“Ya, aku datang untuk menjemputmu.” Philippe sempat terdengar akan melunak, namun respon dingin Élodie mengurungkan niat itu. Tatapannya kembali seperti semula, tajam dan tak memberi ruang. “Tapi kita tidak akan pulang ke rumah. Jika urusanmu sudah selesai, ikutlah denganku.”
“Baiklah.” Élodie tak menatapnya. Hanya menjawab pendek, memilih untuk menurut.
Perjalanan berlangsung sunyi. Philippe menyetir sendiri, tangannya mantap di kemudi, matanya fokus menatap jalanan yang membawa mereka menjauh dari pusat kota. Tak ada musik, tak ada percakapan. Hanya dengung halus mesin mobil yang terdengar di antara mereka. Élodie duduk di sampingnya, membiarkan pemandangan luar berlari tanpa makna di balik kaca.
Villa pribadi itu terletak di luar Brussels, dikelilingi oleh taman luas yang tenang namun tak menghibur. Saat mereka masuk, langit-langit kaca menyambut mereka dengan cahaya lembut musim gugur yang menyaring dari atas. Cahaya itu jatuh tenang ke permukaan meja makan panjang dari marmer putih, menciptakan kilau keemasan yang elegan, nyaris suci. Ruangan itu terbuka menghadap kolam reflektif dan pepohonan, memantulkan bayangan dunia luar seolah ruang ini tidak memiliki dinding.
Namun bagi Élodie, justru di sinilah ia merasa paling terkurung.
“Kita makan siang di sini,” ucap Philippe singkat.
Ia menarik kursinya sendiri dan duduk di ujung meja. Élodie ikut duduk, perlahan. Kursi beludru empuk itu seharusnya memberi kenyamanan, tapi malah terasa seperti kursi pemeriksaan. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengatur serbet di pangkuan, sadar benar bahwa Philippe tidak berhenti mengamatinya sejak mereka masuk.
Dasi pria itu telah longgar. Lengan kemejanya tergulung hingga siku. Tapi tidak ada yang santai dari caranya menatap Élodie. Tatapan itu menelanjanginya secara halus, bukan secara fisik, melainkan menyelidik reaksi, detak napas, dan cara ia mengangkat garpu. Seolah seluruh dunia siang ini hanyalah eksperimen. Bagaimana seorang perempuan belajar menyesuaikan diri di bawah kendali seorang lelaki yang tak memberi ruang untuk kesalahan.
Di hadapan Élodie tersaji potongan roti panggang, irisan buah segar, dan secangkir teh yang masih mengepulkan uap. Ia mencoba fokus. Tangan kirinya meraih garpu, mencoba memotong melon yang terlalu halus, namun jemarinya kaku. Entah karena gugup, atau karena napas Philippe yang terasa terlalu dekat meski ia duduk di seberang meja.
Dan saat ia menekan garpu terlalu keras, potongan melon itu terlempar dari piring, jatuh ke lantai dengan bunyi kecil namun memecah keheningan seperti tembakan.
Élodie menahan napas.
Wajahnya panas. Pipinya memerah. Ia buru-buru menunduk, hendak mengambil garpu yang ikut terjatuh, namun suara Philippe menghentikannya.
“Biarkan.”
Suaranya tenang. Tanpa intonasi. Namun justru karena itulah, Élodie menggigil. Ia perlahan kembali duduk, menggenggam pangkuannya di bawah meja, menelan ludah yang terasa tajam.
“Apakah ini ... hukuman?” tanyanya pelan, suaranya hampir tidak terdengar. “Karena saya kabur dari hotel pagi ini?”
Philippe tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursinya perlahan. Langkahnya terukur, tenang, hampir tanpa suara, namun justru menambah tekanan yang tak terlihat di udara.
Sepatu kulitnya beradu pelan dengan lantai marmer, ritmenya konstan. Ia mengitari meja, tidak tergesa, seperti seekor predator yang memutari mangsanya bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengingatkan siapa yang memiliki taring.
“Ternyata kau cukup peka,” jawabnya akhirnya, berdiri di belakang kursi Élodie.
Suara itu nyaris berbisik, tapi nadanya tidak menyimpan kemarahan. Yang ada hanyalah kendali.
Dalam kendali itu, Élodie menyadari, ia sedang diuji.
Ketika akhirnya pria itu berdiri di sampingnya, Élodie tidak berani mengangkat wajah. Ia hanya melihat dari sudut mata: tangan Philippe meraih garpu yang jatuh, meletakkannya kembali di atas meja, lalu menatapnya dengan sorot mata yang membuat dunia di sekitar menghilang.
"Kau tahu," suara Philippe lirih, berat seperti peringatan yang dilapisi kemewahan, "kesalahan kecil bisa menjadi alasan besar. Dan setiap alasan bisa menjadi pelajaran."
Élodie merasakan telapak tangannya mulai berkeringat. "Aku ... aku ada urusan mendesak," katanya nyaris tanpa suara, kata-kata tercekik di tenggorokan yang terlalu sempit untuk perlawanan.
Philippe tidak menjawab. Ia hanya menunduk pelan, mendekatkan bibir ke telinganya. Suaranya turun menjadi desis rendah yang menusuk tulang belakang.
"Bangun."
Kursi bergeser sedikit saat Élodie berdiri, jantungnya menolak ritme tenang yang diperintahkan Philippe. Dengan gerakan halus namun tak memberi ruang penolakan, lelaki itu menarik kursinya ke belakang, lalu menuntun tubuh Élodie agar bersandar pada tepian meja makan. Piring dan gelas bergerak pelan, serbet tergelincir ke lantai. Tapi tidak satu pun yang pecah. Seolah pun dunia tahu, ini adalah momen yang tak boleh diganggu.
"Letakkan tanganmu di sini," perintahnya, menuntun jemari Élodie menyentuh marmer dingin. "Dan jangan lepaskan sampai aku mengizinkan."
Permukaan meja itu begitu dingin, kontras dengan panas yang menjalar dari nadi Élodie. Dadanya naik turun, terengah oleh sesuatu yang bukan ketakutan murni, melainkan ketegangan dari apa yang belum terjadi, tapi semakin dekat.
Philippe berdiri begitu dekat, napasnya hangat di sisi wajah Élodie. Ia tidak segera menyentuh. Ia membiarkan jeda. Dan dalam keheningan itulah kendali berubah menjadi senjata paling tajam.
Saat Élodie mulai menggigil, satu jari Philippe menyusuri rahangnya, pelan, seolah menandai miliknya. Lalu bibirnya menyentuh pelipis Élodie. Ciumannya ringan, hampir tidak nyata, namun cukup untuk membuat lutut Élodie terasa hampa.
"Tarik napas," katanya, suara nyaris tak terdengar tapi tak bisa diabaikan.
Élodie menuruti, udara masuk seperti sembilu, menusuk paru-paru yang sempit oleh tekanan. Philippe mencium lehernya, turun perlahan ke sepanjang kulit yang mulai merona. Jemarinya bergerak ke bahu Élodie, lalu turun ke tulang selangka, berhenti di sana, hanya menggantungkan ketegangan.
"Jangan menunduk," bisiknya lagi.
Satu per satu, Philippe membuka kancing gaun Élodie dari belakang, seperti menyusun ulang setiap lapis harga diri yang akan ia kuasai. Kulit Élodie terbuka dalam diam. Ia tidak melawan. Tapi bukan karena menerima. Karena tubuhnya telah lebih dulu menyerah.
Ia membalik tubuh Élodie dengan gerakan tenang, memposisikan punggungnya menghadap meja. Lalu ia menunduk, mencium bahu Élodie yang telanjang, satu ciuman tanpa desakan, tanpa terburu-buru. Tapi justru karena itulah, tubuh Élodie bergetar makin hebat.
"Kenapa Anda harus seperti ini?" Suaranya nyaris hilang.
"Bukankah kau tahu apa yang terjadi jika kau pergi tanpa seizinku?" jawab Philippe tenang, nyaris lembut. "Aku akan mengajarkanmu bagaimana caranya duduk, bernapas, dan menyerahkan diri."
Philippe mengangkatnya sedikit, memposisikan tubuh Élodie duduk kembali di tepi meja. Jemarinya tak pernah meninggalkan kulit Élodie, seolah setiap inci tubuh itu kini harus diingat, ditandai, dimiliki. Ia mengecup sisi wajah Élodie, lalu menekannya perlahan ke permukaan meja, memiringkan tubuhnya dengan kendali penuh.
Élodie mencengkeram marmer, mencari pegangan dari dunia yang terasa terlalu sempit. Saat ia merasakan Philippe membuka celana dengan gerakan cepat dan tenang, detik berikutnya tubuhnya seolah berhenti bernapas.
Penetrasi itu datang perlahan. Terukur. Dalam.
Élodie menggigit bibir, tak berani bersuara, rasa perih masih menyeruak, namun di baliknya ada kehangatan yang menyesakkan. Setiap inci yang masuk membuat tubuhnya bergeser tak sadar, mencoba menolak, namun juga menahan agar tidak roboh.
"Jangan lepaskan meja itu," suara Philippe kasar, namun datar, tak memberi ruang untuk melawan.
Élodie menurut. Tangannya mencengkeram tepian meja hingga buku-bukunya memutih. Ia memejamkan mata, tubuhnya menegang dalam kesakitan yang bercampur kejut, kehangatan, dan sesuatu yang menggelisahkan. Philippe bergerak perlahan, tapi ritmenya pasti. Ia tidak terburu-buru. Ia mengatur semuanya, waktu, napas, tubuh Élodie.
Saat ia mulai bergerak lebih dalam, Élodie hampir terisak. Bukan hanya karena sakit, tapi karena tubuhnya yang berkhianat itu bergetar, membuka, menyesuaikan. Philippe tidak mempercepat. Ia menjaga tempo seperti seorang dirigen yang mengatur simfoni miliknya sendiri.
Gerakannya intens, namun sunyi. Tidak ada suara kasar, tidak ada benturan yang menghancurkan. Hanya desah pelan, tarikan napas, dan suara kulit Élodie yang menggesek marmer menjadi musik latar.
Philippe menunduk lagi, mencium tengkuk Élodie yang basah oleh keringat.
“Pelajaran pertama,” bisiknya dingin, “adalah mengingat siapa yang mengendalikanmu.”
Élodie tidak menjawab. Tubuhnya sudah lebih dulu menjawab.
Denyut itu kembali muncul, denyut yang ia benci, yang ia ingkari, tapi tak bisa ia hentikan.
***