Chapter 1 - Talitha
PROLOG
KRESS…
Bunyi daun kering yang terinjak terdengar nyaring dalam keheningan malam. Setengah terkejut setengah takut, aku mulai merapatkan jaketku sebelum kembali melangkah lebih hati-hati agar tidak lagi menimbulkan suara sedikitpun seperti yang baru saja kulakukan.
Berbekal sebuah senter dan sekop kecil yang kupinjam dari salah satu warga desa, aku memberanikan diri melewati barisan pepohonan yang seolah tidak ada habisnya. Aku baru berhenti berjalan saat aku tiba di depan satu-satunya pohon besar yang tertanam kokoh tak jauh dari pinggir danau.
Reflek, aku menarik nafas dalam sambil memejamkan mataku. Hingga detik ini, aku tidak tahu tindakanku kali ini tergolong sebagai tindakan berani atau malah tindakan bodoh. Tapi satu hal yang aku tahu pasti. Bagaimanapun juga, aku harus melakukan hal ini karena ini adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan semua yang telah terjadi.
“Ya Tuhan, lindungilah aku,” gumamku lirih sebelum berdiri kaku di depan pohon.
Melawan hembusan angin malam yang mendadak membuatku menggigil, aku mulai menancapkan sekopku ke tanah. Tidak mengacuhkan perasaan tidak enak yang mulai membuncah, aku menggali sekuat tenaga.
Baru beberapa menit menggali, aku mulai merasakan peluh-peluh membasahi dahiku. Mengabaikan tanganku yang mulai kaku, aku mempercepat kerjaku. Tepat pada saat aku hampir menyerah karena tidak menemukan apapun, ujung sekopku menghantam sebuah benda keras.
Adrenalinku terpacu. Agak tegang, aku melempar sekopku dan memilih mengais tanah dengan tangan kosong. Ya, harus begini kalau aku tidak mau mencederai apapun benda yang terkubur sejak setahun silam itu. Usahaku berhasil. Aku hanya butuh kurang dari lima menit untuk bisa melihat jelas apa yang sebenarnya terkubur di sana.
Pemandangan yang menyapa mataku sontak membuatku membelalak ngeri. Tengkorak kepala manusia itu menyisakan beberapa helai rambut yang masih melekat. Reflek, aku terduduk dan membeku. Sekalipun aku sudah tahu apa yang akan kutemukan di sini, aku tetap tidak bisa mengendalikan keterkejutanku.
Aku masih duduk membeku. Tatapanku tidak bisa beralih dari tengkorak itu. Saat mengingat sosok itu sebelum terkubur dan mengurai di tanah seperti ini, aku tidak bisa menahan air mataku. Tanpa bisa kutahan, air mata mulai mengalir deras di pipiku.
Rasanya aku sempat menangis beberapa menit sebelum kesadaran menyentakku. Tidak, tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku tidak boleh menangis. Aku tidak boleh buang-buang waktu. Aku harus segera menyelesaikan semua ini. Aku harus bergegas sebelum seseorang datang dan memergokiku.
Dengan kasar, aku menyeka air mataku. Kupejamkan mataku sejenak untuk menenangkan hatiku yang kacau. Aku membuka mataku kembali. Aku sudah menyiapkan hatiku untuk kembali melanjutkan pekerjaanku. Namun saat mataku kembali menatap tengkorak itu, aku kembali bergeming.
Aku tahu seharusnya aku kembali menggali untuk menemukan sisa-sisa tengkorak itu. Aku bahkan sudah bertekad dalam hati untuk melakukan itu. Tapi nyatanya tidak demikian dengan tubuhku. Pemandangan yang terlihat di mataku itu membuat seluruh persendianku tidak bisa digerakkan. Otakku pun seakan lumpuh. Aku hanya mampu memandang kosong pada pemandangan mengerikan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terlintas dalam mimpiku itu.
Gemerisik dedaunan yang terinjak perlahan mulai menarikku kembali ke kenyataan. Reflek, aku menggerakkan kepalaku, bermaksud melihat apapun yang menimbulkan suara di belakangku. Sayangnya aku terlambat. Sebelum aku sempat menoleh, sebuah hantaman keras terasa di tengkukku.
Aku terjatuh saat mengerang kesakitan. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba mencari tahu siapa yang telah melakukan hal ini padaku. Namun lagi-lagi, sebelum aku merealisasikan niatku, sebuah hantaman kembali disarangkan ke tubuhku. Kali ini di bagian perutku.
Reflek aku memejamkan mataku, berharap dengan begitu rasa sakit yang kurasakan di dua titik tubuhku bisa berkurang. Namun itu tindakan yang sia-sia. Sebelum sakit itu mereda, pinggangku yang mendapat giliran bersisian dengan benda tumpul yang sepertinya kayu itu.
Di tengah kesadaranku yang mulai menurun, aku bisa merasakan air mata mulai merembes di sudut mataku. Ini adalah kali kedua aku diserang dari belakang seperti ini, tapi entah kenapa, firasatku berkata aku tidak bisa selamat kali ini…
***
CHAPTER 1 - TALITHA
Oh My God.. What the hell is going on?
Selama beberapa detik, aku hanya mampu mengerjap t***l sebelum akhirnya menatap wali kelasku dengan tatapan kosong. Semula kupikir aku hanya salah dengar, tapi melihat senyuman bangga dari wanita tiga puluh tahunan itu, aku tahu pendengaranku baik-baik saja.
Aku lolos tes itu.
Bersama si biang masalah, Natasha.
Secara naluriah, aku menoleh ke arah Natasha. Dan apa yang kulihat benar-benar membuatku murka. Natasha sengaja menatapku dan tersenyum mencemooh padaku!
“Maksud Ibu, saya dan Natasha sama-sama lolos ke pelatihan itu, Bu?” tanyaku masih tak percaya dengan kesialanku.
Bu Jessica mengangguk tegas sebelum menatapku dan Natasha secara bergantian. “Luar biasa bukan? Dua wakil dari sekolah itu lebih tinggi dari ekspektasi Ibu. Kalian berdua sangat beruntung bisa mendapatkan kesempatan ini, jadi jangan sampai kalian sia-siakan.”
Aku mencelos. Kebahagiaan yang sempat muncul karena berhasil lolos ke tahap final, langsung mengempis cepat begitu tahu bahwa cewek sialan itu sama lolosnya denganku.
Menghela nafas panjang, aku mencoba meredakan emosiku. Aku tahu dari awal Natasha memang selalu mencoba menyaingiku dalam segala hal. Ya benar, dalam SEGALA hal. Apa yang kuikuti, pasti akan juga sengaja diikutinya. Mulanya aku pikir mungkin kesukaan kami memang sama, tapi belakangan aku curiga bahwa Natasha memang sengaja mengikuti apa yang aku ikuti demi bersaing denganku. Oh, ayolah, bahkan kembar identik pun mempunyai kesukaan yang berbeda, bagaimana mungkin aku dan Natasha yang jelas-jelas bukan kembar identik, malah mempunyai kesukaan yang benar-benar sama?
Jujur saja, aku tidak pernah tahu apa yang membuat Natasha tampak begitu membenciku. Natasha bahkan sudah terlihat begitu tidak menyukaiku bahkan di hari pertama kami bertemu.
Aku masih ingat jelas tentang pertemuan pertama kami. Berbeda denganku yang sudah bersekolah di SMU Citra Hati sejak kelas X, Natasha baru pindah kemari saat kami menginjak kelas XI. Kurang lebih seminggu setelah tahun ajaran baru dimulai, Bu Jessica mengenalkan Natasha ke seluruh kelas. Setelahnya, saat Bu Jessica meminta Natasha untuk memilih tempat duduk kosong yang ada di kelas, mendadak cewek gila itu menunjukku tanpa banyak berpikir. Dengan lantang cewek sialan itu meminta tempat dudukku dan berdalih hanya bisa duduk di sana karena masalah penglihatannya. Tidak berhenti sampai di sana. Saat Bu Jessica menyuruh Natasha untuk meminta ijin sendiri padaku, cewek itu malah berani menghampiriku dan menyingkat namaku menjadi Tali! Dasar kurang ajar.
Ah, ya, aku hampir melupakan satu fakta penting. Ini memang agak mengherankan, tapi Natasha jelas mengenalku bahkan sebelum kami bertemu. Buktinya, tanpa ada yang memberitahunya tentang namaku, Natasha bisa tahu siapa namaku.
Kembali ke sumber kekesalanku siang ini. Terus terang, aku masih belum bisa percaya bahwa aku dan Natasha sama-sama berhasil melewati tes itu.
Sejak kecil, aku mempunyai ketertarikan yang cukup besar dalam bidang jurnalistik. Seiring dengan bertambahnya usiaku, ketertarikan itu perlahan meningkat drastis. Saat sebagian teman-temanku belum punya cita-cita yang jelas tentang masa depan mereka, aku tahu pasti bahwa aku ingin menjadi seorang reporter setelah menyelesaikan pendidikanku kelak.
Untuk mencapai cita-citaku, aku selalu berusaha keras menambah pengetahuan dan melatih kemampuanku di bidang ini. Sebisa mungkin aku mengikuti berbagai lomba yang berkaitan dengan dunia jurnalistik, baik dalam skala sekolah hingga nasional. Minimal seminggu sekali, aku pasti mencari tahu tentang lomba dan segala hal yang berkaitan dengan jurnalistik. Dan kebiasaan inilah yang akhirnya mengantarkanku pada kesempatan emas ini.
Sejak dua tahun lalu, salah satu media cetak terbesar di Indonesia mengadakan special training bagi 50 siswa yang berniat mendalami dunia jurnalistik dan benar-benar mempunyai bakat dalam bidang itu. Jika prestasi mereka saat training cukup mengesankan, bukan tidak mungkin siswa bersangkutan akan langsung dipekerjakan sekalipun statusnya mungkin baru magang. Dan bagi seseorang yang bercita-cita menjadi reporter sepertiku, ini jelas perlu diperjuangkan.
Masalahnya adalah sangat sulit untuk masuk dalam daftar 50 siswa terpilih. Ada beberapa tahapan seleksi yang harus kulakukan sebelum akhirnya berhasil memasukkan namaku ke dalam daftar tersebut. Dan itu sama sekali tidak mudah. Prestasi akademikku bahkan menurun karena aku terlalu memprioritaskan seleksi ini. Tapi bagaimana mungkin Natasha juga sama lolosnya denganku?
Bukan bermaksud menghina Natasha, tapi aku tahu pasti Natasha tidak punya ketertarikan atau kemampuan apapun dalam bidang ini. Benar, Natasha pernah mencoba merebut jabatanku sebagai OSIS jurnalistik. Benar juga kalau kini Natasha tergabung dalam eskul jurnalistik. Tapi aku pernah membaca tulisan Natasha dan menurutku tulisannya bahkan belum layak untuk dipasang di mading. Saat mengikuti eskul pun Natasha lebih sering absen dan bersikap ogah-ogahan saat kupaksa hadir. Jadi bagaimana mungkin Natasha juga berhasil lolos? Atau mungkin pertanyaan paling tepatnya, kenapa Natasha repot-repot mengikuti proses seleksi yang memakan waktu selama hampir empat bulan terakhir itu?
“Ok, itu saja yang mau Ibu sampaikan. Kalian bisa kembali ke kelas sekarang,” kata Bu Jessica tegas sebelum memberi isyarat padaku dan Natasha untuk keluar dari ruang guru itu.
Suara Bu Jessica sontak membuyarkan semua pertanyaan yang berputar di otakku. Reflek, aku mengikuti langkah Natasha yang mulai berdiri dari kusinya.
Natasha mulai berjalan keluar dari ruang guru sementara aku memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Sial. Aku memang tidak bisa memastikan kenapa Natasha mendadak tertarik mengikuti acara ini, tapi aku punya kecurigaan bahwa dia sengaja melakukan semua ini karena aku. Terlebih karena ini bukan kali pertamanya mendadak dia bergabung dalam acara atau kepanitiaan yang sama denganku.
Aku menghela nafas lelah. Tidak. Aku tidak boleh mengambil resiko. Aku harus tahu apa alasan Natasha. Dan kalau benar alasan Natasha memang untuk menggangguku, aku harus memastikan niatnya itu tidak akan terlaksana sedikitpun.
Aku menatap punggung Natasha lekat. Tepat sebelum Natasha tiba di depan pintu kelas, aku mempercepat langkahku dan sengaja berdiri menghadangnya.
“Gue perlu ngomong sama lo,” kataku dengan nada tertegas yang aku punya.
Natasha melirik sekilas ke arahku lalu kembali sibuk dengan ponsel di tangannya tanpa mempedulikan ucapanku sebelumnya.
“Lo dengerin gue nggak sih?” tanyaku kesal.
“Dari tadi bukannya lo sudah ngomong?” seloroh Natasha tak acuh.
“Bisa sopan sedikit nggak? Kalau ada yang ngajak lo ngomong, seharusnya lo merhatiin orang yang bersangkutan donk!” geramku mulai emosi.
“Tergantung yang ngajak ngomong donk, kalau penting, gue perhatiin. Kalau enggak— untung-untung gue mau ngedengerin!”
Aku mencoba menahan emosi yang mulai naik ke ubun-ubunku. Kalau berurusan dengan Natasha, emosiku memang mudah mencapai puncak.
“Lo sengaja kan ikut seleksi itu untuk gangguin gue?” tuduhku tanpa basa-basi.
Natasha mencibir. “Memangnya lo doank yang minat jadi wartawan?” balas Natasha sinis.
“Nggak usah pura-pura. Memangnya gue nggak tahu kalau lo sebenernya nggak suka sama jurnalistik?”
“Wah, wah, wah, ternyata lo merhatiin gue juga ya. Nggak nyangka.”
“Gue serius.”
“Lo lihat gue ketawa?”
Aku menggeram, lalu mencoba menghitung sampai lima sambil mencoba meredakan emosiku.
“Ok, kalau gitu gue cuma mau kasik tahu satu hal ke lo. Pelatihan ini merupakan hal yang sangat penting buat gue, jadi gue nggak akan ngebiarin satu orang pun mengacaukan kegiatan ini. Terutama elo. Jadi cam kan kata-kata gue. Kalau sampai lo berulah saat training, gue bersumpah akan ngebuat kehidupan lo seperti di neraka.”
Kali ini, Natasha mengalihkan pandangannya dari ponselnya, lalu menyeringai padaku. Entah kenapa, aku lebih suka dia sibuk dengan ponselnya daripada melihat seringainya yang sama sekali tak enak dilihat itu.
“Wah, jadi pelatihan ini begitu penting ya? Kalau begitu, biar gue infoin rahasia kecil gue ke lo,” cecar Talitha. “Gue nggak suka jurnalistik. Sama sekali nggak suka. Satu-satunya tujuan gue ngikutin tes k*****t ini hanya untuk ngebuat lo gagal bagaimanapun caranya. Dan percaya sama gue, gue bakal berusaha keras untuk mewujudkan hal itu.”
Natasha tersenyum sangat lebar. Aku membelalak kesal, tapi aku tahu tidak ada yang bisa kuperbuat. Sebelum aku sempat merespon ancaman Natasha, cewek sialan itu sudah mendorong dan melewatiku. Aku memandang punggung Natasha lekat-lekat. Tidak, dia tidak boleh mengacaukan apapun kali ini. Dan aku akan melakukan apapun untuk memastikan hal itu. APAPUN!
***