“Dokter...”
“Ehm?”
“Apa ada masalah? Atau ada konsep yang kurang dari yang di jelaskan barusan?”
Tanya seorang tim marketing dari produk yang akan Boy bintangi.
“Tidak, saya juga cukup suka dengan konsepnya”
Balas Boy dengan senyum lebarnya ingin menunjukan kalau ia sama sekali tak masalah atau keberatan soal konsep pemotretan iklan yang baru saja di bahas dalam meeting sore ini.
“Lalu... apa ada hal lain yang mengganggu... sepertinya-“
“Pacar saya, dia belum membalas pesan saya...”
Ucap Boy dengan mata yang di sipitkannya, bersikap malu-malu sekaligus sudah berani mengungkapkan perihal wanitanya di saat pertemuan dengan rekan kerjanya.
“Ahh...”
Terlihat beberapa wajah staff wanita langsung mengerut antara kecewa dan iri pada seseorang yang baru saja menjadi alasan bintang iklan mereka sampai sedikit melamun dan tak focus.
“Perempuan itu beruntung sekali bisa jadi pacar dokter tampan kita ini”
Timpal seseorang pada Boy, dan yang di katai hanya mengulum senyum saja kini, di buat malu juga karenanya.
“Kalau begitu... kita selesaikan saja sampai di sini”
“Ah, tapi soal-“
“Tidak apa-apa dokter, anda hanya perlu datang minggu depan, untuk lakukan pemotretan dan rekaman iklannya, sisanya serahkan saja pada staff kami”
Padahal tadinya Boy ingin sungkan, tapi setelah mendengar leader meeting hari ini, jadilah Boy bisa cukup tenang karenanya.
“Kalau begitu, saya keluar ruangan lebih dulu...”
“Oh, iya silahkan...”
Setelah mendapat restu dari semua orang yang terlibat dalam pertemuan itu, akhirnya Boy berdiri sambil langsung mengeluarkan handphone miliknya dari dalam sakunya.
“Hallo, Ill...”
“Kenapa tak balas pesan?”
Tanya Boy bahkan sampai sebelum ia keluar dari dalam ruangan, hingga semua orang di ruangan itu jadi mendengar nada khawatirnya saat bertanya pada kekasihnya di sambungan telpon itu.
“Ternyata laki-laki tampan saat khawatirpun masih saja tampan ckckkk”
Gumam seorang staff wanita yang merupakan salah satu penggemar si dokter tampan yang selalu terpampang menjadi ikon produk yang di pasarkannya itu.
Sementara itu smirk baru saja di tampilkan Boy begitu ia berjalan keluar dari ruangan yang kini tengah ramai membicarakan betapa romantisnya perlakuan dirinya pada kekasihnya itu. Ia berhasil mengembangkan citra pria romantic yang coba di bangunnya, menambah satu topeng untuk menutupi sisi gelap juga sejati dirinya sabagai seorang psikopat.
“Emhh...”
“Di toko buku?”
“Okey tunggu, saya ke sana”
Setelah mengetahui lokasi kekasihnya saat ini sedang di mana, Boy langsung saja menancap gasnya untuk segera menuju tempat Ill berada saat ini.
.
.
.
“Ill...”
Panggil Boy dengan senyum manis di wajahnya begitu ia menemukan sosok kekasihnya itu. Dan karena ingin segera sampai di hadapan kekasihnya itu, Boy akhirnya memilih untuk berlari saja ke arah Ill dengan langkah besarnya.
“Dokter, kenapa lari begitu? Aku kan juga di sini terus, gak akan tiba-tiba kabur”
Ucap Ill dengan wajah herannya, Boy kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga Ill
“Karena saya sudah rindu sekali padamu”
Sampai di buat bergidik geli si pemilik daun telinga itu, karena mendengar bisikan juga kata rindu dari Boy.
“Ahh... dokter, jangan godain terus aku gitu ...”
Ill berkata jangan, namun yang ada di hatinya sepertinya berlainan, bahkan bisa terlihat dari senyum lebarnya saat ini, kalau ia menyukai tingkah manis yang Boy lakukan padanya.
“Jadi sedang apa di sini? ingin beli buku?“
“Ehm, ada satu buku yang aku suka dan karena ayah sedang pergi keluar kota malam ini jadi aku bisa bebas main di k-pop store di sana...”
Ucap Ill dengan riangnya,
“Ehm? Ayahmu gak ada?”
Tanyanya ingin memastikan kalau apa yang baru saja di dengarnya itu benar adanya.
“Iya, ayah nginep di rumah bibi di luar kota jadi ayo jalan-jalan, nonton, terus....”
Ill tak melanjutkan kalimatnya saat menemukan Boy yang kini tengah melemparkan tatapan penuh arti dengan senyum simpul di wajahnya itu.
“Ada apa?”
Tanya Ill, sadar ada yang tak beres dari raut wajah kekasihnya itu.
“Ehm, tidak ada... hanya senang saja”
Balas Boy santai, lantas ia meraih tangan Ill untuk bisa bergandengan dengannya.
“Ya sudah, jadi... kita pergi kemana dulu?”
“Ehm?”
Ill yang masih berusaha mencerna dan menerka apa yang ada di kepala kekasihnya itu, jadi hanya bisa mengeluarkan suara seperti itu sebagai balas tanya Boy.
“Iya, kita apa dulu, jalan-jalan ke K-pop store di sana? Makan? atau nonton?”
“Ehm, K-pop store”
Ill menjawab dengan nada yang terdengar sangat bersemangat, sementara Boy malah jadi memjamkan matanya, tahu sekali apa yang akan di tujunya di sana.
“Jangan cuekan saya di depan foto-foto member kesayangan kamu itu”
“Oh? Dokter tahu... soal-“
“BTS mu itu?? Hhhh, jangan tanya aku sudah tahu semua, karena itu jangan buat aku cemburu mengerti”
Ill jadi tersenyum geli karenanya, kini ia memiliki cinta sesungguhnya selain kecintaannya pada idolnya itu.
“Okey...”
Ill dan Boy kemudian berjalan-jalan, melihat beberapa merchandise, photobook yang sangat di sukai oleh seorang fangirl seperti Ill.
Boy berusaha mengimbangi mood Ill yang memang sedang high sekali saat ini. Baginya berada di samping Ill, menemaninya juga ikut tersenyum saat Ill berada di tengah-tengah apa-apa saja yang di sukainya adalah satu hal penting yang harus di lakukannya.
Ting
From Vivi: Spertinya aku tahu siapa pria yang bersama Ibu tadi, dia adalah istri dari sahabatanya juga ayah dari teman adikku yang masih bersekolah TK, aku semakin jijik saja padanya.
Dan setelah membaca pesan itu Boy langsung menampilkan mata menyala, seperti orang yang baru saja tergugah, karena lapar dan ingin segera memakan sesuatu yang sudah lama di nantinya.
“Ada apa?”
Tanya Ill saat sadar kalau Boy sampai tertinggal di belakang langkahnya, tengah focus pada handphonenya.
“Ini... menurut kamu saya harus bagaimana?”
Tanya Boy pada Ill sambil menunjukan pesan yang baru saja di terimanya dari mahasiswanya itu. Dan mata Ill yang menemukan pesan itu langsung membulat tak mengerti.
“Ini... ?”
“Ini mahasiswa saya yang minta jalanin oprasi bedah wajah karena jijik atas apa yang di lakukan ibunya...”
Boy bersikap ingin terbuka sekali atas semua permasalahan yang menghampirinya. Hingga Ill bisa merasa semakin terseret dan benar-benar menjadi bagian dari hidup kekasihnya itu.
“Ehmm... Kita langsung makan malam aja, gimana?”
Tanya Ill, ia cukup sadar bahwa saat ini bukanlah hal yang tepat untuk membawa kekasihnya itu berkencan di luar menemani semua tempat yang ingin di kunjunginya. Tapi ia juga harus bisa bersikap ada di saat Boy harus di hadapkan pada masalah seperti saat ini.
“Ehm, di rumah?”
“Ehm?”
.
.
Meski Ill ragu dan sedikit canggung, tapi di sinilah Ill berada saat ini, duduk dengan kikuknya menunggu Boy berganti pakaian di dalam kamarnya.
“Ah, padahal cuma beberapa langkah aja buat sampai rumah, tapi kenapa aku.... ahh”
Ill benar-benar tak bisa untuk menolak ajakan Boy agar dirinya bisa stay malam ini di rumah Boy. Ia tak bisa untuk tak mengiyakan kekasihnya yang menampilkan mata yang begitu meminta tadi padanya.
“Ill, lepas saja...”
“Ehm???”
Ucapan Boy yang singkat itu namun sepertinya cukup membuat Ill yang mendengarnya jadi terkesiap, kaget, pikirannya sudah melayang, meliar mendengar kata ‘lepas’ dari bibir kekasihnya itu.
“Itu... mantel kamu, di sini sudah gak begitu dingin, jadi santai saja...”
“Ahhh...”
Ill langsung ber-ah ria, sekuligus malu karena sudah berpikir terlalu jauh dengan fantasinta baru saja itu.
“Kenapa...”
“Gak papa hehe”
Boy cukup bisa membaca gerak-gerik canggung dari kekasihnya itu, dan menurutnya itu cukup menggemaskan, baginya ini adalah pemandangan baru yang sungguh sangat berbeda dengan wanita-wanita agresif yang selalu di buntutinya, yang hobi sekali menggerayangi tubuh pria yang sudah beristri.
Boy kemudian mendudukan dirinya di samping Ill yang sedang melepas mantel abunya, tangannya kemudian di pakainya untuk membantu Ill melepaskan bagian tangan hingga terlepaslah sudah kini.
“Ehmm... Jadi, mahasiswa dokter itu sekarang gimana?”
Tanya Ill langsung membuka pembicaraan begitu.
“Ehm, itu... intinya dia lebih membutuhkan seorang terapis psikologis, sebelum benar-benar melakukan oprasi wajahnya”
“Kasihan sekali... kenapa ibunya seperti itu, padahal bukankah memiliki satu orang saja yang kita cintai dan kita miliki itu akan jauh lebih bisa membahagiakannya”
“Benar, dan karena ulah ibunya itu... anaknya yang harus jadi korban secara mental dan psikologisnya, sangat di sayangkan sekali...”
Ungkap Boy, ia kini benar-benar menekankan bahwa yang patut di salahkan dalam situasi ini adalah ibunya, dan semakin kuat saja alasan dirinya untuk bisa menghabisinya.
“Apa jadinya jika semua perselingkukan di dunia ini di tiadakan?”
Tanya Ill tiba-tiba, Boy kemudian menatap lekat wajah kekasihnya itu.
“Ehm?”
“Ya, maksud aku... dari semua pemberitaan yang aku denger, dua dari sepuluh pasti beritanya ada aja terselip berita penghiatan seperti itu... bukankah itu sangat aneh, padahal berusaha untuk mencintai pasangan sendiri dengan lebih baik lagi itu jauh lebih baik untuk di lakukan dari pada membaginya...”
Boy menyunggingkan senyumnya, ia benar-benar seperti menemukan sosok yang bisa mendukung tujuan dari pembunuhan yang di lakukannya. Apalagi kalimat barusan itu terucap dari wanita yang sudah menarik minatnya dan ingin di jadikannya istri juga ibu dari anaknya kelak.
‘Ill... aku akan ciptakan dunia itu... dunia damai tanpa penghiatan dan melenyapkan semua perusak hubungan cinta di dunia ini...’
Tekat Boy dalam hatinya.
Semakin kuat lah sudah kini, hasratnya untuk melakukan lebih banyak pembataian.