Salah

1655 Kata
“Ill...” “Ehm...” “Ada apa?” Tanyaku padanya yang sedang melamun saja sambil melihat keluar jendela mobilku sedari tadi. “Aku... aku cuma masih kaget saja “ “Kaget? Kaget kenapa?” “Itu...” Tunjuknya pada sebuah layar besar yang saat ini sedang menampilkan berita utama, yang tengah meliput jalannya perkembangan penyelidikan pembunuhan yang berlangsung semalam. “Apa mahasiswa dokter baik-baik saja? Dia pasti trauma melihat Ibunya yang harus secara mengenaskan begitu, terus juga videonya di saksikan oleh semua orang...” Ia ternyata bisa menaruh perhatian pada Vivi, yang padahal aku sendiri saja bahkan tak bisa menaruh peduliku padanya, karena urusanku memang sudah selesai dengannya. Dan aku pikir bukankah ia seharusnya kini bahagia karena ibu yang selalu membuatnya merasa jijik, telah kuhukum seperti itu? “Vivi bukan lagi tersangka sekarang, polisi akan memberikan perlindungan untuknya, ia juga sudah memiliki kuasa hukum, dan pendampingan psikologis juga pastikan akan di berikan secara khusus padanya...” Jawabku pada Ill. Tapi wajahnya kini tampak jadi menegang, seperti dirinya lah yang sedang berada di posisi Vivi saat ini. Aku tahu ada beberapa orang yang katanya tak bisa melihat darah, dan tak kuasa untuk menyaksikan sebuah tindak kekerasan, dan mungkin Ill lah salah satunya. “Ini... minum, gak usah terlalu di pikirkan ya, mukamu jadi pucat seperti itu” Ucapku sambil kuberikan tumbler air minumku padanya. Ill langsung menurut dan kini ia mulai meminumnya perlahan. “Tumbler dokter lucu sekali, kupu-kupu...” “Ehm, Saya memang mneyukai kupu-kupu, mereka itu adalah satu yang bisa mengajarkan kita akan sebuah kesetiaan...” “Ah, aku denger, kalo pasangan kupu-kupunya mati, maka yang satunya juga bisa mati ya...” “Ehm, kurang lebih seperti itu...” Dan sungguh selain karena kesetiannya, kecantikannya benar-benar membuatku terpesona. Kupu-kupu itu merangkak, sempat hidup dalam sesak, harus berjungan melewati sebuah lubang yang sesungguhnya bukan hal mudah untuk di lewatinya, tapi.... ia tetap memilih hidup cantik, bermoral dan berusaha untuk hubungannya sampai akhir hidupnya. Itu jelas sangat berbeda dengan wanita bangs*t di luar sana. Perjuangan hidup mereka sudah pasti tak akan berakhir indah tanpa berusaha, atau malah dengan bejatnya mencuri suami wanita lain, menjual tubuhnya untuk sesuap nasi, atau menjadi benalu dan perusak hubungan orang lain hanya untuk bertahan hidup. Terkadang memang sikap manusia itu lebih rendah dari sebuah binatang yang memiliki otak setitik saja. “Kita ke klinik dulu ya, ada yang kutinggalkan...” “Ehmm...” . . Sesampaikanya di klinik, dengan cepat aku berjalan ke ruanganku, ingin mencari sesuatu yang sepertinya belum lagi terlihat sejak tadi malam. Tok tok tok “Selamat sore dokter...” Sapa seseorang tiba-tiba dari balik pintu ruanganku. “Oh, ada apa kemari?” “Sepertinya anda mencari sesuatu?” Kutanya ada apa, detektif Ryan malah bertanya kembali seperti itu padaku. Aku jadi terdiam kini berdiri menghadapnya di buat sedikit penasaran dengan maksud kedatangannya. “Benar, aku sedang mencari kunci lokerku...” Balasku, aku memang kehilangan itu. Dan itu sangat penting sekali karena di sanalah semua gelasan, tinta, sampai barkode yang sudah kukumpulkan hasil pembunuhanku selama ini. “Bukan ini?” Tanyanya, sambil menunjukan sebuah pematik yang tak asing lagi bagiku. “Dari mana anda mendapatkan itu, sudah lama Vivi mencari itu dan belum lama ini ia malah meminta lagi padaku...” Jawabku, aku memang cukup dekat dengan Vivi, mahasiswaku itu memanglah seorang perokok berat, beberapa kali kupergoki dan kuperingati soal kebiasaan buruknya itu, tapi ia malah berkata merokok dapat menghilangkan semua stress di kepalanya. Karenanya saat kemarin dirinya yang mendapat nilai cukup tinggi, kuhadiahi Vivi dengan sebuah pematik cantik yang saat ini sedang berada di tangan detektif yang belakangan begitu senang muncul di hadapanku. “Ini... milik Vivi?” Tanyanya seolah tak percaya pada apa yang kukatakan itu. “Tentu, aku sendiri yang memberikannya sebagai hadiah atas ujian blok semester kemarin untuk Vivi, hanya ada satu design yang seperti itu, dan aku yakin sekali itu miliknya” Detektif Ryan kemudian terdiam mendengar ucapanku itu. “Ada apa?” “Sidik jari anda ada di pematik ini, dan ini adalah salah satu barang yang ada di TKP kasus pembunuhan ibu dari mahasiswa anda” Aku hanya memandangnya datar kini. “Tentu saja, karena itu adalah hadiah pemberian dariku, dan bukankah sudah sewajarnya jika menemukan itu di dalam rumahnya...” Balasku sambil kulemparkan senyumku padanya. ‘Aku pikir, mungkin tadinya ia mengira kalau itu adalah salah satu barang yang dengan cerobohnya sudah kutinggalkan selama pembunuhan semalam, cih lucu sekali dia ini...’ “Apa... detektif berpikir kalau aku ada kaitannya dengan pembunuhan ini?” Tanyaku langsung saja, karena jelas sekali dan tak bisa di pungkiri lagi kalau kecurigaan itu tergambar dengan jelas dari sorot tajam matanya yang selalu di lemparkan padaku. “Kami harus memikirkan setiap kemungkinan dan tak boleh melewatkan sedikitpun petunjuk yang ada...” Jawabnya, aku jadi menyunggingkan ujung bibirku mendengar hal itu. “Jadi, anda ingin mencari keterangan soal pematik itu dari saya, begitu?” “Benar, tapi sepertinya itu sudah tak perlu, baiklah kalau begitu, maaf mengganggu waktu anda dokter...” Balasnya, meski begitu tak terdapat sedikit pun perubahan dari caranya menatapku. Instingnya boleh juga, pikirku. “Tak masalah, sepertinya anda benar-benar bekerja keras untuk menyelesaikan kasus ini ternyata” Ucapku padanya, “Tentu... aku harus menangkapnya” Balasnya dengan nada dingin dan terdengar penekanan atas kalimatnya itu. “Oh? Detektif Ryan? Ada apa kemari?” Tanya Ill yang kini juga muncul dari balik pintu ruanganku. Ia pasti sudah kubuat menunggu terlalu lama di dalam mobil. “Ada sesuatu yang harus kupastikan, itu saja...” Balas Detektif Ryan pada Ill. “Ah, begitu...” “Ya sudah saya permisi...” Setelah berpamitan seperti itu, Detektif Ryan langsung saja pergi meninggalkanku dan Ill berdua di ruangan ini. “Ada apa? Kayanya kita sering banget ketemu sama Detektif Ryan belakangan ini...” “Ehm, begitulah...” Balasku seadanya, sambil kutatapi si sosok penguntit itu yang kini malah tengah bertanya-tanya pada Zee di depan ruanganku ini. “Ah, dokter, ini kunci apa? Kemarin malam saat dokter pergi tiba-tiba itu... ini kutemukan di lantai di depan pintu kamar” Telinga awas detektif Ryan sepertinya cukup tertarik dengan apa yang baru saja di ucapkan Ill padaku, bahkan ia sampai menoleh untuk melihat kunci di tangan Ill, lalu di alihkannya pandangannya itu kepadaku. “Ah, itu dia... saya pikir tertinggal di meja kerjaku ini...” Ucapku sambil berjalan ke arahnya, dan mengambil kunci di tangan kekasihku iitu. “Terimakasih Ill, saya sudah khawatir ini akan hilang...” “Ini kunci apa?” “Ini kunci berkas klien saya, ah saya tidak bisa bekerja jika tak ada ini...” Bohongku, sambil kulirikan mataku pada seseorang yang tengah memasang wajah juga tatap seksamanya memperhatikanku saat ini. Cup Cup Sengaja kuberikan banyak kecupan di pipi Ill yang sudah berhasil menemukan kunci loker benda-benda berhargaku ini. “Ah, dokter... malu, kalau ada yan lihat gimanaa?” Tanyanya dengan sedikit panik, sambil melihat ke belakang takut takut kalau ada yang sampai menyaksikan atas apa yang sudah kulakukan padanya itu. Dan seperti duagaan juga tujuan dari aku yang menciumi kekasihku baru saja itu, Detektif Ryan langsung pergi saja kini, karena pastilah ia merasa tak nyaman harus melihat sikap manis yang sudah kulakukan pada Ill. “Tak ada, ayo kita pulang...” “Ah, ayah ada di rumah hari ini...” “Kalau begitu ayo kita menyapanya...” . . “Selamat malam Pak” Sapaku pada ayah Ill yang kini sudah menunggu kedatanganku dan Ill di depan rumahnya. “Selamat malam dokter, saya dengar... kemarin Ill menginap, maaf Ill jadi merepotkan anda...” Ucapnya ramah padaku. “Tak apa, lagi pula... Ill dan saya... ehm kita...” Ucapku bersikap ragu, gerogi, layaknya seorang pria ketika ingin meminta restu ayah dari kekasihnya. “Ayah, aku dengan dokter Boy sudah pacaran” Ucap Ill dengan lantangnya sambil tersenyum menatap ke arahku. Sepertinya ia cukup bisa membaca tingkahku yang berpura-pura takut untuk meminta restu dari ayahnya itu. “Ahh, apa dokter tak akan menyesal memiliki pacar sepertinya?” “AYAH!!” Ill langsung protes karena candaan ayahnya baru saja itu. “Tentu tidak, suatu keberuntungan juga kehormatan bagi saya bisa menjalin hubungan dengan putri anda Pak” Balasku dengan wajah yang kubuat sedikit menampilkan wajah tersipuku di hadapannya. “Ah, kalau begitu mari kita rayakan saja di dalam, ayah di bawakan banyak makanan oleh bibimu” Ucap Ayah Ill terdengan begitu menerima diriku yang sudah menjadi kekasih dari anak semata wayangnya itu. . . Dan benar saja, ada begitu banyak makanan yang tersaji di hadapanku saat ini. Dari wajah Ayah Ill yang saat ini tengah duduk dengan wajah cerianya, jelas sekali kalau aku ini benar-benar sudah di terima olehnya untuk menjadi pria yang bisa mencintai Ill. “Dokter, terimakasih sudah menjaga Ill kemarin, sesungguhnya hati saya tak tenang saat pergi kemarin, kemudian juga... setelah mendengar pembunuhan itu terjadi lagi, intinya saya benar-benar berterimakasih pada dokter yang mau menjaga anak nakal itu...” Ungkapnya, mengatai Ill yang kini sedang Dan kulihat kini wajah yang sama juga di tampilkan oleh ayah dari kekasihku ini, rautnya percis sekali seperti apa yang di perlihatkan Ill saat berada di mobil. Sepertinya video pembunuhan itu benar-benar sampai jadi menimbulkan perasaan gelisah bagi semua orang. “Tak bisa saya bayangkan jika Ill yang sampai harus mendapat perlakukan mengerikan seperti itu...” Ungkapnya. Gulp Ayah Ill meneguk sekaligus minuman sake di gelasnya itu. Seperti ingin meluruhkan “Saya pastikan akan selalu menjaga Ill... dia tak akan mungkin tersakiti karena ia bukan wanita yang pantas untuk di sakiti...” Kataku, dan tentu akan kupastikan hal itu. Ill tak mungkin tersakiti karena ia bukanlah wanita yang akan sudi menjadi pelakor seperti wanita-wanita yang sudah meregang nyawa di tanganku ini. “Izin kan saya untuk selalu bisa menjaganya...” Ucapku secara resmi miminta izin dari Pak George. “Tentu, jagalah dia... jaga Ill sebaik mungkin...” Balasnya “Ini minumlah...” Ia kemudian menuangkan sake pada gelasku sebagai ‘simbolis’ kalau aku benar-benar sudah di terimanya. “Terimakasih...” ... ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN