Bab.3

948 Kata
  "Janji tidak akan minum lagi, janji tidak akan pipis lagi."   "He ... he ... iya, Mas. Besok aku mau belah duren tanpa gangguan lagi," ucap Nur tersenyum malu karena malam ini gagal hanya karena dirinya yang belum siap.   "Ya, sudah kita tidur, sudah malam."   Frans memeluk tubuh istrinya dan membawanya lelap dalam dekapan malam.   Pagi hari yang cerah, secerah wajah Frans. Pria itu sudah membuka matanya. Di tarik tubuhnya bersandar setengah duduk. Dipandanginya wajah polos dan cantik wanita yang baru kemarin sah menjadi istrinya.   Tangannya menyibakkan rambut Nur yang menutupi wajah ayu istrinya.   Nur masih terlelap dengan memeluk tubuh Frans di bagian pinggang. Di raih tangan lembut wanitanya dan di genggamnya dengan lembut. Sesekali Frans mencium punggung tangan istrinya yang terlihat lentik dan putih mulus.   Rasa syukur yang tidak terhingga karena dia bisa memiliki wanita yang selama ini dia cintai.   "Mas," panggil Nur saat membuka matanya.   "Kamu sudah bangun, Sayang?"   "Apa aku kesiangan?" tanya Nur sembari menarik tubuhnya dan bersandar pada d**a bidang sang suami.   "Tidak, Sayang. Ini masih terlalu pagi."   Mata Nur melirik ke arah jam dinding yang tergantung di kamarnya. Masih jam empat pagi.   "Kok kamu sudah bangun jam segini, Mas?"   "Aku ga bisa tidur."   "Kenapa? Apa kamu masih kepikiran yang semalam, Mas? Apa pemberontak itu mengganggumu?" tanyanya polos.   "Siapa yang memberontak?" tanya Frans menggoda istrinya.   "Itu," ucap Nur menunjuk aset milik suaminya dengan pandangan mata.   Frans tertawa.   "Ternyata kamu sudah mulai pinter, ya. Pagi-pagi sudah menggodaku," ucap Frans mencium pucuk kepala istrinya.   "Bagaimana kalau kita lakukan serangan fajar?" tanya Frans pada istrinya.   "Serangan fajar? Memangnya siapa Mas yang mau kita serang? Apa ada musuh di sini?" tanyanya dengan wajah super polos.   Sekali lagi Frans tertawa, tapi kali ini tawanya lebih lepas.   "Ish, Mas ini selalu menertawakan aku," ucap Nur dengan muka cemberut.   "Habisnya kamu lucu banget sih sayang. Kamu itu terlalu polos atau bodoh, ya?" Frans mencubit dari Nur.   "Mas kok ngatain aku bodoh?" Wajah Nur tambah cemberut.   "Iya, iya, maaf. Kamu tidak bodoh, kok. Hanya polos banget." Frans mengacak rambut istrinya dengan lembut.   "Memangnya apa serangan fajar itu?" Nur kembali bertanya.   "Mau tau serangan fajar itu apa?"   Nur menganggukkan kepalanya manja.   Frans tersenyum melihat wajah polos Nur.   "Serangan fajar itu ... seperti ini," ucap Frans langsung menghujani wajah istrinya dengan beberapa sentuhan manis dari bibirnya.   Mereka terhanyut dalam buaian asmara. Nur yang masih merasa bingung dengan serangan fajar hanya bisa pasrah menikmati perlakuan suaminya.   Seiring jalannya waktu, Nur mulai mengimbangi sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh pria yang dia cintai.   Tok! Tok! Tok!   "Frans, Nur!" panggil sebuah suara dari balik pintu.   Seketika suara itu menghentikan seluruh aktifitas dua anak manusia yang sedang dimabuk asmara Bukan hanya aktifitas fisik saja, tapi aliran darah dan sengatan listrik yang mereka rasakan terasa berhenti dan putus seketika itu juga.   "Nur, ayo bangun sudah pagi! Pengantin baru tidak boleh bangun siang."   "Iya, Bunda," sahut Nur dari balik selimut.   Matanya menatap Frans dan tersenyum lucu. Wajah Frans terlihat sangat kesal dan kusut.   "Kenapa wajahmu jelek seperti itu, Mas?"   "Gagal lagi," gerutunya lesu dan putus asa.   Nur tersenyum melihat ekspresi wajah suaminya.   "Sabar, Mas, masih ada waktu. Nanti malam kita tempur lagi," ucap Nur sembari mengusap pipi Frans.   "Kenapa sih, Dek, susah banget mau menikmati surga dunia bersamamu?"   "Mungkin ini ujian untuk sebuah kenikmatan, Mas."   "Tapi tidak gini-gini amat juga kali, Dek. Bikin kepala pusing saja." Frans terlihat lesu.   "Nanti aku pijitin, Mas. Atau mau aku belikan obat, Mas?"   "Obat? Untuk apa?" Mata Frans membulat.   "Katanya Mas Frans kepalanya sakit?"   "Pusing, Dek, bukan sakit. Pusing karena gagal belah durennya."   "Oh, kirain aku sakit."   "Kamu tuh ya, bikin aku greget tau. Pingin cepat-cepat aku menggigit dan memakan buahmu," ucap Frans mencubit kedua pipi Nur gemas.   "Sakit, Mas."   "Habis kamu tuh lucu."   "Sudah ah, Mas, aku mau bantu bunda beres-beres dulu. Takut bunda ngomel."   Nur meninggalkan suaminya dengan rasa kecewa.   "Kenapa selalu saja gagal sih? Tegangan sudah tinggi malah jadi drop, loyo lagi deh," ucap Frans kesal.   Nur berjalan ke luar kamar dengan wajah yang dihiasi samar lingkaran hitam pada matanya. Nampak jelas wanita itu kurang tidur.   "Eh, pengantin baru sudah bangun. Bagaimana? Enak?" goda wanita setengah baya yang di panggilnya bunda.   "Bunda apaan, sih," sahut Nur tersipu malu.   "Jangan malu-malu. Bunda juga dulu pernah muda kok, pernah menjadi pengantin baru," bisiknya lirih.   Wajah Nur kembali merona. Kali ini bukan suaminya yang membuat malu, tapi bundanya yang membuatnya tersipu malu.   "Bunda mau masak apa?" tanya Nur mengalihkan pembicaraan.   "Bunda mau masak sayur terong, biar suamimu makin jreng," goda wanita itu pada putrinya.   "Bunda, jangan menggodaku! Aku malu." Lagi-lagi wajah Nur terasa panas karena terbakar rasa malu.   "Bagaimana suamimu? Kuat, tidak?" godanya lagi.   "Bunda, memangnya sayur terong bisa buat kuat?" tanyanya penasaran.   "Bisa. Makanya bunda mau masak terong. Biar suamimu kuat dan bunda cepat mendapatkan cucu."   "Bagaimana mau buat cucu Bunda, istriku saja masih malu-malu kucing," ucap Frans tiba-tiba datang dan ikut nimbrung pembicaraan mereka.   "Jadi kalau belum-" Rika memberi kode menggunakan gerakan tangan dengan jari saling menguncup dan beradu. Matanya memandang dua manusia di hadapannya itu secara bergantian.   "Belum Bunda," ucap Nur sembari mengalihkan tatapannya dan fokus pada sayuran di hadapannya.   "Ya ampun, kasihan sekali menantu bunda ini," ucap Rika sembari menggoda menantunya, Frans.   "Tapi Bunda tenang saja! Nanti malam pasti aku akan menyerangnya," ucap Frans lirih sedikit mencondongkan tubuhnya pada mertuanya itu.   "Ingat! Jangan terlalu buas!" ucap mertuanya mengimbangi dengan suara lirih pula.   "Tenang saja, Bunda. Aku akan melakukannya dengan sangat lembut, agar cepat tercipta mahkluk kecil yang Bunda sebut cucu," ucap Frans dengan senyum tipis.   "Bunda pegang janjimu. Cepat beri bunda cucu! Jangan terlalu lama," balas Rika.   Mereka masih asyik berbisik-bisik hingga tidak menyadari kalau Nur memperhatikan sejak tadi.   "Bunda, Mas. Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mau dengar. Kalian suka sekali menggodaku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN