Sesampainya di kampung Lisa, Fatwa tidak menyangka jika akan bertemu dengan orang tuanya. Fatwa langsung menghentikan langkahnya dan ragu untuk maju. Ketika dia ingin membalikkan badannya tiba - tiba ibunya sudah mendekat memanggilnya.
"Fatwa..."
Ada begitu banyak orang, Fatwa tidak ingin membuat keributan dan sampai merusak pernikahan sahabatnya. Dia benar - benar lupa jika orang tuanya juga mendapat undangan pernikahan.
"Ibu, bagaimana kabarmu?" tanya Fatwa mencoba bersikap biasa.
"Kurang baik, karena kamu pergi tanpa memberi kabar."
Fatwa merasa kasihan juga melihat ibunya yang tampak lelah dan kurang semangat itu.
Tiba - tiba saja ayah Fatwa juga muncul. Berbeda ketika bertemu dengan sang ibu, fatwa agak gemetar melihat ayahnya yang menatapnya dengan pandangan tajam.
"Berani juga kamu menampakkan wajah kamu di sini setelah mempermalukan keluarga, kalau tidak mau menikah dengan Bagas maka kamu akan menjadi ana yang durhaka!" sela ayahnya Fatwa tegas.
Bian yang berada di belakang Fatwa merasa heran, sebab jika dilihat dari pakaian orang tua Fatwa mereka berdua jelas dari orang yang berada.
"Permisi, apakah kalian orang tuanya Fatwa?" tanya Bian basa - basi.
Fatwa terdiam, dia merasa bersalah karena kebohongannya akhirnya terungkap.
"Kamu siapa?" tanya ayahnya Fatwa mulai tenang.
"Saya Bian, temannya Fatwa," jawab Bian.
Melihat dari pakaian, jam tangan dan sepatu milik Bian ayahnya Fatwa tahu jika pemuda itu pemuda dari kalangan atas.
Fatwa yang melihat reaksi ayahnya saat menatap Bian langsung memiliki ide.
"Ayah, aku sudah ada pilihan sendiri. Dari segi bibit bebet dan bobot jauh lebih baik Bian," ujar Fatwa.
Bian terkejut, antara senang dan tidak percaya dengan apa yang barusan di dengar.
Ketika orang tua Fatwa ingin bertanya lebih jauh lagi, Lisa dan suaminya datang menyambut Fatwa dan Bian.
" Fatwa, kenapa tidak bilang kalau mau datang ke sini, wah ibu pasti senang jika melihatmu. Ayo temui dulu," ucap Lisa sengaja memisahkan Fatwa untuk menyelamatkannya.
"Iya," jawab Fatwa reflek menarik lengan Bian menuju ke dalam rumah Lisa.
Bian terpana, tiba - tiba saja hatinya berdebar - debar tidak karuan.
Baru setelah sampai di dalam rumah Fatwa meminta maaf sambil membungkukkan kepalanya.
"Maafkan aku karena sudah lancang, aku terpaksa berbohong karena dipaksa menikah dengan orang yang tidak aku cintai," ucap Fatwa merasa malu dan bersalah.
Bian seketika memerah wajahnya, sebab tadi sudah kegeeran mengira jika Fatwa menyukai dia sungguhan.
"Oh, sekarang aku tahu. Waktu itu pas aku mengira kamu adalah baby sister aurel kamu langsung mengiyakan karena kamu terpaksa ya sebab kabur dari rumah?" duga Bian.
Fatwa hanya tersenyum dan tidak ingin menceritakan lebih jauh lagi.
"Wah, kalau begitu kakak aku sudah salah sangka mengira kamu ini komplotan penjahat yang hendak menculik dia dengan mengaku - ngaku sebagai baby sister," ujar Bian.
"Sungguh aku tidak ada niatan begitu, aku berbohong karena memang aku mau bersembunyi dari orang tuaku," sela Fatwa.
Bian semakin yakin jika Fatwa sebenarnya bukan gadis kampung.
"Sudah jangan bahas lagi, justru karena hal itu bisa mempertemukan kita. Ayo kayanya mau menemui ibu pengantin," hibur Bian.
Setelah itu mereka menemui ibunya Lisa.
Bian melihat sisi lain dari Fatwa yang periang, lincah dan juga murah senyum.
"Fatwa, aku baru mengetahui sisi kamu yang seperti ini," batin Bian.
Ketika Fatwa sedang asyik mengobrol dengan mantan pengasuhnya, Lisa mendekati Bian.
"Bagaimana keadaan Fatwa di sana?" tanya Lisa.
"Baik - baik saja," jawab Bian yang sudah dijanji untuk tidak menceritakan mengenai Fatwa yang tidak bekerja mengasuh Aurel.
"Syukurlah, kalau begitu aku ke depan karena sebentar lagi acara di mulai. Dan aku berharap kerja samanya, tolong lindungi Fatwa dari orang tuanya yang hendak menjodohkannya," pinta Lisa sepenuh hati.
"Tentu saja," jawab Bian tanpa ragu.
Tak berapa lama kemudian acara dimulai, Fatwa dan Bian juga ikut keluar duduk bersama tamu undangan.
Di tengah acara Fatwa menangis bahagia untuk sahabatnya sekaligus bersedih mengenang suaminya yang telah tiada. Dan yang paling menyakitkan tentang Aurel yang di asuh orang lain tanpa mengetahui orang tua kandungnya.
Bian mengambilkan tisu, mengira Fatwa terharu.
"Fatwa, kenapa kamu tidak mau dijodohkan? Belum siap menikah atau karena sudah ada yang kamu cintai?" tanya bisik Bian.
"Keduanya, aku tidak siap menikah dan aku sudah ada seseorang yang aku cintai," jawab Fatwa jujur.
Bian syok, ada sengatan yang membuat hatinya terasa nyeri.
"Kalau begitu dimana orang yang kamu cintai itu?" tanya Bian penasaran.
" Di surga," jawab Fatwa menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya lagi.
Bian ikut pedih mendengarnya, entah kenapa pemuda itu merasa sakit melihat Fatwa menangis.
Bian menepuk bahu Fatwa agar menjadi wanita yang tegar.
"Yang sabar ya, suatu saat nanti kamu pasti akan mendapat pengganti yang lebih baik," bujuk Bian.
Fatwa menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah tidak ingin jatuh cinta lagi, bagiku hanya dia satu - satunya di hati," jawab Fatwa.
Bian tahu, jika temannya itu masih dalam kondisi trauma.
"Fatwa, izinkan aku menjadi cahaya dalam hidupmu. Secara perlahan aku akan mengobati kepedihanmu dan membuatmu tidak hanya menganggap aku sebatas teman," batin Bian.
************************
Dari kejauhan kedua orang tua Fatwa melihat putri mereka yang tampak begitu bahagia bersama Bian.
"Ayah, jangan paksa Fatwa lagi. Biarlah dia memilih hidupnya sendiri. Lihatlah kali ini dia menemukan lelaki yang benar."
Ayahnya Fatwa hanya mengangguk saja.
"Sebenarnya aku berbuat demikian hanya untuk kebahagiaan Fatwa."
"Ayah, tapi bagaimana mengenai anaknya yang masih hidup? Bagaimanapun juga dia merupakan cucu kita."
Ayahnya Fatwa merupakan sosok orang yang keras dan memiliki gengsi tinggi. Karena bujukan dari keluarga Bagas sehingga dia tanpa ragu mengirim cucunya sendiri ke panti asuhan. Biarpun terkadang muncul rasa penyesalan, akan tetapi untuk mengakuinya juga takut jika Fatwa membencinya seumur hidup. Apalagi Fatwa merupakan anak tunggal.
"Jangan bahas itu lagi!"
Ibunya Fatwa terdiam dan tidak berani untuk membantah lagi.
Akan tetapi sebagai seorang ibu yang pernah melahirkan bisa tahu bagaimana perasaan Fatwa. Akan tetapi dirinya tidak memiliki daya untuk melawan suaminya sendiri.
Sore harinya acara baru selesai. Sebelum itu Fatwa menemui orang tuanya untuk berpamitan agar hatinya bisa sedikit lebih tenang dan tidak dihantui perasaan bersalah.
"Ibu, Ayah, jaga diri kalian. Aku mau pulang dulu," ucap Fatwa.
"Pulang? Rumah kamu bersama kami," jawab ibunya Fatwa.
"Tidak, Ibu. Aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian. Dan sekarang saatnya bagiku untuk mandiri," balas Fatwa tegar.
"Kalau begitu kapan kalian akan menikah?" sela Ayahnya Fatwa tegas.
Fatwa menatap Bian, begitu juga sebaliknya. Kemudian dengan senyuman ramah dan meyakinkan Bian mendekati kedua orang tua Fatwa.
"Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir, tentu saja jika waktunya tepat kami akan menikah. Hanya saja Fatwa masih belum siap, jika dia sudah siap kapanpun itu saya juga akan langsung melamar dan menikahinya," bujuk Bian.
Mendengar pernyataan itu, kedua orang tua Fatwa mulai lega.
"Sekarang kamu tinggal di mana? Dua orang yang belum menikah tidak boleh tinggal serumah," tutur ibunya Fatwa mulai cemas lagi.
"Tidak, Ibu. Ibu percayalah pada putri Anda. Dan saya juga akan selalu menjaga Fatwa dan menjaga kehormatannya," balas Bian.
Fatwa hanya menunduk dan Malu, sebab sudah merepotkan Bian.
"Kami permisi dulu," ujar Fatwa.
Sebelum melangkah pergi, Ibunya Fatwa memeluk Fatwa sambil menyelipkan kartu debit ke tangan Fatwa.
"Jaga dirimu baik - baik, ibu sangat menyayangimu dan berharap kamu selalu bahagia,"
Fatwa tersenyum, dalam hatinya juga sedih akan tetapi berusaha kuat.
Fatwa sangat tahu seberapa besarnya rasa cinta seorang ibu kepada putrinya. Kini Fatwa akan berusaha untuk lebih menghargai orang tuanya. Andaikan memiliki perbedaan pendapat dia akan berusaha menyelesaikan degan cara baik - baik.
Meskipun sudah tidak dipaksa menikah dengan Bagas, Fatwa memilih kembali bersama Bian berharap tahu informasi mengenai Putrinya dan suatu saat ada kesempatan bertemu lagi.
"Ayo, Bian," ajak Fatwa.
"Salam, Ayah Ibu. Jaga diri kalian," ucap Bian.
Kedua orang tua Fatwa begitu puas melihat ketampanan dan kesopanan Bian. Apalagi ketika mobil yang di tumpangi Bian dan Fatwa merupakan mobil mahal yang tidak mungkin dimiliki oleh kalangan menengah ke bawah.
"Andai saja Fatwa dan Bian dipertemukan dari dulu," gumam Ayahnya Fatwa menyesal.
"Sudah, Ayah. Semua ini takdir. kita sebagai orang tua cukup mendoakan putri kita saja agar selalu bahagia,"
bujuk Ibunya Fatwa lembut.
"Kalau begini aku bisa tenang."