Bab.4

1048 Kata
  "Aku tidak menggoda, Sayang," ucap Frans memeluk Nur dari belakang.   "Aku mau bantu bunda masak, Mas. Sebaiknya kamu duduk saja di sini!" Nur melepaskan tangan Frans dari perutnya. Dia malu karena Frans berani memeluk di hadapan bundanya.   "Eh, siapa suruh dia duduk? Pagi-pagi begini pengantin baru tidak boleh duduk manis. Kamu harus berolahraga. Supaya nanti malam kamu bisa kuat, bukan hanya satu ronde. Kalau kamu rajin olahraga, bunda yakin kamu akan mengalahkannya sampai tiga ronde," ucap Rika sembari tersenyum menggoda menantunya.   "Siap, Bunda. Jangankan tiga ronde, lima ronde aku masih mampu," ucap Frans tertawa kecil menimpali candaan ibu mertuanya.   "Mas, sebaiknya kamu cepetan pergi dari sini deh! Kamu dan bunda tuh sama saja, suka menggodaku," ucap Nur sembari mendorong tubuh suaminya pelan agar pria itu pergi dan tidak mengganggunya lagi.   "Nur, bunda khan masih mau ngobrol sama suamimu."   "Tidak, Bunda. Kalau Bunda ngobrol, kapan terongnya matang?" tolak Nur tidak mengizinkan mereka ngobrol lagi.   "Ada kamu. Kamu bisa masak terong, khan?" Rika tersenyum penuh arti.   "Ya, bisa, tapi Bunda dan mas Frans selalu saja sekongkol mengejekku."   "Kami ini khan, mertua dan menantu yang kompak," ucap wanita itu.   Hubungan antara Frans dan mertuanya memang sudah seperti anak sendiri. Sejak Frans berpacaran dengan Nur, Frans sudah dekat dengan bunda Rika. Sedangkan ayah Nur sudah lama meninggal sejak Nur masih remaja.   Nur membantu bundanya menyiapkan sarapan. Kedua wanita itu adalah jago dapur, rasa masakannya tidak diragukan lagi. Bagaimana pun Nur adalah wanita yang mandiri dan gemar membuat makanan dan gemar memasak.   Makanya dia bisa mendirikan rumah makan, meski pun masih terbilang sederhana. Warung makan Nur pun bisa dibilang ramai karena rasanya enak. Bahkan dia sering menerima pesanan dalam porsi besar.   Nur bukan tidak berpendidikan. Dia lulusan universitas ternama di kota. Hanya saja dia memilih menemani bundanya di kampung. Frans sendiri tidak keberatan dengan keputusan Nur.   Hari ini, Nur maupun Frans tidak bekerja dan tidak pergi ke warung makan miliknya. Mereka masih menikmati hari-hari kebahagian sebagai pengantin baru.   Sepanjang hari hanya mereka habiskan dengan bercengkerama dan beraktifitas di rumah saja. Frans lebih suka menggoda istrinya.   Frans merupakan pria yang tampan dan bertanggung jawab. Dia juga pria yang humoris dan romantis. Banyak wanita yang menyukainya, tapi cintanya berlabuh pada Nur.   Sedangkan Nur, dia wanita yang sangat sederhana. Sopan dan cantik. Pembawaannya lemah lembut, tapi jangan salah. Meski pun dia wanita yang lemah lembut, Nur bisa menjadi seperti singa bila disakiti.   Tidak sedikit pria yang ingin mempersuntingnya untuk dijadikan istri. Bahkan dia pernah dilamar oleh pria beristri tiga, Nur mau dijadikan istri keempatnya. Dengan mentah-mentah Nur menolaknya.   Malam hari.   Kali sepasang pengantin baru itu memasuki kamar. Awalnya mereka hanya bercengkerama saja. Nur berbaring menyandarkan kepalanya pada d**a bidang milik suaminya.   Wanita itu memang suka kalau disuruh bermanjaria pada suaminya. Frans sendiri sangat menyukai sikap manja istri tercintanya. Bahkan itu yang selalu menjadi alasan Frans untuk merindukannya.   "Dek," panggil Frans sembari mengusap lembut rambut Nur.   "Ya, Mas."   "Seandainya aku tidak ada, aku ingin kamu hidup bahagia," ucap Frans.   "Kamu ngomong apa sih, Mas! Aku tidak suka Mas bicara seperti itu," ucap Nur kesal.   Wanita itu bangkit dari posisinya dan duduk di hadapan Frans dengan memandang wajah tampan suaminya itu.   "Namanya umur orang, Dek. Siapa yang tau, kapan kita kembali pada-Nya."   "Tapi aku tidak suka kalau kamu bicara seperti itu. Kesannya Mas tuh mau ninggalin aku. Atau jangan-jangan Mas Frans mau menikah lagi dengan wanita lain?" Wajah Nur cemberut.   "Tidak ada wanita lain selain kamu, Sayang. Hanya kamu yang ada di dalam hatiku. Seumur hidupku, hanya kamu istriku sampai aku mati."   Frans meraih tangan istrinya dan menggenggamnya lembut. Pria itu menatap intens wajah cantik bidadari di hadapannya. Senyum manis mengembang dari bibirnya.   Tatapannya seolah enggan berpindah. Frans ingin selalu menikmati wajah cantik istrinya. Berlahan tangannya mengusap pipi mulus Nur. Pria itu menjelajah wajah istrinya dengan sentuhan tangannya yang lembut.   "Wajah ini, akan selalu aku bawa sampai kapan pun," ucapnya dengan senyum tipis, seakan pria itu menyimpan sebuah kerinduan yang tidak akan pernah habis.   "Mas, wajah ini akan selalu ada untukmu. Aku milikmu dan kamu milikku. Kamu tidak akan pernah kehilangan wajah ini."   "Dek, berjanjilah padaku! Kamu akan tetap menjaga kecantikan wajahmu. Apapun yang orang katakan padamu, kamu harus berjanji padaku bahwa kamu akan selalu tersenyum dengan senyuman manis ini." Frans mengusap lembut bibir Nur menggunakan ibu jarinya.   "Aku janji, Mas."   "Sekarang tersenyumlah untukku! Berikan aku senyum termanis yang tidak pernah akan aku lupakan! Agar aku bisa bahagia dan damai."   Tanpa menunggu lama, Nur pun memberikan senyum termanisnya.   "Nah seperti ini. Aku mau kamu selalu tersenyum seperti ini di hadapanku."   "Aku janji, Mas. Mas juga harus selalu tersenyum untukku."   Frans tersenyum mendengar perkataan istrinya. Dengan lembut, pria itu merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan hangat. Suara detak jantung mereka saling berpacu seperti suara alunan musik halus.   Frans mendaratkan bibirnya pada kening istrinya.   "Mas, aku siap," ucap Nur.   "Apa kamu yakin? Kalau kamu belum siap, aku tidak memaksamu, Sayang. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap."   "Malam ini aku siap, Mas, tapi pelan-pelan, ya."   "Pasti, Sayang, aku akan melakukannya dengan sangat lembut agar kamu juga menikmatinya."   Nur tersenyum mendengar perkataan suaminya. Wanita itu semakin mengeratkan tangannya yang sedari tadi sudah melingkar indah di tubuh kotak-kotak milik suaminya.   Frans membawa tubuh istrinya berbaring di atas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi semua bagian tubuh mereka. Selimut bergerak-gerak dengan suara napas yang saling memburu.   Tiba-tiba Frans menghentikan gerakannya dan memandangi wajah istrinya.   "Ada apa, Mas?" tanya Nur heran.   "Aku haus, Dek, bisakah kamu mengambilkan minum untukku?"   "Aku akan mengambilkan untukmu, Mas."   Wanita itu turun dari ranjang dan merapikan pakaiannya.   "Nur," panggil Frans sebelum Nur melangkah.   "Iya, Mas." Nur berbalik menoleh Frans.   "Berjanjilah padaku, kamu akan selalu bahagia!" ucap Frans menatapnya lekat.   Nur kembali mendekati Frans dan mendekap wajah suaminya.   "Aku janji, Mas. Aku akan selalu bahagia, asala kamu tetap bersamaku. Kita jalani hidup bersama sampai tutup usia," sahut Nur.   "Ya, sampai tutup usia, namamu dan cintamu akan selalu aku bawa, Sayang. I love you, Nur." Frans mengecup bibir manis Nur dan disambut hangat oleh Nur.   Frans seolah enggan melepaskan pelukan dan tautan bibirnya. Rasanya berat melepaskan Nur untuk mengambil minum di dapur.   "Mas, lepasin dong! Kalau begini terus, kapan aku mau ambil minumnya? Nanti keburu malam, gagal lagi belah durennya," ucap Nur meminta Frans melepaskan pelukannya.   "Ah, iya. Maaf," ucap Frans. Diam-diam Frans mengusap sudut matanya yang basah tanpa sepengetahuan Nur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN