"Apakah yang dikatakan ini yang sebenarnya?" tanya Diki, ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang telah dikatakan oleh pria paruh baya itu kepadanya.
Pak Harianto pun memegangi wajah Diki.
"Sembunyikanlah wajah tampan ini, matamu yang berwarna hazel, hidung, dan dagu ini mirip sekali dengan Pak Wisnu Mahes. Dialah ayahmu," terang Pak Harianto jujur.
Diki tersenyum dengan keadaan yang mempermainkan dirinya. Diki memandang ke arah langit yang sudah gelap tanpa ada sebuah bintang disana lewat kaca depan mobilnya. Bi Ina pernah mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Budi dan ibunya bernama Wina. Tapi, mengapa semuanya jauh berbeda? Diki begitu merasa di dalam sebuah mimpi.
"Saya tidak tahu kenapa Hachiro sekarang terus menanyakan soal dirimu. Dia bahkan menculik saya karena dia menyangka kalau saya tahu dan menyembunyikan kamu, Tuan!" terang Pak Harianto memanggil Tuan mudanya dengan nama tuan.
"Kalau memang benar seperti itu? Kenapa saya di desa hidup dengan pas-pasan serta menjadi pria yang teramat miskin? Sedangkan anda mempunyai finansial yang mapan?" tanya Diki.
Diki merasa kalau memang yang dikatakan pria paruh baya ini benar adanya? Seharusnya Diki tinggal bersama dengan Bi Ina itu dengan keadaan finansial yang cukup kan? Karena orang tuanya yang kaya raya? Kalau memang orang tuanya begitu kaya? Hidupnya ternyata penuh dengan kebohongan besar.
"Saya tidak bisa mengirimkan uang kepada anda dan Bi Ina, soalnya keadaan keuangan keluarga Pak Wisnu ayah anda sudah ditutup oleh Hachiro yang tukang berkhianat itu. Dan orang tua Tuan pun diculik oleh mereka, entah dikurung dimana karena saya pernah mendengar kalau Hachiro berbicara di teleponnya kalau dia akan mengurung Tuan Wisnu, sayang pada saat saya akan mengatakannya kepada Tuan Wisnu, ledakan besar terjadi di sebagian mansion rumah kalian," terang Pak Harianto mengingat masa lima belas tahun yang lalu.
Pak Harianto memang bekerjasama dengan Bi Ina untuk menyembunyikan tuan muda mereka dan menjauhkan tuan muda mereka dari kota dan Pak Harianto pun akan mengirimkan uang untuk Bi Ina agar bisa memenuhi kebutuhan Diki, hanya saja ternyata semua bank dan perusahaan ayahnya Diki sudah dibekukan oleh Hachiro. Dan Pak Harianto tidak bisa berbuat banyak karena dia itu hanya seorang pelayan biasa yang tidak tahu bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan hak tuan mudanya ini.
"Pada saat itu, Tuan muda sedang bermain bersama dengan Bi Ina di taman mansion, dan orang tua Tuan yang entah ada dimana, tapi tiba-tiba saja ada ledakan besar yang menghancurkan sebagian mansion kalian," terang Pak Harianto.
Diki dengan serius memperhatikan apa yang Pak Harianto terangkan dengan seksama dan air matanya pun mengalir karena tidak tahan dengan apa yang dijelaskan oleh pria paruh baya ini dengan panjang kali lebar.
Pak Harianto menjelaskan tentang masa kecilnya Diki yang mempunyai kejeniusan tinggi, bahkan di usianya yang baru menginjak delapan tahun, Diki sudah bisa meretas data perusahaan musuh didampingi oleh kakeknya. Tentang apa yang dilakukan Hachiro sampai bisa mengambil alih perusahaan Velopmant Group milik ayahnya Diki, serta kejadian terakhir tentang ledakan di mansion milik Diki.
"Setelah kejadian itu terjadi, yang terakhir saya ingat adalah, saat saya dan Bi Ina menggendong Tuan muda. Saya melihat orang tua Tuan muda datang dengan luka di kepalanya dan menangis kepada saya dan Bi Ina untuk menyembunyikan Tuan muda agar bisa selamat."
Kejadiannya begitu tragis sehingga Pak Harianto menceritakan itu semua dengan air mata yang mengalir dengan derasnya. Saat itu ayah Diki dan ibunya sedang terluka dan tiba-tiba saja berlari ke arah Harianto yang sedang menggendong tubuh tuan mudanya yang tidak sadarkan diri karena ledakan besar yang telah terjadi dan mengakibatkan benturan keras di kepala Diki.
Mereka memohon kepada Bi Ina dan Harianto untuk menjaga dan merawat putra mereka karena mereka yakin kalau mereka tidak akan bisa selamat. Dan pada saat mengetahui kalau anak buah Hachiro datang, Harianto dan Bi Ina langsung bersembunyi sambi menggendong Tuannya dan menyaksikan kalau kedua orang tuanya Diki digusur paksa ke dalam mobil.
"Mereka begitu terluka dan menderita, mereka berharap kalau Tuan bisa menyelamatkan perusahaan Velopmant Group nanti dari orang serakah seperti Hachiro."
Diki menangis karena tiba-tiba saja bayangan yang diceritakan oleh Harianto itu terasa nyata. Tubuhnya bergetar mengingat akan ledakan besar yang sudah pernah terjadi di dalam hidupnya. Ya, Diki mulai melihat kolebat gerakan cepat yang terputar di dalam otaknya da berhasil membuat Diki merasakan sakit kepala yang begitu hebatnya.
Melihat reaksi dari Tuan mudanya membuat Harianto berhenti bercerita, mungkin semua yang telah ia katakan itu berhasil memicu ingatan yang sudah terlupakan itu.
"Sudah, sekarang jangan berpikir dengan keras. Biar pelan-pelan saja saya akan menceritakannya."
Harianto pun berniat untuk berhenti bercerita karena melihat keringat yang bercucuran dari wajahnya Diki dan wajah yang sudah berwarna merah karena menahan rasa sakit.
***
"Tolong-tolong!" jerit Bella di dalam ruangan gelap tapi mulutnya disumbat oleh kain yang begitu erat sehingga suaranya begitu susah untuk di dengar.
Bella saat ini sudah ditangkap oleh anak buah Hachiro karena merasa kesal akan Harianto yang bisa terbebas dari cengkramannya.
"Beginilah cara untuk bermain pintar. Kalau ingin memancing induknya, maka kita ambil anaknya untuk kembali memancing induknya."
Anak buah Hachiro tertawa karena berhasil menangkap Bella yang tadi sedang berada di dalam rumahnya.
Tadi Bella sedang menelepon Diki, tapi tiba-tiba saja dirinya mendengar suara tembakan yang ternyata itu dibuat untuk mengancam ibunya Bella agar diam.
Sedangkan Bella ia dibawa pergi ke markas anak buah Hachiro agar bisa memancing Harianto datang.
Anak buah Hachiro menitipkan salam kepada ibunya Bella untuk mengabarkan kalau Bella sudah di sekap oleh anggota Hachiro. Dan jika ingin Bella selamat maka Harianto harus langsung datang ke markas dan memberikan info tentang anak Wisnu Mahes yang entah dimana keadaannya.
***
Saat ini ibunya Bella sedang menangis tersendu-sendu karena putri yang sangat ia sayangi itu dibawa kabur oleh para penjahat.
"Bella, semoga kamu baik-baik saja, Bella," lirih ibunya Bella yang sambil menangis mengkhawatirkan keadaan putrinya.
Para penjahat itu pintar sehingga bisa menerobos masuk ke perumahan yang dijaga Ketat oleh satpam disana.
Mereka semua membekap mulut para satpam diam-diam sehingga bisa melancarkan aksinya dan menculik Bella.
Ceklek.
Pintu dibuka dan ternyata yang datang adalah Pak Harianto dengan pemuda yang tadi bersama dengan putrinya.
Ibunya Bella pun langsung menghampiri suaminya yang terlihat penuh dengan luka cambuk yang terlihat mengerikan.
"Suamiku, putri kita suamiku! Putri kita."