“....”
“Proff…”
“Aku- … aku sungguh tak membunuhnya, aku tak mungkin melakukan hal itu walau aku sangat membenci Ibu…”
Ungkap Vivi begitu setibanya Boy di kepolisian tempatnya di mintai keterangan juga kesaksian yang cukup memberatkan posisinya sampai bisa berubah statusnya menjadi tersangka.
“Tak apa, saya akan pastikan kamu akan baik-baik saja…”
Ucap Boy mencoba menenangkan mahasiswanya itu.
“Pak, tolong urus semua, pastikan penyelidikan berjalan dengan tidak memberatkan Vivi”
Pinta Boy pada pengacara kepercayaannya yang kini akan mendampingi Vivi selama penyelidikan kasus pembunuhan ibunya itu berlangsung.
Kemudian pandangan Boy di alihkannya pada sepasang mata yang saat ini sedang menatap tajam ke arahnya juga tengah seksama memperhatikannya. Detektif Ryan dan Det. Leo sepertinya ingin terus membuntuti selalu sesosok pria yang cukup menarik minatnya itu.
“Kita akan pastikan mereka tak menangkapmu Vi”
.
.
“Apa Proffesor akan sampai seperhatian itu pada mahasiswanya?”
“Entahlah, itu juga yang membuatku bingung…”
Meski sesungguhnya bukan hanya itu yang menurut detektif Ryan, yang terkenal karena insting bak anjing lacak dengan penciumannya yang tajam pada semua buronnya.
Baginya terlalu banyak kejanggalan, ia cukup merasa segalanya selalu saja terhubung pada dokter yang memiliki pesona mematikan bagi siapa pun yang memandangnya itu.
“Apa soal perselingkuhan orang tuanya ini di ketahui oleh istri dari si prianya itu?”
“Sepertinya tidak, istrinya kan baru saja tiba dari Singapura dua jam setelah berita kematian suaminya itu”
“Bagaimana hasil dari forensic?”
“Bukankah hasilnya akan di kirimkan melalui fax?”
“Ah, mungkin itu sudah sampai…”
Dan dengan segera Detektif Ryan langsung berjalan ke meja officenya untuk memeriksa lapran pemeriksaan autopsi dari tubuh korban pembunuhan semalam itu.
“Oh, ini dia”
Dengan seksama Detektif Ryan kini membaca halaman demi halaman pemeriksaan lab atas mayat-mayat mengenaskan itu.
“Benar dugaan kita…”
Dari hasil pemeriksaan forensic, itu menunjukan banyak hal yang sudah tak lagi asing baginya.
“Ahhhh... kita akan di suruh begadang lagi untuk membuat laporan karena kasus ini, terlebih Kepala tadi tak mau mengakui kalau pembunuhan ini jelas ulah si pelakor hunter itu dan malah menyebutkan ini hanyalah dendam dari sang anak saja…”
Memang ketika awal penyelidikan tadi, tim kepolisian cepat-cepat menyimpulkan kalau pelaku pembunuhan Ibu Vivi berserta selingkuhannya itu adalah Vivi, yang di temukan di TKP tengah memegangi pisau yang tertancap di bagian leher satu dari dua mayat itu.
Padahal dari jenis luka sayat yang melintang di leher korban jelas menujukan kalau itu adalah hasil dari pencekikan oleh tali tajam yang selalu terpampang pada 22 korban wanita sebelumnya.
“Kita akan malu sekali jika harus menarik laporan kita pada media… dan lagi…”
Det. Ryan kemudian melirikan matanya ke arah ruangan tempat seseorang yang mungkin akan sangat menyudutkannya, karena telah dengan gegabah melimpahkan semua perkara pada mahasiswa Boy yang mungkin bisa saja menjadi saksi kunci pengungkapan kasus pembunuhan ibunya itu.
“Sekarang kita bagaimana??”
“Arghhh ini jelas akan kembali membuat kegemparan...”
Keluh detektif Leo yang sudah bisa menebak akan jadi seperti apa situasinya setelah ini.
Brakkkk
“Ryan! Apa benar?? Apa itu benar??? Ini- … ini ulah Si Pelakor Hunter itu??”
Kepala kepolisian yang baru saja datang langsung ribut karena tahu akan kembali menjadi perhatian semua mata public, karena kasus pembunuhan serupa yang belum terpecahkan juga sampai sekarang.
“Jawab!!”
“Kenapa kalian hanya memalingkan wajah dariku???!!!”
Detektif Ryan mendapat semprot karena lagi-lagi sampai kecolongan oleh seseorang yang masih menjadi misteri identitasnya itu.
“Arghhh!! Kalian ini, cepat lakukan sesuatu!!!”
Kepala Polisi malah hanya memarahi dan menekankan beban pencarian pembunuh itu pada kepala detektifnya.
“Baiklah…”
“Bukan hanya baiklaah, cepat cari k*****t ituuu!!!!”
Brakkkk...
Brakkk!!!
Detektif Leo sampai tersentak bahkan hampir terjengkang karena gebrakan juga bantingan pintu ruang office ulah tangan komandan mereka itu.
“Ahhh… setidaknya dia membantu kita mencari, bukan hanya memarahi kita begitu…”
Semenatara detektif Leo sibuk begerutu, tiba-tiba Det, Ryan teringat pada satu benda yang cukup menarik perhatiannya selama penyelidikan.
“Ah, iya pematik api itu…”
“Dimana pematik itu???”
Tanya detektif Ryan dengan ributnya pada detektif Leo.
“Itu ada di barang kotak bersama barang bukti lainnya, ada apa?”
Sejujurnya saat Detektif Ryan menemukan pematik berwarna ungu mengkilap berlambang kupu-kupu itu, ia pernah melihat itu sebelumnya di tempat lain.
Dan yang menjadi kejanggalan baginya adalah setelah ia memeriksa rekam medis korban, si pria itu dalam kondisi tak memungkinkan untuk menghisap walau hanya sebatang rokok sekali pun.
“Tapi tadi… istrinya bilang dia tak mungkin merokok karena bronchitis acutnya itu… lalu kenapa dia punya pematik dan ada beberapa bekas bakaran rokok di pojok ruangan…”
“Dan lagi... tak juga di temukan nikotin di dalam tubuh kedua mayat itu…”
“Tunggu!!! Bukankah ini petunjuk??!!!”
Akhirnya mereka memiliki satu titik terang atas teka-teki yang membuat kepala mereka hampir meledak karenanya.
“Pertama, kita lihat apa ada hal khusus dari pematik itu, lalu cari di mana di buatnya, karena kelihatannya itu bukan sembarang pematik yang bisa di miliki oleh semua orang”
Perintah Detektif Ryan pada Detektif Leo
“Siap...”
.
.
.
Boy pov
Aku akan sangat kesal jika keadaannya tak sesuai dengan apa yang sudah kurencanakan. Bisa-bisanya mereka mengatakan kalau semua yang terjadi ini karena ulah putrinya, yang padahal merupakan ‘korban’ atas perbuatan juga hubungan keji yang di lakukan oleh ibunya itu.
Tidak, tentu ini tidak bisa di biarkan. Hukumanku untuk si pelakor itu seharusnya tepat, murni dan tak boleh tertutupi oleh kesalahan seperti ini.
Karena seharusnya mereka mengumumkan betapa buruknya hukuman untuk wanita yang sudah menjadi bangs*t yang mencuri suami orang lain. Mati tercekik dan dalam keadaan hina.
“Proff....”
“Ya, Vi?”
“Ehm, terimakasih...”
“Tak perlu di pikirkan, kamu harus terus percaya ada kebenaran atas semua ini”
Balasku pada perempuan tak berdosa itu.
‘Benar, kebenaran harus terungkap’
Gumamku dalam diam.
Akhirnya karena aku yang sudah terlanjur di buat geram, juga merasa telah di remehkan atas eksekusiku yang telah susah payah kurangkai dengan sebaik mungkin semalam, sepertinya aku harus mulai memberikan peringatan untuk para penyidik itu.
“Vi, saya harus pergi memeriksa klinik sebentar, pengacara saya akan stay selalu, jadi kalau ada apa-apa kamu hanya perlu hubungi beliau okey?”
Ucapku, dan Vivi mengangguk untuk itu.
“Saya pergi dulu...”
“Sekali lagi terimakasih banyak ...”
Ucap Vivi sebelum aku benar-benar pergi.
Dan dengan langkah cepatku kini aku sudah berada di mobilku kembali, siap untuk menacap gas menuju ruanganku untuk memperbaiki keadaan ini.
.
.
Semalam, saat aku tiba di kediaman pelakor itu, mereka sedang melakukan perekaman video aksi tak senonoh dengan tujuan untuk di perjual belikan di sebuah situs porno.
Dan rupanya seperti itulah pekerjaan Ibu dari mahasiswaku itu. Ia senang bergonta-ganti pasangan, s*x, melakukan stream live aksi hinanya itu, sampai kemudian menjual hasil video rekamananya pada salah satu situs online illegal. Tak heran jika Vivi sampai jijik sekali pada ibunya itu.
Dan tentunya kuambil video rekaman mereka semalam.
“Ah, ini dia...”
Kuputar bagian mereka yang sedang bercinta, dan sedikit ku cut vidonya lalu kutrim dengan adegan saat aku muncul dengan wajahku yang jelas kusembunyikan, hingga melakukan aksiku seperti biasanya, yaitu mencekik lehernya dengan gelasan tajam andalanku, menelanjanginya, lalu mengikatnya, dan memasukan celana dalam yang di kenakan wanita menjijikan itu ke dalam mulutnya.
“Ah, si k*****t itu...”
Umpatku, saat teringat pada kejadian tak terduga yang terjadi semalam, di mana aku yang sempat kecolongan karena si prianya itu muncul tiba-tiba dengan sebuah kursi dan menggunakan itu untuk menghantam punggungku.
Jika saja ia tidak melakukan itu, tentu aku tak akan membunuh dua orang semalam. Tapi karena aku yang sampai sangat kesal di buatnya, hingga jadilah ia pun ikut mati sekarat karena kehabisan darah sambil kusesap rokokku semalam.
Benar, semalam untuk pertama kalinya kulakukan pembunuhan itu sambil merokok, karena tak tahan akan bau busuk yang menyengat dari bagian kelamin si pelakor itu. Dari yang sempat kuperhatikan, ia rupanya mengalami gejala infeksi kanker serviks yang sepertinya sudah cukup lama di deritanya.
*(Kanker serviks adalah kanker yang tumbuh pada sel-sel leher rahim)
Dari catatan medis, dikatakan bahwa seseorang akan lebih beresiko tertular infeksi HPV, jika mereka memiliki lebih dari satu patner s****l, jadi tak heran jika Ibu mahasiswaku ini sampai terinfeksi kanker serviks yang ku diagnose secara kilat semalam itu.
*(HPV atau human papilloma virus adalah kelompok virus yang menginfeksi leher rahim, umumnya menular melalui hubungan s****l)
Klik
Setelah kuselesaikan video yang baru saja kuedit itu, akhirnya kuputuskan untuk menguploadnya ke satu situs komunitas online terbesar dan cukup terkenal, agar lebih mudah untuk tersebar.
Dan tentunya dengan akun anonym, juga dengan IP address palsu ku unggah video baru saja itu.
“tch...”
Kini aku bisa sedikit menyunggingkan senyumku, karena kutebak videoku itu akan jadi bom yang cukup untuk memporak-porandakan meja office detektif Ryan juga kepolisian saat ini.
Ting
Ting
Ting
Ting
Notifikasi pemberitaan breaking news mengenai video itu sudah mulai bermunculan, dan hebatnya lagi itu sudah di bagikan lebih dari seribu kali hanya dalam sepuluh menit saja.
“Ahh, jangan pernah meremehkan dan membuat marah seorang psikopat, atau...”
“... akan kutimbulkan kegemparan yang lebih menghebohkan”
.
.
.