Red Flag

1237 Kata
“....” “Kenapa?” Dengan perlahan melangkah mendekat kepada dirinya, kubalas tanya kekasihku yang manis itu dengan balik bertanya kepadanya. Dan entah apa yang kini sedang ada di dalam kepalanya, juga apa yang di rasakan di dalam hatinya, yang sedang coba k****a dari bagaimana ekspresi wajah Ill yang tampil tepat di depan mataku, ia terlihat baru saja membawa mundur satu langkah kakinya, seolah ingin menjauh dari diriku. “Do-dokter...” “Jangan buat aku takut” Dengan nada bicara yang terdengar banyak sekali getar, Ill berucap demikian kepadaku. Dan.... Hap Kutangkap kedua tangannya yang masih memegang jurnal psikopat milikku itu. Dan kulihat perubahan wajahnya juga pada dirinya yang semakin jelas kini karena sikapku. “Dok...” “Dokter...” “Dokter kenapa...” “Ke-kenapa seperti ini padaku....” Napas Ill sudah tersenggal, jantungnya bahkan kutebak sudah seperti genderang yang akan memecah perang. Dan kau tahu itu adalah respon tubuh saat... Takut. Itulah perasaan yang sedang di rasakan oleh Ill. Dari teori yang kupelajari saat seorang manusia harus di hadapkan pada rasa takut, sesuatu yang ada di kepalanya yang bernama amigdala akan mengaktifkan system saraf dan mengirimkan sinyal rangsangan ke area dalam otak lain yaitu Hipocampus dan korteks prefrontal untuk WASPADA. Dan apa yang terjadi setelahnya adalah respon fight-or-flight, yang artinya manusia itu akan memutuskan untuk melawan sesuatu yang sudah membuatnya takut (fight) atau justru melarikan diri dari ketakutannya (flight). Dan yang kini sedang sangat ingin kuketahui adalah... Kenapa dia takut kepada pria yang adalah kekasihnya sendiri, kepada pria yang sudah banyak sekali ia hujani banyak kata I Love you-nya itu. Dan tentunya apa yang akan dia lakukan kalau tahu kalau pria yang di cintainya ini adalah seorang psikopat, dan ia yang akan kunikahi untuk bisa melahirkan keturunanku yang akan menjadi penerusku... juga... Dia akan melawan or fight... Atau... Lari? Krekkk “Aaaahhhh” “Jangan menakutiku begituuu” Dan yang terjadi ketika aku dengan jahilnya mengeluarkan suara patahan dengan mulutku, Ill malah memelukku dengan eratnya. ‘Pelukan?’ ‘dia tak berlari maupun melawan...’ ‘Tapi pelukan yang menjadi responnya atas perasaan takut yang telah kuciptakan’ Untuk beberapa detik berlalu aku sedikit bingung dengan apa yang di lakukan manusia berwujudkan perempuan yang sedang berada dalam pelukanku ini. Sampai.... “Hahahaha...” “Kamu ini kenapa penakut sekali gini sih?” Aku cepat mengalihkan suasana yang semula menegang dengan tawa yang baru saja kubuat untuk mencairkan suasananya. “Lagian dokter sih...” “Kenapa harus bikin tegang coba” “Aura dokter barusan aneh banget” “Jangan kaya gitu lagi” “Aku takut” Ungkap Ill dalam peluknya kepadaku, sementara aku jadi hanya terus saja terkehkeh karena dirinya yang ketakutan berkat ulahku baru saja itu. Mungkin ia benar-benar bisa melihat bagaimana sisi psikopat dari diriku yang walau hanya untuk beberapa saat saja itu. “Hahaha” “Kenapa kamu takut sama pacar sendiri sih?” “Apa yang menakutkan dariku? Ehm?” Tanyaku yang masih di selingi dengan kehkehanku. Dan kini dengan dirinya yang masih memelukku, wajahnya dibawa mendongak menatapku. “Wajah dokter yang tampan, berkharisma, mempesona, menawan seperti pangeran...” “Jangan sampai harus berubah jadi menyeramkan seperti psikopat” “Aku gak suka” “Ahh udah gak usah bahas-bahas psikopat lagi” “Udah ada yang bikin gak tenang di luar” “Jadi jangan sampe pacar aku ikut-ikutan...” Ucap Ill dengan omelannya yang panjang itu, benar-benar nampak tak inginkan lagi untuk aku memunculkan personaku, identitas dan warnaku yang sesungguhnya. Bahkan... “Kita buang aja ini yah?” “Singkirin semua tentang psikopat” “Jauh-jauh...” Ia memiliki ide dan keinginan yang demikian karena rasa takutnya itu. “....” Aku sampai jadi hanya bisa menampilkan raut wajah tanda tanyaku saja kepadanya, sedikitku merasa tak setuju kalau harus membuang semua catatan yang sudah lama kukumpulkan dengan sangat terperinci itu. Tapi melihat bagaimana tatapannya, aku juga memikirkan resiko akan di curigai mengumpulkan catatan sampai selengkap ini soal psyco itu, jelas... “Baiklah” “Kalau semua ini menakutimu” “Ayo kita buang” Ucapku begitu kepadanya, dan kusaksikan bagaimana otot-otot wajahnya yang perlahan mengendur karena apa yang baru saja kukatakan, kuindahkan apa yang menjadi inginnya itu. Dan ia sudah langsung saja melepaskan peluknya dan bersiap mengumpulkan semua catatanku yang rencananya akan di singkirkannya itu. “Hhh lagi pula untuk apa sih dokter ini mengumpulkan semua ini?” Tanyanya ngedumel sambil menumpuk semua catatan-catatan jurnal yang berkaitan dengan psikopat itu. “Ahh karena sedang ramai di bicarakan aja kok” “Aku tak mau kalau harus melihat ada psikopat yang menyentuh pacarku yang cantik ini” Balasku dengan tangan yang kubawa melingkar di tubuhnya, bertingkah manja kepadanya. “Ish Dokter ini paling bisa deh menjawabku” Dan aku hanya tersenyum saja jadinya bahkan aku diam saja menerima cubitan kecil darinya di pipiku ini, membiarkan dirinya melupakan tentang si psikopat yang padahal bersemayam di dalam diri pemilik tangan yang memeluknya ini. “Yuk buang” Setelah kubiarkan dirinya mengumpulkan apa-apa saja yang ingin di buangnya, rupanya sudah hampir semua berkas yang ada di ruanganku ini yang akan di singkirkannya. Aku tak bisa berbuat banyak karena ingin kekasihku ini. “Hhh ayo, biar aku yang bawa” Ucapku, bersikap gentle kepadanya. Harus aku tak membiarkan dirinya membawa barang-barang berat seperti tumpukan berkas yang sejujurnya masih ingin kusimpan menjadi penghuni di ruanganku ini. Dan... Bukkk Berakhirlah sudah semua di dekat tempat sampah yang ada di samping rumahku. “Kita buang jauh-jauh semua tentang psikopat itu” Dengan ekspresi bangganya, Ill berkata begitu seolah dengan membuang semua berkas, jurnal tentang manusia yang cukup berbahaya itu semua selesai, terberantas sudah. Padahal tentunya tak begitu kenyataannya, bahkan aku si psikopat itu sendiri bahkan ingin membuat keturunan darinya agar spesies psikopat itu tak mati dan terus ada tak musnah dari dunia ini. “Hhh sudah kan?” “Ayo kita masuk ke dalam” Aku hanya memilih untuk menyudahi bahasan soal psikopat yang padahal semula aku yang memulai menjadikannya topik di malam bersamaku dengan Ill. “Ayo...” . . . “Hahaha....” Setelah dua puluh menit berlalu, Ill yang semula sempat menegang karena bahasan psikopat itu, kini ia sudah terlihat bahagia dengan tawanya yang terdengar renyah sekali. Dan aku, jangan tanya aku, aku bahkan tak mengerti bagian mana yang lucu dari apa yang sedang di saksikannya sekarang ini. Bagiku mereka hanya orang-orang aneh yang melakukan pertunjukan untuk sebuah bayaran dari salah satu stasiun televisi swasta, tak lebih, seperti badut-badut tak berguna di suatu acara. Namun demi dirinya, dan karena aku pun yang sudah cukup terlatih untuk tertawa, bahkan bersedih meski aku tak mengerti tentang semua perasaan itu, tapi kini aku sudah memasang wajah yang sama, semirip mungkin dengan kekasihku. “Hahahah dia lucu sekali bukan?” “Hahaha...” Aku bahkan memukul-mukul pahaku, terlenggak, juga mengusapi perutku, seolah apa yang sedang aku dan Ill tonton benar-benar telah menyajikan komedi yang sangat mengocok perut. “Benar bukan?” “Mereka itu ada-ada saja” “Aku bahkan kalo lagi sedih terus nonton mereka bisa ketawa sampe nangis dok” “Hahaha...” Balasnya, aku tak heran kalau Ill yang bisa sampai seperti itu, karena dia memang bisa dengan mudahnya tertawa, menangis, marah, untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Dan sebenarnya selagi aku yang terus membuat tawa pura-pura dengan Ill, mataku awas melihat bayang-bayang dari jendelaku. Sepertinya seseorang sedang mengorek-ngorek sesuatu di samping rumahku. ‘HHhh tikus mana yang berani menyelusup masuk ke halaman rumahku...’ . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN