Lampu-lampu kristal di ballroom Hotel Fraser memancarkan kemewahan yang berlebihan, seakan tak satu pun sudut ruang diizinkan untuk redup. Kilau emas dari langit-langit memantul pada setiap inci kain yang membalut tubuh Élodie. Gaun tembus cahaya yang dipilihkan Philippe, berpotongan rendah di d**a dan tinggi di paha, memaksa dirinya tampil sebagai pusat perhatian meski ia tidak menginginkannya.
Ia berdiri di sisi Philippe. Tangan pria itu melingkar ringan di punggung bawahnya, bukan pelukan, melainkan pengikat. Sentuhan yang terasa halus, namun menegaskan sebuah klaim, perempuan ini milikku. Denting gelas anggur, tawa rendah para taipan, dan lantunan kuartet gesek membingkai atmosfer pesta, tapi bagi Élodie, malam ini seperti panggung panjang yang tak memberinya ruang untuk bernafas bebas.
Philippe tidak banyak berbicara padanya. Tatapannya dingin dan hanya sesekali menoleh, memastikan Élodie tetap berada di tempat yang telah ditentukan. Ia harus diam, tersenyum, tampak sempurna. Ia tidak lebih dari perhiasan hidup di lengan sang tuan rumah.
“Philippe, my friend!” seru seorang pria berperut tambun, mendekat dengan tawa besar. Matanya langsung menelusuri Élodie dari atas ke bawah. “And this breathtaking creature is?”
Philippe tidak menanggapi dengan ramah. Ia hanya mengencangkan sedikit genggamannya di pinggang Élodie, membuat gadis itu tersentak tanpa suara. “This is mine,” ucapnya datar. Tidak ada nama. Tidak ada pengakuan. Hanya klaim.
Élodie menunduk sopan, wajahnya tetap tenang meski hatinya seperti ditusuk perlahan. Bukan karena rasa bangga, melainkan pahitnya kesadaran bahwa di mata dunia malam ini, ia bukan seorang dokter. Ia bukan seseorang. Ia hanya milik Philippe.
Satu per satu tamu menghampiri mereka, dan setiap kali itu pula Philippe memperkenalkannya dengan nada yang sama. Tak ada identitas, tak ada kedudukan, hanya “milik” Philippe Fraser. Para wanita melihatnya seperti ancaman, para pria menatapnya seolah ia tersedia. Ia tetap tersenyum karena tidak ada ruang untuk kesalahan. Philippe telah mengingatkannya sejak awal bahwa ia tak boleh membuat kegaduhan.
Lalu datanglah pria muda berjas putih gading, dengan senyum memikat dan mata yang jelas-jelas tidak mengenal batas.
“Kau tampak seperti dewi yang turun ke bumi,” bisiknya, berdiri terlalu dekat di sisi Élodie, saat Philippe sedang berbicara dengan sekelompok eksekutif di seberang meja minuman. “Kau yakin malam ini hanya berdansa dengan satu pria saja?”
Élodie bergeming. Ia menatap pria itu dengan senyum tipis, tidak membalas, tapi juga tidak menolak dengan terang-terangan. Kata-kata Philippe menggema di kepalanya, jangan membuat masalah di pestaku. Maka ia tetap diam, berharap pria itu akan pergi dengan sendirinya.
Namun bukannya mundur, pria itu justru meraih tangannya dan membungkuk, bibirnya nyaris menyentuh buku jarinya.
Philippe melihatnya dari kejauhan.
Sorot matanya sejenak tidak terbaca. Ia tidak menghampiri, tidak memanggil, hanya menatap. Namun Élodie bisa merasakan hawa dingin yang menyelimuti ruangan itu berubah, membeku dan tegang.
Beberapa detik kemudian, Philippe berjalan menghampiri, tanpa tergesa tapi penuh presisi. Ia berdiri di antara Élodie dan pria itu, tidak menoleh sedikit pun, hanya menatap gelas anggur yang masih utuh di tangan Élodie.
“Kau belum menyentuhnya,” ucap Philippe datar.
Élodie tidak sempat menjawab.
Dalam sekejap, Philippe mencengkeram pergelangan tangannya, bukan kasar, tapi cukup kuat untuk menarik perhatian siapa pun yang melihat. Tanpa satu kata pun, ia membalikkan tubuh Élodie dan mulai melangkah keluar ballroom, menyeret Élodie bersamanya melewati kerumunan. Beberapa tamu sempat melirik, beberapa berbisik, namun tidak satu pun yang berani menahan.
Langkahnya panjang dan terukur. Élodie tertinggal setengah langkah di belakang, namun tidak berani melawan. Ia tahu amarah Philippe sedang bergolak, bukan dalam bentuk teriakan, tetapi dalam kendali yang semakin mengancam.
Mereka melewati lorong hotel yang sunyi. Tumit sepatu Élodie memantul di lantai marmer dengan suara tajam. Ketika mereka sampai di lift pribadi, Philippe menekan tombol tanpa berkata apa-apa. Pintu terbuka, mereka masuk, dan pintu tertutup di belakang mereka.
Barulah saat lift bergerak naik, Élodie bisa merasakan jantungnya berdetak begitu kencang. Suite hotel di lantai atas sudah menanti. Pintu tertutup di belakang mereka dengan bunyi klik yang terasa seperti penjara kecil. Philippe melepaskan dasinya, gerakan tangannya cepat, efisien, seakan ia baru saja menyingkirkan topeng formalitas yang melelahkan.
Élodie berdiri terpaku di dekat sofa, jantungnya berdetak tak karuan. Kakinya sakit karena sepatu hak tinggi, tubuhnya lelah karena berdiri terlalu lama. Namun lebih dari itu, pikirannya digelayuti ketakutan akan apa yang akan terjadi.
Philippe menoleh, tatapannya menusuk. "Mendekat."
Suara itu tidak keras, tapi memaksa. Élodie menelan ludah, lalu melangkah. Gaun emas yang ia kenakan berkilau di bawah lampu kuning temaram kamar. Setiap gerakan membuat kain itu bergeser, menyingkap kulit yang sudah terlalu banyak terbuka.
Philippe mengulurkan tangan, menyentuh bahunya, lalu menarik resleting gaun perlahan ke bawah. Suara kecil resleting bergesekan dengan gigi logam terdengar lebih nyaring daripada detak jantung Élodie. Gaun itu meluncur turun, meninggalkan tubuhnya dalam balutan tipis yang hampir tak menutupi apa-apa.
"Lihat aku," perintah Philippe.
Élodie mendongak pelan, matanya bertemu dengan tatapan dingin lelaki itu. Tidak ada kelembutan di sana. Hanya penguasaan. Seolah-olah Philippe sedang menguji sejauh mana Élodie bisa patuh.
Ciumannya datang tiba-tiba. Bukan jenis ciuman lembut, bukan manis, melainkan mendikte, menuntut. Bibir Philippe menekan bibirnya, mengatur ritme, menolak setiap upaya Élodie untuk bernapas bebas. Tangan besar itu bergerak ke pinggangnya, lalu lebih jauh, memposisikan tubuhnya persis di tempat yang ia inginkan.
Élodie gemetar. Bukan karena dingin, melainkan karena rasa takut bercampur sesuatu yang sulit ia pahami. Tubuhnya dituntun, diputar, digerakkan. Setiap detail seperti latihan kepatuhan. Seperti seorang maestro yang mengatur gerakan boneka tari.
Tidak ada kekerasan ekstrem. Tidak ada bentakan. Tapi kendali total dari Philippe membuat semua tak terbayangkan. Napas Élodie tersengal ketika lelaki itu memimpin, membuatnya mengikuti, mengatur kapan ia harus menunduk, kapan ia harus menatap, kapan ia harus membuka diri.
Élodie bahkan belum sempat memahami arah setiap sentuhan ketika tubuhnya dipaksa menyesuaikan ritme Philippe. Semua berlangsung cepat, intens, tanpa ruang untuk menawar. Saat dirinya dituntun ke ranjang dan tubuh besar itu menindih, Élodie merasakan sesuatu yang tajam merobek dari dalam, rasa sakit yang menusuk hingga membuatnya meringis tertahan.
Ia menggigit bibir, mencoba menahan suara, tapi tubuhnya bereaksi sendiri. Ia menegang, berusaha menghindar. Philippe menahan pinggulnya dengan kokoh, gerakannya mantap, tak tergoyahkan.
"Sst ... jangan bergerak," bisiknya datar, seolah rasa sakit yang dialami Élodie hanyalah detail kecil yang tak perlu diperhitungkan.
Air mata hangat menggenang di sudut mata Élodie. Setiap tarikan napas serasa perih, seperti ada jarum menembus dari dalam. Ia meremas sprei di bawahnya, mencari pegangan, sementara Philippe terus memimpin, seakan sedang membentuk Élodie sesuai kehendaknya.
Rasa perih itu membakar, bercampur malu dan takut, namun di sela kepedihan ada gelombang aneh. Kehangatan yang samar, tak diinginkan, namun menyusup. Tubuhnya berkhianat, memberi respons samar meski pikirannya berteriak menolak.
Philippe tidak menatap wajahnya. Lelaki itu sibuk dengan ritmenya sendiri, hanya sesekali mengatur posisi Élodie dengan tangan yang tegas. Bagi Philippe, malam itu bukan tentang cinta, bukan tentang kelembutan, melainkan tentang hukuman.
Ketika akhirnya gerakan itu melambat, Élodie terkulai, napasnya tersengal, tubuhnya terasa sakit di tiap ujung saraf. Ia tahu, sesuatu yang rapuh dalam dirinya telah patah malam itu. Dan meski Philippe belum berkata apa pun, Élodie mengerti, inilah awal dari kepatuhan yang akan dituntut.
Awal dari dunia di mana tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri.
Semua berlangsung dalam diam. Hanya suara napas mereka, gesekan kain, detak jam di dinding. Philippe tak pernah bertanya, tak pernah ragu. Ia memperlakukan tubuh Élodie seolah sebuah wilayah baru yang harus ditaklukkan, dipetakan, lalu dimiliki sepenuhnya.
Bagi Élodie, sensasi itu campur aduk. Malu, takut, terperangkap, tapi di balik itu ada percikan aneh, sesuatu yang membuat tubuhnya merespons meski pikirannya ingin menolak. Semakin ia mencoba berpaling, semakin Philippe mengembalikannya ke posisi semula, seolah mengatakan di sini tempatmu, di bawah kendaliku.
Waktu seakan berhenti.
Saat akhirnya Philippe berhenti setelah tergulung ombak kenikmatan, Élodie terbaring lemah di ranjang dengan rambut berantakan. Kulitnya hangat, tapi hatinya menggigil. Ia menunggu sesuatu, pelukan, ciuman lembut, mungkin sekadar kata-kata yang menenangkan. Tapi yang datang hanya keheningan.
Philippe duduk di tepi ranjang, merapikan kancing kemejanya seolah yang baru saja terjadi hanyalah urusan bisnis. Tatapannya tenang, suaranya dingin saat ia akhirnya berkata,
"Belajarlah terbiasa dengan tubuhku."
***