bc

Gadis 365 Hari

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
confident
heir/heiress
blue collar
bxg
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Arkana, CEO dari Cakra Group jatuh cinta pada gadis yang tidak dikenalnya dalam tragedi cinta satu malam. Demi status sosial dia harus rela mencari gadis itu dalam kurun waktu 365 hari, kalau tidak maka ahli waris Cakra Group akan ditiadakan.

Seiring perjalanan waktu, Arkana kembali dipertemukan dengan kekasih hatinya, Marissa. Kesalahpahaman pun terjadi.

Mungkinkah Arkana bisa menemukan gadis itu ataukah ia m3milih jalan lain untuk menipu Sang Kakek?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Tragedi (Pov. Aleta)
Aku masuk ke ruang ICU dan terpaku di depan ranjang dengan nomor 206 dan 207, di mana seluruh tubuh dari kedua pasien itu sudah ditutup kain putih. Mereka adalah Ayah dan ibuku yang mengalami kecelakaan di malam minggu kemarin, tiga hari sebelum aku merayakan kelulusan di sekolah. Aku menatap ke sekeliling, tidak ada lagi alat-alat medis yang kemarin berada di sisi mereka. Saat ini hanya sepi dan kosong. "Sabar, Nak. Ikhlaskan yang sudah pergi karena kehilangan adalah cara terbaik untuk kita belajar ikhlas." Suara Om Herman, adiknya Ibu membuat tangisku semakin keras. Ditambah lagi Kak Airin yang sama sekali tidak dapat dihubungi. Padahal dari keterangan pihak berwajib dan saksi mata, peristiwa di malam itu adalah murni kecelakaan tidak ada unsur kesengajaan atau apapun seperti yang dikatakan oleh Kak Airin. Aku paham, dia seorang pengacara handal yang selalu memenangkan beberapa kasus, sebab itu setelah kecelakan, dia pun pergi ke kota Surabaya untuk datang ke TKP secara langsung. Namun, anehnya sampai detik ini justru aku kehilangan jejak. "Kakakmu masih tidak dapat dihubungi, Ta." Om Herman mengucapkannya dengan pelan sekali. "Iya, Om. Aku tahu." Aku pun sadar, sekalipun ingin menangis dan berteriak seperti orang gila, orang tuaku tidak akan pernah kembali lagi. *** "Ta, kamu mau nggak gantiin temanku kerja?" Zara, teman dekat Kak Airin datang melayat karena baru hari ini dia libur. Dia menjabat sebagai Supervisor Housekeeping di hotel Golden Raya yang menjadi hotel berbintang paling dikenal di kota metropolitan ini. "Kerja berapa hari?" "Hanya dua hari saja, dia ambil cuti mendadak dan aku harus mencari gantinya." "Tapi, aku nggak pernah kerja apa bisa, Mbak?" "Bisalah, hanya beres-beres kamar, kok. Kan, nggak sendirian. Ada temannya. Bagaimana mau nggak?" Aku langsung mengangguk karena dulu Kak Airin juga sering ambil job dadakan ini kalau sedang longgar. Lumayan bisa buat beliin es krim aku, katanya dulu. "Kamu juga nggak boleh di kamar terus seperti ini, maaf bukannya menceramahi. Tapi, justru kalau kamu diam saja, kamu akan semakin terpuruk." "Iya, Mbak. Aku mau, lagian peresmian kelulusan masih empat hari lagi." "Ya sudah, besok pagi aku jemput kamu, ya." "Iya, Mbak. Makasih sebelumnya." "Sama-sama." Mbak Zara pun pamit undur diri dan aku melanjutkan mengemasi pakaian dan barang-barang orang tuaku. Menyimpannya pun hanya akan menambah luka lebih dalam lagi. Di dalam almari, aku menemukan sebuah kotak warna merah hati berbalut baldu lembut, aku tidak tahu apa isinya, hanya teringat cerita Ibu dulu yang mengatakan kalau itu adalah foto lawas saat mereka muda bersama teman-teman. Untuk barang penting dan beberapa kotak berisi emas, aku menyimpannya ke dalam almari di kamar bersama dokumen lainnya. "Aleta, sarapan dulu, yuk. Katanya hari ini kamu mau ikut Zara kerja part time." "Iya, Tante. Sebentar lagi aku keluar." Selesai berhias tipis, aku pun keluar dan bergabung di meja makan untuk sarapan dengan Tante Mira dan Om Herman. Saat ini, hanya merekalah keluarga yang aku ada. "Apa kamu mau bawa bekal?" "Ah, tidak, Tante. Nanti bisa makan di kantin bareng Mbak Zara. Dia mau traktir aku selama ikut kerja dengannya." "Wah waahhh ... kalian kayak kakak adik saja, ya." Om Herman menimpali dan tidak lama kemudian datang Mbak Zara untuk menjemput. Selama dalam perjalanan, aku diberitahu apa saja pekerjaan yang harus aku buat dan juga ada ruangan khusus untuk ganti baju kerja. Kini, aku sudah seperti pekerja yang lain, memakai seragam khusus berwarna cokelat muda dengan bagian leher warna putih berenda melingkar. "Wah, masa iya anak gadis secantik kamu harus memakai pakaian seperti kami," celetuk Mbak Tina, yang sudah siap bergabung satu tim denganku. "Cari pengalaman dulu, Mbak. Siapa tahu nanti jadi pemilik hotel berbintang ini." "Aamiin. Ya sudah, ayo." Aku berjalan bersama satu tim yang terdiri tiga orang, masuk ke kamar satu per satu hingga tanpa terasa sampai juga di jam istirahat. Seharian ini aku sama sekali tidak merasakan sedih, terhibur karena teman-teman di tempat kerja dan keesokan harinya pun sama. Menyenangkan sekali bisa membersamai mereka. "Ohhh, Aleta. Kamu bisa bantu sebentar?" "Apa, Mbak?" "Ini tadi ada yang lupa naruh asbak di kamar 307. Tamunya baru saja keluar sebelum pergantian shift tadi." "Iya, sini. Kebetulan aku juga mau turun, Mbak." "Terima kasih, ya." "Iyaaa." Aku menerima asbak kecil warna kaca bening dari peralatan yang baru aku kenali dua hari ini dan melenggang menuju pintu lift untuk turun karena sekarang aku berada di lantai 6. Gudang peralatan untuk housekeeping dan cleaning servis memang ada di sana semua. Bisa dikatakan, tempat mangkalnya para pekerja saat pagi dan sore atau malam untuk jam pulang. Pintu lift terbuka dan aku segera keluar bertepatan dengan satu bunyi dari lift sebelah, mungkin ada orang yang akan menuju ke kamarnya. Selesai meletakkan asbak tadi, aku pun menutup kembali pintu lalu berjalan menuju ke arah lift. Namun, Tiba-tiba saja ada sebuah pintu yang kulewati terbuka dan seseorang menyeretku masuk. Pintu pun langsung terkunci bersamaan dengan tubuhku yang dibanting ke atas kasur empuk. Siapa laki-laki ini? Kenapa dia membawaku ke sini? Untuk apa? "Marissa ... kenapa kau tega melakukan itu padaku. Kenapaaaa." Marissa? Siapa Marissa? Kenapa lelaki ini terus saja memanggil nama itu. "Tolong lepaskan aku." "Tidak, aku tidak mau kau meninggalkanku." Cengkeraman kuatnya membuatku meringis karena sakit dan tiba-tiba saja tangannya membuka kancing bajuku sementara dirinya pun sudah bertelanjang d**a. "Lepaskan aku." "Tidak!" Aku berusaha untuk mengelak dari sentuhannya, tapi tubuhku tergolek lemah. Segala macam perlawanan sudah aku lakukan, tetap saja tidak bisa menyingkirkan lelaki berbau alkohol ini. "Kau mau apa? Tolong ... jangan lakukan itu padaku." Lelaki yang memiliki bekas luka di bagian lengan dalam sebelah kiri ini tidak peduli. Dia terus menindih dengan gerakan tangannya menekan urat-urat leher sampai aku kesulitan untuk bernapas. "Lepaskan," kataku lirih. Setelah membuka pakaian, tanpa rasa malu dia mencium dan menyesap leherku berulang kali, disertai gigitan kecil yang bagiku sangat menyakitkan. "Kenapa kau diam saja, aku ingin mendengar suaramu, Sayang." Lagi, dia memaksa untuk mencium bibirku dan aku berhasil mengigitnya, tapi bukannya dia berhenti. Justru semakin berani dan liar dan seketika dia langsung menangkup keduanya dan bermain di atas puncak-puncak kenikmatan yang membuatku terkejut karena sensasi gila seperti ini baru pertama aku merasakannya. "Aku akan memuaskanmu dan malam ini aku akan menjadi satu-satunya lelaki yang memilikimu!" Tangan itu langsung menarik kedua tanganku ke atas dan menalinya dengan dasi yang ia lepaskan. Dan, begitu saja lelaki yang tak kukenal ini merenggut kehormatanku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.4K
bc

Kali kedua

read
222.0K
bc

TERNODA

read
201.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.0K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
5.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook