Malam itu, Élodie tidak memejamkan mata sedetik pun. Tubuhnya berbaring di atas ranjang empuk bersprei linen yang tampak terlalu bersih, terlalu putih, terlalu asing. Ia telah mematikan lampu utama sejak beberapa jam lalu, menyisakan cahaya kuning redup dari lampu meja yang memantul di dinding kamar berpanel kayu krem. Udara di dalam ruangan begitu tenang, nyaris tak terdengar, namun justru karena itulah setiap detak jantungnya terdengar seperti dering kecil yang mengganggu pikirannya sendiri.
Setiap suara di lorong membuatnya menahan napas. Denting jam di sudut ruangan, desis samar dari ventilasi udara, dan langkah pelan pelayan yang mungkin sedang menyusuri lorong dengan baki kosong, semuanya berubah menjadi isyarat bahwa pintu itu bisa terbuka kapan saja.
Élodie menatap gagang pintu kamarnya dalam kegelapan. Ia tahu pintu itu tidak dikunci. Ia tahu Philippe sengaja memintanya agar bisa masuk kapan saja, ia ingin membuatnya hidup dalam ketidakpastian. Keputusan untuk tidak mengunci pintu terasa lebih menyeramkan daripada ancaman langsung. Ia tidak tahu apakah Philippe akan masuk, atau justru menikmati kenyataan bahwa ia akan menghabiskan malam dengan ketakutan yang tidak berwujud.
Tangannya menggenggam erat selimut hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menarik lutut ke arah dadanya, mencoba menciptakan benteng kecil yang bisa ia percaya. Tapi tidak ada tempat aman dalam rumah ini, hanya dinding tebal dan keheningan yang menyerap semua logika dan keberanian.
Pernyataan "jadilah pelacurku" masih terngiang di kepalanya, mengalun seperti mantra yang tertulis di setiap sudut kamar. Ia telah menyerahkan satu tahun hidupnya demi yayasan, demi anak-anak yang menanti operasi, demi kenangan ibunya yang tersimpan dalam bentuk bangunan sederhana yang kini berada di tangan musuh keluarganya. Namun malam ini, ia merasakan getar ketakutan yang tidak bisa diabaikan.
Jam di meja menunjukkan pukul dua dini hari. Matanya masih terbuka. Tubuhnya mulai kaku karena terlalu lama diam dalam satu posisi. Ia mengubah posisi berbaring, mencoba mencari sudut lain yang lebih hangat. Saat cahaya pertama dari jendela timur mulai menyingkap bayangan di dinding, Élodie sadar bahwa malam telah berlalu tanpa kejadian apa pun. Tidak ada Philippe di balik pintu. Tidak ada langkah yang berhenti di ambang kamar. Ia sendirian. Kelegaan segera datang.
Ia bangkit perlahan, dengan tubuh terasa lebih berat dari biasanya. Napasnya tidak terengah, tapi tidak stabil. Ia melangkah ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Di cermin, wajahnya tampak sedikit pucat. Namun matanya tetap utuh, tetap tajam, tetap menyimpan keyakinan yang ia tanam sejak hari pertama ia memutuskan untuk tinggal di rumah ini, bahwa ia akan bertahan, apapun yang terjadi.
Pagi pertama di rumah Philippe Fraser datang tanpa suara. Tidak ada alarm, tidak ada ketukan di pintu, tidak ada panggilan pagi dari ruang jaga. Hanya sinar matahari musim gugur yang merayap perlahan melalui tirai linen, menelusuri dinding kamar luas berwarna krem pucat tempat Élodie berbaring.
Ia bangun dengan kepala berat. Entah karena udara asing, atau karena mimpi yang tidak ia ingat, tetapi meninggalkan perasaan tidak nyaman di d**a. Kamar itu terlalu mewah untuk disebut tempat tahanan, namun terlalu dingin untuk disebut rumah.
Tak lama kemudian, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu.
"Selamat pagi, Nona Van Der Linden," suara lembut laki-laki dewasa menyusul. "Saya Benoît Mercier, kepala rumah tangga. Tuan Fraser meminta saya mengajak Anda berkeliling rumah sebelum makan malam bersama keluarga nanti."
Élodie membuka pintu. Di hadapannya berdiri pria paruh baya dengan wajah tenang dan postur tegap, mengenakan setelan abu-abu gelap. Sorot matanya tidak menghakimi, hanya menghormati.
"Terima kasih. Boleh saya bersiap sebentar?" tanyanya sopan.
"Tentu saja. Saya akan menunggu di ruang tengah."
Tur rumah berlangsung dalam suasana sopan yang terlalu senyap. Monsieur Mercier menjelaskan setiap sudut dengan detail efisien ruang tamu utama, perpustakaan, taman kaca, hingga galeri kecil tempat lukisan-lukisan klasik dipajang.
"Rumah ini memiliki sepuluh kamar tidur, empat ruang baca, dan satu aula musik, meskipun hanya dua anak yang tinggal di sini," kata Mercier dengan nada datar.
"Adrien dan Sophie," gumam Élodie.
"Benar. Anda akan bertemu mereka malam ini."
"Apakah mereka tahu saya akan tinggal di sini?"
Mercier menatapnya sesaat sebelum menjawab. "Tuan Fraser akan menyampaikannya saat makan malam. Dengan caranya sendiri."
Sore menjelang saat Élodie bagun dari tidur siang. Langit mulai menguning di balik jendela ruang makan yang luas. Meja oval dari kayu ek telah disiapkan untuk empat orang. Lilin-lilin tinggi menyala di tengahnya, memberi cahaya hangat yang menciptakan ilusi keintiman.
Sebelum makan malam benar-benar dimulai, Élodie tiba lebih awal di ruang makan. Ia tidak menyangka akan melihat Philippe sudah duduk di sana, menunduk ringan, memperbaiki dasi kecil yang dikenakan Adrien. Tangannya cekatan namun lembut. Gerakannya reflektif, seperti seseorang yang telah melakukan itu selama bertahun-tahun.
Di sisi kanan meja, Sophie berdiri di atas bangku kecil, mengikat rambutnya sendiri dengan pita merah muda, lalu menyerah pada tangan Philippe yang menyelesaikannya untuknya dengan sabar.
"Terima kasih, Ayah," ucap Sophie dengan suara manja.
Philippe hanya mengangguk, lalu menyentuh puncak kepala gadis kecil itu dengan ujung jemarinya. Satu sentuhan pelan, tetapi penuh makna.
Élodie berdiri diam di ambang pintu.
Pemandangan itu menyentaknya lebih kuat daripada segala hinaan yang ia terima selama beberapa hari terakhir. Ini bukan pria yang mengatur kontrak penghinaan atau menjatuhkan saham perusahaan dengan sekali persetujuan. Yang berdiri di hadapannya adalah pria yang mengajarkan putrinya mengikat pita dan memperbaiki kerah baju anak laki-laki.
Ada kehangatan yang nyaris tak terlihat, tapi sangat terasa. Bukan dibuat-buat. Bukan bagian dari citra. Ia tahu karena ia sendiri tumbuh tanpa kehangatan semacam itu dari ayah kandungnya. Itulah yang membuatnya makin bingung. Philippe Fraser tidak mungkin pria yang bisa mencintai. Tapi yang ada di hadapannya sekarang justru membuat segalanya terlihat mungkin.
Saat Sophie melihat Élodie dan menyapanya dengan wajah berseri, Philippe menoleh perlahan. Tatapannya kembali netral. Seolah detik sebelumnya tidak pernah terjadi.
Élodie melangkah masuk, berusaha mengatur ekspresi agar tidak menunjukkan bahwa jiwanya baru saja terguncang oleh hal sekecil dan sebesar itu.
"Kau cantik sekali," seru gadis itu spontan. "Namaku Sophie."
Élodie tersenyum. "Terima kasih, Sophie. Namaku Élodie."
Anak laki-laki itu menyambut dengan anggukan sopan. "Saya Adrien."
Mereka semua duduk. Philippe menarik kursi Élodie sendiri, lalu duduk di seberangnya. Makanan pertama, sup labu dengan krim segar dihidangkan oleh pelayan dalam keheningan.
Sophie menatap Élodie dengan sorot penasaran. "Apakah kau pacar Ayah?"
Élodie tersentak kecil. "Aku...."
Namun Philippe lebih cepat.
"Tidak semua hal harus dijelaskan di meja makan, Sweety," ucapnya tenang, sambil menyendok sup ke mangkuknya. "Sekarang lebih baik kita bicara tentang menu malam ini. Sup labu, daging panggang rosemary, dan mousse cokelat apa kalian akan menyukainya?"
"Makanan malam ini terdengar luar biasa." Sophie berseru pelan. "Aku suka mousse cokelat."
Élodie tersenyum kecil, berusaha menutupi gugup yang belum sepenuhnya reda. Ia mengangguk, lalu mengambil sendok supnya dengan perlahan.
"Aku juga suka," ucapnya lembut. "Apalagi jika dibuat dengan cokelat Belgia asli."
Sophie langsung menoleh padanya. Mata bulat gadis kecil itu bersinar. "Kalau begitu, setelah ini kita harus berbagi resep rahasia. Aku dan Adrien pernah mencoba membuat mousse sendiri di dapur. Waktu itu gagal karena Adrien mencampur garam terlalu banyak."
Adrien melirik adiknya dengan sorot setengah geli, setengah kesal. "Itu karena kau meletakkan label garam di toples gula."
"Aku tidak sengaja," jawab Sophie cepat, lalu menatap Élodie dengan tawa kecil yang murni. "Kami seperti koki sungguhan, walaupun dapurnya jadi seperti medan perang."
Philippe tidak ikut tertawa. Namun senyum tipis muncul di sudut bibirnya, cukup samar untuk disalahartikan sebagai bayangan cahaya lilin. Ia menatap Élodie sekilas, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada potongan daging yang baru saja dihidangkan.
Ketika sup selesai, pelayan mengganti piring-piring mereka dengan piring utama. Daging panggang disajikan dengan kentang tumbuk, taburan daun thyme segar, dan saus kental berwarna cokelat keemasan. Aroma rosemary memenuhi udara.
Élodie melirik Adrien. Anak laki-laki itu tampak lebih pendiam dari adiknya, tetapi tidak menunjukkan penolakan apa pun terhadap kehadirannya. Sebaliknya, ia tampak mengamati dengan tenang, seperti seseorang yang sedang menilai seseorang yang baru datang ke dunia mereka.
Setelah beberapa menit dalam keheningan makan yang nyaman, Adrien berbicara. Suaranya tenang, sedikit lebih dewasa dari anak seusianya.
"Jika kau tinggal di sini, kau akan tahu Sophie suka membacakan buku keras-keras meski tak ada yang mendengarkan. Dan dia tidak pernah bisa menyikat giginya sendiri sebelum tidur."
Sophie langsung memprotes, pipinya memerah. "Adrien!"
Élodie terkekeh kecil, lalu memandang Adrien dengan lembut. "Terima kasih sudah memberitahuku. Aku akan mencoba mengingat itu."
Malam terus berjalan. Makanan ditukar dengan dessert, mousse cokelat disendok ke mangkuk-mangkuk kecil berwarna putih mutiara. Sophie menyendok cepat, lalu menawarkan satu suapan pada Élodie dengan sendok miliknya sendiri. Philippe tidak berkata apa-apa. Ia hanya memperhatikan, wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Tapi bagi Élodie, tatapan itu berbicara banyak. Ia tahu Philippe sedang menakar sesuatu, mungkin bahkan tidak percaya dengan kehangatan yang tiba-tiba tumbuh malam itu.
Élodie menerima suapan Sophie dengan anggukan pelan. "Ini mousse terbaik yang pernah aku cicipi."
Sophie terlihat puas. Adrien menyelesaikan bagiannya dalam diam, namun sebelum berdiri dari kursinya, ia menyentuh punggung tangan Élodie dengan jemari ringan. "Selamat datang di rumah kami."
Satu kalimat sederhana itu membuat Élodie terdiam sejenak. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak ada naskah atau petunjuk untuk momen semacam itu. Ia hanya mengangguk, menahan sesuatu di tenggorokannya yang tidak boleh pecah di hadapan anak-anak.
Pada saat anak-anak selesai dengan makanan mereka dan meninggalkan area ruang makan, Élodie meminta waktu untuk berbicara dengan Philippe. Ada yang ingin dia tanyakan. Mereka pun pergi ke ruang kerja Philippe agar tidak ada yang mengganggu.
"Apa yang ingin kau katakan?"
"Malam ini," lirih Élodie. "Apakah kau akan ke kamarku?"
***