"Berapa lama?" ulangnya. "Berapa lama aku harus menjadi pelacurmu?"
Philippe meneguk sedikit bourbon, kemudian meletakkan gelas itu di atas meja. Ia tidak menjawab dengan segera.
"Kau benar-benar datang untuk menanyakan itu?" tanya Philippe akhirnya. "Tapi jika kau ingin memastikan itu, maka jawabanku, satu tahun."
"Satu tahun?" Élodie menahan napas. "Kau ingin aku menjual diriku selama satu tahun penuh?"
Philippe mengangkat bahu ringan. "Aku tidak akan memaksa, Dokter Van Der Linden."
Tatapan Élodie menyempit. "Tapi kau tidak memberiku pilihan lain, bukan?"
Philippe berdiri. Gerakannya tenang. Ia berjalan mendekat, tetapi berhenti satu meter di depannya, menjaga jarak yang terhitung. Sorot matanya tetap dingin. Tadi sebelum Élodie muncul, di lantai atas rumah yang sunyi, Philippe Fraser berdiri memandangi dokumen setebal dua belas halaman di mejanya. Di pojok kanan atasnya, tercetak jelas, 'Akta Pemisahan dan Penyerahan Kepemilikan Penuh – Fondation Isabelle Van Der Linden.'
Ia telah membaca dokumen itu tiga kali sejak sore tadi. Tidak ada yang keliru. Tidak ada celah legal. Begitu ia menandatanganinya besok pagi, yayasan itu akan sepenuhnya menjadi milik Élodie. Tak bisa disentuh, ditarik ulang, atau dimasukkan kembali ke dalam struktur perusahaan yang ia kuasai.
Keputusan itu bukan hasil emosi. Ia mempertimbangkannya selama beberapa jam terakhir. Setelah melihat catatan operasional yayasan, laporan para relawan, dan dampaknya terhadap pasien anak-anak kanker, Philippe menyadari satu hal yang tak bisa ia bantah, yayasan itu bukan alat keluarga Van Der Linden. Yayasan itu adalah warisan seorang ibu kepada dunia yang tak pernah cukup peduli.
Isabelle Van Der Linden bukan musuhnya. Mungkin juga bukan bagian dari dosa Maurice Van Der Linden. Ia ingin menepikan kebencian itu. Setidaknya untuk satu hal kecil yang benar-benar bermakna. Namun saat bel rumah berbunyi malam itu, dan pelayan mengabarkan bahwa Élodie datang tanpa pemberitahuan, niat itu terkoyak oleh sesuatu yang jauh lebih purba. Takdir memiliki cara yang sangat cerdas untuk menggoda manusia yang hampir bertobat, begitu pikir Philippe.
Bukankah luar biasa bahwa putri Maurice Van Der Linden, perempuan yang selalu menatapnya dengan nyala perlawanan, kini berdiri di depan pintunya? Ia sendiri tanpa didorong atau dipanggil. Ia bisa saja tetap menyerahkan yayasan itu besok. Bahkan tanpa meminta balasan.
Namun ada bagian dalam dirinya yang masih berdarah. Bagian yang belum bisa melupakan jenazah ibunya yang dingin di ruang isolasi bertahun-tahun silam, karena rumah sakit yang dimiliki keluarga Élodie menolak memperpanjang perawatan hanya demi efisiensi anggaran.
Kini, bagian itu mendesis di dalam dirinya. Dan kedatangan Élodie malam ini, tanpa ia undang, tanpa ia rancang, terasa seperti hadiah dari langit. Hadiah yang terlalu tepat untuk diabaikan. Hadiah yang akan ia buka perlahan. Hadiah yang harus ia nikmati selama satu tahun penuh.
"Aku ingin kau mengambil cuti dari residensimu. Setahun penuh. Mulai minggu depan."
"Untuk apa?"
"Untuk tinggal di rumah ini. Kau akan menemaniku dalam semua urusan sosial, acara formal, makan malam investor. Di hadapan publik, kau akan menjadi pendampingku."
Élodie terdiam. Matanya tidak berkedip. "Dan menemanimu di atas ranjang?" tanyanya lirih.
Philippe menoleh perlahan, seolah mempertimbangkan jawabannya. "Kau akan kuberi kamar sendiri, kau bisa tinggal di sayap timur. Ruanganmu tidak akan dikunci. Aku tidak akan menyentuhmu, kecuali jika yang mengizinkan."
"Jadi kau ingin aku hidup dalam ketakutan? Dalam ketidakpastian apakah malam ini kau akan masuk ke kamarku atau tidak?"
"Bukan ketakutan," jawab Philippe pelan. "Aku ingin kau belajar menyerah. Bukan pada tubuhmu. Pada keangkuhanmu."
Élodie menahan amarah yang mulai mendidih di tenggorokannya. "Dan sebagai imbalannya?"
Philippe menatap langsung ke matanya. "Aku akan menyerahkan kepemilikan penuh atas yayasan itu kepadamu. Secara legal dan mutlak. Tidak bisa disentuh siapa pun, termasuk diriku."
Ia memberi jeda sebelum melanjutkan.
"Dan jika kau menyelesaikan satu tahun penuh sesuai kesepakatan, aku akan melepaskan seluruh saham perusahaan Van Der Linden yang saat ini berada di bawah kendaliku. Tanpa kompensasi. Tanpa perjanjian lanjutan."
Ruangan itu kembali sunyi. Hanya api di perapian yang berdesis pelan.
Élodie menarik napas panjang. Lalu duduk perlahan di kursi di seberangnya.
"Aku punya satu syarat."
Philippe mengangkat alis tipis.
"Anak-anakmu tidak boleh tahu siapa aku sebenarnya. Tidak boleh tahu mengapa aku tinggal di sini. Aku tidak ingin mereka melihatku sebagai alat permainanmu."
Senyum Philippe muncul. Tipis. Hampir tak kasatmata.
"Kesepakatan diterima."
Tiga hari kemudian, Élodie berdiri di depan pintu ruang direktur program bedah anak. Surat pengunduran dirinya dari program sudah di tangan, namun tidak permanen. Ia mengajukan cuti pribadi selama satu tahun.
Alasannya tertulis singkat, "Kondisi keluarga darurat."
Koordinator program membacanya pelan, lalu menatap Élodie. "Kami akan merindukanmu," katanya lembut. "Tapi kau telah memberikan banyak hal untuk program ini. Kau pantas menentukan prioritas hidupmu."
Élodie hanya menjawab dengan anggukan kecil. Dalam hatinya, tidak ada kemenangan. Hanya kehilangan yang perlahan-lahan menjadi kebiasaan.
Ia pulang ke apartemen keluarga Van Der Linden untuk mengemas barang. Udara di dalam ruang tamu terasa lebih berat dari biasanya. Maxime berdiri membelakangi cahaya, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, sementara Élodie duduk di kursi berlengan dekat piano tua milik mendiang ibu mereka.
"Jadi itu keputusanmu?" suara Maxime pelan, tetapi nadanya jelas mengandung protes. "Kau akan tinggal di rumah pria itu selama satu tahun penuh?"
Élodie mengangguk. "Philippe menawarkan untuk menyerahkan kembali kepemilikan yayasan jika aku bersedia. Bukan hanya itu. Jika aku bertahan satu tahun sesuai kesepakatan, dia akan membebaskan perusahaan."
Maxime berbalik cepat, wajahnya mengeras. "Apa kau sadar siapa Philippe Fraser? Dia membenci keluarga kita. Membencimu. Kau pikir dia akan membiarkanmu tinggal di rumahnya tanpa menyiksamu perlahan? Apa kau benar-benar percaya padanya?"
"Aku tidak mempercayainya," jawab Élodie tenang. "Aku hanya mempercayai apa yang harus kulakukan."
"Kau bukan satu-satunya yang memikul ini, Élodie."
"Aku tahu." Ia berdiri, menatap kakaknya dengan sorot mata yang jernih. "Tapi kau harus tetap tinggal di sisi ayah, ia membutuhkanmu. Perusahaan butuh wajahmu sebagai direktur. Sedangkan aku ... aku tidak punya beban jabatan. Yang kumiliki hanyalah idealisme. Dan sedikit kekuatan untuk bertahan."
Maxime menghela napas dalam. "Apa kau mengerti konsekuensinya? Ia bisa mempermainkanmu. Mengisolasi. Menghancurkan harga dirimu dari dalam."
Élodie tidak menghindari tatapan itu. "Aku sudah memperhitungkan semuanya. Aku tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku juga tahu siapa yang akan terkena dampaknya jika yayasan itu hilang. Clara. Louis. Anak-anak lain. Mereka tidak layak membayar harga dari dendam Philippe."
Ia melangkah maju dan menggenggam tangan kakaknya.
"Jaga Ayah. Jaga dirimu. Bertahanlah. Aku akan kembali, dan membawa semuanya pulang."
Mata Maxime mulai basah, namun ia tidak berkata apa-apa. Hanya anggukan kecil sebagai bentuk kepasrahan. Mungkin juga pengakuan diam-diam, bahwa kali ini Élodie-lah yang lebih kuat di antara mereka berdua.
Tak lama kemudian, Élodie meninggalkan apartemen itu. Mantelnya menutup seluruh tubuh hingga ke betis, dan langkahnya tidak goyah sedikit pun. Malam sudah mulai turun saat ia memasuki mobil yang akan membawanya ke rumah Philippe Fraser. Tempat yang akan menjadi sangkar barunya untuk satu tahun ke depan.
Malam itu, ia kembali berdiri di depan rumah Philippe. Tanpa jas dokter. Tanpa papan nama di d**a. Tanpa siapa pun yang menyambutnya selain bayangan dirinya sendiri di balik pintu kaca besar. Pintu dibuka. Pelayan itu menyambutnya dengan anggukan sopan.
"Selamat datang, Nona Van Der Linden. Tuan rumah telah menyiapkan kamar untuk Anda."
Élodie melangkah masuk.
"Kau tak perlu membawa apa pun, aku sudah menyiapkan semuanya," kata Philippe begitu Élodie berdiri di hadapannya.
***