Philippe tidak langsung menjawab. Ia menatap Élodie lama, seolah menikmati setiap tarikan napas yang keluar dari mulut wanita itu. Di dalam ruang kerja yang temaram, hanya lampu meja menyala, memantulkan cahaya lembut pada sisi wajahnya yang tenang. Seperti biasa, ekspresinya tidak menunjukkan banyak emosi. Tapi ketegangan di udara cukup untuk membuat Élodie menggenggam jemarinya sendiri agar tetap terlihat tegar.
Pertanyaannya tidak dijawab dengan kata-kata, melainkan dengan keheningan yang terlalu panjang. Dan Philippe tahu itu. Ia tahu bahwa diamnya lebih mengintimidasi daripada ancaman langsung. Akhirnya, Philippe melangkah pelan menuju rak buku di belakang meja. Ia mengambil sebuah map hitam dari laci bawah, lalu menaruhnya di atas meja kayu dengan pelan.
"Besok malam kita akan menghadiri pesta tahunan Fraser Group," ucapnya datar, seolah pertanyaan Élodie tidak pernah ada. "Para investor besar dari Eropa akan hadir. Kau akan berdiri di sisiku sepanjang malam."
Élodie menahan napas. Suara Philippe terdengar seperti keputusan, bukan permintaan.
"Gaun sudah disiapkan. Sepatu dan aksesori juga. Staf akan membawanya ke kamar pukul sepuluh pagi. Make-up artist akan datang pukul satu siang. Kau akan siap pada pukul enam."
Perintah-perintah itu diucapkan dengan kejelasan dingin, seperti jadwal bedah elektif. Tapi Élodie tidak bisa membiarkan dirinya teralihkan. Ia menatap pria itu dengan gugup yang tak bisa ia sembunyikan.
"Jadi, malam ini...." Suaranya nyaris tidak terdengar. "Apakah kau akan ke kamarku?"
Philippe menoleh perlahan, matanya menatap langsung ke arah Élodie. Tidak dengan kemarahan. Tidak dengan kelembutan. Hanya keheningan penuh teka-teki. Matanya bergerak menelusuri wajah Élodie, turun ke lehernya yang tegang, lalu kembali bertemu mata perempuan itu dengan sorot yang nyaris seperti hiburan pribadi.
Ia tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya bergerak pelan, cukup untuk membentuk garis senyum samar yang tidak hangat, tidak juga kejam. Senyum milik seseorang yang tengah menikmati kepanikan lawannya tanpa perlu menyentuhnya.
"Mungkin," ucapnya ringan.
Satu kata. Tidak ada janji, tidak ada kepastian, dan justru karena itu lebih menghancurkan daripada jawaban apa pun.
Élodie merasakan dingin menjalari punggungnya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Jika ia terlihat ketakutan, Philippe akan menyerapnya seperti udara. Jika ia menunjukkan perlawanan, Philippe akan menggunakannya sebagai bahan bakar untuk permainan berikutnya.
Philippe kembali duduk di kursinya, membuka map hitam yang tadi ia ambil. Ia tidak menoleh lagi.
"Kau boleh kembali ke kamarmu. Istirahatlah. Besok akan menjadi malam yang panjang."
Élodie berdiri diam beberapa detik, menanti sesuatu yang bisa menjadi pegangan dari pria itu. Namun tidak ada. Ia melangkah keluar dengan langkah pelan. Pintu ruang kerja ditutup kembali oleh pelayan di luar. Ia kembali ke kamarnya dengan langkah yang tenang, meski pikirannya penuh dengan kemungkinan yang membuat seluruh tubuhnya tegang. Dan seperti malam sebelumnya, ia tahu, pintu kamarnya tidak akan dikunci.
Langit malam di luar kamar mulai berubah kelabu pekat ketika ketukan pelan terdengar di pintu. Élodie baru saja mengganti bajunya dengan kaus sederhana dan celana panjang satin ketika ia membuka pintu, dan menemukan sosok Monsieur Mercier berdiri dengan tenang di ambang. Di tangannya tergenggam beberapa paper bag berlogo emas dari rumah mode internasional, warnanya putih gading dengan pegangan pita hitam yang menjuntai rapi.
"Maaf mengganggu, Nona Van Der Linden," ucapnya sopan, suaranya lembut seperti biasa. "Tuan Fraser meminta saya mengantarkan ini untuk Anda."
Élodie memandang tas-tas belanja itu sejenak sebelum menerimanya perlahan. Beratnya ringan, tapi cukup untuk membuat dadanya ikut tenggelam.
"Beliau juga menitipkan pesan," lanjut Mercier tanpa mengubah nada bicara. "Mulai malam ini, Tuan Fraser berharap Anda mengenakan hanya pakaian tidur yang telah dipilihkan untuk Anda, setiap malam."
Tidak ada tekanan dalam nada ucapannya, namun kata-kata itu mengendap dalam kepala Élodie seperti racun yang menyusup melalui pori-pori.
Ia mengangguk kaku. "Terima kasih."
Tanpa berkata lebih jauh, Mercier membungkuk ringan dan berbalik meninggalkan kamar. Langkahnya tenang, tanpa suara, namun gema kalimat yang baru ia sampaikan masih berdengung di dalam kepala Élodie ketika ia menutup pintu perlahan.
Ia meletakkan paper bag pertama di atas tempat tidur, lalu membuka pita hitamnya. Kertas pelapis beraroma bunga segar tersibak pelan. Di dalamnya, terlipat rapi, benda-benda yang membuat seluruh tubuhnya menegang.
Bukan gaun tidur biasa. Tapi lingerie, pakaian dalam tipis, mewah, dan menggoda. Dibuat dari bahan satin, renda, dan silk transparan. Warna-warnanya beragam, hitam malam, merah anggur, ungu tua, biru kelam, putih s**u, dan masih banyak lagi. Masing-masing memiliki potongan berbeda, dari yang hanya seutas kain bertali halus, hingga yang bermodel slip dress semi transparan yang nyaris tidak menutupi apa pun.
Tangannya gemetar saat menyentuh salah satu set renda berwarna champagne dengan detail bordir halus. Merek di label dalam gaun itu bukan nama biasa. Harganya pasti setara dengan biaya hidup satu bulan di apartemen kecil Brussels.
Kepalanya mendadak terasa ringan. Ia meletakkan kembali lingerie itu ke atas ranjang, membuka satu paper bag lainnya, hanya untuk menemukan lebih banyak pakaian dalam dalam berbagai bentuk dan model. Bralette tanpa penutup, thong bermotif bunga, dan satu korset lembut yang terbuat dari bahan tipis seperti kabut.
Untuk sesaat, Élodie hanya berdiri mematung di depan tumpukan halus yang terasa lebih seperti jaring laba-laba daripada pakaian. Ia merasa seperti seseorang yang telah masuk ke dalam panggung, namun tidak diberi naskah, hanya kostum-kostum yang tak mampu ia pahami maksudnya secara utuh.
Ruangannya sunyi tapi pikirannya dipenuhi suara.
Apakah Philippe sungguh-sungguh ingin melihat aku mengenakan semua ini?
Ataukah ini hanya bagian dari permainan balas dendamnya?
Apakah ia sedang menguji apakah aku akan menurut tanpa diminta secara langsung?
Apakah ia akan benar-benar akan menjadikanku p*****r?
Élodie terduduk di tepi tempat tidur, lututnya melemah, namun matanya tetap terbuka lebar. Ia tidak tahu apakah Philippe akan masuk malam ini. Tangan kanannya masih menggenggam seutas tali lingerie berwarna ungu tua yang baru saja ia keluarkan dari paper bag terakhir. Ia belum memutuskan akan mengenakan yang mana. Rasa enggan dan malu bercampur dalam pikirannya, membuatnya berdiri terlalu lama dalam keadaan setengah tertegun, setengah menolak.
Ia berjalan menuju lemari, membuka pintu lemari gantung yang dipenuhi gantungan beludru kosong. Ia hendak mengganti pakaian tidurnya yang terlalu konservatif menjadi satu dari sekian pilihan pakaian malam yang telah disiapkan Philippe, walaupun dengan berat hati. Baru saja ia hendak melepas blusnya, suara pintu dibuka terdengar dari belakang. Pelan, namun cukup untuk menghentikan napasnya seketika.
Pintu terbuka perlahan. Philippe berdiri di ambang, masih mengenakan kemeja hitam dan celana bahan gelap yang belum ia ganti sejak makan malam. Matanya langsung menangkap Élodie yang berdiri kaku di sisi tempat tidur, masih berpakaian lengkap, dengan selembar lingerie berenda terkulai di jari-jarinya.
Mata mereka bertemu.
Élodie tersentak. Ia buru-buru menyembunyikan lingerie itu ke balik punggung, seolah itu bisa menghapus kenyataan bahwa ia belum melakukan apa yang telah diminta.
"Aku ... aku minta maaf," ucapnya cepat, suaranya serak oleh kejutan. "Aku baru menerima semua ini. Aku belum tahu harus mengenakan yang mana, dan aku belum sempat mengganti pakaian."
Philippe tidak menjawab segera. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan tanpa tergesa, dan menutup pintu perlahan di belakangnya. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tidak ada sindiran. Hanya ketenangan yang terlalu rapat untuk dibaca.
Langkahnya berhenti dua meter dari tempat Élodie berdiri. Cahaya lampu meja dari sudut kamar jatuh di wajahnya, menampilkan sorot mata yang tidak keras, tidak pula lembut. Namun ketika ia akhirnya membuka suara, pertanyaannya menusuk dari arah yang tidak terduga.
"Pernahkah kau tidur dengan seorang pria sebelumnya?"
***