BAB-2

1630 Kata
CIIIIIIT~ Ban mendecit dengan sangat keras. GHRUNG~ Suara mesin dan knalpot mobil, menggerung sepanjang jalan. Sebuah mobil sport mewah yang sudah lecet dan terpenuhi oleh bekas tembakan. Mobil tersebut melaju dengan membabi-buta, melewati mobil lainnya dengan kecepatan maksimal. Suara tembakan masih menjadi-jadi di belakang mobil itu, semakin lama mobil itu melaju semakin banyak pula tembakan yang mengenai kulit mobil tersebut. Tidak berhenti di situ saja, beberapa motor juga mengejarnya dan terus menembaki mobil sport itu terus menerus. Yang di lakukan mobil itu hanya melaju dan menghindari tabrakan. Banyak mobil lainnya yang menjadi korban kegilaan yang terjadi di sepanjang jalanan itu. Di dalam mobil sport itu, lelaki tampan dan perempuan cantik tengah berwajah serius, panik tentunya. Lelaki itu adalah Ralph, Ralph Mcliefter. Sementara Perempuan cantik itu adalah Sara, Sara Kazouwski. "Cepat! Katakan, di mana Diska itu, Sara!." Ralph terus memainkan kemudi mobil. "Really, Harus sekarang kah kau bertanya mengenai Diska itu?. Cepat, bawa saja mobil ini dengan benar. Sia-sia jika kita tertangkap si b******n itu." Decak Sara, berteriak-teriak. "Belok kiri!." Suruh Sara, jari telunjuknya mengarah pada jalan yang ia tunjuk. "What!?. Kenapa? Kau lihat, sebentar lagi lampu akan merah." Sahut Ralph. "Justru itu yang kita butuhkan, Jared. Itu peluang kita, dengan begitu kita bisa memperlambat mereka." Jelas Sara. "Cepat! Ikuti rencana ku, Jared." Imbuhnya. Dengan terpaksa, Ralph langsung menginjak gas. Mobil itu melaju dengan kecepatan maksimal. Sebelum lampu berubah menjadi merah, mobil yang mereka bawa sudah melaju lebih dulu. Banyak mobil yang berhenti, sehingga terjadi kecelakaan besar di sana. Walaupun itu menghalang dan memperlambat mobil lain yang mengejar, motor-motor tidak berhenti dan terus mengejar mobil yang Ralph kendarai. Baku tembak masih terjadi di sepanjang jalanan. Mobil yang Ralph kendarai adalah mobil Anti peluru. Sehingga tembakan bertubi-tubi mereka tidak dapat mencelakainya. "Awas! Aku akan ambil alih kemudi." Lagi-lagi, perkataan Sara membuat Ralph mengerjap tak percaya. "Kau gila!. Aku tidak mau melakukan rencana egois itu, aku juga tidak mau meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini." Ralph tahu apa yang akan di lakukan oleh Sara, dia akan melakukan rencana egois itu. "Aishh, kau ini, Jared. Pandai berkelahi tetapi otak nol persen. Jika aku yang melakukan rencana, aku tidak bisa melindungi diri ku sendiri apalagi melindungi Diska itu." Decak Sara resah. "Setidaknya, kau lebih menguasai dan tahu caranya berkelahi dengan benar." Imbuhnya. "Kau terlalu meremehkan diri sendiri, Sara." Bentak Ralph. "Aku tidak mau tahu. Cepat! Lepaskan sabuk pengaman kamu. Saat aku bilang loncat, loncatlah." Kata sara. Ia langsung melepaskan sabuk pengamannya. "Tapi, Sara." Sela Ralph, dengan nada cemas. "Tapi kenapa, hah?. Jangan cemaskan aku, yang harus kamu cemaskan adalah Diska itu. Jika dia mendapatkan Diskanya, habis kita." Sahut Sara muak. "Kamu kenal aku, Jared. Aku selalu menyembunyikan barang berharga ku di sana. Jaga Diska itu untuk ku, setidaknya demi Kawan-kawan kita yang sudah berkorban." Imbuhnya, dengan nada hancur. "Baiklah, Sara. Aku akan lakukan, demi kita dan demi Kawan-kawan kita." Kata Ralph. Ia mengangguk mafhum setelah mengatakannya. Sara juga merespon dengan mengangguk mafhum. "Aku percaya kepada kamu, Jared!." Sara mendekatkan dirinya, mencium bibirnya Ralph dengan cepat selama 2 detik. *** Di sisi lain, mobil yang mereka kendarai tengah menyusuri tanjakan. Sebentar lagi, mereka akan tiba di ujung bukit. Di sana, mereka berdua akan melakukan rencana seperti biasa. Ralph dan Sara terkesiap. Mereka berdua menunggu momen yang tepat. Ralph sudah melepaskan sabuk pengaman sebelumnya. Salah satu kakinya menginjak gas dengan keras, tangan kirinya hendak membuka pintu mobil. Sementara kaki kirinya Sara, hendak menginjak rem. Gerungan mobil semakin keras. Tinggal menghitung detik. Bukit itu penuh dengan pohon Pinus, sehingga dapat membantu mereka untuk melancarkan rencana. Apalagi setelah tiba di bukit, mereka langsung di suguhkan dengan belokan tajam ke kanan. Sara menginjak rem, Ralph mengangkat kakinya. Dengan cepat, pintu mobil di buka. Mobil pun sedikit melambat. "Ini saat, Jared. Loncat!." Ralph meloncat dari mobil dengan cepat, menggulingkan tubuhnya di tanah yang mengebul. Tubuhnya langsung memasuki semak-semak. Di sisi lain, Sara mengambil alih kemudi sesuai rencana dan langsung menutup kembali pintu mobil. Rencana yang telah mereka buat ternyata sukses. Orang suruhan Jeremy Blood tidak menyadari rencana mereka berdua. Semua orang mengikuti mobil yang sedang Sara kendarai. Ia menginjak gas dengan keras, memainkan kemudi mobil. Ia melirik kearah kaca spion seraya berkata. "Semoga berhasil, Jared!." Mobil melaju dengan cepat meninggalkan bukit. *** Saat ini, Ralph tengah berada di sebuah ruangan. Ia menghadap lurus dan menyorot kearah sebuah brankas. Ia terdiam tak bergerak seperti itu sudah hampir 30 menitan. "Apa yang akan aku lakukan dengan Diska ini, Sara. Kenapa kamu melakukannya, kenapa kamu melakukan hal itu lagi?." Tanya Ralph, dalam batin. Ia masih diam dan menyorot lurus kearah brankas kecil di depannya. "Seharusnya aku yang berkorban, setidaknya kau pandai menyembunyikan sesuatu." Imbuhnya. Ia menghela nafas panjang, menghembuskannya dengan sia-sia. Ia menggelengkan kepalanya sembari memejamkan mata. Setelah itu, ia langsung mengulurkan tangannya. Menekan satu-persatu digit yang tertempel di brankas, memasukkan kode akses. Walaupun sudah 5 kali, ia tidak bisa membuka brankas itu karena ketidakcocokan kode digit. "Apa yang aku lupakan?." Ralph berpikir keras mengingat kembali hal yang ia lewati. Akhirnya, ia menemukan dan mengingat kembali apa yang telah ia lewati. Kode digit brankas di tekan kembali, kali ini tebakannya benar. Brankas itu berhasil di buka. Tanggal pertama kali Ralph dan Sara bertemu. Sebuah Diska kecil yang berwana hitam, tidak ada warna lain selain hitam dan silver. Sesaat, Ralph terdiam tak bisa berkata-kata. Ia tengah memikirkan tentang Sara. Keahliannya dalam menyembunyikan sesuatu membuat Ralph takjub. Ia mengedip sembari mengulurkan tangannya. Mendapati dan langsung menarik Diska itu tanpa ragu. Ia mendongak menatap Diska hitam itu, membolak-balikkan untuk memastikan. Setelahnya, ia menutup dan menekankan matanya. Membungkus dan meremas Diska itu dalam kepalan tangannya. Tidak lama kemudian, Ralph langsung menyimpannya di dalam saku celananya. Ia berbalik badan, meninggalkan brankas itu tetap terbuka. Ia berjalan begitu saja tanpa menoleh kebelakang. *** Pada malam itu, Ralph menurunkan dan menapakkan kakinya di trotoar jalan, ia baru saja keluar dari sebuah taksi. Kakinya terlihat sedikit kaku dan gemetar ketika mempijakan kakinya di semen putih itu. Ia melirik ke segala arah dengan penuh hati hati, setiap sudut tempat ia rambati dan setiap hal yang mencurigakan ia awasi. Ekspresi dan tatapan waspada terhadap sekitar menyeruak di penghujung penglihatan. Sebagai mana mata memandang hanya kesunyian malam yang ia dapati, cahaya lampu jalanan yang berada tepat di atasnya menyorot samar-samar. Sehingga keganjalan-keganjalan dan paranoid yang membuat dirinya tak bisa memalingkan pandangan dari kegelapan malam. Dia terus merasakan bahwa dirinya sedang tidak sendirian. Dengan kaos biru polos, celana jeans hitam dan sepatu boot coklat yang telah Ralph kenakan menjadi setelan penghias sunyinya malam. Netra coklat, bibir tipis dan berambut hitam itu duduk di kursi yang ada di jalan trotoar tersebut. Ralph sungguh tidak menikmati momen sepi di sekitar jalan. Di tambah lagi tidak ada satu buah pun mobil yang menyisiri jalanan tersebut selama ia duduk di sana, dan hal itu sukses menambah keseraman dan keheningan di titik itu. Bahkan tidak ada satu orang pun pejalan kaki maupun suara seseorang berbicara, sehingga ia menyadari bahwa hal itu aneh dan menakutkan karena waktu masih terbilang terlalu sore. Rumah-rumah di sana kosong melompong hanya lampu menyala saja yang tersisa. Apakah semua orang sedang pergi berlibur, apakah semua orang sedang mengungsi? Pertanyaan itu sontak menjadi-jadi di kepalanya yang kedinginan. Pada beberapa menit terakhir, Ralph terus saja melirik dan melihat kearah sebuah gerbang masuk yang sangat besar yang telah berdiri di sana sejak lama, tembok besar yang berlumut di belakangnya membuat ia tak berpikiran jernih, akar-akar hijau dan dedaunannya sungguh berhasil menambah dinginnya udara pada malam itu. Selagi waspada, Ralph terus-menerus mengusap kulitnya karena kedinginan. Ia juga merasa sungguh menyesal tidak membawa jaket untuk menetralisir angin yang sedari tadi menggigit kulitnya. Akhirnya, Ralph mendekatkan kedua telapak tangan dan meniup tangannya itu terus-menerus untuk sedikit menghangatkan tangannya yang mulai terasa sedingin es. 'The Mcliefters' Terukir di sebongkah batu di atas gerbang besi tebal tersebut dan ternyata gerbang itu adalah gerbang masuk menuju kediaman keluarga Mcliefter. Tembok bata besar yang mengelilinginya sungguh tinggi dan tebal. Sebelum Ralph datang dan berada di dalam taksi, ia berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi hal ini membuatnya menambah beban pikiran yang baru. Tetapi, apa yang di lakukan Ralph di sana, bukankah itu adalah nama belakangnya?. GHRUNG~ Dan hinggalah suara yang telah lama ia tunggu. Suara gelegar keras knalpot mobil sport dan motor Harley memenuhi sepenghujung jalan dan membuat pendengarannya gatal tak karuan. Pikiran terhadap kota kosong seketika ramai kembali dengan adanya suara kebisingan yang sedang Ralph dengar. Cahaya kendaraan mereka sangat menggangu penglihatannya tersebut sehingga ia menghalangi matanya alih-alih melihat. Ralph sempat bingung dengan tiba-tiba semua menjadi ramai pengendara, tawa dan cekikikan dari semua orang. Apakah butuh bergerombolan untuk mengisi satu jalanan saja?. Satu-persatu, mereka semua berbelok kearah gerbang masuk. Tanpa ragu mereka menancapkan gas dan masuk kedalam gerbang The Mcliefters sembari menggerung-gerungkan suara knalpot mobil dan motor yang mereka kendarai. Kegaduhan tercipta di gerbang masuk kediaman keluarga Mcliefter. Tetapi, tidak semua orang melakukan kebisingan itu, hanya beberapa saja yang membuat kegaduhan di depan gerbang. Selebihnya mereka sangat diam dan berwibawa. Pakaian formal yang mereka pakai membuat Ralph mengingat kembali masa lalu yang pernah ia rasakan, sehingga rasa panas dan iri akan kerinduannya membara di tubuh dinginnya itu. Ralph terus menghunuskan pandangannya ke arah orang-orang yang berdatangan dengan mobil dan motor mereka. Sekitar 30 alat transportasi yang datang dan menghilang seusai memasuki gerbang The Mcliefters. Panas angin knalpot dan debu kotor jalanan yang terhempas oleh mobil mendarat di sekujur tubuhnya, tangannya ia jadikan halangan untuk wajah yang sepersekian detik bertambah kusam. Hingga tiba pada mobil sport yang berhenti di hadapan Ralph. Mobil Lamborghini itu benar-benar berhenti di depannya, sementara mobil yang lainnya seakan-akan tak melihatnya. Lelaki yang ada di dalam mobil Lamborghini, ia membuka kedua pintu mobil secara otomatis. Lelaki sport itu sangat tampan dan seumuran dengan Ralph, sehingga ia mengingat seseorang yang pernah ia sayangi, bahkan berjanji akan tumbuh dewasa bersama. "Heyy, kau, Bung. Butuh tumpangan?."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN