Yang Mencurigakan

2146 Kata
“Eunghh...” Ill yang masih tertidur dengan lelapnya itu langsung melenguh, karena ia yang tak ingin jauh dari si pemberi kehangatan dari peluk yang coba di lepaskannya kini. “Cup cup cupp....” “Tidur sayang” “Aku harus ke toilet sebentar” Dengan suaranya yang di buat sedemikian halus, bersama tepuk lembutnya, Boy perlahan-lahan melepaskan tangan Ill yang sedari awal matanya terpejam terus melingkar di tubuhnya itu. Dan akhirnya Boy menyibakan selimut yang menjadi satu-satunya penutup kedua tubuh polos manusia yang telah menghabiskan malam panas mereka itu. Tak lupa dirinya menaikan selimut itu, memastikan Ill cukup mendapat kehangatan dari kain tebal yang menutupi tubuh tak berbusananya itu. Dengan pelan langkahnya, namun pasti Boy berjalan menuju jendela untuk melihat apakah dua manusia yang ia tahu telah hinggap dengan sangat lancangnya di rumahnya itu, masih kelayapan di rumahnya atau tidak sekarang ini. Srett Tirai putih yang menutup kaca besar ruang kamarnya itu sedikit di seretnya, dan di lihatnya apa yang nampak di baliknya. “Tikus itu...” “Benar-benar menggaggu sekali” Gumam Boy saat mendapati dua orang yang sedang duduk mengamati area rumahnya dari dalam mobil yang terparkir tak jauh dari bangunan rumahnya itu berdiri. “Aku harus memberi pelajaran pada mereka, atau tidak...” “Mereka akan terus saja mengusikku” Tambahnya, Namun tiba-tiba saja... Grabb Sepasang tangan dari tubuh yang kini hanya berbalutkan selimut itu langsung saja melingkar pada tubuh Boy yang sedang bertelanjang bulat itu. “Sedang apa ehm?” “Dokter ingin pamer tubuh dokter ini ke tetangga yang kebetulan terbangun yah?” Dengan polosnya Ill bertanya demikian di balik punggung tubuh Boy yang sekarang coba di tutupinya karena tak ingin kalau harus di bagi dengan orang lainnya yang mungkin akan bisa melihatnya juga. “Ahh yang bener aja kamu ini” “Masa iya aku kaya gitu?” Balas Boy dengan tubuhnya yang langsung di bawanya berbalik untuk menyambut peluk dari wanita yang nampaknya ingin terus saja menempel kepadanya, di saat dirinya yang memiliki sedikit pekerjaan karena dua manusia yang cukup mengusiknya di luar sana. “Terus kenapa berdiri depan jendela, telanjang, jam tiga pagi kaya barusan?” “Gak dingin apa?” Heran Ill akan tingkah kekasihnya yang menurutnya tak biasa itu. “....” Boy terlihat diam, berpikir apa kiranya yang menjadi balasnya, yang cukup untuk menghilangkan pikiran aneh yang mungkin kini sudah bersarang di kepala kekasihnya itu. Dan... Tiba-tiba saja tangan Boy meraih tangan-tangan lentik nan lembut Ill, yang kemudian di tuntunnya untuk memegang, menggenggam sesuatu dari miliknya yang memang cukup sensitive terhadap hawa dingin itu. Dan reaksi Ill ketika tangannya hinggap pada benda berharga milik sang kekasih itu, tentu saja terkaget kini ia karenanya. “Dingin kan?” Tanya Boy yang tak mendapat balas dari Ill, ia sudah di buat hilang akal, tak bisa berpikir karena tak biasa harus saling berbagi, saling menyentuh bagian tubuh privasi mereka, terlebih dengan caranya yang seperti itu. Bahkan kemudian tangan yang berukuran lebih kecil darinya itu, di bawanya untuk mengusap-usap bagian panjang dari miliknya yang sedang membutuhkan kehangatan itu. “Ahh kenapa pipi aku panas banget yah....” Gumam Ill yang masih saja malu-malu untuk memberikan sentuhan-sentuhannya pada milik sang kekasih yang ingin di manjakan dengan tangannya itu. Lagi-lagi Boy sampai di buat menyunggingkan senyumnya berkat pipi merona juga wajah malu Ill saat sedang di godanya seperti sekarang ini. “Punya aku yang di urut, kok pipi kamu yang panas sih?” Dan jadilah wajah Ill kini terlihat seperti kepiting rebus karena bisikan nakal Boy itu. Hingga... “Akhh...” “O-oh? Aku kekencengan yah mijitnya?” Tanya Ill sedikit khawatir karena erangan Boy, berpikir kalau genggamannya terlalu kencang, karena dirinya yang sempat di buat hilang focus ulah goda dari Boy baru saja itu. “Engga, enak kok” Balasnya dengan langsung membawa tubuh Ill untuk merapat dalam dekap peluknya. “Ish bikin kaget aja sih dokter ini” Ucap Ill lengkap dengan pukulan ringan di dadanya, yang anggaplah sebagai hukuman untuk kejahilan kekasihnya yang baru saja itu. Dan tak lama kemudian bibir Boy sudah di bawanya untuk bertemu dengan bibir, karena inginkan sebuah ciuman kembali darinya. “Eummhhh...” Di tengah-tengah ciuman keduanya, Ill terlihat harus berkali-kali memajukan wajahnya untuk bisa membalas lumatan Boy yang nampaknya harus membuatnya lebih berusaha agar bisa mengimbangi permainan bibirnya itu. Sadar Ill yang cukup kelabakan dengan cara menciumnya cukup liar dan kurang halus juga pelan itu, Boy akhirnya memilih untuk meraih pinggang ill, kemudian memangku tubuh itu, bahkan tangannya juga mengaitkan kaki jenjang Ill pada pinggangnya. “Ahh dokter...” Ill mendesah dengan kerasnya ketika milik keduanya bertemu dan beradu dengan caranya yang sangat tiba-tiba itu. “Kenapa?” Tanya Boy dengan wajah yang seperti tak ada yang terjadi di antara tubuh keduanya kini. “Itu...” “Itu masukin aja lagi yah...” “Tanggung, aku hh...” “Aku ahhh...” Ill terdengar kesulitan untuk mengungkapkan inginnya, karena ia yang nampaknya di buat tak tahan dengan apa yang sedang bergesekan di bawah sana. Dan Boy yang mengerti ingin dari kekasihnya jelas ia tak mungkin menolak akan pintanya itu. “Hhh as your wish...” Bisiknya dan jadilah keduanya kini terlihat memulai kembali kegiatan panas peraduan tubuh mereka di atas ranjang mereka itu. . . . Pukul 06.017 Ceklek Terdengar suara pintu yang baru saja di buka dengan caranya yang sangat pelan dan hanya di biarkannya memiliki sedikit celah, yang langsung memuculkan kepala Ill dengan matanya yang langsung terlihat di bawanya celingukan ingin memeriksa keadaan sekitar pagi ini. “Lagi apa ehm?” Tanya Boy yang menyadari tingkah aneh dari kekasihnya itu. “Suttt diem, nanti keliatan sama tetangga kan malu” “Gimana bisa coba aku keluar dari rumah dokter pagi-pagi kaya gini” Balas Ill masih dengan caranya yang justru padahal cukup untuk memunculkan kecurigaan tetangga kalau sampai ada yang melihat tingkahnya sekarang ini. Hingga... “Dokter!!” Boy justru membukakan pintu rumahnya lebar-lebar yang padahal semula hanya berani di bukakan oleh Ill sedikit saja. Dan hasilnya Ill langsung saja melompat ke belakang tubuh Boy, memilih untuk bersembunyi dari ketakutannya akan mata-mata tetangga yang mungkin saja melihat dirinya sekarang ini bersama dengan Boy. “Apa? Tingkahmu yang seperti kucing habis mencuri ikan di rumahku sekarang ini justru lebih aneh Ill” Ucap Boy begitu jujur menggambarkan bagaimana kelakuan kekasihnya itu sekarang ini. “Kucing? Pencuri ikan???” “Wahhh...” “Teganya, mana ada laki-laki yang panggil pacarnya kucing pencuri ika-“ Cup Belum selesai Ill dengan kalimatnya, tapi ia malah sudah harus di bungkam dengan kecup bibir Boy yang nampaknya terlalu malas mendengar omelan darinya, juga dari... “Ehem...” “Apa ini di perbolehkan menjadi tontonan public di pagi hari?” Tanya Detektif Ryan yang entah dari mana munculnya, yang langsung saja memberikan protesnya dengan caranya yang demikian. Cup Cup Cup Tapi dengan sengajanya Boy justru memberikan kecupan kedua, ketiga, keempatnya di bibir kekasihnya itu, yang sampai membuat mata detektif itu nampak langsung muak dengan pemandangan yang di suguhkan olehnya itu. “Dokter...” “Sudah, malu” Dan akhirnya Ill yang rupanya masih cukup waras langsung mengingatkan Boy begitu dengan tangannya yang juga di pakainya untuk membungkam bibir kekasihnya untuk menghentikan kecupannya itu. “A... pah?” Tapi Boy masih saja bertanya apa dengan suaranya yang teredam karena terbungkam oleh tangan Ill. Padahal jelas kalau ia tak sampai menghentikan aksi bibirnya itu, keduanya mungkin akan bisa di tangkap karena mempertontonkan adegan yang cukup privasi itu di depan umum, tepatnya di depan seorang detektif yang akan langsung bisa memborgol mereka. “Dokter...” Dengan wajah putus asanya, Ill memanggil Boy bersama dengan suaranya yang memelas, inginkan kekasihnya itu untuk sedikit saja mau mengerti kalau sekarang ini bukan sedang berada di kamarnya, tapi sedang berdiri di depan seorang detektif yang pastilah muncul karena memiliki kepentingan sesuatu. Dan kini ia malah menaikan alisnya, jelas ia sengaja bertingkah bebal, berpura-pura tak mengerti di hadapan kekasihnya juga seseorang yang amat tak di sukainya itu. “Nanti lagi cium akunya kalo dia udah pergi yah” Sampai akhirnya Ill memilih berbicara seperti itu dari pada Boy yang tak kunjung mau mengerti juga itu. Dan seketika mata Boy langsung tertuju pada sosok yang kini tak ubahnya seperti serangga pengganggu bagi kebersamaan keduanya itu. “Lalat pengganggu...” Sebutan itulah yang di gumamkan oleh Boy yang cukup terdengar jelas, walau mulutnya masih di tutup oleh Ill. Sampai... “Awww!!” Boy harus juga mendapat cubitan dari kekasihnya, yang benar-benar kesal karena tingkahnya itu. “Ada apa deketif Ryan ke sini pagi-pagi?” Tanya Ill langsung memalingkan wajahnya dari Boy yang kini sedang menatapnya dalam dan tajam, cepat ia memilih untuk mengalihkan topik jadi mempertanyakan kiranya apa yang membuat seorang detetif menyapanya di hari yang masih pagi ini. “Aku hanya sedang berpatroli siapa tahu ada seorang wanita lagi yang mati karena seorang pria gila hari ini” Balasnya terdengar sungguh ambigu sekali, sampai Ill dan Boy kini jadi saling melemparkan tatapnya karena ucapan dari Detektif Ryan itu. “Sepertinya detektif salah alamat” “Atau mungkin di sini memang ada pria gila, tapi seperti yang detektif lihat hanya seorang pria gila karena cintanya kepada pacarnya yang cantik ini” Balas Boy begitu lengkap bersama tangannya yang sudah di buatnya melingkar di tubuh Ill, ingin mengukuhkan kegilaan cintanya itu. “Tcchhh...” Delikan yang juga ekspresi jijik yang menjadi balas atas apa yang baru saja di ucapkan oleh Boy. Boy yang jelas bisa membaca kalau pria yang ada di depannya itu adalah seseorang yang memiliki niatan ingin menjadi musuhnya, yang sayangnya baginya hanya mampu menjadi lalat pengganggu seperti apa yang sempat terucap dari mulutnya. Karena rupa-rupanya bagi seorang Boy, sosok yang ada di hadapannya itu bukanlah apa-apa. Sampai... “Nona Illana Kim, sejauh apa hubungan anda dengan pria gila karena cintanya kepadamu itu?” “Sudahkah anda di pertemukannya dengan Ibu dokter tampan kita?” “Ibu Sarah... Jacob?” Deg Mendadak Boy memaku, dengan satu penggal nama sang Ibu ia langsung berubah menjadi patung kini karenanya. “Ahh yang bener aja detektif ini” “Hubungan kami itu masih terlalu dini buat itu...” Dan nampaknya apa yang membuat Boy tegang, justru membuat Ill malah bertingkah malu-malu karena ucapan detektif Ryan itu. “Dan lagi-” “Dan lagi kami sibuk, kuperingatkan untuk tidak mengganggu kami di pagi hari” Tiba-tiba saja Boy menyela ucapan Ill dengan kalimat tegas peringatannya itu, kepada detektif Ryan yang tengah mencoba membaca gelagat dari seseorang yang sedang mengeluarkan reaksi tak biasanya itu. ‘Lihat...’ ‘Jelas ada yang sesuatu tentang Ibunya itu rupanya...’ Batin Detektif Ryan yang langsung menyadari kejanggalan dari seorang Boy Julian Park itu. ‘Tatap dingin itu, rahangnya yang jadi lebih tajam, bibirnya yang sempat jadi pasi’ ‘Dia bereaksi berbeda dari sebelumnya’ Begitulah yang di dapat dari perubahan ekspresi Boy oleh detektif andalan kepolisian itu. Dan... “Ill aku harus segera pergi ke klinik” “Kamu pulang” “Istirahat yah...” Boy cepat mengubah rautnya, jelas ia harus sadar kalau mungkin baru saja dirinya yang hampir akan terpancing karena umpan dari seorang detektif yang sudah di remehkannya itu. “Ehmm pergilah” “Hati-hati di jalan yah” Balas Ill yang langsung kembali mendapat kecup dari Boy sebelum kemudian dirinya melangkah pergi meninggalkan Ill. Namun baru saja kaki-kaki panjangnya itu di bawanya berjalan beberapa langkah saja, baru sampai pada gerbang rumahnya, tepat di mana Detektif Ryan berdiri sedari tadi, Boy sudah menghentikan langkahnya dan berputar arah kembali menghampiri Ill. “Ada apa?” “Ada yang ketinggalan?” Tanya Ill heran dengan kekasihnya yang mendadak kembali lagi itu. Dan... “Kamu...” “Aku ketinggalan kamu” Begitulah jawab dari Boy, yang terdengar tak ada habisnya menggombali kekasihnya itu. Padahal ia hanya tak ingin calon istrinya yang akan memberikan keturunan seorang psikopat penerusnya itu harus di ganggu oleh manusia yang sudah sangat merepotkannya itu. “Ish dokter ini katanya sibuk, cepet pergi” “Ehm enggak, aku harus pulangin dulu kamu selamat sampe rumah” Balas Boy dengan tangannya yang langsung menggenggam tangan kekasihnya, yang kemudian di bawanya berjalan melewati Detektif Ryan begitu saja. “Padahal Cuma beberapa langkah aja kok” “Kenapa harus sampe di anterin gini sih” Dengan tersipu Ill berkata seperti itu kepada dirinya yang tak lama lagi akan benar-benar pergi berpamitan dengan kekasihnya itu. “Aku pergi, nanti aku hubungi” Dan setelah berkata seperti itu Boy nampak benar-benar pergi menuju jalan yang akan membawanya ke tempat di mana dirinya akan memahat wajah-wajah cantik para wanita yang ingin di permaknya. “Hhh pacar aku ada-ada aja deh...” Gumam Ill sambil dirinya berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. “Apa yang ada-ada aja?” “Apa ada tingkah Dokter Boy yang aneh?” “Apa kamu lihat ada kejanggalan dari dia?” “Seperti tatapnya?” Ill langsung terdiam, mendengar seseorang dengan suaranya yang tak asing, yang tiba-tiba saja menyahutinya itu. . . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN