lagi, entah kenapa beberapa hari ini bayangan Reyna sering muncul. Ia masih berhutang kata maaf pada Reyna. Di ruang perawatan Reyna, Rayan dan Faira berebut si kecil menggemaskan yang tidur tanpa terusik kebisingan yang mereka ciptakan. "Siniin Ray, aku juga mau gendong," Faira merengek. "Bentar Ra, aku masih pengen gendong. Nanti deh kamu puas- puasin," balas Rayan sambil berjalan menghindar dari Faira yang terus mengekorinya. Faira mengerucutkan bibirnya dan menghentakkan kaki kesal. Reyna yang terbaring di ranjang rumah sakit tersenyum melihat tingkah sepasang kekasih itu. Reyna POV Bahagia yang aku rasakan saat ini, tak bisa terkatakan. Melihat anakku yang lahir selamat tanpa kurang satu apapun adalah harapan terbesarku akhir- akhir ini. Apalagi melihat kedua sahabatku yang menyambut anakku dengan antusias. Bahkan tingkah mereka saat ini seperti anak- anak yang berebut mainan. "Rey, Rayan nyebelin banget sih," Faira datang ke arahku dengan langkah kaki menghentak dan bibir cemberut, menghempaskan pantatnya di kursi sebelah ranjangku. Aku tersenyum menanggapi kekesalannya. Aku berterima kasih banget sama dia karena dia bersedia menemaniku di ruang persalinan tadi malam. Oek... oek... oek Belum sempat menanggapi kekesalan Faira, tersengar suara anakku merengek. "Siniin Ray, laper dia kayaknya," aku mengedipkan sebelah mata ke arah Faira yang berbinar dan menatap Rayan mengejek. "Ah baby... kok nangis sih. Kan daddy belum puas gendong," rengek Rayan dengan bibir cemberut dan berjalan ke arahku. Aku menyambut anakku, dengan hati- hati kutempatkan ia di pangkuanku. "Waktunya breastfeeding, jadi pria harap keluar," Faira mengibaskan tangannya mengusir Rayan dengan senyum kemenangan. Aku tersenyum ke arah Faira yang tersenyum balik ke arahku. "Dasar pria serakah," Faira mencibir Rayan. Aku terkekeh kecil mendengar cibiran Faira. "Tapi pria serakah itulah yang berhasil mengambil hatimu," selorohku. Faira hanya menanggapi dengan tawa renyah kemudian menowel-nowel pipi anakku. "Namanya siapa Rey?" tanyanya kemudian tanpa melihat ke arahku karena masih asyik dengan kegiatannya. Aku terdiam sebentar, kemarin untuk mengusir rasa bosan di rumah aku mencari referensi nama yang lucu. Tapi entah kenapa tak ada yang srek di hati. "Reyhan," aku tersenyum menatap bayi mungil di pangkuanku. "Reyhan?" Faira mengalihkan tangannya yang di pipi Reyhan dan menatapku. Aku mengangguk dan tersenyum menatap Reyhan sayang. "Saat kamu mengejan terakhir kali dan akhirnya Reyhan lahir, kamu mengucapkan satu nama. Apa dia ayah Reyhan?" Deg Aku menegang, sesaat kemudian aku berusaha menormalkan wajahku dan mengangkat wajah menatap Faira yang juga tengah menatapku serius. Kami hanya saling pandang sampai Faira berkata, "Hans, nama itu yang kamu teriakkan." Aku tak bisa menyembunyikan ekspresi kaget di wajahku. "Bener kan, dia ayah Reyhan? Nama yang kamu berikan pun memperjelas semuanya." Aku tak mampu berkata- kata. Menyangkal pun percuma karena aku tak menemukan alasan apapun di otakku yang terasa kosong sekarang. "Rey, kenapa kamu gak mau bilang. Siapa dia sebenarnya? Apa Rayan kenal?" "Jangan. Tolong jangan beritahu Rayan," kataku cepat. Faira menatapku lama. "Ok. Tapi kamu harus cerita siapa dia?" Faira menawarkan negosiasi khas Rayan. "Ck.. kamu sama Rayan emang soulmate deh. Setipe, apa- apa harus nego dulu," balasku cemberut. "Yes, we are," kata Faira bangga. "Hans itu temen om Anjas juga rekan bisnis papa," jelasku singkat. Faira mengerutkan keningnya, "Udah tua dong?" "Enak aja. Dia gak tua tapi dewasa," bantahku. "Cie.. gak trima," godanya, "Trus gimana ceritanya bisa ada Reyhan?" "Ck.. masa' calon dokter gak tahu gimana cara buat anak sih?" "Bukan itu maksudku," kata Faira gemas. "Kalian pacaran trus kebablasan atau gimana?" Reyna menggeleng, "Aku suka dia, tapi dia gak suka aku." "Trus gimana melakukan "itu" kalau dia gak suka?" Faira menggerakkan dua jarinya saat mengatakan 'itu'. "Pria mah kayak kucing Ra, disodorin ikan tetep aja dimakan. Lagian dia di bawah pengaruh obat perangsang," terangku. Faira terlihat kaget, "Kamu kasih dia obat?" Aku menabok tangannya, "Enak aja, aku gak serendah itu. Ada yang masukin ke dalam minumannya." "Oh.. kirain kamu nekat. Lagian kamu yakin cuma suka doang. Kalau cuma suka kamu gak akan mau tidur sama dia." "Yah, mungkin memang aku cinta sama dia. Saat tahu kalau dia kesakitan tanpa pikir panjang aku masuk ke kamarnya," aku terbayang peristiwa malam itu dan kuceritakan pada Faira tanpa ada yang terlewat. Minus adegan plus- plus tentu saja. Ekspresi Faira berubah- ubah mendengar ceritaku. Kadang melotot kaget, menggeram marah dah berkaca- kaca. "Tolong jangan cerita ke Rayan ya, Ra," aku menatapnya penuh harap. Faira terlihat berpikir kemudian mengangguk setelah menghela napas dalam. "Cepat atau lambat Rayan pasti menyadarinya, Rey. Reyhan gak mirip sama kamu kecuali bibir mungilnya," kata Faira sambil mengelus bibir Reyhan. "Dia mirip ayahnya, kan?" Ya, Faira memang benar Reyhan lebih mirip Hans. Rambut coklat gelap, mata hitam kelam dan hidung yang bagai perosotan itu adalah milik Hans. Hal yang membuatku terpesona saat melihatnya pertama kali didukung dengan rahang yang kokoh dan tubuh atletis. Pemandangan yang membuatku terperosok di lorong gelap. Tapi sekarang aku menemukan lentera yang menerangi lorong gelapku. Yah, Reyhan bagai lentera di hidupku. "Biarlah orang tahu suatu hari nanti. Namun aku berharap, tidak dalam waktu dekat. Aku ingin saat hari itu tiba aku sudah berdiri di kedua kakiku sendiri," jelasku sambil menerawang jauh. Reyna POV end Hari berganti begitu cepat. Genap tiga tahun Reyna tinggal di Ausie dan tak pernah pulang ke Indonesia membuat mamanya uring- uringan dan terus mendesak Anjas untuk segera mencari pendamping hidup karena Reyna berkata akan pulang jika Anjas menikah. Reyna kuliah seperti biasa dan belajar keras agar lebih cepat lulus. Dalam mengasuh Reyhan ia dibantu seorang nenek yang tinggal di apartemen seberang. Seorang nenek yang tinggal seorang diri karena anak- anaknya sudah menikah dan tinggal di rumah masing- masing. Hasil tidak akan mengkhianati proses, Reyna berhasil menyelesaikan pendidikannya lebih cepat dan sekarang ia bekerja di suatu perusahaan properti. Rayan dan Faira masih menjadi orang terdepan yang mendukung dan melindungi Reyna dan Reyhan. Mereka masih menyelesaikan pendidikan mereka menjadikan intensitas pertemuan mereka berkurang. Namun saat hari libur mereka akan menghabiskan waktu bersama dengan jalan- jalan ke taman atau hanya sekedar malas- malasan di apartemen. Seperti hari ini mereka berkumpul di apartemen nenek Michele, pengasuh Reyhan. "Sini boy, naik ke punggung daddy," bocah berumur 2 tahun lebih itu dengan girang naik ke punggung Rayan. Faira memegangi bahunya agar tidak terjatuh. Reyna dan nenek Michele membuat kue di dapur. Senyum tak pernah luntur dari bibir Reyna yang merasa sangat bersyukur dikelilingi orang- orang yang selalu mendukungnya. "Kue sudah siap!" teriak Reyna setelah muncul dari arah dapur dengan nampan berisi teh dan kue dalam piring. Nenek Michele menyusul di belakangnya. "Yey..." sorak Faira menirukan suara anak kecil. Dengan langkah kecilnya Reyhan berlari ke arah Reyna yang sudah merentangkan tangan menyambut pria kecilnya setelah menaruh nampan di meja. Tawa renyah bocah itu menular pada empat orang dewasa yang mengawasinya. Dengan gemas Reyna menciumi pipi cubby anaknya. "Diminum tehnya, Nak," titah nenek Michele pada tiga orang muda mudi yang sudah dianggapnya seperti cucu sendiri. "Makasih, Nek. Maaf ya kami merepotkan Nenek. Harusnya nenek kan bisa santai hari ini," balas Faira. "Ah, Nenek justru senang kalian datang," kata nenek sambil mengibaskan tangannya. "Nek, anak Nenek ada yang masih single gak, Nek?" Faira melontarkan pertanyaan yang membuat semua orang di ruangan itu menatap ke arahnya kecuali Reyhan tentu saja. Rayan menatapnya tajam, Reyna menatapnya heran sementara nenek Michele menatapnya penasaran membuat Faira terkekeh kecil. "Kenapa?" tanya nenek Michele. "Ya kalau ada kan bisa jadi kandidat ayah buat Reyhan, Nek," katanya sambil tersenyum menggoda ke arah Reyna. Reyna yang mendengar penuturan Faira melotot dan mencubit kecil lengan Faira membuat gadis itu mengaduh. "Rey, jangan KDRT! Nanti Reyhan lihat, ikut- ikutan lagi," bela Rayan. "Faira aja yang lebay. Orang gak sakit kok," Reyna cemberut. "Lagian salah Faira apa, sampai kamu cubit dia?" Rayan masih terus membela kekasih hatinya membuat Faira tersenyum senang. Semenjak Reyhan lahir mereka sepakat mengubah panggilan loe gue jadi aku kamu. "Ya habis nanya- nanya gitu sama Nenek. Aku kan malu. Kayak gak laku aja akunya," Reyna membela diri. "Ya emang kenyataan kok. Selama ini memang kamu kan jomblo," Rayan masih tak mau kalah. Mereka saling menatap sengit sementara Faira sang provokator menyembunyikan senyumnya. "Siapa bilang Reyna jomblo?" nenek Michele menyela perdebatan dua sahabat itu. Gotcha Faira tersenyum licik. Rencananya berhasil. Dia harus memastikan sesuatu. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN