Philippe Fraser tidak pernah kehilangan kendali. Tidak sejak malam itu, malam ketika Philippe menemukan istrinya menggenggam tangan pria lain. Wanita itu meninggalkannya tanpa penjelasan, tepat setelah melahirkan bayi yang bukan milik Philippe.
“Kau terlalu sempurna untuk seorang pria.”
Sejak itu, tidak ada satu pun wanita diperbolehkan menyentuh ranjangnya. Bukan karena ia tidak menginginkan, tapi karena ia tidak bisa. Setiap upaya mendekat terasa seperti mencabut luka lama dari dasar tulang. Rasa jijik, marah, dan hampa bercampur menjadi benteng yang tak bisa ditembus siapa pun. Ia belajar hidup dalam sunyi. Membesarkan Adrien dan Sophie adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa masih manusia.
Adrien lahir dari kebohongan mantan istrinya, dari malam perselingkuhan yang bahkan tak pernah diakui secara jujur oleh Natasya. Philippe tidak tahu siapa ayah biologis anak itu. Dan ia memang tidak ingin tahu. Yang Philippe tahu hanya satu, ketika Natasya melahirkan bayi itu dan pergi meninggalkannya tanpa penyesalan, bayi itu menangis dalam pelukannya. Philippe tidak bisa menelantarkan Adrien, bayi itu tidak berdosa.
Dunia menertawakannya.
Media menghujat, “CEO muda Fraser Group, pria dingin yang tak kenal kompromi, mengadopsi anak dari pengkhianatan istrinya.” Kolom gosip membakar harga dirinya. Para investor meragukannya, dan kalangan sosial menuduhnya kehilangan logika. Tapi Philippe bertahan. Ia tidak membalas satu pun dari mereka. Ia tidak butuh pengakuan.
Lalu datang Sophie, bayi mungil yang kehilangan kedua orang tuanya karena kecelakaan saat masih menyusu. Putri dari sepupunya, satu-satunya keluarga yang ia rasa masih bernapas jujur di tengah perebutan warisan dan kekuasaan. Philippe menemukannya di panti bayi, terbungkus selimut murah dan dibiarkan menunggu sistem hukum yang lambat. Ia tidak bisa berpaling. Maka ia mengurus semua dokumen adopsi dalam diam, dan membawa pulang Sophie seperti membenahi celah luka masa lalunya.
Kini keduanya tumbuh di rumahnya, dalam kedisiplinan dan kasih sayang yang tidak pernah ia terima dari orang tua mereka sendiri.
Philippe bukan pria yang tahu cara menunjukkan cinta. Tapi ia belajar. Ia belajar menata waktu di antara jadwal rapat, belajar membacakan dongeng meski suaranya terlalu berat, belajar mengepang rambut Sophie meski tangannya terlalu kaku. Ia belajar memberi tanpa mengharapkan balasan.
Karena dua anak itu adalah satu-satunya sisa dirinya yang tidak hancur.
Dan justru karena itu, ia takut. Takut ketika Élodie muncul, karena untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa ada sesuatu yang bisa mengubah keseimbangan sunyi yang telah ia bangun dengan susah payah.
Lalu malam ini.
Élodie Van Der Linden berdiri di sampingnya dengan gaun emas yang dipilihkannya sendiri, seperti perhiasan yang dengan bangga ingin ia pamerkan dan hancurkan sekaligus.
Ia tidak berencana menyentuhnya malam ini.
Namun semua berubah ketika pria itu datang. Pria asing dengan senyum tak tahu batas, tangan yang menyentuh Élodie dengan bebas, dan pandangan yang menelanjangi tanpa izin. Élodie tidak menolak.
Philippe tahu gadis itu tidak membalas, tapi diamnya cukup untuk menyalakan api yang selama ini ia tahan dalam-dalam.
Rasa sakit yang selama ini ia kubur bangkit tanpa aba-aba. Trauma lama berubah menjadi kekuatan baru. Dorongan untuk mengambil, memiliki, menghancurkan sebelum seseorang merebutnya lebih dulu.
Ia tahu Élodie belum pernah disentuh. Ia tahu, karena tubuh itu kaku di bawah tatapannya, karena napasnya tercekat ketika rasa sakit pertama menerjang, karena gemetar itu bukan akting. Ia tahu. Dan ia tetap melakukannya.
Mungkin kali ini ia memang kejam.
Ia tak bisa menahan diri.
Untuk pertama kalinya dalam lebih dari sepuluh tahun, Philippe Fraser kehilangan kendali bukan karena amarah melainkan karena rasa takut.
Ketika ia menatap wajah Élodie di bawahnya, mata yang berkaca-kaca dan tubuh yang bergetar antara ketakutan dan kebingungan. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang runtuh. Ia tidak melihat keluarga Van Der Linden dalam mata Élodie. Ia tidak melihat gadis pewaris yang membunuh ibunya. Ia hanya melihat seorang gadis yang terlalu rapuh untuk berada dalam dunia sekelam ini namun terlalu berani untuk lari ke hidup Philippe Fraser.
Ketika semuanya berakhir, saat napas Philippe akhirnya tenang, tubuh Élodie terkulai di bawahnya dengan sisa-sisa rasa sakit dan malu yang belum sempat mengering. Philippe nyaris panik.
Oksitosin. Hormon terkutuk itu. Ia tahu reaksi tubuhnya. Ia pernah mempelajarinya, memahami efek fisiologis dari hubungan fisik. Tapi tidak ada satu pun teori yang mempersiapkannya untuk efek Élodie. Kepalanya pening. Detak jantungnya masih berdebar, tapi bukan karena klimaks tadi. Melainkan karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Philippe Fraser menginginkannya lagi.
Bukan hanya tubuhnya yang menuntut tapi jiwanya. Ada kekosongan yang terasa sedikit terisi malam ini, tapi tak cukup. Ia ingin lebih. Ia ingin mendengar suara Élodie memanggil namanya. Ia ingin melihat mata itu terbuka, tidak karena takut, tapi karena percaya. Ia ingin sesuatu yang Philippe Fraser seharusnya tidak lagi inginkan.
Keterikatan.
Itu membuatnya hampir gila.
Satu sisi dirinya ingin kembali menyentuh Élodie malam itu juga. Membuatnya terbiasa, menjadikannya milik secara penuh, pikiran, tubuh, waktu, dan mungkin ... hati. Tapi sisi lainnya sadar, ia telah melukai Élodie. Ia tahu tubuh gadis itu belum pulih. Ia tahu betapa tajam rasa sakit itu menyiksa Élodie.
Ia merasa bersalah. Philippe berdiri tanpa suara. Ia mengenakan kembali pakaian yang tadi terlempar begitu saja ke lantai. Tidak tergesa, tapi juga tanpa jeda ragu. Saat kancing terakhir dikaitkan, Philippe menatap Élodie sekali lagi. Rambutnya berantakan di bantal, wajahnya pucat dalam tidur yang tidak benar-benar nyenyak. Bibirnya masih merah karena ciumannya, kulitnya masih hangat karena tubuhnya.
Untuk sesaat, Philippe ingin meraih wajah itu dan menyentuhnya dengan lembut. Tapi ia tidak berani. Bukan karena takut pada Élodie, melainkan pada dirinya sendiri. Karena ia tahu, jika ia tinggal satu menit lebih lama, ia akan kembali ke ranjang itu. Ia tidak akan bisa menahan diri.
Maka Philippe keluar dari kamar.
Ia mengambil suite cadangan di ujung koridor, ruangan yang jarang ia gunakan kecuali untuk pertemuan darurat. Ia menyalakan lampu rendah, membuka jendela lebar-lebar agar udara malam menampar wajahnya, lalu berdiri di ambang angin yang dingin. Matanya menatap lampu kota Brussels di kejauhan, tapi pikirannya terjebak di balik dinding kamar Élodie.
Ia sudah mengambil apa yang tak bisa dikembalikan, tapi yang lebih menakutkan bukanlah rasa bersalah. Melainkan rasa bahwa ia ingin lebih dari itu.
Pagi itu datang tanpa ampun.
Philippe belum memejamkan mata sejak ia meninggalkan suite utama dan mengunci dirinya di kamar pribadi yang disiapkan staf hotel khusus untuknya. Ruangan itu sepi, beraroma netral, terlalu sempurna untuk menjadi tempat tinggal, tapi cukup steril untuk menyembunyikan kekacauan batin.
Ia menghabiskan malam itu duduk di sofa kulit, hanya ditemani suara AC dan deru samar dari jendela kaca yang menghadap kota. Laporan bisnis dari malam sebelumnya masih terbuka di tablet, tapi tak satu pun huruf mampu menembus pikirannya. Apa pun yang ia coba pikirkan, hanya satu wajah yang terus muncul, Élodie.
Satu jam sebelum matahari sepenuhnya naik, Philippe menekan tombol layanan pribadi suite. Mercier, yang sudah terbiasa dengan ritme tidak lazim sang CEO, datang tak lama kemudian, rapi dalam setelan gelap.
“Kirimkan pakaian pagi untuk Mademoiselle Van Der Linden,” ucap Philippe tanpa menoleh dari jendela. “Gaun berpotongan sederhana. Biru tua atau krem. Pastikan sesuai dengan acaraku siang ini.”
“Segera, Tuan,” jawab Mercier singkat, lalu pergi tanpa suara.
Philippe tetap berdiri di sana, memandangi langit yang perlahan berubah warna. Matanya letih, tapi pikirannya masih bekerja. Bukan soal perusahaan. Bukan soal yayasan. Tapi soal tangan Élodie semalam, bagaimana gadis itu bergetar, bagaimana matanya memohon agar Philippe berhenti, dan ia tetap melanjutkan.
Philippe menarik napas panjang.
Lima belas menit berlalu.
Lalu terdengar ketukan ringan. Philippe berbalik cepat. Mercier masuk kembali, tapi tidak membawa pakaian seperti yang diperintahkan. Wajahnya tak berubah, tapi kali ini ada jeda kecil dalam ucapannya.
“Maaf, Tuan, kami tidak menemukan Mademoiselle Van Der Linden di kamarnya.”
Keheningan menggantung.
Philippe menatapnya lekat. “Apa maksudmu?”
“Suite-nya kosong. Tempat tidur sudah dirapikan. Kamar mandi tak terpakai. Tidak ada tanda keberadaan sejak dini hari. Kami sudah konfirmasi ke petugas lantai itu, tidak ada permintaan room service atau panggilan keluar sejak pukul lima.”
Philippe diam. Detik demi detik berlalu dalam sunyi yang lebih tajam daripada kemarahan.
“Lacak pergerakan lift privat,” ucapnya akhirnya, rendah dan cepat. “Minta log semua akses kartu di lantai ini. Pastikan setiap rekaman kamera dicek. Aku ingin tahu ke mana dia pergi.”
“Baik, Tuan,” sahut Mercier sebelum kembali menghilang seperti bayangan.
Pintu tertutup pelan.
Philippe tidak bergerak.
Matanya menatap pintu yang baru saja tertutup, namun pikirannya seakan digeledah dari dalam. Tubuhnya terasa kaku. Napasnya tersendat.
Bukan karena amarah.
Tapi karena panik.
Bahkan setelah bertahun-tahun menutup hatinya, bahkan setelah ia bersumpah tak akan membiarkan siapa pun menyentuh luka itu lagi, satu malam bersama Élodie cukup untuk membuatnya merasa rapuh seperti dulu.
Dan sekarang ... perempuan itu mungkin telah pergi.
Atau lebih buruk lagi, Élodie mungkin melarikan diri darinya.
***