Langit pagi di Brussels masih menggantung kelabu saat Élodie keluar dari butik kecil di sudut jalan Rue Royale, membawa tas kertas berisi pakaian yang lebih layak daripada apa yang melekat di tubuhnya sejak semalam. Gaun emas itu telah ia tinggalkan di kamar mandi hotel, bersama bagian dari dirinya yang tak lagi ingin ia lihat di cermin.
Ia mengenakan blus putih bersih, celana kain abu-abu tua, dan sepatu datar yang nyaman. Rambutnya disisir rapi, dikuncir rendah seperti kebiasaannya saat jaga malam. Wajahnya tanpa riasan. Tubuhnya masih terasa nyeri, namun ia berjalan tanpa menoleh, menolak membiarkan rasa sakit itu mendikte langkahnya.
Pagi ini, ia tidak bisa berada di kamar hotel itu. Tidak setelah yang terjadi semalam. Tidak setelah Philippe menyentuhnya seperti benda milik pria itu, lalu pergi tanpa sepatah kata. Ia tahu, jika ia tetap di sana, ia akan hancur. Maka Élodie pergi, diam-diam, sebelum sinar matahari masuk lewat tirai linen dan mengingatkannya bahwa hari masih terus berjalan meski segalanya telah direbut.
Taksi membawanya berhenti di pelataran samping rumah sakit anak Universitaire Saint-Luc, tempat ia menyelesaikan tahun ketiganya sebagai residen. Bangunan itu tidak berubah, dinding putih, deretan jendela besar, aroma disinfektan yang khas. Tapi pagi ini, langkahnya terasa lebih ringan meski dunia di sekelilingnya masih berputar dengan pelan.
Ia tidak mengenakan jas dokter hari ini. Tidak membawa tablet. Tidak menjawab panggilan ICU atau operasi darurat. Ia datang bukan sebagai residen, melainkan sebagai anak dari mendiang Isabelle Van Der Linden, perempuan yang mendedikasikan tahun-tahun terakhir hidupnya untuk membangun yayasan amal bagi anak-anak pasien kanker.
Yayasan itu masih berdiri, tapi posisinya genting. Jika akuisisi Fraser Group rampung sepenuhnya, kemungkinan besar semua dana akan ditarik, program dihentikan, dan operasi anak-anak ini tidak lagi ditanggung. Élodie tahu itu. Maka pagi ini, di tengah nyeri dan rasa malu yang belum sempat sembuh, ia datang untuk melihat langsung. Apa yang sedang dipertaruhkan.
Di lantai tiga, unit onkologi anak-anak masih lengang. Dindingnya tetap dihiasi gambar pelangi dan tokoh kartun buatan para relawan, kursi-kursi kecil berjejer di ruang tunggu. Ia mengenali beberapa wajah, perawat, penjaga malam, staf yayasan.
“Dokter Élodie?” sapa seorang ibu paruh baya yang berdiri cemas di dekat vending machine. Wajahnya tampak letih, tangan menggenggam botol air yang belum dibuka.
Élodie mengenali wanita itu. Ibu dari Louis, anak laki-laki usia tujuh tahun yang sejak enam bulan lalu menjalani kemoterapi untuk leukemia stadium lanjut. Hari ini, Louis menjalani operasi transplantasi sumsum tulang.
Élodie mengangguk pelan, lalu mendekat. Ia menggenggam tangan wanita itu, lalu duduk di sampingnya. Tidak perlu kata-kata. Kehadiran saja cukup.
Mereka menunggu dalam diam, hanya ditemani suara jam dinding dan sesekali panggilan dari interkom. Beberapa menit kemudian, ayah Louis datang membawa dua cangkir kopi, menyerahkannya tanpa banyak bicara. Mereka bertiga duduk di bangku panjang seperti keluarga yang saling menguatkan, meski tidak benar-benar saling mengenal.
Satu jam. Dua jam. Élodie tak bergerak. Ia tidak memeriksa ponsel. Tidak membaca dokumen. Ia hanya menatap ke dinding putih itu, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesunyian yang tenang. Berbeda sekali dengan sunyi dingin kamar di mansion Philippe yang membekukan hati.
Di sana, di sela napas yang perlahan teratur, rasa sakit dalam dirinya mulai mereda. Luka itu belum sembuh, tapi tidak lagi berdarah. Ia mengingat mata Louis, senyumnya yang selalu lelah tapi tetap menyala. Ia mengingat bagaimana bocah itu memanggilnya “Dokter Putri Salju” karena rambutnya yang cokelat dan pipi yang selalu memerah saat operasi berjalan terlalu lama.
Ia mengingat bagaimana ibunya, menggendong anak-anak seperti Louis, memperjuangkan dana untuk setiap prosedur medis, mengetuk pintu perusahaan dan orang kaya tanpa rasa malu demi menyelamatkan satu nyawa kecil lagi.
Di sini, Élodie merasa hidupnya punya makna.
Bukan sebagai milik Philippe. Bukan sebagai putri Van Der Linden. Tapi sebagai jembatan antara warisan ibunya dan masa depan anak-anak ini.
Ketika pintu ruang operasi terbuka dan dokter bedah utama muncul dengan wajah netral, Élodie berdiri bersama kedua orang tua Louis. Ia tidak berani berharap, tapi juga tidak takut. Ia memegang tangan ibu Louis lebih erat saat dokter itu mengangguk dan berkata dengan singkat.
“Operasi berjalan lancar.”
Tangis pecah seketika. Pelukan, doa, ucapan syukur, semuanya memenuhi ruang tunggu kecil itu. Élodie berdiri beberapa langkah di belakang, menyaksikan dari jauh. Wajahnya tetap datar, tapi mata itu mulai basah.
Untuk pertama kalinya sejak semalam, ia tersenyum.
Bukan untuk siapa pun, tapi untuk dirinya sendiri.
Tanpa Élodie tahu, ada mata lain yang juga menyaksikan senyum itu.
Philippe.
Ia juga ada di sana meskipun tak mudah masuk ke gedung ini.
Langkah kaki para perawat melintas di koridor seperti bisikan. Suara mesin infus, alat pemantau detak jantung, dan gerakan pelan tirai rumah sakit menciptakan ritme yang Philippe kenal baik. Ritme yang pernah menghantuinya bertahun-tahun lalu, saat ia duduk di ruang gawat darurat menunggu kabar terakhir tentang ibunya. Sejak saat itu, ia menjauhi semua tempat seperti ini. Tapi pagi ini, langkah Philippe membawanya kembali.
Sudah satu jam ia berdiri di ujung koridor lantai tiga rumah sakit anak Universitaire Saint-Luc. Tanpa pengawalan. Tanpa sopir. Hanya jas gelapnya yang masih melekat sempurna, dan wajah dingin yang mulai retak dari dalam.
Ia menemukan Élodie dengan mudah. Di dalam ruang tunggu kecil, di sisi luar unit bedah onkologi, Élodie duduk di bangku plastik putih, diapit oleh sepasang suami istri yang wajahnya kusut oleh cemas dan lelah. Ia tidak sedang tersenyum kala itu. Tapi Philippe melihat bagaimana tangan gadis itu menggenggam jemari si ibu dengan lembut, bagaimana tatapannya tetap lurus ke depan, tak goyah, seolah separuh napas orang tua itu kini dititipkan padanya.
Philippe tidak bergerak. Tidak membuka pintu. Tidak menyela.
Padahal awalnya, ia datang dengan niat berbeda. Ia ingin menyeret Élodie kembali dengan tangannya sendiri. Ia ingin melemparkan kemarahan karena telah ditinggalkan tanpa penjelasan. Tapi sekarang, Philippe hanya berdiri. Karena saat ia menyaksikan Élodie menunduk mendengarkan sang ibu berbicara pelan, lalu mengusap punggung wanita itu tanpa suara, sesuatu dalam dirinya berubah.
Amarah yang sejak fajar membakar tenggorokan mulai memudar. Tidak padam, tidak menghilang, tapi seperti dikunci paksa oleh gambaran di hadapannya. Élodie tidak lari dari tanggung jawab. Ia tidak bersembunyi di balik nama keluarga. Ia berdiri di tempat yang ibunya perjuangkan sampai akhir hayat. Di sini. Di antara anak-anak yang sedang berperang melawan waktu, dan orang tua yang menggenggam harapan seperti napas terakhir.
Lalu senyuman itu muncul.
Kecil. Pelan. Tapi bersinar.
Itu adalah senyum yang belum pernah Philippe lihat sebelumnya.
Senyum yang lahir tanpa tuntutan. Bukan ditujukan untuk publik, bukan untuk menyenangkan pria mana pun, bukan pula untuk menciptakan citra. Itu senyum milik Élodie sendiri. Philippe melihatnya. Dan untuk sesaat, senyum itu seperti menahan napas Philippe.
Ruang tunggu kecil yang penuh kecemasan dan keheningan, seketika berubah di matanya menjadi panggung yang tak butuh penonton. Élodie berdiri di tengahnya, tak bersuara, namun bersinar dengan cara yang tak bisa dijelaskan. Bukan karena kecantikannya, tetapi karena caranya merangkul luka tanpa mengeluh, tanpa pamrih.
Sesuatu dalam d**a Philippe bergerak, tak sepenuhnya bisa ia definisikan. Tangannya yang sedari tadi mengepal di dalam saku jas akhirnya mengendur. Amarahnya lenyap, terkikis perlahan oleh pemandangan itu.
Ia tidak lagi ingin mencaci. Tidak lagi ingin mendikte. Untuk pertama kalinya ... ia hanya ingin mengerti.
Tapi sebelum ia sempat memalingkan wajah atau menyembunyikan keberadaannya, pandangan Élodie tiba-tiba menangkap sosoknya. Sorot matanya yang tadi lembut langsung berubah. Senyum itu menghilang seketika, seperti ditarik oleh badai yang muncul mendadak.
Langkahnya tegas. Setiap hentakan sepatunya menggema di lantai linoleum rumah sakit. Ia berhenti tepat di hadapan Philippe, dagunya terangkat, matanya tak berkedip.
“Jika Anda datang ke sini untuk menyeret saya,” ucapnya datar, “tidak perlu. Saya bisa kembali ke rumah Anda dengan kedua kaki saya sendiri.”
***