"Iya, Sayang?" sahut Frans tidak kalah lembut.
"Aku deg-degan. Aku takut," ucapnya.
"Aku akan melakukan dengan pelan dan lembut, Sayang."
"Janji, ya."
"Iya, Sayang. Apa kamu siap?"
Dengan malu-malu, Nur menganggukkan kepala.
Frans mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di atas ranjang pengantin dengan sangat hati-hati dan lembut. Dia mulai membelai wajah dan rambut Nur yang sekarang berganti status dari pacar menjadi istri.
"Mas."
"Hemm," sahut Frans tanpa menghentikan belaian tangannya.
"Aku bahagia, akhirnya kita menikah dan sah menjadi istrimu, Mas," ucap Nur dengan bola mata beredar mengabsen setiap inci wajah tampan suaminya.
"Aku juga bahagia, Sayang," timpal Frans lalu mendaratkan satu kecupan pada bibir Nur.
Pandangan mereka saling beradu dengan penuh cinta. Sekali lagi Frans mendaratkan bibirnya pada kening istrinya. Nur memejamkan mata merasakan lembutnya sentuhan cinta Frans.
Frans mulai mengaktifkan tangannya menjelajahi tubuh istrinya. Dengan lembut Frans memperlakukan Nur layaknya seorang ratu.
"Mas," panggil Nur lirih.
"Hemm," jawab Frans lembut.
"Pelan-pelan!"
"Pasti, Sayang. Aku tidak akan menyerang langsung. Aku akan membuat tubuhmu hangat dulu," bisik Frans di telinga Nur.
Hembusan angin yang keluar dari bibir dan hidungnya tentu saja langsung menerpa kulit Nur dan langsung membuatnya merinding geli dan nikmat.
"Emm. Mas, geli," desah Nur ketika Frans kembali menjelajah kulitnya.
"Aku senang itu, Sayang," bisik Frans.
"Mas," panggil Nur lagi.
"Ya, Sayang."
"Aku haus. Boleh aku minum lagi?" ucap Nur menatap mata suaminya dengan lembut.
Frans tersenyum. Dia maklum bila Nur gugup karena ini malam pertama mereka. Dan mereka baru mau melakukannya.
"Biar aku yang ambil minum untukmu."
Frans berjalan mengambil gelas minum yang tadi dia letakan di atas meja. Dengan senyum, Nur menerima gelas itu dan meminumnya. Frans kembali meletakkan gelas ke tempat semula.
"Apa sekarang sudah siap?" ucap Frans sembari menarik lembut hidung mancung istrinya.
"Sekarang aku siap, Mas."
"Tidak akan minum lagi?" canda Frans.
Nur menggelengkan kepalanya malu.
Frans tersenyum. Pria itu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Dua anak manusia bergumul di balik selimut tebal.
"Mas," panggil Nur lagi.
"Ya."
"Aku mau pipis," ucap Nur merasa tidak enak hati pada suaminya.
"Pergilah! Aku akan menunggumu," ucap Frans sabar.
Dengan cepat wanita itu berlari ke kamar mandi dan menutup rapat pintu kamar mandi.
"Ya, ampun. Kenapa banyak sekali hambatannya? Sabar Frans, sabar," ucap Frans sambil mengelus d**a.
Nur masih saja berkutat di dalam kamar mandi. Sebenarnya tidak ada yang dia lakukan di sana, dia hanya berdiri saja. Nur bingung dan grogi.
"Dek, sudah belum pipisnya?" panggil sang suami yang masih berbaring dengan menyandarkan kepala menunggu dengan setia.
"Sebentar, Mas, pipisnya banyak," sahut Nur sembari menghidupkan air kran.
Badan Nur gemetar bukan karena takut di marahi, tapi karena tidak tau apa yang harus dilakukan saat ini.
Nur kembali ke luar dengan senyum kaku dan malu. Dia berjalan mendekati suaminya yang terus memandangi tubuhnya.
"Sudah, Dek?" tanya Frans sembari membenarkan posisinya agar siap menyambut sang istri.
"Sudah, Mas." Senyum tipis Nur mengembang malu.
"Masih ada yang mau di lakukan lagi, ga? Mau minum?" ucap Frans tersenyum menggoda istri cantiknya itu.
"Mas, jangan mengejekku! Aku khan, grogi, Mas," ucap Nur tersipu malu mencubit pinggang Frans.
"Mau lanjut atau mau tidur?"
"Memangnya Mas Frans sudah selesai?" tanya Nur bingung. Alis matanya terangkat.
"Selesai apanya?"
"Itu."
"Itu apa?" goda Frans pura-pura tidak tau.
"Itu lho, Mas," ucap Nur malu untuk mengatakannya. Hanya saja matanya menatap sesuatu yang menonjol di antara dua pangkal kaki Frans.
"Apa sih, Mas ga paham deh?" ucap Frans masih berlagak tidak mengerti.
"Ish, Mas, ini. Ya, selesai itunya." Wajah Nur semakin merona.
"Apa kamu mau lanjut?" ucap Frans berbisik di telinga istrinya.
"Mas, geli," ucap Nur sembari mendorong pelan tubuh suaminya.
"Kata orang yang geli itu yang enak lho, Dek."
"Mas," panggil Nur sembari menyandarkan kepala pada d**a bidang Frans.
"Iya, Sayang?" Frans membelai lembut rambut istrinya.
"Apa harus belah duren malam ini juga?" tanya Nur sembari meremas jemari Frans.
"Kenapa kok tanya begitu? Apa kamu belum siap?"
"Aku masih takut, Mas," ucap Nur jujur sembari mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Frans.
"Apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut sakit. Kata orang kalau malam pertama itu sakit."
"Sakit, tapi enak, Sayang," ucap Frans sembari mencubit hidung istrinya dengan lembut.
"Memangnya Mas Frans sudah pernah coba?"
"Belum. Mas maunya coba sama kamu." Frans kembali menggoda istrinya.
"Kalau kamu belum siap, aku tidak akan memaksa, Dek. Masih ada hari esok lagi," lanjut Frans mengeratkan pelukannya.
"Apa Mas masih tahan?"
"Sebenarnya sih udah ga tahan, dari tadi sudah ada yang memberontak, tuh." Mata Frans mengarah pada cucak rowo yang masih bertengger.
"Apa Mas yang memberontak? Kenapa di jaman moderen ini masih ada pemberontakan? Bukannya pemerintahan kita sudah bagus, Mas?" tanya Nur bingung. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya memberontak yang dimaksud oleh Frans.
Frans tertawa terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya. Nur sangat polos dan lugu. Ternyata dia tidak mengerti kode mata yang dia berikan.
"Ih, kenapa Mas Frans tertawa? Memangnya ada yang lucu?" geramnya sembari memukul kecil d**a suaminya.
"Kamu yang lucu, Sayang. Yang memberontak itu bukan teroris atau penjahat, tapi itu tuh yang ada di dalam sana," ucap Frans sembari menunjuk aset berharga miliknya. Kali ini dia menunjuk dengan tangan mengusapnya lembut.
Mata Nur mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Frans.
"Mas ini lho," ucap Nur tertawa malu saat sudah mengerti apa yang dimaksud memberontak oleh suaminya.
"Sekarang kita tidur saja ya, sudah malam. Aku ngantuk banget," ucap Frans.
"Jadi, malam ini kita tidak jadi belah duren, Mas?" tanya Nur dengan wajah sumringah senang.
"Kok kamu malah senang kita tidak jadi belah duren malam ini?"
"He ... he ... bukan begitu, Mas. Aku juga sudah ngantuk. Terus kapan dong kita mau belah durennya?" Nur kembali salah tingkah.
"Besok malam ya, tapi kamu harus janji," sahut Frans.
"Janji apa, Mas?"