Kencan Manis Bersama Psikopat

1319 Kata
“Ehm?” Ill menoleh ke arahku dengan tatapan terkejut dan setengah kagetnya, tak percaya atas apa yang kini nampak di depan matanya. “Dokter-“ “Ah, ini memalukan, kenapa saya harus ketahuan menangis saat menonton film seperti ini sih..” Ucapku sambil kuusap ‘air mata buaya’ yang baru saja sengaja kuteteskan dari pelupuk mataku. “O-oh, kesini biar aku yang...” Ill lalu menghadapkan tubuhnya padaku, mengusapkan tangan lembutnya di pipiku untuk menghapus jejak-jejak basah air mata sambil mengulum senyumnya. “Aku baru tau kalo dokter yang keliatannya gagah terus macho di luar, ternyata aslinya lembut dan gampang tersentuh banget kaya gini...” Ucapnya, kini kubawa wajahku tertunduk, bersikap seolah-olah tersipu karena ucapannya itu. “Jangan katakan ini pada siapa pun...” Pintaku padanya, hingga ia jadi mengeluarkan tawa kecilnya yang kemudian di redamnya dengan kedua tangannya, karena takut mengganggu pengunjung bioskop lainnya, yang juga sedang menonton film yang mengangkat tema dengan alur cerita yang ‘katanya’ cukup mengharukan itu. Meski aku tak mengeti bagian mananya yang harus kutangisi, tapi ternyata yang penting adalah ada satu tetes air yang keluar dari mataku, kudapat sudah perhatian darinya. Tujuanku hanya satu ingin menampkan sisi lembut dan hati yang mudah tersentuh padanya. Ternyata itu berhasil. “Ill, janji dulu” Ia malah hanya tertawa saja kini dengan suara yang di hilangkannya. Sepertinya Ill benar-benar menyukai air mata ‘bodong’ yang sudah kukeluarkan tadi itu. “Dokter...” “Apa?” “Pundakku kosong, kalo dokter mau lanjut nangis boleh kok...” Ia sampai menggodaku seperti itu, aku yakin sifatku juga momen yang satu ini akan terus membekas di kepalanya untuk waktu yang lama. Kutahu Ill memang menyukai pria yang berhati lembut. Itu terbukti saat kutemukan dirinya yang sedang menangisi video idol kesayangannya yang tengah berderai mengeluarkan air mata harunya karena kemenangan award chart music pertama mereka. “Ill... kamu- Ahhh” “Sini...” Tap tap tap *(Suara tap tap tangan Ill yang menepuki pundaknya) Ill nampaknya kini jadi ketagihan sekali menggodaku. Bahkan ia mendekatkan pundaknya padaku, seolah ingin mengatakan kalau ia siap menjadi sandaran ternyaman untuk aku bisa kembali melanjutkan tangisku, karena tontonan di layar yang saat ini masih terus di putar. Kepalang, akhirnya benar-benar kujatuhkan saja wajahku ini di pundaknya itu. Lalu kugerakan kepalaku ke kanan dan ke kiri, tak biasa diam di pundaknya itu. Hingga batang hidungku kini ikut menggoda kulit pundak juga lehernya yang terbuka dan tak tertutupi dressnya itu, sampai ia ku buat jadi kegelian karenanya. “Dokter, geliii...” Ucapnya sambil tertawa-tawa kecil dan terdengar renyah sekali sekarang ini. “Ahah... Udah” Dan kuturuti pintanya. “Ill...” Dengan tak mengangkat dan masih kusandarkan kepalaku di pundaknya, kini kupandangi wajah cantiknya itu, hingga ia menoleh dan jadilah aku dengannya bertemu dalam tatap. “Ehm?” 1 2 3 Untuk tiga detik yang sudah berlalu itu, tak ada gerak, tak ada ucap yang tersingkap dari bibir yang kini jadi enggan untuk merapat. Kubuat suasananya cukup mendukung, hingga menimbulkan ingin yang lain dalam diri Ill dari sekedar hanya mematung, yaitu berada dalam decak cium bibirnya untuk beradu bersama bibirku. Ku pandangi bibirnya yang jadi lebih mengkilap karena baru saja di basahi oleh lidahnya itu. Ill benar-benar berhasil kubuat larut, hingga kini ia terlihat sudah tak sabar dan amat siap untuk menyambut kecup dariku. “Dokter...” Panggilnya, dengan pandangan yang terlihat mulai meredup dan matanya yang sudah setengah tertutup. ‘Sepertinya aku harus memberikan yang termanis untuknya. Huuhhh... “Ehmm... Dokter” Ia terlihat jadi mengerutkan wajahnya, karena alih-alih kecupan bibir yang di dapatnya malah dingin hembusan napasku yang membuatnya jadi sedikit tersentak. “Kamu ini lucu sekali...” Ucapku sambil ku sentuhkan jariku, ingin menggoda hidung kecil mancung yang terpahat dengan sempurna itu. “Ah, aku malu banget...” Gumamnya pelan sambil menutupi wajah malunya karena telah gagal menciumku malam ini. Aku ingin bermain-main dulu dengannya, rasannya tak akan menyenangkan jika langsung kuberikan ciuman itu begitu saja padanya. “Ill...” “Ah, diam dokter aku maluu” “Malu apaa?” Kugodai terus dirinya, bahkan kutarik pelan tangannya ingin mengintip pipi merona yang sedang coba di sembunyikannya itu. “Ill...” “Ah, jangan liat duluuu” “Ahahahh...” ... Setelah acara menonton selesai, kubawa Ill berjalan-jalan di taman kota untuk melihat beberapa stand pameran yang kebetulan sudah berlangsung selama seminggu ini. “Oh? Permen kapas” Ucapnya dengan wajahnya yang terlihat exited sekali begitu melihat jajanan manis nan lembut itu. Ia kemudian langsung saja menarik tanganku untuk berjalan bersama menghampiri stand penjual permen kapas itu dengan riangnya. “Akan kubelikan satu untukmu...” “Beneran???” Raut wajahnya kini terlihat langsung berada di level paling senangnya. “Ehmm, tapi satu... aja” Ucapku, kupelajari frasa ini dari beberapa pasangan ketika ia mereka sedang berkencan. Kudengar pria yang jarang memeberi sesuatu pada kekasihnya, kemudian ia memberikan satu yang special, itu akan sangat terkenang di hati si wanitanya itu. “Iyaaa deh” “Pak satu ya” Ill langsung meminta satu pada penjual yang kini tengah memasang wajah yang terlihat amat sangat ramah di depannya itu. “Dokter gak mau beli?” Kujawab dengan menggelengkan kepalaku saja padanya. Ada istilah terkenal di kalangan mereka yang sedang berkencan, ‘satu untuk berdua’. Aku pikir aku akan mencoba yang satu itu padanya. Setelah kubayar permen kapas itu, Ill dan aku kembali melanjutkan langkah kami menuju penghujung waku kencan malam ini. Kuperhatikan dirinya lekat-lekat, kini sudah tak ada niatku untuk melepaskan pandangku darinya. Dan kutemukan dirinya yang juga berkali-kali melirikan matanya ke arahku sambil terus mengemuti permen lembut. “Ill...” “Saya ingin...” “Ehm?” Ill yang baru saja memasukan segumpal permen kapas dari tangannya ke dalam mulutnya itu tiba-tiba jadi diam, sedang mencerna ucapanku yang mendadak mengungkapkan inginku padanya. Sementara Ill yang sekarang jadi tak bisa berkutik, tapi sayangnya aku sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi, sampai kemudian kumajukan tubuhku hingga condong ke arahnya. Lalu kuraup permen yang mulai meleleh karena sudah terkena basah mulutnya dengan bibirku di bibir manisnya itu. “Manis...” Ucapku pada dirinya yang sudah berhasil kubuat kaget dan sangat terkejut, karena bibirku yang baru saja mendaratnya dengan tiba-tiba. Kutebak jantungnya kini sedang berdegup dengan sangat kencangnya, sampai tubuhnya jadi terlihat tak berfungsi normal saat ini. Dalam diamnya, kini pandangan mata Ill tengah turun memperhatikan lekat bibirku yang baru saja sudah bersikap lancang juga tak sopan, telah mencuri permen yang sudah berada di bibirnya itu. “Dokter...” “Ehm?” Dengan masih menjaga jarak yang amat dekat, kuperhatikan bagaimana matanya yang kini terlihat jauh lebih bulat dari biasanya. “Dokter...” Panggilnya sekali lagi dengan suaranya sangat pelan, bahkan hampir tak terdengar. “Ehm? Ada apa?” “Mau permen lagi?” Tawarnya padaku, aku tersenyum tepat di depan wajahnya. Tahu dan cukup sadar apa maksud juga inti dari tawarannya itu, langsung kuambil secuil permen kapas di tangannya itu, lalu kuarahkan itu ke dalam mulutya. “Aaa...” Kupinta dirinya untuk ber-Aaa(?), dan Ill menurut, ia langsung menyambut permen pemberianku itu. Kulihat Ill menyisakan sedikit permen itu di ujung bibirnya, aku tentu tahu kalau itu adalah bagian yang akan di berikannya padaku, hingga langsung saja kumajukan bibirku ingin segera mencicipi rasa manisnya itu. Kali ini tak langsung kujauhkan bibirku dari bibirnya, ingin berlama-lama menempel pada bibirnya yang ternyata amat lembut dan terasa sangat manis karena sisa sisa rasa peremen yang di makannya saat ini. 1 2 3 Hanya sampai di detik ke tiga saja, aku bisa tahan untuk tak bergerak dan tak meraup bibir mungilnya itu. Karena kini bibirku mulai asik dan amat menikmati mengulum bibirnya. Ill pun sepertinya menolak untuk hanya berdiam diri saja, hingga ia membalas ciumanku, bahkan Ill berusaha mengimbangi permainan bibirku. Dan lebih jauh ia sampai sedikit menaikan dan memajukan wajahnya untuk memperdalam ciumannya bersamaku ini. Tanganku lantas kupakai untuk meraih pinggangnya, hingga terhapuskan sudah jarak yang tersisa. Kuberiberikan ciuman legit, special untuknya dari psikopat yang amat sangat menginginkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN