Natasha b******k!
Aku mengepalkan kedua telapak tanganku keras-keras. Dari semua orang, kenapa harus Natasha yang memergokiku kemarin?
Dari kejauhan, aku mencari sosok Natasha. Terus terang, aku agak takut dia akan benar-benar melaksanakan ancamannya. Sekalipun dia tidak punya bukti, kata-katanya bisa jadi dipercaya oleh satu atau dua tutor. Dan itu bukan hal yang baik untuk reputasi yang sedang kujaga.
“Lo ngintipin siapa sih?”
Suara dari balik punggungku benar-benar mengejutkanku. Reflek, aku menoleh ke belakangku dan sekali lagi terkejut karena menyadari Devon berdiri sangat dekat denganku.
“Lo ngapain sih?” omelku kesal sembari mundur selangkah untuk menjauhi Devon.
Devon meringis sebelum menjawab. “Lo ngintip-ngintip kayak maling, jadi gue penasaran lo ngintipin apa. Siapa tahu gue juga tertarik,” sahut Devon tanpa merasa bersalah sama sekali karena telah membuatku terkejut setengah mati.
Aku menyipit sebal. “Bukan urusan lo!” tukasku sengit.
Devon meringis lebih lebar. “Jadi bener lo tadi ngintip? Padahal gue cuma asal ngomong aja. Siapa sih yang lo intip?”
Alih-alih menanggapi Devon, aku berjalan menjauhinya. Yang menyebalkan, seakan tidak punya kesibukan lain, Devon malah berjalan santai di sampingku.
“Tadi lo ngintipin Daniel ya? Memang sih dia tutor paling lumayan di sini, tapi katanya dia playboy. Lo lihat aja cara ngomongnya ke cewek sama ke cowok. Beda banget. Kalau ada cewek yang nanya, dia jawabnya lembut banget. Tapi kalau cowok yang nanya, jawabnya ketus bukan main. Kalau menurut gue, mendingan lo—”
“Manggilnya Kak Daniel. Sopan dikit dong sama orang yang lebih tua,” potongku tak sabar. “Dan kalaupun gue ngeliatin dia, itu nggak ada hubungannya sama lo,” semburku kemudian.
“Santai aja ngomongnya, Ta. Gue kan cuma nggak mau lo patah hati,” sahut Devon sambil berdecak pelan. “Btw, Ta, subuh tadi lo ke mana sih? Gue nggak sengaja ngelihat lo masuk hutan pas gue balik dari toilet.”
Deg.
Pertanyaan Devon langsung membuatku berhenti melangkah. Astaga… Jadi bukan cuma Natasha yang melihatku subuh tadi?
“Lo ngelihat gue masuk hutan?” ulangku tak percaya.
Devon mengangguk pasti. “Lo bawa senter, pakai jaket pink, celana coklat muda. Bener kan?”
Sial… Tidak salah lagi, Devon juga melihatku. Pertanyaannya sekarang, berapa banyak orang yang melihatku subuh tadi? Aku benar-benar bisa dihukum gara-gara Davina!
“Dasar Davina!” gumamku tanpa sadar.
Aku memejamkan mataku, mencoba mengingat-ingat situasi tadi pagi. Serius, tadi aku tidak melihat seorang pun saat aku mengendap-endap ke hutan bersama Davina. Tapi kenapa Natasha dan Devon bisa melihatku? Apa ada orang lain yang melihatku selain mereka berdua?
Sial. Sekarang aku benar-benar menyesali tindakan impulsifku. Apalagi tindakan itu 100% sia-sia. Seperti yang sudah kuduga, kondisi hutan terlalu gelap untuk mencari apapun. Terlebih sebuah anting. Sekalipun aku dan Davina sudah mencari semaksimal dengan satu-satunya senter sebagai penerang, semuanya sia-sia. Kami tidak menemukan apapun. Setelah setengah jam pencarian sia-sia, aku memaksa Davina kembali ke tenda sekalipun dia masih tampak belum mau menyerah.
“Lo.. Lo pasti salah lihat,” kilahku cepat saat aku sadar Devon masih di sampingku.
Entah kenapa, Devon tidak menyanggah kilahanku. Dia malah tampak agak terkejut akan sesuatu.
“Lo kenapa?” tanyaku ragu.
Butuh beberapa detik bagi Devon untuk menanggapi pertanyaanku. Seakan baru sadar dari lamunannya, Devon menggeleng cepat. “Sori, gue lupa gue ada urusan lain.”
Tidak seperti sebelumnya, Devon langsung berjalan cepat menjauhiku. Aku hanya bisa menatapnya heran sebelum perhatianku teralih pada penggilan panitia untuk berkumpul di pendopo.
*
“Mulai hari ini kita akan langsung turun ke lapangan dan praktek membuat berita baik itu berupa straight news, depth news, investigation news, interpretative news maupun opinion news. Bahannya kalian bisa cari sendiri di desa sekitar yang hanya berjarak sekian meter dari sini. Kalian bisa melakukan wawancara pada siapapun yang tidak keberatan dan bisa menyelidiki hal yang menurut kalian menarik di sana. Untuk lebih jelasnya tentang berita apa saja yang harus kalian buat dan contoh topik yang bisa kalian bahas, kalian bisa lihat dari fotocopi yang telah kami bagikan tadi.”
Aku memperhatikan seksama saat Kak Tyas, salah satu tutor senior yang kebetulan menjadi tutor kelompokku, menjelaskan tentang detail apa yang harus kami lakukan.
“Namun kami punya tugas tambahan untuk kalian. Kami telah menyiapkan lima simulasi kasus yang berbeda untuk masing-masing kelompok. Tugas kalian adalah mencari tahu sendiri siapa narasumber yang paling tepat untuk kasus itu. Rincian kasus masing-masing kelompok bisa kalian lihat di papan pengumuman. Setelah mengecek kasus kalian, kalian bisa mulai berdiskusi dengan anggota dan tutor masing-masing kelompok.”
Kak Tyas menjelaskan beberapa hal lagi dan menerima beberapa pertanyaan dari peserta sebelum akhirnya membubarkan pertemuan. Para peserta, termasuk aku, langsung memadati papan pengumuman. Aku baru selesai membaca tugas yang diberikan pada kelompokku saat tidak sengaja aku melihat Davina bersandar di pintu pendopo. Saat melihatku, Davina tersenyum pasrah sambil mengangkat bahu. Kurasa dia tidak berminat berdesak-desakan sepertiku demi melihat tugas kelompoknya.
Berniat membantu, mataku mulai bergerak mencari tahu rincian tugas kelompok Davina. Saat sadar aku tidak tahu Davina berada di kelompok mana, aku mulai menelusuri nama Davina di setiap kelompok.
Tunggu… Kenapa nama Davina tidak ada di kelompok manapun?
Tak yakin, aku kembali membaca nama-nama peserta di lima kelompok. Kali ini dengan tempo yang lebih pelan dan lebih teliti. Namun seperti sebelumnya, nama Davina tidak ada di manapun.
Aneh. Kenapa aku tidak bisa menemukan nama Davina? Apa mungkin Davina hanya sebuah nama panggilan? Namun nama yang mirip dengan itupun sama sekali tidak ada!
Aku menoleh ke tempat Davina bersandar sebelumnya, tapi Davina sudah menghilang. Kuedarkan pandanganku ke sekitarku, tapi aku tidak melihat Davina di mana-mana. Penasaran, aku setengah berlari ke toilet dan memeriksa tenda untuk mencari Davina. Saat aku masih juga tidak menemukan sosok Davina, aku mulai menyadari sesuatu. Sepertinya Davina bukan anggota pelatihan. Jika dia adalah anggota, seharusnya Davina masih di sini mengingat masih belum ada satu orangpun yang berpencar dan mengerjakan tugasnya masing-masing.
Aku membeku. Secara otomatis memoriku memutar kembali pertemuan-pertemuanku dengan Davina. Semula aku merasa tidak ada yang aneh dengan Davina, tapi sekarang, mendadak aku sadar memang ada beberapa hal yang janggal dari Davina.
Kalau dipikir-pikir lagi, selain beberapa menit lalu, aku memang tidak pernah melihat Davina saat acara tengah berlangsung. Aku tidak pernah khusus memperhatikannya, tapi aku pasti mengenali wajahnya karena kami setidaknya pernah bertemu sebelumnya. Aku juga belum pernah berpapasan dengannya saat sesi, padahal aku mengenali banyak peserta lain saat tidak sengaja berpapasan satu sama lain.
Sambil melangkah kembali ke pendopo, mataku terus mengawasi sekitarku. Bahkan saat aku sudah kembali berkumpul dengan kelompokku, aku masih belum bisa menemukan sosok Davina.
Aku menghela nafas panjang. Entah kenapa, aku mulai yakin Davina memang bukan peserta pelatihan. Tapi jika dia bukan peserta, apa yang sedang dia lakukan di sini?
***