Kesalahan Pada Korban ke-23

1748 Kata
“Ehm?” Ill Terlihat sedikit terkejut dengan kehadiran Boy yang mendadak memeluki dirinya yang saat ini sedang setengah berbaring di sofa ruang tengah rumah kekasihnya itu. “Kamu gak mau tidur berpelukan seperti ini sama pacar sendiri?” Tanya Boy menatap Ill dalam, sedang menuntut sebuah jawab darinya. “Ehmm... bukan begitu tapi-“ “Sedari lama saya membayangkan untuk bisa membaringkan kepalamu di lengan dan d**a ini” Mendengar ungkapan itu, Ill jadi mengulum senyumnya dan jadi lah ia sudah tak bisa lagi untuk berjauhan dari kekasihnya yang terdengar begitu mengidamkan kebersamaan dengannya kini. “Tidur di sini saja, terus berpelukan seperti ini sampai pagi bersama saya...” “Ehm, baik dokter...” “Ill...” Kali ini dengan tatap lekat dan cukup dalam Boy memanggil kekasihnya itu, “I love you...” “Love you too dokter...” Setelah saling melemparkan tatapan manis itu Ill lantas memajamkan matanya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. . . . Pukul 11.23 Boy terlihat bergerak dengan sangat hati-hati, takut jika wanita yang ada dalam peluknya sampai terbangun karenanya. Ia kemudian berdiri dan berjalan dengan hati-hati agar tak membuat suara langkah kepergiannya itu dari sisi Ill. Boy lantas membuka handphonenya ingin memastikan lebih dulu di mana keberadaan targetnya itu saat ini. To Viv: Vi, kamu gimana sekarang? Masih di hotel? From Vivi: Ehm dalam tiga hari ke depan sudah kuputuskan untuk terus saja di hotel proff, karena sepertinya mereka akan terus bermalam bersama di rumah, dan kudengar adikku juga sampai di titipkan pada Bibi malam ini. “Benar-benar patut untuk di binasakan” Ucap Boy dalam gumamnya, Dan setelah mengetahui keberadaan pasti calon korban yang merupakan ibu dari mahasiswanya itu, Boy langsung bergegas ingin segera menuju rumah kediaman si target pelakor yang sebelumnya sempat di kujunginya itu. Dengan melewati pintu belakang, Boy keluar dengan memakai jaket hitam, topi dan masker yang juga sama hitam, siap untuk melancarkan aksinya. Kali ini Boy bahkan tak menggunakan mobilnya, ia berjalan untuk menghindari kecurigaan juga kamera pengawas yang mungkin akan mencuat saat penyelidikan nanti. Tubuh dan pikirannya sudah terlatih untuk melakukan hal-hal yang akan di lakukannya malam ini. Bahkan dengan mudahnya ia bisa melalui jalur tercepat untuk di lewatinya. Hingga dalam 20 menit saja kakinya sudah bisa membawanya sampai ke tempat dimana ia akan melakukan eksekusinya. Tok Tok Tok Dengan beraninya Boy mengetuk pintu rumah targetnya itu, “Iyaa, sebentar siapa sih malam-malam begini?” Begitu racau seseorang dari dalam rumah. Dan.... . . . Krakkk *(Suara pintu terbuka) “Oh-“ “Ill? Kenapa kamu bangun?” “Ehm, dokter dari mana? Aku mencarimu...” Ucap Ill dengan wajah keheranannya yang malah menemukan kekasihnya datang dari arah pintu dengan berpakaian serba hitamnya di pukul 2 dini hari ini. “Ah, tadi aku ingin membeli ini...” Ucap Boy berasalan, tapi memang untunglah di tangannya itu terdapat sekantung keresek cemilan malam yang sengaja di belinya tadi dalam perjanan pulang. “Ah, aku pikir dokter kemana... tiba-tiba waktu aku bangun, dokter malah gak ada” Ungkap Ill menceritakan kejadian dirinya yang terbangun ketika kekasihnya itu tengah melakukan ‘pekerjaannya’ di luar sana. “Ya sudah, sini...” Boy langsung melebarkan dan merentangkan tangannya, menyambut Ill untuk kembali ke dalam pelukannya. “Ehmm, jangan pergi lagii...” Ucap Ill saat sampai dalam dekap tubuh kekasihnya itu. “Kita tidur lagi?” Tawar Boy, tapi kemudian Ill menggelengkan kepalanya, minat untuk tidurnya mendadak hilang setelah terbangun baru saja itu. “Kalau begitu... kita makan ini aja gimana? Sambil menonton film?” Ill langsung tersenyum mendengar ide kekasihnya yang cukup bagus menurutnya itu. “Kalau begitu ayo...” Setelah itu keduanya kemudian menyiapkan acara menonton sambil menikmati cemilannya itu. Hingga pagi pun kini mulai menyapa. Namun kedua tubuh sepasang kekasih itu masih meringkuk saja betah berpelukan bahkan setelah sinar matahari masuk berniat ingin membangunkan keduanya. “Ehmm...” Kepala Ill tampak begitu gelisah kini dalam baringnya di d**a kekasihnya itu, sedikit terganggu dirinya karena hangat matahari pagi yang mulai terasa di wajahnya. Tahu Ill yang mulai tak nyaman dengan tidurnya itu, Boy langsung mengangkat tubuh kekasihnya itu untuk telengkup saja di atas tubuhnya, agar bisa menghindari silaunya matahari. Ill kini sudah kembali tenang, hingga mereka bisa melanjutkan tidurnya kembali. Tapi kemudian... Drttt Drttt Drttt “Ehmm....” Akhirnya mau tak mau Boy harus membuka matanya, dan mengambil handphonenya untuk melihat siapa yang menelpohonenya pagi-pagi seperti ini. Dan di temukannya nama Vivi tertera di hanpdhonenya sebagai si pemanggil telpon itu, Tapi bukannya mengangkat telpon itu, Boy malah hanya mengeluarkan smirk puasnya lalu menaruh kembali handphonenya itu. Ia jelas sudah cukup bisa membaca dengan tujuan apa mahasiswanya itu ingin menghubunginya saat ini. “Kenapa gak di angkat?” Tanya Ill dengan suara serak khas bangun tidurnya. “Aku sedang tak ingin di ganggu, jadi biarkan saja....” “Kenapa? Siapa tahu itu penting...” “Tak ada yang lebih penting dari pada memeluki kekasihku yang sangat cantik sekali ini” Balas Boy dan ucapannya itu berhasil melengkungkan senyum pertama Ill di pagi hari ini. “Ehm, jika nanti itu penting jangan salahkan aku...” Balas Ill sambil kembali mengeratkan tubuhnya pada kekasihnya itu. “Tentu tak akan...” Dan tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10.03, tapi Ill masih saja betah tertidur. Begitu juga dengan Boy yang semalam telah bekerja keras karena harus mengahabisi dua nyawa sekaligus, belum lagi ia juga harus membereskan jejaknya, dan menyusun TKP agar tak sesuai dengan kejadian yang sesungguhnya. Jadilah ia ingin menikmati waktu tidurnya lebih lama hari ini. Tok Tok Tok Tidur Boy kalini benar-benar harus tengganggu karenanya. Ill sampai membangunkan dirinya dari tubuh kekasihnya itu, dan mendudukan diri sambil mengusap-usapi muka khas baru bangun tidurnya itu. “Dokter...” Ill memanggil kekasihnya, mencoba untuk membangunkannya “Ah, padahal niat saya hari ini hanya ingin terus tidur sambil memeluki dirimu Ill” Ill terkehkeh saja harus mendengar kalimat keluhan dari Boy itu, berserta tubuhnya yang dengan malasnya tengah di bawa bangun dan berjalan turun dari atas tempat tidur saat ini. “Ya, sebentar...” Dan pintu pun terbuka. “Oh? Ada apa pagi-pagi-“ Boy terlihat sedikit memasang wajah kagetnya begitu menemukan dua orang yang sudah tak asing lagi baginya. “Selamat siang dokter Boy, Saya Det. Ryan, tentu masih ingat bukan?” Sapanya dengan senyum bengis di wajahnya itu. “Tentu, ada apa?” Tanya Boy “Mahasiswamu saat ini tengah berada di kantor kepolisian karena telah menjadi saksi dan mungkin akan bisa naik menjadi tersangka utama pembunuhan dari orang tua juga pria yang tengah berselingkuh dengannya di kediamannya tadi malam....” “Mahasiswa?” “Benar, dia mengatakan professornya akan membantunya dan menjadi wali sementaranya...” Boy mulai memahami keadaannya, ia mulai menyusun beberapa kemungkinan kenapa Vivi bisa menjadi saksi dan tersangka kasus pembunuhan yang di lakukannya semalam. “Tunggu, mahasiswa mana yang Det. Ryan maksud?” Drttt Drttt Drttt Bersamaan dengan tanya Boy pada detektif Ryan, handphone Boy bergetar, terdapat satu panggilan masuk dan tertera nama Vivi di sana. Sebelum Boy menerima panggilan itu, matanya di lirikannya dulu pada mata detektif yang juga menjadi saksi masuknya panggilan itu. “Silahkan di terima...” Akhirnya Boy menekan tombol terima pada layar handphonenya itu. “Hallo...” “Proff, Ibu... Ibu dia- dia itu darahh...” “Vi? Vivi, bicara yang tenang, ada apa...” Ucap Boy saat mendengar suara mahasiswanya yang terdengar tak jelas, terbata-bata sekali ucapannya. “Ibu... dia- dia di bunuh semalam...” Dengan diiringi isakan tangisnya akhirnya Vivi mengungkapkan situasi apa yang telah terjadi padanya saat ini. “Pembunuh???” Boy menaikan suaranya, bersikap seolah-olah baru tahu dan sangat amat kaget karenanya. “Iya proff aku- aku... aku gak tau harus gimana sekarang...” Ungkap Vivi terdengar sangat gelisah dari ujung sambungan telponnya Boy itu. “Tunggu sebentar, saya akan segera ke sana...” Setelah berkata seperti itu, Boy langsung menutup sambungan telponnya. Ia bersikap seolah sosok yang harus bertanggungjawab atas apa yang telah menimpa mahasiswanya itu. “Ada apa...” Tanya Ill yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh kekasihnya itu. “Oh? Nn. Ill sedang apa di rumah in-“ Detektif Leo yang mendampingi Detektif Ryan rupanya lebih tertarik pada pemandangan di depan matanya, yang menemukan kehadiran sosok Ill dari dalam rumah Boy saat ini. “Apa anda bersamanya semalaman?” Tanya Det. Ryan pada Ill tiba-tiba, “Ah, itu... ehmm-“ Ill ragu untuk menjawab, tapi kemudian Boy menyembunyikan Ill di balik tubuhnya, tak ingin membiarkan kekasihnya itu terjebak dalam kebingungan. “Benar, semalaman kami bersama, bahkan tadinya seharian ini hanya ingin berpelukan saja, tapi malah harus ada masalah seperti ini...” Ungkap Boy, sampai yang mengumpat di balik tubuhnya itu jadi menyembunyikan wajah malunya pada punggung kokoh Boy itu. “Benarkah?” “Benarkah? Kenapa anda bertenya seperti itu? Apa salah saya semalaman bersama kekasih saya ini?” Boy membalas tanya Detektif Ryan seperti orang yang tengah menagih kepastian darinya itu. “Oh, tentu tidak...” “Tapi... yang saya dengar dari keterangan Vivi, dokterlah yang kemarin sore membawanya ke hotel karena tahu ibunya itu akan bersama selingkuhannya sebelum terjadi kasus pembunuhan semalam...” Jelas sekali kalau Detektif Ryan saat ini bukan hanya sedang meminta kehadiran Boy sebagai wali dari saksinya, tapi ia tengah mencari keterangan juga informasi yang terdengar banyak menaruh kecurigaan pada Boy. “Kenapa Vivi bisa sampai di jadikan saksi dan mungkin akan tersangka utama?” Tanya Boy mengalihkan “Vivi adalah orang yang pertama kali ditemukan di sana, ia memegangi pisau yang terdapat pada laki-laki yang menjadi selingkuhan ibunya itu...” “Dan lagi... belakangan ia sangat mengutuk ibunya yang senang bermain dengan pria yang sudah bersuami, bukankah itu cukup untuk di jadikan motif?” Boy terlihat mulai menyalakan sorot mata tajamnya, ia sangat terusik dengan semua yang di katakan oleh detektif Ryan itu. “Dia membutuhkan bantuan psikologis karena ulah ibunya itu, dan tak mungkin baginya untuk melakukan hal itu, jadi jangan membuat spekulasi dulu...” Balas Boy dengan nada seriusnya. “Saya akan kirimkan pengacara saya untuk Vivi, terimakasih untuk pemberitahuannya, selamat pagi” Brakkkk Boy sampai dengan kasarnya membanting pintu rumahnya, padahal dua detektif itu masih tepat berdiri di depannya rumahnya itu. “Dokter....” Panggil lirih Ill yang berdiri di depan Boy “Maaf, saya membuatmu kaget ya? Mereka terlalu gegabah dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah...” “Sabar, aku tau kok mahasiswa dokter itu gak mungkin melakukan hal seperti itu...” Balas Ill sambil memeluki kekasihnya itu, ingin mencoba meredam emosi yang terlihat mulai menguasai Boy saat ini. .... ... ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN