Trakkk
Trakkk
Trakkk
Satu hal yang senang sekali dan menjadi kebiasaan jari-jari tanganku, selain mencekik para wanita pencuri itu di saat senggang adalah memainkan ujung dari leser tattoo portable milikku, yang didesign khusus seperti sebuah pena hingga memudahkanku untuk selalu membawanya kemanapun aku pergi. Dan kalau di lihat seklias saja oleh orang awam mungkin ini hanya sekerdar pena biasa, bukan leser tattoo yang selalu kupakai untuk menggambar barkode pada semua korban-korbanku.
Bibirku tak sadar tengah kusunggingkan, saat kulihat betapa cantik dan sempurnanya calon istriku yang saat ini tengah memakai pakaian dalamnya yang cukup ciamik sekali di tubuhnya itu.
‘Untunglah Ill menaruh boneka pemberianku malam itu di sudut yang tepat, jadi aku kamera pengintai yang tertanam di dalamnya bisa merekama dengan angel yang baik’
Aku tersenyum puas saat menyaksikan lekuk tubuhnya yang memiliki tipe badan jam pasir *(p******a besar, pinggang kecil dan panggulnya yang besar), itu cukup untuk memenuhi satu ciri wanita subur dari segi fisik. Bukti-bukti riset medis menunjukan kalau wanita yang memiliki p******a besar memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi, dan estrogen sendiri adalah hormone yang membantu mengontrol siklus menstruasi dan membantu janin bertumbuh kembang di dalam rahim.
“Dari segi fisik, Ill sangat capable sekali untuk mengandung penerusku...”
Itu adalah kabar yang cukup membuat hatiku senang malam ini.
Meski masih ada beberapa hal lagi yang harus kuperdalam tentang dirinya, karena sudah kuputuskan dalam waktu dekat, akan langsung saja kunyatakan lamaran juga niatku untuk menikahinya.
“Satu hal yang harus kuubah darinya adalah kebiasaannya yang selalu bergadang untuk menyaksikan acara idola kesayangannya itu...”
Meskipun resikonya tak seberbahaya merokok, tapi begadang itu bukan kebiasaan yang baik. Seharusnya ia bisa tidur untuk meningkatkan kualitas kesehatannya.
Aku kemudian berjalan menuju tempat penyimpanan obat di rumahku. Lagi-lagi aku harus memberikannya obat untuk Ill karena kebiasaannya yang bisa merusak kesehatannya itu.
Alih-alih menggunakan date rape drugs atau obat tidur yang banyak di selewengkan dan di salahgunakan oleh orang-orang di club malam untuk meniduri para korban wanitanya. Aku lebih memilih Flibanserin yang sama dapat memberikan efek mengantuk untuk di berikan pada Ill.
*(Flibanserin atau di kenal dengan viag*a wanita, atau pink viag*a adalah obat atau suplemen satu-satunya, dan yang pertama kali di setujui oleh FDA atau Food and Drugs Amerika Serikat atau sejenis BPOM di Indonesia untuk pengobatan hasrat rendah pada wanita. Flibanserin merupakan serotonin agonist antagonist dan bukan merupakan obat perangsang)
Selain dari efek samping obat tidur jenis date rape drugs yang jelas akan sangat buruk sekali untuk kesehatan Ill, karena tujuanku adalah bukan hanya untuk membuat Ill tidur lebih cepat, tapi untuk menambah gairah sexualnya, akhirnya kuputuskan untuk memberikan flibanserin saja untuk mengembalikan dan menaikan gairah sexualnya, secara diam-diam tentunya.
Karena dari hasil pemantauanku selama ini, Ill tak pernah sekali pun melakukan hal-hal nakal, seperti manstrubasi diam-diam, menonton film porn, atau hal lainnya yang bisa merangsang gairah seksualnya. Semua waktu luang yang di milikinya hanya di gunakan untuk menonton BTS, makan, membaca webtoon, atau sibuk memasukan barang-barang yang ingin di belinya ke dalam keranjang di aplikasi online shopping.
Meski kondisi tubuhnya sehat, tapi dari kebiasaannya yang terlalu positif membuatku sempat mencurigainya kalau ia mengalami yang namanya HSDD atau hypoactive s****l desire disorder, itu adalah istilah untuk kondisi di mana libido seorang wanita sedang dalam keadaan turun dan tak b*******h melakukan atau memikirkan apapun yang berhubungan dengan hubungan s****l.
Jika benar ia sampai mengalami hal itu, tentu itu bisa mengancam hubungan sexualku dengannya dalam upaya untuk menumbuhkan janin di dalam rahimnya nanti. Dan menurut beberapa riset pun tingkat libido seorang wanita memang memiliki relasi yang cukup tinggi dengan tingkat kesuburan yang di miliki oleh si wanita itu.
“Aku harus mencoba memberikan Flibanserin dalam dosis rendah padanya, setidaknya aku harus melakukan tes untuk libidonya itu dengan pink viag*a ini...”
Ucapku sambil kubawa satu botol dalam bentuk cair itu. Tapi itu artinya untuk selanjutnya aku harus meningakatkan pengawasanku pada Ill, demi melihat bagaimana kondisi gairah sexualnya. Karena cara kerja obat ini bukan pada organ genital tapi pada fungsi kerja otaknya, jadi aku harus mengikuti perkembangannya.
***
Esokan paginya...
Pukul 7 tepat.
“Aneh sekali kenapa dia sudah bangun?”
Heranku saat kusaksikan apa yang sedang terjadi saat ini pada layar monitorku.
Cup
Cup
Cup
Kulihat bibirnya beberapa kali terpampang jelas, seperti menempel pada layar monitor kamera pemantauku.
Ill berulang kali menciumi boneka pemberian dariku, di mana di matanya lah kameraku terpasang. Bahkan kini kusaksikan dengan jelas, ia yang sedang tersenyum manis sekali pada boneka beruang pemberianku itu.
“Apa hari ini... hari bahagianya?”
Sedikit heran aku di buatnya, ia juga tak men-snooze alarmnya atau sampai bangun kesiangan seperti biasanya.
Kulihat kakinya kini tengah melangkah dengan riang dan penuh semangat menuju kamar mandinya.
“Ill bahkan mau mandi sepagi ini???”
Aku jadi bertanya-tanya, apa aku melewatkan sesuatu hari ini? Apa hari ini adalah hari special untuknya? Sejauh yang kuketahui, jadwal Ill hari ini hanya bekerja di café seperti biasanya, lalu...
“Ahh...”
Seketika aku lansung di buat terkehkeh, begitu sadar, kalau alasannya yang jadi tampak begitu bersemangat adalah karena akan pergi menonton bersamaku hari ini. Terdengar percaya diri sekali bukan? Tapi aku sangat yakin bahkan berani bertaruh untuk yang satu itu, bahwa akulah alasan Ill terlihat begitu ceria dan bahagia sekali pagi ini.
“Dia bahkan sampai mengeluarkan scrub dan produk perawatan tubuhnya Hahah... Padahal bisanya ia hanya mandi sebasahnya saja...”
Dengan masih kupantau, sekarang ini Ill benar-benar bertingkah sudah seperti wanita pada umumnya yang sedang bersiap untuk pergi kencan.
Kududukan diriku dengan nyamannya di depan layar monitorku sambil menikmati kopi pagiku, aku pikir menyaksikan betapa exitednya Ill yang bersiap untuk pergi denganku, sepertinya akan jadi tontonan yang seru untuk memulai hariku.
“Ah, aku harus melakukan ini...”
Baru kuingat kalau aku harus melakukan sesuatu yang hampir saja kulupakan. Lalu dengan segera kuambil cutter yang berada tak jauh dariku.
“Ehmm...”
Darah kini mulai mengalir dari tanganku, tepatnya pada area di bawah ibu jariku. Lalu kututup dan kubalut dengan perban untuk menutupi luka yang dengan sengaja kubuat itu.
“Ini akan memancingnya untuk lebih menaruh hati dan semakin dekat padaku...”
Daftar persiapan kencan yang di lakukan Ill pagi ini
✓Melakukan scrubbing
✓Mengoleskan oil dan lotion pada tubuhnya
✓Membersihkan giginya sampai menggunakan benang
✓Memakai masker wajah
✓Memotong rapi poninya
✓Menata rambutnya menjadi curly
✓Menggunakan kosmetik yang soft dan ringan
✓Menyemprotkan parfum aroma spring blossom
✓Memilih dress manis yang tempak nyaman di kenakannya
✓Bersiap sambil menyalakan music yang cukup kencang
It's the thought of being young
When your heart's just like a drum
Beating louder with no way to guard it
When it all seems like it's wrong
Just sing along to Elton John
And to that feeling, we're just getting started
When the nights get colder
And the rhythms got you falling behind
Just dream about that moment
When you look yourself right in the eye, eye, eye
Then you say
I wanna dance, the music's got me going
Ain't nothing that can stop how we move, yeah
Let's break our plans and live just like we're golden
And roll in like we're dancing fools
We don't need to worry
'Cause when we fall, we know how to land
Don't need to talk the talk, just walk the walk tonight
'Cause we don't need permission to dance
There's always something that's standing in the way
But if you don't let it faze ya, you'll know just how to break
Just keep the right vibe, yeah, 'cause there's no looking back
There ain't no one to prove, we don't got this on lock, yeah
The wait is over
The time is now, so let's do it right
Yeah, we'll keep going
And stay up until we see the sunrise
And we'll say
I wanna dance, the music's got me going
Ain't nothing that can stop how we move, yeah
Let's break our plans and live just like we're golden
And roll in like we're dancing fools
We don't need to worry
'Cause when we fall, we know how to land
Don't need to talk the talk, just walk the walk tonight
'Cause we don't need permission to dance
Da-na-na-na-na-na-na, da-na-na-na-na-na-na
Da-na-na-na-na-na-na
No, we don't need permission to dance
Da-na-na-na-na-na-na, da-na-na-na-na-na-na
Da-na-na-na-na-na-na
*(Lirik lagu bangtan favorit Ill beberapa hari ini)
Tepat di pukul 09.01, aku keluar dari rumahku, hari ini sesuai jadwalku aku akan pergi bersenang-senang bersama Ill. Semua pekerjaanku kuserahkan saja pada 4 rekan dokter yang kupekerjakan di klinikku. Mereka cukup ahli, jadi kupikir klienku tak akan complain soal aku yang harus absen melakukan beberapa treatment untuk mereka hari ini.
“Dokter...”
Ill menyapa sambil berlari-lari kecil kini ke arahku. Ia terlihat manis sekali bagiku, seketika aku jadi tak sabar dan ingin cepat-cepat melihat penerusku yang pastinya akan memiliki kemiripan dengan dirinya.
“Dokter...”
“Kamu cantik sekali hari ini...”
Ia langsung tersipu mendengar kalimat pujian pertamaku pagi ini.
“Jadi, kita langsung pergi?”
“Ehm, hari ini aku gak masuk kerja jadi... aku- aku bakal seharian have fun sama dokter”
Ucapnya malu-malu, sepertinya Ill berharap akan memiliki waktu yang indah juga menyenangkan bersamaku hari ini. Dan demi calon istriku ini, aku rela mengabulkannya. Akan kubuat ia jadi sangat merasakan cintaku yang amat besar untuknya...
“Ayo...”
Kubukakan pintu mobilku untuknya, mempersilahkan dirinya untuk masuk dan duduk di kursi samping kemudi. Setelah itu aku menyusul masuk dan kunyalakan mobilku untuk melaju di jalanan akhir pekan ini.
Dan...
Kemacetan pun terjadi. Sesuai perkiraanku, aku dan Ill harus terjebak di jalanan yang padat dengan mereka mereka yang juga sama akan menghabiskan weekendnya.
“Hhh...”
Ill menghebuskan napasnya panjang, jelas sekali kalau ia mulai merasa bosan karena sudah 15 menit berlalu dan mobilku masih saja diam di tempat.
“Ini...”
Kuberikan sebuah lollipop untuknya, ia memandangku sebelum permen manis yang memiliki pegangan itu akan di ambilnya dari tanganku.
Tentu tak akan kuberikan secara cuma-cuma, begitu tangannya sampai di telapak tanganku, sedikit kutahan tangannya itu untuk lebih lama berada dalam genggamanku.
Sejujurnya memang niatku yang ingin menyentuh lengan lembut juga jari jemarinya yang sewarna dengan putih s**u itu.
Ia sedikit terkesiap begitu tanganku menyapa jari-jarinya, ingin menggoda dan seolah mengajak beradu rayu, bermain-main dengannya.
“Ehm? Hmmm...”
Ill tersenyum malu menatapku,
“Dokter...”
“Hmmm, biar saya bukakan bungkusnya buat kamu...”
Ucapku, dan jadilah ia mengeluarkan tawa kecilnya karena sikapku yang seolah ingin mempermainkannya itu.
“Ini...”
Kuberikan itu, dan ia langsung mengambilnya, lalu mengemutinya dengan cara yang amat canggung sekali.
Dan sekarang, tiba saatnya bagiku untuk memulai pertunjukan yang sudah kusiapkan juga kurancang semua alur dan scenarionya dengan sangat matang.
“Ah...”
Erangku pelan, tapi kupastikan kalau telinga Ill bisa mendengarnya. Kemudian kubenarkan posisi lengan kemeja tangan kiriku yang telah kulukai dan kututupi dengan perban, agar Ill bisa melihatnya.
“Oh? Dokter terluka?”
Dan tanya yang kutunggu itu, akhirnya terucap juga dari mulutnya.
“Ehm, jadi kemarin saya nemu kucing, terus gak sengaja kecakar gitu...”
Ucapku sambil terkehkeh, ingin terlihat santai, seperti mengatakan kalau lukaku, yang sudah ku ubah jadi luka cakar itu adalah bukan apa-apa dan tak masalah.
Namun kini kulihat Ill justru malah menatapku dengan tatapan seriusnya.
“Hhh, aku dulu sempet punya kucing, dan aku juga pernah di gigit kucing, ini bekas lukanya...”
Jawabnya sambil menunjukan satu bekas luka cakar di tangan kanannya itu.
Aku sudah mengetahui soal bekas luka cakar itu, bahkan soal kucingnya yang ia miliki saat masih kecil. Kuketahui itu saat kutemukan satu foto dirinya yang sedang memangku kucing jenis Scottish Fold yang terpajang di ruang tengah rumahnya.
“Terus, kucingnya sekarang di mana?”
“Ehm, dia... dia nemenin Ibu pergi, waktu kecelakaan dua puluh tahun lalu...”
“O-oh, maaf saya gak maksud buat-“
Aku harus merespon dengan sedikit terkejut, juga bersikap seperti orang yang merasa bersalah, setelah mendengar apa yang baru saja di ungkapkannya itu. Meski sejujurnya itu adalah cerita yang sudah lama kuketahui dan kini sedang kumanfaatkan untuk bisa masuk ke dalam dirinya lebih dalam lagi.
“Gak papa kok, lagian itu udah jadi cerita lama...”
Ucapnya, kemudian matanya beralih kembali pada perban luka di tanganku, sepertinya ia benar-benar mulai terusik dengan lukaku.
“Ah, aku tau ini pasti perih banget, apa lukanya dalem?”
Tanyanya sambil meraih tanganku dan memperhatikannya lekat-lekat. Ia bahkan dengan lucunya meniupi lalu mengusapi lukaku yang tertutup itu.
“Gak kok, itu cuma luka gores biasa aja”
Tapi sepertinya jawabanku itu tak cukup untuk menghapus kekhawatirannya padaku, yang tanpa di ketahuinya kalau luka itu sesungguhnya kudapat dengan sengaja tadi pagi.
“Ini udah gak apa-apa Ill, kamu gak perlu sampai khawatir begitu...”
Ucapku saat ia masih terus saja memperhatikan tanganku dengan wajah yang di tekuknya.
“Tapi-“
“Luka cakar aku, sama luka cakar kamu dulu... bukannya gak sebanding sama kepedihan yang harus kamu rasaain waktu kepergian ibu kamu dulu?”
Ill menatapku dalam, aku tahu ia mulai mempertanyakan maksud dari ucapanku ini.
“Aku cukup tahu soal yang itu, karena Ibuku juga sudah lama pergi...”
Inilah tujuan dari pembicaraan yang kuincar yang sampai kulukai tanganku tadi pagi. Aku ingin mengorek sedikit masa lalunya, memberitahunya kalau aku memiliki perasaan yang sama, dan bisa memahaminya.
“Oh... Aku turut bersedih soal itu, tapi ternyata... kita punya satu kesamaan...”
Ucapnya
“Ehm benar, kita sama-sama harus melepas kepergian ibu kita lebih cepat...”
“... Setiap malam saya selalu menceritakan bagaimana hari saya di depan potret bingkai ibu, saya sudah seperti orang gila bukan? Ckckk...”
Kulihat Ill jadi menaikan kedua alisnya setelah mendengar cerita palsuku itu, karena sesungguhnya itu adalah kebiasaannya setiap malam, yang selalu kusaksikan dari kamera pengintai dan teropong yang selalu terpasang untuk mengawasinya.
“Oh! Dokter, aku juga gituuuu... Karena aku kangen banget sama ibu, makanya aku juga suka ngobrol sendiri, ceritain semua unek-unek sampe kabar gembira di depan foto Ibu...”
“Wah, kayanya kita punya banyak kesamaan yaa...”
Balasku dengan nada yang sedikit kubuat lebih bersemangat, ingin terlihat exited setelah mendengar satu lagi kesamaan yang kubuat-buat itu.
“Ah, gimana kalo kamu ceritain semua yang terjadi sama hari kamu... sama saya aja, saya siap dengerin dan bisa jadi pendengar yang baik kok...”
Tawarku dan tentu... itulah tujuan utamaku.
“Ehmm...apa boleh?”
“Tentu, dengan senang hati saya akan dengerin semua cerita kamu...”
“Oh, kalo gituu... aku juga mau dengerin semua cerita tentang gimana hari dokter, rasanya gak adil kalo cuma dokter yang dengerin...”
Usulnya, tentu aku harus setuju dengan itu.
“Okey, nanti malam sebelum saja tidur, saya tunggu telpon dari kamu yaa...”
“Ehm...”
Sepertinya langkahku semakin dekat untuk bisa memiliki dirinya.