Jerat Psikopat

2394 Kata
Author pov “Aneh kan?” “Kenapa dokter kulit mengumpulkan jurnal, catatan tentang psikopat sampai setumpukan ini banyaknya?” Tanya Detektif Ryan memunculkan kecurigaan kepada Detektif Leo yang selalu setia membersamainya. “Sudah kuduga ada yang salah dengan manusia yang satu itu” Gumamnya yang seolah ingin menegaskan kalau intusinya selama ini memang benar adanya, soal ada sesuatu yang lain dari seorang Boy Julian Park yang sosoknya teramat sangat sempurna itu. “Mungkin ini tuh cuma kaya referensi doang gitu loh...” “Karena kalo beneran semua catatan ini sesuatu yang bisa di jadikan variable penting buat dia, ngapain ada di luar, mau di buang kaya gini? Kenapa gak di taro di rak buku di rumahnya?? Buat semacam pelajaran atau jadi bacaan setiap hari?” “Di simpen baik-baik gitu kan??” “Bener gak?” Meski ucapan Detektif Leo mungkin benar juga dan cukup masuk akal, namun bagi Detektif Ryan jelas tak begitu. Entah itu ada di rumah Boy ataupun sempat ada di rumahnya dan kini sudah ada di dekat tempat sampah rumahnya, intinya semua catatan itu sempat menjadi bacaan Boy. Terlebih lagi... *Dua jam yang lalu Dengan matanya yang terlihat sangat seksama, bahkan dahinya yang berkerut Detektif Ryan Kim terlihat kembali berkutat dengan semua informasi data pribadi Boy, yang memang sedari awal terlalu banyak mengusik kepalanya. “Seharusnya ada sesuatu bukan?” “Pasti ada yang bisa menjadi titik terang dari firasatku yang selalu mengarah kepadanya” Keterkaitan para korban, juga semua tingkah hingga gelagat Boy yang selalu di luar nalar, namun sayang juga selalu meleset dari dugaan seorang detektif yang cukup bisa di andalkan di kepolisian itu, benar-benar membuatnya inginkan, bahkan haus sekali akan informasi yang lebih banyak dari si dokter tampan, hebat dan sangat berkharisma itu. “Haruskah aku memulai kembali dari dirinya yang adalah anak dari politikus besar Prof. William Park?” “Ahh ini akan jadi pekerjaan yang panjang...” Gumamnya yang kemudian langsung membuka lembar demi lembar informasi tentang Si Boy, dengan beberapa kali matanya yang terlihat di sipitkannya, saat mendapati beberapa hal yang menurutnya tak selengkap yang seharusnya. “Di mana informasi Ibunya?” “Kenapa gak banyak riwayat soal Sarah Jacob?” Heran Detektif Ryan yang nampaknya di buat sangat penasaran sekali dengan sosok Boy, sampai kini juga di buat ingin mengendusi riwayat keluarganya. “Kenapa tak ada catatan pembaharuan apapun dari ibunya?” “Dimana Ibunya?” “Shhhh....” Heran Detektif Ryan saat menemukan hilangnya informasi Sarah Jacob, Ibu dari Boy Julian Park itu, yang sudah tak di perbaharui sesuai prosedur warga sipil yang seharusnya. Dan tak ada lagi catatan lainnya, entah itu soal kepergiaannya, statusnya sebagai warga negara yang pindah atau pun hal lainnya. Hanya kosong saja. “Semua hilang bersama dengan catatan Boy di usianya 6 tahun sampai masa SMA-nya” “Dia sekolah di SMA mana pun gak di jelasin di sini...” “Ahhh jangan heran kalo aku gak penasaran” Gumamnya, yang makin-makin menjadi dan membersarlah kecurigaannya terhadap Si Boy itu. Namun di sisi lain juga Detektif Ryan tak heran kalau mungkin ada catatan buruk yang sengaja di hilangkan, mengingat ayahnya yang adalah seorang politikus besar, pastilah ia harus memiliki riwayat yang bersih agar bisa duduk di kursi pemerintahan itu. “Dan lagi...” Perhatian Detektif Ryan kini tertuju pada foto-foto yang behasil di ambilnya dalam beberapa kali ia mengintai Boy yang memang mendapat semua curiganya sedari awal. “Matanya, tatapnya...” “Bukan seperti seseorang yang sedang jatuh cinta pada Illana...” “Dia...” “Dia seperti seekor elang yang awas mengamati mangsanya...” Dari banyak jepretan foto yang diam-diam di ambil oleh Detektif Ryan, memang ia menemukan bagaimana potret Boy yang selalu mengawasi Ill dengan caranya yang sangat seksama. Sementara Ill yang nampaknya tak begitu memperhatikan sekitar, sampai terlihat dirinya yang selalu tak menyadari kalau Boy yang sering kali memasang pandangan yang dalam kepadanya. Sekilas memang seperti seorang pria yang tengah menaruh perhatian yang besar karena perasaan suka yang di milikinya. Tapi Detektif Ryan justru menemukan aura yang lain, bukan sorot mata orang yang sedang di landa perasaan kasmaran, yang sampai tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok Ill. Melainkan... “Dia seperti sedang mata-matainya...” Dan berakhirlah kini perasaan yang benar-benar membangkitkan perasaan waspadanya. Detektif Ryan jelas tahu, tak asing lagi baginya soal bagaimana tatap seseorang yang berpotensi sebagai penguntit yang terobesesi pada wanita karena hasrat gilanya, atau dia juga yang bisa langsung tahu tatap pencuri yang inginkan sesuatu yang dimiliki dari seseorang yang menjadi targetnya. Tapi dari apa yang di dapatnya, dari hasil mengamati tatap Boy kepada Ill yang sampai membuat matanya panas sekarang ini itu ehem... terlalu dingin. Ia menemukan jenis tatap yang membuatnya bertanya-tanya apa maksud dari mata yang selalu di pakainya awas mengamati wanita yang telah menjadi kekasihnya itu. Sampai akhirnya... “Ahh firasatku benar-benar tak enak” “Aku harus mengawasi Illana, sebelum hal gila terjadi pada hidupnya karena pria misterius satu ini” . . . Begitulah yang menjadi awal dua detektif itu ada di halaman rumah Boy, sedang mengobrak-abrik apa yang ingin di singkirkan oleh kekasih dari dokter yang membuat si detektif itu sangat curiga kepadanya. “Lalu sekarang apa?” Tanya Detektif Leo kepada si atasannya itu. “Bawa semua catatan ini ke mobil, kita periksa semua di kantor” Tiba-tiba saja Detektif Ryan memberikan perintah yang demikian, yang membuat Detektif Leo kini jadi mengerutkan dahinya, terlihat ia yang jelas keberatan dengan pinta Si Ryan Kim yang memang selalu saja ada-ada saja idenya itu. “Ah kapten aja” “Aku gak mau curi-curi barang punya orang” “Bisa luntur lencana detektifku, masa iya detektif harus nyolong sih??” Balas Detektif Leo begitu, “Ini sudah di buang oleh si dokter itu” “Jadi gak masalah kalo kita ambil” “Yah anggap aja kita bantu dia buat bersihin sampahnya kan?” Dan bukan Ryan Kim namanya kalau akalnya tidak ada-ada saja, sampai Detektif yang menjadi patnernya itu tak memiliki alasan lagi untuk menolak apa yang menjadi perintahnya itu. “Sudah cepat bawa” Bahkan dengan tegas perintah untuk membawa semua tumpukan berkas itu di ulangi oleh kapten satuan kriminal kepolisian itu, seolah sudah tak ingin menerima bantahan dari detektif Leo yang tengah menjadi tangan asistennya itu. . . Sementara itu di dalam rumah, adegan yang penuh dengan indahnya cinta yang romantic tengah di perankan oleh sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara, yang walau sebenarnya yang merasakan ledakan cinta itu hanya Ill saja, tidak dengan Boy yang cacat akan sarat makna cinta di dalam hubungan mereka itu. “Kamu tetap di sini aja ya malam ini?” “Jangan pulang” “Aku gak mau sendiri” Pinta Boy, dengan tingkahnya yang sedang menirukan mereka-mereka, yang sering di namakan b***k cinta di kalangan kaum muda sekarang ini, saat di landa candu kepada kekasih mereka, inginkan terus bersama kekasihnya. Boy bahkan meraih tangan Ill untuk memberikan ciuman di punggung tangannya, seolah benar-benar ingin membuat Ill merasa di puja oleh cintanya yang begitu besar, sampai tak ingin berpisah hanya untuk semalam saja. “Ehm gak boleh dokter, nanti ayah marah” Balas Ill begitu, sudah seperti anak ayah saja tingkahnya, yang tak ingin melanggar aturan rumah dia itu sekarang ini. “Hhfttt...” Boy nampaknya benar-benar mempelajari apa yang sering kali di lakukan oleh pria-pria yang tergabung dalam boy band favorit kekasihnya itu, tingkah-tinggkah lucu atau yang di sebut dengan ‘Aegyo’ yang selalu bisa meluluhkan hati kekasihnya itu, kini bahkan sudah tampil persis sekali di wajahnya. Bibir yang di kerutkannya, mata yang di lengkungkannya bagai sabit, cukup menunjukan sendu dari perasaan sedihnya itu, pipi yang kemudian juga di kembungkannya, benar-benar ekpresi yang selalu berhasil membuatnya gemas, yang selama ini selalu menjadi foto lock screen dan wallpaper di handphonenya dengan wajah sang Idola Si BANGTAN BOYS. ‘Ahh dia ini titisan Kim Tae Hyung atau apanya sih...’ ‘Aku bener-bener gak bisa nolak kalo dianya kaya gini’ ‘Lama-lama aku pensiun juga jadi fans BANGTAN, soalnya aku udah nemu yang satu ini...’ Batin Ill yang sudah sampai di buat meleleh karena tingkah manis kekasihnya itu. “Ouhhh...” “Kalo aku tetep di sini, aku dapet apa?” Ill bermain-main dengan tanyanya itu kepada Boy, yang sedang ingin ia uji akan sejauh apa dirinya bertingkah manis dan menggemaskan kepadanya, yang cukup untuk membuatnya tinggal dan tak pergi malam ini. “Ehmm nanti aku kasih...” “Peluk?” “Cium?” Dan... “Hahahah itu mah dokter yang menang banyak dong” Balas Ill atas apa yang baru di dengarnya dari kekasihnya yang menurutnya akan lebih banyak mendapat untung dari dirinya yang kalau tetap tinggal itu. “Kamu emang gak mau aku peluk? Gak mau aku cium? Gitu?” “Huftttt...” Tanya Boy dengan wajah yang sudah di buatnya semakin tinggi saja kadar kemanisannya itu di mata Ill. “Ehmm...” “Asal peluknya yang lama” “Ciumnya juga yang banyak” Balas Ill begitu akhirnya, kalah sudah dirinya, karena jelas tak mungkin baginya untuk mengabaikan pinta dari seseorang yang begitu mempesona dan cukup memikat hati juga jiwanya itu. “Begini...” Boy langsung melingkarkan tangannya pada pinggang Ill, begitu juga wajahnya yang sudah di majukannya, siap untuk menghapus jarak hingga... “Eummm...” Bibir mungil Ill sudah langsung saja mendapat ciuman dari si dokter tampan kekasihnya itu. Satu Dua Tiga Dan... Di mundurkannya bibir yang padahal baru saja akan di berikan balasan kuluman, sesapan, hingga hisapan oleh Ill itu. Sampai jelas saja Ill jadi memasang wajah kecewanya karena apa yang baru saja di lakukan oleh Boy. “Lagiiii...” Bahkan dengan rengeknya Ill memintakan ciuman itu kembali kepada Boy. “Janji dulu gak pulang...” Boy sampai mengajukan syaratnya, agar tak sampai di tinggal pulang oleh Ill malam ini. Dan anggukan bersama senyum yang cukup mewakili jawab ‘iya’ dari setujunya itu yang menjadi balas Ill atas pinta Boy itu. Hingga dalam waktu sepersetengah detik saja, Boy langsung kembali mendaratkan bibirnya dengan mulusnya pada bibir yang sudah siap menerima landing dari si pemilik ciuman candu yang penuh kelembutan itu. Sampai... Hap “Eunghh...” Di tengah-tengah ciuman yang sudah dalam, namun masih saja ingin di perdalam olehnya, Ill sampai di angkat oleh tangan kekar itu sampai lenguh pun lolos dari mulut Ill karena kaget atas apa yang tiba-tiba di lakukan oleh kekasihnya itu. “Ill...” Panggil Boy dengan suara serak dan beratnya setelah pautan bibir itu terlepas, harus ia biarkan Ill beristirahat, mengambil napas di tengah-tengah ciuman yang padahal masih di inginkan oleh keduanya. “Ehm?” Hanya balas dengan suara ‘ehm’-nya saja yang bisa menjadi balas ata panggil kekasihnya itu. Hening untuk beberapa saat, Keduanya kini jadi berakhir dalam tatap yang membuat Ill terpana, membuta, namun juga serasa bisa melihat segala bentuk keindahan dari bola mata pria yang sedang dalam-dalam memandangnya itu. “Aku mencintaimu...” “Sangat mencintaimu...” Habislah sudah semua pertahanan Ill, berkat serangan terakhir yang adalah ungapan cinta yang lebih dari cukup untuk menggetarkan, bahkan meluluhlankan apa yang ada di dalam dadanya itu. “Ahh gimana ini?” “Aku harus bilang apa nanti sama Ayah gara-gara gak pulang malem ini” Walau ia mengungkapkan perasaan bimbang, resah, galaunya karena mungkin akan di omeli oleh sang ayah, namun dari wajahnya Ill justru nampak senang dan tak memiliki beban apapun walau harus tak pulang malam ini. “Kamu cukup bilang kalo kamu di culik dan di sekap sama pacar kamu” “Aku rela jadi penjahatnya...” “Kalo harus aku di pukulin juga aku gak papa...” “Asalkan kita bisa bareng terus sayang” Dan siapa yang akan menyangka kalau sosok yang bisa menghidupkan suasana, membuat wanita dalam dekapnya terus tertawa karena canda juga cintanya adalah sosok yang gelap yang bisa melenyapkan nyawa seseorang. “Beneran dokter rela di marahin Ayah?” Tanya Ill dengan sorotnya yang benar-benar ingin mengetahui kiranya apa yang akan menjadi jawab Boy itu. “Tentu saja” “Di omeli itu gak seberapa...” Dan lagi-lagi senyum yang menjadi bukti dari melelehnya hati seorang Illana Kim, karena tingkah kekasihnya itulah yang tampil sekarang ini. Hingga... “Ahhh!” Ill menjerit kecil ketika dirinya yang langsung di angkat dalam sekali gerakan saja oleh Boy, sampai kini sudah di di bopongnya, di pangkunya ala bridal style, dengan langkah kakinya yang sudah di bawanya menuju ke kamarnya. “Dokter ini, bilang-bilang dulu kalo mau anggkat tuh” “Aku kaget” Ucap Ill yang langsung membuat Boy menampilkan senyum nakalnya kini. “Jangan kaget dulu” “Setelah ini ada yang jauh lebih mengagetkan...” Bisik Boy nakal tepat di telinga sampai Ill jadi menggeliat kegelian karenanya. Brakk Namun sekali lagi Ill justru di buat kaget sampai tersentak dirinya dalam pangkuan Boy, karena pintu kamar yang diam-diam di tutup oleh kaki Boy, sampai menimbulkan suara bantingan yang cukup keras. “Hahahah sudah kubilang jangan kaget dulu” “Kita mulai saja belum” “Kamu ini gimana sih?” Ucap Boy dengan kehkehannya, senang sekali ia mempermainkan Ill yang terlihat sudah memerah wajahnya, tersipu karena ulah dirinya yang justru menikmati ekspresi kekagetan Ill itu. “Dokter...” “Aku...” Ill terlihat sangat ragu untuk mengungkapkan apa yang ingin di katakannya itu, ia mendekatkan bibirnya pada telinga sang kekasih dan... “Pelan-pelan yah...” Segurat senyum langsung tampil karena tingkah Ill yang di rasa begitu lain baginya, jauh berbeda dari mereka-mereka yang selalu berakhir dengan nilon-nilon tali gelasan di tangannya, agresif dan begitu buas dalam peran mereka yang saat memerankan wanita penghancur rumah tangga orang lain itu. “Tentu sajahh...” Balas Boy dengan sama berbisiknya tepat di telinga Ill. Sampai dari bayang-bayang kaca jendela kamar rumah si dokter tampan itu, terlihat siluet tubuh seorang wanita yang akan mulai di baringkan oleh prianya di atas ranjang tempat tidur mereka. Bahkan wajah keduanya yang kemudian menyatu, bersama dengan tangan yang nampak sibuk membuka satu persatu kancing sang wanita terlihat akan menjadi awal dari malam mereka yang menggelora. . . . “Tckkk...” “Sepertinya aku terlambat memperingatkan Illana” “Dia...” “Dia sudah jatuh kedalam jerat si Boy” Gumam Ryan Kim yang tengah menyaksikan bayang-bayang yang tampil dari kamar Boy karena pencahaan ruang yang membuatnya jadi seperti sedang menonton adegan dari film romantic sekarang ini, bersama dengan perasaan cemasnya akan apa yang mungkin terjadi pada wanita yang sedang di tiduri dalam cumbuan pria yang terus mendapat perasaan curiganya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN