Fatwa menatap Aurel yang tertidur dalam pangkuannya sambil meneteskan air matanya. Dia sangat benci ketika tadi mandi melihat banyak bekas kemerahan dari ciuman Dimas yang hampir memenuhi bagian seluruh tubuhnya. "Jangankan bisa bersama Bian, menghadapi diri sendiri saja saya tidak sanggup," batin Fatwa pilu. Kini Fatwa hanya bisa menangis, butiran air matanya adalah saksi kehidupan yang sudah dia lalui. Esok harinya Bian datang tepat setelah Fatwa bangun. Pemuda tersebut membawakan sarapan layaknya mengurusi orang sakit. Bian ketat saat mendapati Fatwa memerah matanya dan bengkak. Tentu saja pemuda itu paham jika Fatwa masih terbelenggu oleh kejadian yang baru saja menimpanya. "Aurel tidurnya nyenyak banget, sampai jam segini saja bangun," sapa Bian. "Dia semalam begadang, aku juga

