6. Pasangan Imajinasi Bian

1139 Kata
Fatwa terbangun sebab lampunya sudah menyala, dia langsung ke kamar mandi dan membersihkan diri. Dia ingat jika semalaman dia dan Bian saling mengobrol sehingga tidak ada rasa takut. Baru setelah dia mengantuk Fatwa masuk ke kamar. "Bian ternyata baik juga, dan sopan. Sangat jarang jaman sekarang ada lelaki yang begitu. Dan bersama dia walaupun hanya berduaan serumah tetapi tidak ada rasa takut kalau diapa - apain, entah kenapa aku begitu percaya padanya," batin Fatwa. Selesai mandi, Fatwa keluar dari kamar. Dan pada saat itu Bian masih tiduran di sofa. "Aku tidak bisa masak, apa lebih baik aku beli makanan saja ya? Biar ketika Bian bangun sudah ada sarapan," batin Fatwa. Diapun segera mengambil dompet di kamar dan keluar dari rumah sendirian. Fatwa membuka dompetnya, masih ada lembaran ratusan ribu, itupun dia dikasih Lisa sejuta untuk jaga - jaga jika ada keperluan pribadi. "Lisa sangat baik, bahkan setelah aku menjadi orang susah dia masih tulus memperlakukan aku seperti saudara," gumam Fatwa senang. Fatwa semakin tidak sabar untuk datang ke pernikahan sahabatnya itu. "Aku hanya membawa pakaian biasa, coba nanti aku lihat - lihat apakah ada yang jual baju? Rasanya tidak pantas saja kalau menghadiri pesta pernikahan dengan baju jelek. Setidaknya menghormati Lisa. Sekalian aku mencari kado. Aku jadi ingat dia dulu memberiku hadiah pernikahan 2 handuk yang sangat lembut. Katanya buat aku dan suami mandi bersama," batin Fatwa. Fatwa senyum - senyum sendiri sambil berjalan melihat sekeliling. Vila milik Bian terletak dipinggir jalan, dan keadaan sekitar sudah mulai ramai kendaraan biarpun baru jam setengah enam pagi. Apalagi tak jauh dari sana ada lapangan besar dan sudah dipenuhi oleh orang - orang yang berolah raga. Bahkan ada juga sekelompok ibu - ibu yang sedang senam bersama. Dilihat dari pakaian mereka sudah terlihat jika mereka dari golongan menengah ke atas. Memang benar, Vila milik Bian sangat mewah. Pastinya hanya orang kaya yang mampu menyewanya. Setelah berjalan cukup jauh, Fatwa sudah keluar dari Area Vila. Diapun menyusuri pinggir jalan raya yang dipenuhi oleh penjual aneka makanan. "Aku tidak tahu apakah Bian bisa makan makanan jalanan? Ah aku beli saja, dari pada tidak ada makanan sama sekali." Fatwa memilih membeli nasi Padang, minuman jeruk hangat dan juga gorengan. Yaps, itu merupakan makanan favorit Fatwa dan juga paket hemat. Akan tetapi setelah menyusuri lebih jauh dia tidak menemukan penjual pakaian. "Sudahlah, soal pakaian dipikir nanti saja. Aku akan beli ketika diperjalanan," batin Fatwa mencoba tenang. Diapun memutuskan untuk kembali. Dan begitu sampai, Bian sudah langsung menghampirinya. "Kamu dari mana saja? Aku takut kamu tersesat," tanya Bian panik. Fatwa tertawa sambil memperlihatkan bungkusan makanan. "Kenapa tidak ajak aku?" sela Bian. "Kamu masih tidur, aku tidak enak membangunkannya. Ayo kita sarapan," ajak Fatwa. Entah kenapa Bian merasa begitu lega melihat Fatwa baik - baik saja. Tadi ketika pemuda itu bangun pertama yang dipikirkan adalah membangunkan Fatwa. Akan tetapi melihat kamar terbuka dan tidak ada orang Bian langsung panik. Karena Bian mengira jika Fatwa gadis kampung yang kebayangkan suka bingung di daerah perkotaan. Apalagi Vila di sini semuanya sama, sehingga takut jika Fatwa bingung untuk kembali. Bian makan dengan terburub- buru, sedangkan Fatwa hanya melihat saja. "Kenapa terburu - buru begitu?" tanya Fatwa. "Aku tadi hanya cuci muka dan belum mandi, nanti setelah ini kita segera mencari pakaian untuk kondangan," Fatwa tersentak, dia tidak mengira jika Bian sangat peka. "Sudah, jangan terharu begitu. Aku mandi duluan ya," sela Bian langsung pergi meninggalkan Fatwa yang tengah bengong. "Bian, kamu begitu baik sekali, mengingatkan aku dengan suamiku dulu yang selalu perhatian dan tahu apa yang aku mau," batin Fatwa meneteskan air matanya mengenang suaminya lagi. Fatwa kemudian menghapus air matanya, dia tidak ingin nanti mata dan hidungnya memerah sehingga membuat Bian penasaran dan bertanya ini itu. Setelah selesai makan, Fatwa membuang bungkusan ke tong sampah di depan rumah, ketika mau masuk Bian sudah keluar dari rumah. "Ayo berangkat," ajak Bian tersenyum cerah. "Eh, apa Vilanya tidak dikunci dulu?" tanya Fatwa mengingatkan. "Tidak perlu, keamanan di sini sangat ketat. Jadi baik - baik saja," jawab Bian santai. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan menuju ke sebuah mall terdekat. "Eh, jangan di sini. Pasti harganya mahal," sela Fatwa ingat uangnya sendiri yang tidak seberapa. "Kamu santai saja, biar aku yang bayar," jawab Bian. "Aku tidak mau merepotkanmu, kamu sudah banyak membantuku," sela Fatwa takut. "Anggap saja sebagai hutang, jadi kamu dipotong dari gaji kamu yang membersihkan rumah aku," jawab Bian ramah. Fatwa tersenyum senang tanda setuju, jika begitu dia tidak akan sungkan lagi. "Fatwa, Kamu mau beli gaun yang mana? Warna merah muda dan biru itu bagus. Sepertinya sangat cocok untuk kamu," ujar Bian membantu memulihkan. Fatwa merupakan keturunan keraton yang tidak terbiasa memakai gaun seperti itu, karena dari segi pakaian semua selalu diatur oleh ibunya yang memiliki adat begitu kental. "Tidak, aku ingin kebaya modrn saja," sela Fatwa ramah. "Terserah kamu," jawab Bian tak masalah dengan pilihan Fatwa. Dibantu oleh pelayan, Fatwa direkomendasikan kebaya warna putih. Setelah di coba, Fatwa langsung merasa cocok. Bian yang melihat tidak menyangka jika bentuk tubuh Fatwa sangat bagus, dan juga begitu cantik saat melekat pada tubuh Fatwa. Karena melihat itu, Bian langsung mengambil setelan jaz berwarna putih pula agar serasi dengan kebaya milik Fatwa. Tak lupa dia juga mengambil sepatu untuk Fatwa agar semakin indah. Kemudian Fatwa mencari kado, sepanjang perjalanan dia terus berpikir dan akhirnya berniat memberikan selimut yang besar agar bisa digunakan untuk dua orang. "Kamu yakin memberikan hadiah ini?" tanya Bian. "Iya, kan romantis kalau pengantin baru tidur dalam satu selimut. Jadi aku mau nyari yang bahannya lembut dan adem," jawab Fatwa santai. Akan tetapi justru Bian yang seketika memerah wajahnya, pemuda itu pikirannya langsung kemana - mana. Sedangkan Fatwa yang memang pernah merasakannya bersikap biasa saja. "Sudah hampir jam tujuh, kalau kita pulang akan kelamaan. Sebaiknya kita ganti pakaian di salon sekalian merias wajahmu," ajak Bian sambil menyembunyikan wajahnya sendiri ke arah lain agar tidak bertatapan dengan kedua mata Fatwa. Karena jujur saja pada saat itu Bian berimajinasi menikah dengan Fatwa. Fatwa hanya patuh saja. Sesampainya di salon dia di rias sedangkan Bian porong rambut. Ruangan mereka terpisah sehingga ketika sudah selesai begitu melihat Fatwa yang sangat cantik Bian langsung terbengong tidak bisa berkata - kata lagi. "Benarkah dia Fatwa? Aku tidak mengira jika gadis kampung ini memiliki wajah seperti tuan puteri. Bentuk tubuhnya, kulitnya, dan semua gerak gerik tubuhnya beserta suaranya seperti bukan wanita sembarangan," batin Bian terpana. "Bian, kenapa kamu bengong?" tegur Fatwa. "Tidak, melihatmu yang seperti ini membuatku ingin langsung membawamu ke KUA saja," jawab Bian jujur. "Mau ngapain?" Sela Fatwa kaget. "Membersihkan ruangannya lah," canda Bian. Fatwa langsung tertawa dan berjalan duluan. Bian memperhatikan langkah Fatwa, ketika memakai sepatu tinggi masih bisa berjalan dengan biasa seperti seorang nyonya. Penampilan Fatwa saat ini tidak terlihat seperti gadis kampung. "Fatwa, apa aku boleh jika meragukan identitasmu?" batin Bian. "Bian, ayo buruan. Sudah jam tujuh lebih ini. "Oh, ayoo,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN