"Kalau begitu," katanya pelan, "bekerjalah sebagai pelacurku."
Kata itu meluncur dengan datar. Tidak disertai nada tinggi. Tidak pula dengan tawa menghina. Justru karena ketenangannya itulah kata itu menghantam Élodie seperti cambuk dingin ke wajah.
Sejenak, ia membeku. Wajahnya tidak berubah, tetapi matanya melebar pelan. Jari-jarinya mengencang di sisi tubuhnya, seperti menahan gemetar yang naik dari ulu hati.
"Apa kau ... tidak keterlaluan?" Suaranya hampir berbisik, tertahan antara syok dan kemarahan. "Kau pikir aku menawarkan diriku untuk dipermalukan?"
Philippe tidak menjawab. Ia hanya menatapnya, seolah sedang mengamati reaksi yang sudah ia prediksi.
Élodie melangkah mundur satu langkah. Lalu satu lagi. Napasnya mulai memburu. Bukan karena takut tapi karena amarah yang mulai menggerogoti dadanya.
"Aku datang ke sini demi nyawa anak-anak yang tak pernah kau lihat. Bukan demi ayahku. Bukan demi perusahaan. Tapi kau ... kau malah menjadikan tubuhku alat tawar. Seolah-olah aku tak lebih dari angka di neraca bisnismu."
"Setiap orang punya harga, Dokter Van Der Linden. Kau yang menawarkan dirimu sendiri," jawab Philippe tenang.
Tamparan tak terdengar menggema di ruangan itu, bukan oleh tangan, melainkan oleh kenyataan bahwa Philippe benar-benar tidak peduli.
Tanpa menunggu lagi, Élodie memutar badan.
Ia melangkah keluar dari ruang itu tanpa sepatah kata tambahan. Tidak menoleh. Tidak meminta belas kasihan.
Pintu menutup pelan. Hanya suara klik kecil yang tertinggal di udara, namun keheningan yang menyusul terasa jauh lebih berat daripada kata-kata yang baru saja diucapkan.
Philippe berdiri membisu di tengah ruang kantornya. Punggungnya tegap, namun jemari kirinya perlahan mengetuk permukaan meja kaca. Itu kebiasaan lama yang muncul hanya saat pikirannya bergerak lebih cepat dari lidahnya.
Wajah Élodie masih terpantul samar dalam benaknya. Sorot mata itu tidak bisa ia abaikan. Penuh luka, namun tak menyerah. Ia datang seperti banyak orang lain yang pernah memohon sesuatu padanya, namun berbeda. Bukan karena nama belakang Van Der Linden. Bukan pula karena nada suara atau sikap formalnya. Perbedaan itu ada pada keteguhan yang nyaris menyakitkan untuk disaksikan.
Ia tidak menangis. Tidak memohon belas kasihan. Ia hanya meminta, dengan martabat yang tak goyah.
Philippe menoleh ke arah panel interkom di sisi meja. Ia menekan satu tombol.
"Sébastien."
Suara pria di ujung sana langsung menyahut, jelas dan siap. "Ya, Tuan Fraser."
"Kumpulkan data dan seluruh informasi mengenai yayasan milik Isabelle Van Der Linden. Nama resminya, laporan keuangan, catatan pajak, dan riwayat aktivitas selama lima tahun terakhir. Fokus pada sisi operasional. Aku ingin tahu siapa saja yang pernah menerima manfaat langsung dari lembaga itu."
"Tentu, Tuan. Tenggatnya?"
"Empat jam. Kirim ringkasannya ke email. Setelah itu, minta Sophie dari tim legal untuk menganalisis struktur hukumnya. Aku ingin tahu seberapa jauh yayasan itu terikat pada perusahaan induk. Dan jika dipisahkan, apa dampaknya secara legal dan finansial."
Terdengar suara ketikan cepat di latar belakang sebelum jawaban datang. "Baik. Saya mulai sekarang."
Philippe memutus sambungan. Ia berdiri diam selama beberapa detik, lalu melangkah menuju jendela yang menjulang dari lantai hingga langit-langit. Di luar, kota Brussels terbentang dalam warna kelabu. Mobil-mobil kecil bergerak perlahan di bawah rintik hujan.
Pikirannya mencoba menolak apa yang baru saja ia rasakan. Masuk akal jika Élodie menggunakan yayasan itu sebagai celah. Ia bisa saja memanfaatkan nilai moral dan simpati publik untuk mempertahankan bagian kecil dari kehormatan keluarganya.
Namun sesuatu dalam dirinya tidak tenang.
Sorot mata Élodie terlalu jujur. Terlalu mentah untuk dibuat-buat. Ia pernah melihat ratusan wajah yang berbohong demi keuntungan. Ini berbeda. Ekspresinya bukan milik seorang manipulator.
Tangan Philippe menyentuh sisi cangkir kopinya yang sudah dingin. Ia tidak menyentuhnya sejak Élodie masuk. Rasa pahit tidak datang dari minuman itu.
Mungkin Élodie tidak seperti ayahnya. Mungkin ia hanyalah bagian dari drama keluarga yang terlalu piawai menyamarkan motif mereka. Ia belum bisa memutuskan. Namun satu hal telah jelas baginya.
Jika yayasan itu memang dibangun dengan pengorbanan seorang wanita bernama Isabelle, dan bertahan karena keyakinan Élodie akan nilainya, maka menghancurkannya tidak akan terasa seperti kemenangan.
Itu akan terasa seperti membunuh seseorang yang tidak pantas dibunuh.
*
*
Rumah Sakit Universitas Saint-Luc – Departemen Onkologi Anak
Pagi berikutnya datang tanpa ampun. Jam dinding ruang jaga menunjukkan pukul lima lewat dua belas, dan Élodie sudah mengenakan jas putihnya. Rambutnya diikat ketat, wajahnya polos, hanya sedikit bedak yang tersisa dari semalam.
Ia tidak tidur.
Setelah meninggalkan kantor Philippe, ia kembali ke rumah sakit. Tidak ada yang berubah dari jadwal pagi ini, kecuali hatinya yang terasa lebih berat. Namun seperti biasa, Élodie tidak membiarkan luka pribadinya memengaruhi ruang praktik. Di sini, ia adalah residen bedah anak tahun ketiga. Tidak lebih, tidak kurang.
Suara roda tempat tidur menderu pelan di lorong. Seorang perawat menyapanya, ia membalas dengan anggukan ringan. Pandangannya fokus pada tablet digital di tangannya, tetapi pikirannya belum sepenuhnya utuh. Tawaran Philippe masih menempel di dasar benaknya, seperti noda yang sulit hilang.
Kau ingin menyelamatkan yayasan itu? Jadilah pelacurku.
Élodie menarik napas dalam, lalu mengusir suara itu dari pikirannya.
"Dr. Van Der Linden," sapa perawat senior, Nadine. "Pasien kamar 306 menanyakan Anda."
Élodie mengangguk. "Clara?"
"Ya. Katanya ia ingin menunjukkan sesuatu."
Ia melangkah masuk ke kamar yang terang dan bernuansa ceria. Dindingnya dipenuhi gambar kupu-kupu dan lukisan buatan anak-anak. Di atas ranjang, duduk seorang gadis berusia sembilan tahun, berkepala plontos, dengan mata besar yang memancarkan semangat.
"Dr. Elodie!" serunya ceria, meski suaranya sedikit serak. "Lihat gambar yang kubuat tadi malam."
Gadis itu mengangkat kertas berwarna. Di tengahnya tergambar seorang wanita memakai jas putih, dikelilingi anak-anak kecil yang tersenyum. Di atasnya tertulis, Untuk Dokter Élodie. Pahlawan kami yang tidak memakai jubah terbang.
Élodie tersenyum. Senyum yang tidak dipaksakan, untuk pertama kalinya sejak kemarin. Ia duduk di tepi ranjang. "Gambarmu semakin bagus. Aku suka yang ini. Apa aku boleh menyimpannya nanti?"
Clara mengangguk cepat. "Boleh. Tapi nanti, setelah operasiku selesai. Supaya aku bisa coretkan tanda tangan."
"Ah, tentu. Dua minggu lagi, bukan? Kau akan siap."
Gadis itu tersenyum malu-malu. Tapi di balik senyum itu, Élodie tahu, tubuh Clara sedang bertarung sekuat tenaga. Kanker ginjalnya agresif. Sudah menyebar. Operasi rekonstruksi akan memakan waktu lama dan biaya besar. Tapi yayasan ibunya sudah menanggung semuanya, dari kemoterapi pertama hingga janji untuk menyokong pengobatan pascaoperasi.
Atau, lebih tepatnya, dulu menjanjikan.
Élodie merasakan desakan halus di dadanya. Seandainya akuisisi Fraser Group berjalan minggu depan, yayasan akan dibekukan. Sumber dana akan terputus. Semua yang telah dijanjikan pada Clara akan lenyap, diganti prosedur standar yang lebih murah dan jauh dari memadai.
Ia menggenggam tangan kecil Clara.
"Aku akan pastikan operasimu berjalan sesuai rencana," ucapnya lembut.
Clara menatapnya heran. "Tentu saja. Kan Dokter Elodie yang janji."
Élodie tersenyum lagi. Tapi kali ini, ia tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan getir di matanya.
Di ruang jaga, Élodie berdiri lama di depan papan pengumuman yayasan yang tergantung di dinding dekat lobi anak. Di sana terpampang foto-foto kegiatan, senyum para relawan, dan daftar pasien yang dibantu. Ia melihat nama Clara di sana. Juga beberapa anak lain yang tengah menanti prosedur krusial.
Satu tangannya menyentuh foto ibunya yang disematkan kecil di pojok bawah papan.
Mom, aku sudah mencoba bicara dengan pria itu. Aku sudah membuang seluruh harga diriku. Tapi ternyata, untuk menyelamatkan sesuatu yang baik, aku mungkin harus melakukan hal-hal yang tidak baik.
Matanya tertutup sesaat.
Jika semua ini gagal, bukan hanya yayasan yang akan mati. Tapi seluruh impian ibunya, dan anak-anak seperti Clara, akan ikut tenggelam bersamanya.
Malam terasa turun lebih cepat di Brussels, menyelimuti kota dengan kabut tipis dan angin basah yang menusuk tulang. Di Avenue Franklin Roosevelt, lampu-lampu jalan menyala redup di bawah kanopi pohon-pohon tua. Sebuah mobil hitam berhenti perlahan di depan kediaman pribadi Philippe Fraser.
Élodie turun tanpa suara, mengenakan mantel panjang berwarna kelabu gelap. Rambutnya dikuncir sederhana. Sepatu hitam tanpa hak menyentuh batu kerikil halaman rumah besar itu. Ia tidak membawa apa pun kecuali tas kerja kecil dan sebuah keputusan yang ia benci untuk ambil, namun tahu tak ada jalan lain.
Bel pintu ditekan. Beberapa detik berlalu sebelum pintu kayu mahoni terbuka. Seorang pelayan pria membungkuk ringan. Élodie menyapanya, memperkenalkan diri dan mengutarakan maksud kedatangannya ingin menemui Philippe Fraser. Pelayan itu meminta Élodie menunggu sebentar, dia masuk lalu kembali beberapa menit kemudian.
"Silakan masuk, Nona Van Der Linden. Tuan Fraser sedang berada di ruang baca."
Élodie hanya mengangguk. Ia tidak butuh pengantar. Langkahnya menyusuri lorong panjang yang asing, namun terasa seperti menuju ruang penghakiman.
Ruang baca itu luas, sunyi, dan hangat. Cahaya kuning dari lampu gantung menyinari rak-rak buku yang menjulang di tiga sisi. Philippe berdiri membelakangi pintu, mengenakan sweter wol hitam dan celana panjang berwarna arang. Di tangannya ada segelas bourbon yang belum disentuh.
Ia menoleh perlahan saat mendengar suara langkah masuk.
Mereka saling menatap.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada salam.
Hanya Élodie yang akhirnya membuka mulut, dan suaranya terdengar jernih meski terasa seperti menghantam batu di tenggorokannya.
"Berapa lama?"
Philippe tidak menjawab.
"Berapa lama," ulang Élodie. "Berapa lama aku harus menjadi pelacurmu?"
***