Kamar itu masih sunyi ketika Philippe melontarkan kalimatnya, seakan waktu berhenti di antara detak jam dinding yang monoton.
"Pernahkah kau tidur dengan seorang pria sebelumnya?"
Élodie menelan ludah, namun kerongkongannya terasa kering. Pertanyaan itu menggantung, membebani udara seperti kabut tebal. Ia ingin menjawab, tapi bibirnya kelu. Philippe berdiri hanya beberapa langkah darinya, bayangan tubuh tegapnya jatuh di atas selimut putih tempat Élodie duduk. Tatapannya tajam, tidak sekadar menginginkan jawaban, tapi juga hendak menelanjangi rahasia yang bahkan Élodie sendiri enggan membicarakannya.
Perlahan, Philippe menghela napas panjang, lalu tersenyum samar. Senyum yang lebih menyeramkan daripada ancaman apa pun. Ia menunduk sedikit, membelai dagu Élodie hanya dengan ujung jarinya, sekadar singgungan singkat, lalu berbalik.
"Hm ... tak perlu kau jawab malam ini," gumamnya pelan, seolah tahu bahwa diamnya Élodie sudah cukup memberinya jawaban.
Élodie membeku, mengikuti gerakan Philippe dengan mata. Laki-laki itu berjalan menuju pintu kamar dengan langkah mantap. Tanpa menoleh lagi, ia membuka pintu, meninggalkan Élodie dengan d**a berdegup kencang dan pipi terbakar. Pintu menutup rapat, suara kait besi berbunyi nyaring, dan seketika Élodie merasa sendirian. Bukan di kamar, melainkan di dalam labirin pikirannya sendiri.
Ia jatuh terlentang ke ranjang, menatap langit-langit kamar yang asing. Kata-kata Philippe masih menggema, menusuk masuk ke relung-relung batin yang ia coba sembunyikan. Rasa malu menyerbu seperti arus deras. Malu karena belum pernah disentuh siapa pun, malu karena rahasianya seolah dibaca begitu saja oleh Philippe, malu karena ia sendiri tidak mengerti mengapa pertanyaan itu justru membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Di balik rasa malu itu, ada sesuatu yang lebih berbahaya, rasa penasaran. Bagaimana jika suatu saat Philippe benar-benar menyentuhnya? Bagaimana jika ia tidak mampu menolak? Élodie menggigit bibirnya sendiri, mencoba menghentikan imajinasi yang mulai meluncur liar. Ia memejamkan mata erat-erat, berharap lelah menjemput. Namun, tidur tidak datang. Yang ada hanyalah bayangan wajah Philippe, senyumnya yang menghantui, dan pertanyaan yang berulang-ulang memecah pikirannya.
Élodie membalikkan tubuhnya ke sisi ranjang, menarik selimut hingga menutupi wajah. Namun, kain tipis itu tak mampu meredam gema pertanyaan Philippe yang terus berputar di kepalanya. Ia merasakan panas di pipi, bercampur dingin yang merayap di punggung. Pertanyaan itu sederhana, tapi seakan merobek lapisan terakhir harga dirinya. Ia menggenggam erat sudut selimut, berusaha menahan getaran tangannya.
Semakin ia mencoba mengusir bayangan Philippe, semakin jelas wajah pria itu menempel di pelupuk matanya, tatapan gelap pekat yang tidak marah, tidak lembut, hanya dingin dan penuh kontrol. Senyum samar yang menyingkap lebih banyak ancaman ketimbang kelembutan. Élodie menahan napas, menyadari bahwa tubuhnya bereaksi tak terkendali. Bukan hanya takut, tapi juga ingin tahu.
Ia benci pada dirinya sendiri karena membiarkan rasa penasaran itu tumbuh. Apa jadinya bila Philippe benar-benar menyentuhnya? Apakah ia akan berteriak, melawan, atau justru menyerah tanpa sadar? Pertanyaan itu membuatnya semakin terjaga.
Jam dinding berdetak lambat, menusuk sunyi. Élodie sadar, malam ini ia tidak akan tidur. Ia terperangkap di antara rasa malu, takut, dan godaan yang samar. Perang batin yang semakin menenggelamkannya.
*
*
Keesokan paginya, riuh aktivitas sudah terdengar sejak fajar. Mercier, dengan ketelitian khasnya, masuk membawa beberapa kotak berisi perlengkapan rias. Ia tidak memberi salam panjang, hanya menepuk tangan sekali, memberi aba-aba seolah Élodie adalah model yang harus siap dipermak.
"Ayo, kita punya jadwal padat. Malam ini pesta Fraser Group. Kau akan jadi sorotan," ujarnya dingin.
Élodie duduk di kursi di depan meja rias besar. Cermin di hadapannya memantulkan wajah pucat yang masih terlihat letih. Ia hampir tidak tidur semalaman. Mercier segera bekerja, kuas, spons, dan jari-jari yang terampil menari di atas kulit Élodie, menyapukan warna, membentuk kontur, menajamkan garis mata.
Élodie menatap pantulan dirinya di cermin. Perempuan di sana tampak berbeda. Bukan dirinya. Mercier seakan menghapus setiap ciri khas Élodie dan menggantinya dengan topeng cantik yang dingin, nyaris sempurna, seperti boneka pameran.
"Jangan banyak berkedip," tegur Mercier ketika Élodie refleks menghindar dari eyeliner tajam.
Setelah wajah selesai, giliran fitting gaun. Mercier membuka kotak panjang, mengeluarkan sehelai kain tipis berkilau. Élodie tercekat. Itu bukan gaun itu lebih mirip jaring emas yang disulam menjadi pakaian. Lembut, indah, tapi terlalu terbuka. Potongan d**a menjuntai rendah, belahan paha naik nyaris ke pinggul.
"Ini ... terlalu berani," bisik Élodie, mencoba menahan.
Mercier hanya mengangkat alis. "Ini pilihan Monsieur Philippe. Kau tahu artinya. Tidak ada penolakan."
Dengan tangan gemetar, Élodie berdiri, membiarkan Mercier membantu mengenakan gaun itu. Kain dingin meluncur di sepanjang kulitnya, menempel erat, menonjolkan setiap lekuk tubuh yang selama ini ia sembunyikan. Ia merasa telanjang meski berbalut busana mahal.
Setelah selesai, Mercier mundur selangkah, menatap hasilnya seperti seorang seniman memeriksa karya. Ia mengangguk puas. "Sempurna. Monsieur Philippe pasti senang."
Élodie menelan ludah. Ia menatap dirinya di cermin lagi. Perempuan di hadapannya tampak glamor, sensual, memikat. Namun, di balik semua itu, Élodie melihat bayangan kecil dirinya yang berteriak ketakutan.
Latihan gesture pun dimulai. Mercier menyuruhnya berjalan, duduk, berdiri, mengangkat gelas anggur seolah benar-benar di pesta. Setiap gerakan diperbaiki, setiap lenggok diperhalus. "Jangan menunduk. Angkat dagu. Ingat, malam ini kau akan dipamerkan."
Kata-kata itu menusuk Élodie. Dipamerkan. Seperti barang koleksi. Seperti boneka. Dan ia tidak punya pilihan.
Di sela latihan, Élodie sempat berpikir, mungkinkah Philippe akan membiarkan para investor menatapnya, mungkin juga menyentuhnya? Ketakutan itu membuat perutnya mulas. Namun, tatapan Mercier yang tajam menegurnya tiap kali ia goyah.
Menjelang sore, tubuh Élodie sudah pegal karena terus-menerus dipaksa berpose. Namun, jauh lebih berat adalah beban di pikirannya. Ia tahu, malam ini bukan sekadar pesta. Malam ini, ia akan diuji. Philippe akan menampilkannya, dan seluruh dunia yang hadir akan menjadi saksi bagaimana seorang perempuan bisa dijadikan trofi dalam permainan besar laki-laki itu.
Élodie berdiri di depan cermin, masih dengan gaun emas yang nyaris menelanjanginya. Napasnya berat. Ia sadar, dirinya tidak punya kuasa menolak. Satu-satunya pilihan hanyalah menunggu, menahan, dan berharap entah bagaimana ia bisa bertahan.
Di antara ketakutan itu, pertanyaan Philippe semalam kembali bergema, lebih keras dari sebelumnya.
Kini Élodie mengerti, mungkin pertanyaan Philippe kemarin bukan sekadar godaan. Mungkin itu adalah pengumuman halus, bahwa waktunya semakin dekat, bahwa malam ini hanyalah panggung awal dari permainan yang jauh lebih dalam.
Élodie memejamkan mata sejenak, mencoba menarik napas panjang. Helaan itu terasa pendek, terputus oleh degup jantung yang semakin kencang. Gaun emas yang melekat pada kulitnya seperti belenggu, bukan pakaian. Ia ingin merobeknya, menutupi tubuhnya kembali dengan lapisan kain tebal yang aman, tapi bayangan Philippe seolah menahan tangannya.
Mercier menepuk pelan bahunya, dingin tapi mantap. "Kau harus belajar berdamai dengan cermin. Mulai malam ini, dunia akan melihatmu seperti ini. Dan kau tidak boleh terlihat rapuh." Kata-katanya terdengar seperti perintah militer, bukan saran.
Élodie mengangguk pelan, meski matanya tetap terpaku pada bayangan asing di hadapannya. Wajah itu tersenyum tipis, tubuh itu menawan, tapi bukan dirinya. Itu sosok yang diciptakan Philippe, boneka indah yang siap dipajang.
Langkah kecilnya di ruang latihan terasa berat. Saat senja merambat ke jendela, Élodie berdiri kaku, menatap dirinya sekali lagi.
Philippe mendekatinya, mengangkat dagu Élodie dengan lembut. "Kau akan mendapat hukuman malam ini, jika kau mengacaukan pesta."
Bisikan Philippe membuat tubuh Élodie menegang.
***