Diki dan Harianto sampai di kediaman rumah Bella, anak dari Pak Harianto.
Saat memasuki rumah itu, terlihat istri Pak Harianto yang sedang menangis pilu dan merintih di hadapan suaminya.
"Suamiku, putri kita diculik oleh para penjahat itu, gara-gara engkau bisa terbebas," ucap Istri dari Pak Harianto bersimpuh di hadapan Diki dan Pak Harianto yang baru masuk ke dalam rumah.
Hati Pak Harianto begitu terluka dan ketakutan, ia takut akan hal buruk yang terjadi terhadap putrinya. Pak Harianto tidak bisa membayangkan kalau putrinya akan disiksa seperti dirinya. Jangan sampai putrinya menderita dan merasakan sakit. Tubuh Pak Harianto pun ambruk ke lantai.
Sedangkan Diki ia tertegun dan terkesiap mendengar kabar kalau Bella ternyata juga sudah dibawa oleh para penjahat menyebalkan itu. Diki geram dengan tangan yang dikepal kuat-kuat karena merasa sangat emosi jiwa.
"Suamiku? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa engkau diculik dan disiksa? Siapa mereka yang ingin engkau membuka mulut sampai mempertaruhkan anak kita?" tanya istri Harianto tidak mengetahui apapun yang telah terjadi.
Harianto menatap ke arah Diki.
"Satu-satunya cara agar kita terbebas dari semua ini adalah mengatakan yang sebenarnya tentang Tuan Sultan Mahesa," terang Harianto sambil dirinya sendiri bingung harus bagaimana.
Pak Harianto bingung apakah dia harus jujur terhadap Hachiro tentang keberadaan Diki, yang tidak lain adalah Sultan Mahesa yang mereka cari? Apakah harus jujur untuk menyelamatkan putrinya atau bagaimana? Pak Harianto pun akhirnya meneteskan air matanya kembali.
Di satu sisi ia ingin putra dari Tuan Wisnu Mahes ini selamat, tapi ia juga mengkhawatirkan keadaan putrinya Bella.
"Siapa Sultan Mahesa?" tanya istrinya Pak Harianto.
Sedangkan Diki, ia sudah mengetahui kalau yang dimaksudkan oleh Pak Harianto adalah dirinya.
Diki belum sepenuhnya mengerti dengan kenyataan yang menimpa dirinya, tapi dengan semua kenyataan ini ia yakin dengan yang sebenarnya kalau memang dirinya adalah orang yang para penjahat itu inginkan.
Tatapan Harianto yang mengarah ke Diki membuat istrinya yakin kalau Sultan itu adalah Diki. Ia baru mengingat kalau suaminya pernah mengatakan dia mempunyai atasan dan mempunyai Tuan muda kecil yang telah disembunyikan. Jadi, dialah orangnya? Pikir istri dari Pak Harianto emosi.
Andai pria muda ini tidak muncul diantara mereka mungkin anaknya tidak akan terlibat dalam masalah.
"Kamu?" tunjuk istri dari Pak Harianto terlihat emosi, "kamu yang, jadi penyebab dari tersiksanya suami dan anak-anakku? Kamu harus bertanggung jawab! Andai kamu tidak datang dalam kehidupan kami! Mungkin keluarga saya tidak akan seperti ini!"
***
Diki ingin pulang ke kontrakan kecilnya yang ada di samping perumahan Pak Harianto. Tapi, sayang Pak Harianto mencegahnya karena ingin menunjukan foto-foto Sultan Mahesa yang tak lain adalah Diki sewaktu kecil.
Saat ini Diki sedang berada di gudang rumah Pak Harianto untuk melihat album itu. Walaupun istri dari Pak Harianto itu membenci Diki karena merasa Diki adalah penyebab dari semuanya, tapi Pak Harianto ingin Diki tinggal bersama dengannya. Dan untuk masalah Bella, nanti akan mereka pikirkan jalan keluarnya.
"Coba kamu lihat lembaran biru Album usang ini." titah Pak Harianto memberikan sebuah Album.
Mansion tempat tinggal Diki waktu itu hancur hanya sebagian saja sehingga Album ini bisa terselamatkan dan langsung dibawa oleh Pak Harianto.
Diki membuka lembaran pertama dan disitu terpampang wajah lucu seorang bayi mungil yang bertuliskan nama.
(Sultan Mahesa putraku Sayang)
Diki tersenyum melihat begitu lucunya bayi itu yang memperlihatkan mata hazel dan tubuh yang gendut.
Lalu, Diki kembali membuka lembaran kedua yang memperlihatkan foto ayahnya dan ibunya serta sedang menggendong bayi tadi dengan tulisan.
(Keluarga Mahesh Velopmant)
(Wisnu Mahes, sayang Sultan Mahesa)
Diki tersenyum menatap foto itu yang begitu sangat indah baginya.
Pak Harianto pun, jadi mengenang masa lalu melihat foto itu dan ia pun bahagia akhirnya bisa menunjukan album itu terhadap Tuan mudanya. Sedikit teralihkan rasa kecemasan Harianto pada Bella saat pikirannya kembali ke masa lalu tentang Tuanya yang indah.
"Nah, ini adalah ayahmu Wisnu Mahes. Lihatlah wajahnya yang begitu mirip denganmu," tunjuk Pak Harianto.
Terlihat jelas foto yang ditunjuk oleh Pak Harianto itu benar-benar terlihat seperti dirinya saat ini. Berarti memang dia adalah ayah dari Diki. Diki pun tak kuasa membendung air matanya lagi, ternyata apa yang telah dikatakan oleh Pak Harianto itu benar adanya kalau memang Diki adalah keturunan dari keluarga Mahesh, keluarga Milyuner terkaya di kota ini.
Hati Diki hancur mengetahui kalau ayahnya ini telah dijahati oleh para penjahat dari komplotan Hachiro. Sudah terbayang sudah apa yang akan mereka lakukan terhadap ayahnya seperti yang telah Diki lihat tentang penyiksaan terhadap Pak Harianto tadi.
"Ini, ibumu namanya Delova." tunjuk Pak Harianto lagi.
Wajah ibunya terlihat begitu cantik dan bahagia sambil menggendong tubuh Diki di saat masih bayi.
Hati Diki pun begitu terenyuh melihat kecantikan ibunya dan ini adalah kali pertama dirinya melihat wajah orang tuanya. Diki memeluk Album yang berwarna biru itu ia ingin mengenang tentang kedua orang tuanya.
"Ayah, ibu, andai ada kesempatan Diki ingin menemui kalian," terang Diki berharap bisa bertemu dengan orang tuanya.
"Paman, sebenarnya tidak tahu apakah Tuan Wisnu dan istrinya itu masih hidup atau sudah tiada. Tapi, mereka sebenarnya punya harapan agar kamu bisa merebut kembali hakmu."
Diki memejamkan matanya kuat-kuat ia tidak bisa menyangka kalau orang tuanya adalah seorang milyuner dan mendapatkan penderita karena pengkhianatan dari kaki tangannya sendiri.
Hati Diki perih, pilu, mengingat nasibnya yang ternyata seperti ini. Andai orang tuanya masih hidup, Diki akan berjuang untuk menyelamatkannya dan membalaskan dendam yang terpendam ini. Dan kalaupun orang tuanya sudah tiada, maka Diki harus tetap membalaskan dendam yang terpendam ini.
Geram, emosi, membara di hati dan jiwa Diki sekarang! Dengan tekad kuat yang membara di jiwanya ia berjanji terhadap dirinya sendiri untuk menghancurkan orang yang telah semena-mena dengan harta dan kekuasaan miliknya.
"Pak–!"
"Panggil saya Paman, Tuan!"
Pak Harianto ingin Tuan mudanya memanggilnya paman.
"Maafkan saya ya Tuan, saya telah berniat untuk tidak mengungkapkan siapa Tuan sebenarnya. Karena sebenarnya Tuan akan berada di dalam bahaya kalau semua telah terbongkar. Dan saya tidak ingin Tuan kenapa-napa."
Diki menatap tajam ke arah Pak Harianto.
"Kalau sampai Paman tidak mengungkapkannya. Maka aku akan menjadi orang bodoh selamanya! Aku tidak akan pernah bisa membalas perbuatan Hachiro yang sialan itu. Aku tidak akan bisa membalaskan dendam yang telah terpendam bertahun-tahun!"
Diki membayangkan wajah Hachiro yang begitu ia benci.
"Aku berharap orang tuaku masih hidup! Dan walaupun ternyata mereka sudah tiada, maka aku akan tetap membalaskan dendam yang telah lama terpendam!"