“ Gadis cepat bawa print laporan keuangan bulan ini, saya tunggu di ruangan saya!” ujar seorang wanita cantik dengan blazer berwarna senada dengan jilbab dan sepatu pantofel hitamnya
Wanita itu berjalan tegap dan percaya diri. Wanita itu adalah Rini, manager keuangan di perusahaan besar itu
“ Iya Bu, siap. Nanti saya antar keruangan Ibu. “ dengan segan wanita itu cepat menyiapkan apa yang diminta oleh atasannya
Tidak lama kemudian…
“ Apa ini, kenapa laporannya berantakan begini! Cepat revisi sebelum jam sembilan harus sudah ada di meja saya! Cepat! Saya mau rapat direksi jam sepuluh nanti!” dengan wajah judes dan tegas wanita itu memberikan laporannya kembali
“I_Iya Bu. Sebentar saya perbaiki. “ dasar atasan judes, jutek, perawan tua!” gerutunya hanya dalam hati
Rini adalah seorang wanita keturunan seberang pulau Sumatra, wajah nya yang cantik dan garis wajahnya yang tegas menambah aura judesnya.
Semua pekerjaan harus perfeksionis di mata dia, tidak boleh ada kekurangan sedikitpun. .
" Hey kenapa kamu Gadis, pagi - pagi udah kena semprot. Mimpi apa sih kamu semalem." ledek teman - teman Gadis lainnya, tentu saja dengan suara pelan. Tak ingin sang moster wanita yang mereka takuti tahu.
" Iya ngimpi apa saya, ya. Duh sarapan aja belum, Udah disemprot, dasar itu perawan tua. Suka banget kalau buat orang jantungan, pagi - pagi.
Gadis masih saya mengerutu, meskipun tangannya tetap bekerja menyiapkan semua laporan yang bos nya pinta.
" Hey denger - denger hari ini ada perekrutan karyawan di bagian staf ya?"
Siapa yang handle? Kamu atau siapa?"
Bukan aku sih, mungkin Ratna, ya, pasti pantau sama bu, bos kita lahh!"
***
Terdengar kasak kusuk didevisi mereka.
" Hey gimana? katanya sudah ada yang lulus seleksi. Gimana orangnya, cowok atau cewek? Katanya Bu Bos langsung yang meriksa datanya?" ujar Lita penasaran
" Iya bener sudah ada tuh, tapi ko aneh, orangnya biasa aja, emang sih fres graduate. Tapi ko biasa aja, ya.Aneh nggak sih!" jawab yang lainnya
" Emang cowok apa cewek?" tanya yang lain kasak kusuk tentu saja tidak ingin atasan mereka mendengarnya
Cowok sih, tapi ko orangnya berantakan gitu sih, mana gugup lagi katanya tadi pas di interview sama Bu, Bos."
" Ya udah biarin aja, pasti bos kita punya penilaian sendiri mungkin. Kita kan nggak tahu."
Keesokan harinya..
" Kamu karyawan baru itu, ya?" tanya Ratna pada seorang laki - laki muda. dengaan penampilan tidak rapih, rambut acak - acakan.
" I_Iya, bu. Saya." ucapnya sopan dan hati- hati
Siapa nama kamu, coba kamu ke toilet dulu, rapikan baju kamu, saya takut nanti kamu malah kena tegur Bos besar!" Ratna tidak ada maksud untuk mengintimidasi karyawan baru, apa lagi itu hasil seleksi atasan mereka sendiri
" Nama saya Andi, Bu. Saya permisi ke toilet dulu bu. Mau rapihkan pakaian saya.Permisi, Bu! dengan sopan dan sedikit senyum Andi pergi ke toilet, meninggalkan Ratna yang diam terkesima
" Hiy apa sih, kenapa senyum nya tulus begitu, lagi. ohhh..mungkin ini yang di nilai sama, Bu Bos! " gumamnya sadar dan cepat menuju meja kerjanya
***
" Ini kamu salah angka, gimana, sih! Coba di perbaiki lagi! Yang teliti!" Rini sengaja memangil Andi untuk membantu nya mengerjakan beberapa Fail laporan. Sengaja Rini memangil Andi ke ruangan nya, untuk mengetes dan mengetahui langsung kemampuan Andi. sebelum akhirnya nanti diberikan kerjaan yang sesungguhnya.
" Iya, Bu. Maaf. Saya akan koreksi lagi. Dengan kepala tertunduk takut - takut, tapi Rini bisa melihat senyum tulus dari wajahnya
Berapa menit kemudian
" Kamu pakai format apa sih! salah format ini! Hadeuhh capek saya ngasih tahu ke kamu, dengerin dong intruksi dari saya! " lagi - lagi Rini terdengar marah - marah pada Andi di dalam ruangannya
Semua staf Rini mengkerut ketakutan.
Tidak ada yang bersuara sedikitpun mereka terlihat menunduk sibuk dengan komputer masing -masing.
" Maaf bu, saya akan perbaiki lagi, terima kasih instruksi nya, Bu. Permisi." katanya dengan sopan
Sejenak Rini diam dan memicingkan mata sebelahnya yang terhalang oleh kaca matanya
" Orang aneh !" gerutu Rini dalam hati
beberapa menit kemudian
" Bu maaf ini laporan nya, Bu. Formatnya sudah saya rubah. insya Allah sesuai dengan keinginan ibu. " ucapnya terbata - bata tapi terkesan sopan dan tulus
" Iya sudah taruh disana, nanti saya periksa." ujar Rini lagi
Rini adalah seorang wanita yang gila kerja, baginya pekerjaan adalah prioritas utama. Tidak ada cinta dalam hidupnya. Semua omong kosong tentang cinta, kalau menurut dia.
Itulah makanya Rini dikenal dengan Bos yang judes dan pemarah, dan arogan, meskipun begitu tidak ada yang berani membantahnya.
Hari sudah semakin sore, langit diluar gedung sudah hampir gelap, satu demi satu karyawan pulang. Karena memang jam pulang sudah lewat
Tapi tidak dengan Rini, dia masih berkutat dengan angka - angka dan setumpuk berkas yang harus diperiksanya.
" Akhh.. akhir nya, Alhamdulillah selesai juga."kata Rini sambil merentangkan kedua tangannya
Rini membereskan semua yang ada di atas mejanya, Dia tak mau terlihat berantakan.
Kemudian Rini mengambil tas bermerk berwarna hitam yang terkesan formal dan elegant.
Tok tok tok
Suara hak sepatu tingginya mengema di lorong kantor.
Suasana kantor sudah mulai sepi, walaupun ada beberapa staf di divisi lain yang masih lembur, menyelsaikan pekerjaan nya.
Tiba di ruangan staf divisi nya. Rini berhenti dan sedikit memastikan ...
" Hey kamu, ngapain masih disini! Kenapa belum pulang? " tanya Rini perduli
Dan itu diluar kebiasaan Rini. biasanya Rini itu cuek, tidak perduli, dan judes dengan karyawan nya apalagi di luar jam kerja.
" M_malam, Bu! saya lagi mempelajari pekerjaan yang tadi siang saya kerjain. Takut besok saya salah lagi. Nggak apa - apa kan, Bu." katanya dengan sopan dan lugu
" Yaudah, tapi kamu sudah makan belum? sebaiknya makan dulu sekarang sudah jam delapan malam, nanti malah sakit nggak bisa kerja besoknya.
" I_iya, Bu. Nggak apa - apa, nanti saja, sekalian ini udah mau selesai." tolak nya sopan
" Nggak bisa nanti, ini sudah malam, ayok ikut saya ke kantin, kamu sudah tahu kantinnya belum?" karena suara Rini yang tegas membuat Andi takut, sehingga dengan sopan dia berusaha untuk menolaknya
" Maaf, Bu. Nanti saja sekalian pulang, turun kebawah. "lagi - lagi Andi berusaha menolak
" Yaudah terserah kamu aja, ini uang buat kamu beli makan. Saya duluan." ujarnya sambil memberikan satu lembar uang berwarna merah, dan berlalu pergi