Chapter 3 - Talitha

1491 Kata
    Sejak awal aku punya ekspektasi yang tinggi terhadap special training ini. Dan jika fasilitas dan akomodasi dari Jakarta hingga ke tempat training kali ini bisa dijadikan petunjuk, sepertinya training ini bisa melampaui ekspektasiku.     Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama dua jam, bis full AC yang kami tumpangi berhenti di sebuah jalan besar yang hanya dikelilingi pepohonan. Dengan penasaran, kami semua turun dan satu per satu mulai berjalan di jalan setapak yang terdapat di salah satu sisi jalan. Setelah berjalan kurang lebih 500 meter, kami tiba di sebuah tanah luas yang dikelilingi sawah di sisi kiri dan hutan di sisi kanan. Tanpa dikomando, rombongan kami berhenti serentak di depan tanda selamat datang. Mata kami langsung melahap semua pemandangan yang berada di depan kami.     Lima tenda berukuran besar telah berdiri kokoh memenuhi tanah yang tadinya kosong. Tak jauh dari tenda tampak sebuah rumah kecil yang bersisian dengan bilik-bilik kamar mandi. Sebuah pendopo besar dan tumpukan kayu untuk api unggun beberapa puluh meter di depannya menambah lengkap fasilitas yang telah disiapkan untuk acara ini.     Aku menahan nafas, kagum. Dan aku yakin bukan hanya aku yang merasakan hal itu. Sekalipun tidak mengenal satu orang pun selain Natasha, aku tahu mereka punya pemikiran yang sama denganku. Aku masih ingin melahap semua yang tersaji di hadapanku saat salah satu panitia mulai menyuruh kami berkumpul di pendopo yang letaknya persis di sisi hutan. Seperti robot, masing-masing dari kami langsung berjalan serentak mendekati pendopo.     Setelah semua peserta duduk memenuhi pendopo, perhatianku mulai terfokus pada para panitia yang telah berdiri membentuk sebuah barisan di depan pendopo. Melihat sosok-sosok yang ada di sana benar-benar meningkatkan antusiasmeku. Aku memang tidak mengenal semua dari 15 panitia ini, tapi aku sadar kalau setidaknya lebih dari separuh orang-orang ini, sering ‘berkeliaran’ di media cetak maupun media elektronik.     “Seperti yang telah kalian ketahui, tujuan kami mengadakan pelatihan ini adalah untuk menciptakan kader-kader berkualitas dalam dunia jurnalistik. Dan untuk merealisasikannya, kami akan langsung membagi kalian dalam lima kelompok besar. Kita akan melakukan simulasi dalam dunia percetakan. Masing-masing kelompok merupakan media cetak yang terpisah, saling bersaing secara sehat satu sama lain. Nantinya, masing-masing kelompok akan didampingi oleh dua tutor. Kalian bisa menanyakan apa saja pada tutor kalian,” jelas Pak Utomo, pemimpin redaksi media cetak paling terkenal di Indonesia, sekaligus merupakan ketua panitia acara.     “Jangan lupakan hadiah utama pada pelatihan ini. Jika kalian bisa membuktikan diri bahwa kalian luar biasa dalam bidang ini, media cetak maupun eletronik yang real sedang menunggu kalian. Kalian akan langsung dipekerjakan tanpa birokrasi yang rumit. Ini adalah kesempatan langka, jadi jangan sia-siakan kesempatan ini,” sambung Pak Utomo antusias.     Desah kagum mulai memenuhi udara. Aku sendiri tersenyum tanpa sadar. Bayangan menjadi reporter sungguhan langsung menari-nari di otakku. Bagaimanapun caranya, aku harus berhasil menjadi satu dari anggota yang terpilih.     “Untuk pembagian kelompok, kita akan sedikit berolahraga. Kalian diwajibkan mencari sebuah bendera yang telah disebar di sekitar hutan. Waktu kalian 30 menit. Sekedar info, ada lima warna bendera yang akan mewakili kelompok kalian. Merah, kuning, hijau, biru dan putih. Yang mendapat bendera dengan warna yang sama akan menjadi satu kelompok selama seminggu ke depan. Sekalipun lokasi pencarian bendera ada di hutan, selama kalian mengikuti tanda panah yang telah disiapkan panitia, kalian tidak akan tersesat. Nah, agar kita bisa kembali sebelum gelap, ada baiknya kalian bergegas sekarang. Sampai jumpa 30 menit lagi.”     Sekarang aku benar-benar yakin kalau pelatihan ini memang tidak akan berlangsung membosankan. Sama seperti hampir semua anak, aku bangkit dan segera melangkah bersemangat untuk mulai mencari bendera. Dalam waktu singkat, semua anak sudah berpencar masuk ke dalam hutan.     Ada tiga rute jalan untuk masuk ke area hutan. Aku sengaja menunggu sebagian besar peserta memasuki hutan sebelum akhirnya memilih rute yang paling sedikit diminati. Sekalipun menyukai acara ini, aku tidak berniat berlama-lama di dalam hutan hanya untuk mencari sebuah bendera.     Sambil memperhatikan anak panah yang ditempel panitia, aku mulai melangkah memasuki hutan. Pepohonan yang menjulang tinggi tampak berjajar rapat di kanan dan kiriku. Aku menajamkan mataku, mencoba mencari tanda-tanda bendera di rumput, batang, ranting bahkan hingga dedaunan pohon. Sayangnya usahaku nihil. Bahkan setelah aku berjalan lebih dari sepuluh menit dan tiba di dekat danau yang seharusnya berada di tengah hutan, aku masih belum menemukan satu benderapun.     Aku menghela nafas lelah. Mungkin aku kurang teliti mencari. Rasanya mustahil jika tidak ada bendera sama sekali sepanjang perjalananku tadi. Aku memutuskan mengubah metodeku. Alih-alih memperhatikan pepohonan, aku mulai menyibak rerontokan dedaunan di tanah dengan sepatuku.     Aku mengamati tanah dengan seksama. Saat leherku agak kaku baru aku mendongak pelan dan reflek nyaris berteriak saking kagetnya. Beberapa meter di depanku, seorang cewek berambut panjang tampak berdiri kaku membelakangiku sambil menatap tanah. Setelah mengatur nafasku, perlahan aku mendekati cewek yang sepertinya sama sekali tidak menyadari kehadiranku itu.     “Hai… Ada bendera ya di sana?” sapaku sambil berjalan mendekatinya.     Cewek itu bergeming. Aku kembali mendekatinya. Saat jarak kami semakin dekat, aku kembali mengulang pertanyaanku. Kali ini, cewek itu menoleh. Dia tampak kaget saat melihatku. Aku tersenyum ramah.     “Sori kalau ngagetin lo. Gue Talitha,” kataku sambil mengulurkan tangan.     Cewek itu hanya melirik tanganku, lalu menatapku dengan aneh. Merasa tak akan mendapat kontak fisik, aku menurunkan tanganku. Ok, cewek ini jelas tidak ingin beramah tamah denganku.     “Gue ganggu ya? Sori ya. Gue cuma mau nyapa aja,” kataku kaku.     Cewek itu masih juga diam. Kuputuskan untuk menjauhi cewek ini. Terus terang, aku tidak tertarik berteman dengan seseorang yang jelas-jelas tidak berminat berteman denganku. Tepat pada saat aku akan melangkahkan kakiku untuk meninggalkannya, mendadak suara lirih cewek itu terdengar di telingaku.     “Gue Davina,” kata cewek itu pendek.     Aku berbalik dan menatapnya malas. Niatku untuk beramah tamah telah menguap beberapa menit sebelumnya.     “Sori, gue lagi nggak konsen tadi,” kata Davina pelan.     Merasa tak enak jika tidak menanggapi, aku tersenyum tipis dan memutuskan untuk sedikit berbasa-basi. “Ah… Lo lihatin apa tadi? Bendera?”     Davina terdiam sejenak sebelum menggeleng pelan. “Tadinya gue pikir begitu, tapi ternyata bukan. Lo sendiri, sudah ketemu benderanya?”     Aku menggeleng cepat. “Gue sudah muter-muter, tapi nggak nemu satupun. Kalau lo mau, kita bisa cari bendera sama-sama. Dua orang pasti lebih baik daripada sendirian kan.”     Davina tidak langsung menjawab. Dia seolah mempunyai banyak pertimbangan untuk mengiyakan ajakanku.     “Mungkin sebaiknya kita cari terpisah saja. Jangan tersinggung, tapi gue terbiasa bekerja sendirian,” tolak Davina sambil meringis minta maaf.     Aku tersenyum tipis. Ok, fixed, Davina memang bukan seseorang yang bisa diajak berteman. “Ok, gue jalan dulu kalau begitu.”     Tanpa menunggu respon Davina, aku meneruskan langkahku. Aku benar-benar berharap peserta pelatihan yang lain mempunyai sikap yang jauh lebih ramah daripada Davina. Berusaha mengembalikan moodku yang sedikit rusak, aku kembali memperhatikan sekelilingku. Dan tepat pada saat itu aku melihatnya. Sebuah kain warna merah tampak melambai dari pepohonan yang ada di hadapanku. Tidak salah lagi, itu pasti benderanya.     Dengan semangat 45, aku setengah berlari mendekati pohon rimbun itu. Bendera itu tampak tergantung di dahan pohon yang untungnya, tidak terlalu tinggi. Aku mencoba meraih bendera itu, tapi gagal. Sekali lagi, aku mencoba meraihnya. Kali ini dengan melompat. Namun sayangnya, lagi-lagi gagal. Bendera itu terletak lebih tinggi daripada yang bisa kujangkau.     Tepat saat aku akan melakukan usaha ketigaku, sebuah tangan mendahuluiku mencengkram bendera itu.     Aku menoleh dan mendapati sosok jangkung tegap sedang tersenyum dan mengayunkan bendera di depan mataku.     “Thank you,” kataku ramah sambil mengulurkan tanganku.     Alih-alih memberikan bendera padaku, cowok itu malah menyeringai jahil. Aku mulai merasa ada yang tidak beres. Sekalipun cowok itu punya wajah tampan yang jelas akan dilirik dua kali oleh lawan jenisnya, seringai jahilnya membuatku merasa tak nyaman.     “Sori, bisa gue ambil benderanya sekarang?”     “Sori juga, tapi ini punya gue. Kenapa lo mau ambil?”     “Gue lagi serius nih, tolong balikin bendera gue.”     “Gue juga serius waktu gue bilang ini punya gue. Kan gue yang ambil.”     “Gue yang duluan di sini dan ngeliat bendera itu. Lo jelas-jelas tahu kalau gue sedang berusaha mengambil bendera itu tadi.”     “Dan gue sudah ngasik lo waktu buat ngambil bendera ini tadi. Jadi, ini milik gue.”     Aku memberikan tatapanku yang paling sadis pada cowok tidak tahu aturan itu. Hari ini jelas bukan hari keberuntunganku. Dua orang pertama yang kuajak bicara di pelatihan ini nyata-nyata bukan orang yang bisa diajak berteman lebih lanjut. Tak ingin membuang waktu untuk cowok seperti ini, aku memutuskan untuk merelakan bendera pertama yang kutemukan.     Tanpa banyak bicara, aku berbalik dan mulai melangkah menjauhi cowok itu. Namun belum genap tiga langkah, mendadak cowok tidak tahu aturan itu mencekal lenganku. Reflek, aku menepis tangan cowok itu dan menatapnya marah.     “Ngapain lo pegang-pegang gue!” geramku.     Bukannya merasa bersalah atau tidak enak hati, pencuri bendera itu malah tersenyum usil sambil menjulurkan benderanya di depanku.     “Galak amat sih, mbak? Ini bendera lo. Gue cuma bercanda aja tadi.”     Aku melirik bendera merah itu dengan penuh pertimbangan. Harga diriku menolak bendera itu, tapi akal sehatku memaksaku mengambil apa yang sudah menjadi hakku.     “Ah, sudah, nggak usah banyak mikir. Ini memang bendera lo, jadi lo yang ambil. Sekarang gue mau cari bendera lagi sebelum kehabisan waktu. Semoga kita berjodoh dan bisa satu kelompok ya.”         Tanpa permisi, pencuri bendera itu mendadak menyelipkan pegangan bendera ke jemariku. Sebelum aku sempat bereaksi, pencuri itu sudah melambaikan tangannya dan berlari menjauhiku.     Setengah linglung, aku menggenggam bendera merah itu. Ah, masa bodoh. Ini memang benderaku, jadi sudah sewajarnya kalau aku yang mendapakan bendera ini. Tak ingin memikirkan hal yang tak penting, aku melangkahkan kakiku kembali ke pendopo. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN