Jujur

1015 Kata
Diki terkesiap mendengar apa yang telah dikatakan oleh Pak Harianto. Kalau memang Diki bukan siapa-siapa? Kenapa juga Bi Ina menyuruhnya datang ke kota? Diki pun dibuat kesal dengan semua teka-teki ini. "Kalau memang itu kenyataannya? Untuk apa saya datang kemari dan harus menemui bapak? Saya disuruh oleh Bi Ina datang kemari karena bapak lah yang bisa menerangkan siapa jati diri saya yang sesungguhnya?" tanya Diki penuh dengan penekanan, lalu ia membenturkan kepalanya ke stir mobil karena merasa sangat kesal. Niatnya datang ke kota ingin merubah nasibnya yang suram di desa dan ingin mengetahui tentang apa yang telah Bi Ina katakan itu ternyata hanya membuang-buang waktu saja. Terus sekarang bagaimana kalau sudah begini? Kenapa juga bisa seperti ini? "Mahira … dengan semua rasa letih dan rinduku jauh darimu nyatanya aku masih belum bisa merubah nasibku," gumam Diki akhirnya menangis sambil mengingat Mahira. Pak Harianto juga kasihan karena sudah mempermainkan Diki. Sebenarnya memang Diki adalah orang yang penting yang seharusnya disembunyikan jika ingin nyawanya aman. "Kenapa kamu menangis? Apakah kamu kecewa dengan apa yang telah saya katakan?" tanya Pak Harianto. Pak Harianto ingin hidup Diki aman sehingga ia mengatakan itu. Lebih baik menyembunyikan semuanya selamanya. "Saya tidak kecewa karena saya tahu kalau saya memang bukan siapa-siapa. Orang tua saya meninggal saat saya berusia delapan tahun. Karena saya begitu sedih, akhirnya saya tidak mengingat apapun. Itu yang telah dikatakan oleh BI Ina." Ternyata Diki memang tidak mengingat apapun, Pak Harianto pun menghela nafas panjangnya. Benturan yang terjadi saat Diki masih anak-anak itu nyatanya membuat Diki hilang ingatan dan Pak Harianto berharap kalau ingatan Diki tidak akan pernah kembali. Diki pun kembali menatap Pak Harianto. "Tapi, yang saya pikirkan itu adalah kenapa Bi Ina menyuruh saya pergi ke kota? Bukannya saya bukan siapa-siapa? Oke lah kalau memang Bi Ina bilang saya disuruh ke kota untuk merubah nasib saya dengan bekerja di kota. Tapi, ini? Dia bilang agar bisa tahu siapa jati diri saya yang sebenarnya? Da Sungguh terlalu Bi Ina ini," gerutu Diki merasa kesal. 'Andai kamu tahu, kalau orang tuamu menantikan kamu menyelamatkannya. Hanya saja, saya tidak ingin nyawa kamu terancam.' dalam batin Pak Harianto. Ternyata dibalik semua ini ada seseorang yang menantikan Diki untuk bisa diselamatkan. Hanya saja Pak Harianto ingin Diki aman sehingga ia ragu untuk menjelaskan semuanya. "Namamu siapa?" tanya Pak Harianto. Pak Harianto ingin mengetahui nama apa yang telah diberikan oleh BI Ina kepadanya. "Diki," jawab Diki singkat karena pikirannya tertuju pada Bi Ina yang berbohong telah mengatakan kalau Diki harus menemui Pak Harianto agar tahu semuanya dan nyatanya tidak ada apa-apa. Apakah Bi Ina memang ingin Diki pergi meninggalkan dirinya? Diki jadi berpikir negatif terhadap Bi Ina. Pak Harianto bergeming, nama yang dikasih oleh Bi Ina pun ternyata nama samaran dan itu bagus sekali. "Kalau begitu, kamu pergilah kembali ke desa!" suruh Pak Harianto. Diki menatap tajam wajah pria di hadapannya ini. Kenapa pria ini terlihat berbohong kepadanya? Terlihat jelas pada saat pria paruh baya ini berbicara tanpa menatap ke arahnya. "Anda berbohong!" Tiba-tiba saja Diki mengucapkan itu. Pak Harianto terlihat langsung mengelap keringat yang tiba-tiba saja keluar dari wajahnya. Keturunan asli dari keluarga Mahesa nyatanya sangat jeli dan tidak bisa untuk di bohongi. "Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Pak Harianto. Diki langsung membawa senjata api di dalam sakunya karena ingin mencoba menakuti pria ini, apakah benar pria ini berbohong atau bagaimana? Pasalnya mana mungkin Bi Ina berbicara yang ngelantur kan? Sedangkan pria paruh baya ini baru Diki temui sehingga ia akan mengujinya dengan menggunakan senjata. "Aku yang harus bunuh diri? Atau bapak yang …," Diki mencoba untuk mengaktifkan senjatanya. Pak Harianto terkesiap melihat apa yang dilakukan pemuda ini. Latihan apa yang Bi Ina ajarkan untuk Diki? Pikir Pak Harianto. "Tunggu-tunggu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Pak Harianto. Pak Harianto pun merasa ketakutan. Melihat tingkah Diki ini benar-benar sama dengan tingkah ayahnya yang suka bermain senjata, membuat Pak Harianto akhirnya memutuskan untuk berkata dengan jujur. "Saya menyayangi kamu sehingga saya berbohong!" Pak Harianto pun akhirnya mengatakan itu. Sedangkan Diki ia tersenyum, dirinya juga tidak menyangka bisa berbuat seperti ini? Diki desa dan Diki kota bisa langsung berubah sedrastis ini, Diki pun tertawa. "Jadi, apa yang sebenarnya? Aku hanya mengetes saja, Pak," ucap Diki tertawa dengan lepas. Diki menertawakan dirinya sendiri yang menjadi seperti tokoh utama di film action saja. "Orang tuamu entah sudah meninggal atau belum karena jasadnya tidak ditemukan pada saat kejadian ledakan bom di rumah orang tuamu." Diki terbelalak mendengar apa yang telah diterangkan oleh pria paruh baya ini. Karena apa yang diterangkan berbanding terbalik dengan apa yang telah diterangkan oleh BI Ina. Pak Harianto pun melihat kesana-kemari dan di luar mobil pun terlihat begitu sepi karena waktu sudah mulai larut malam. Pak Harianto pun menjelaskan semuanya, yang ternyata Diki adalah anak dari orang terkaya di kota ini. Kekayaannya begitu melimpah ruah dan tersebar di berbagai kota. Orang tua Diki dikhianati oleh orang yang mereka percayai sebagai kaki tangannya. Dan orang itu merebut semua yang dimiliki oleh orang tuanya Diki yaitu Pak Hachiro. Perusahaan Velopmant Group adalah perusahaan terbesar yang dipimpin oleh ayah dari Diki ini. Dan dengan kepintaran Pak Hachiro untuk membuat kejahatannya tidak terlihat yaitu, dengan cara mengebom rumah orang tuanya Diki, tapi disaat semua orang sudah berada diluar rumah. Sehingga publik pun hanya mengetahui kalau sebenarnya semua ini akibat dari kecelakaan murni. "Saya dan Bi Ina adalah pelayan setia orang tuamu. Dan kami berdua bertekad untuk menyembunyikan pewaris Velopmant Group yang sebenarnya karena takut nyawamu terancam," terang Harianto mulai sadar untuk terus berkata jujur karena perusahaan Velopmant Group memang adalah hak Diki. "Apa? Semua ini bagaikan mimpi, ini bukan karangan belaka kan?" tanya Diki tidak percaya karena yang ia tahu kalau orang tuanya meninggal karena kecelakaan dan mereka pun juga orang miskin seperti Diki. Pria paruh baya itu gelengkan kepalanya. "Saya ada bukti foto ayahmu yang wajahnya sungguh mirip sekali denganmu." Tapi, saat ini Harianto tidak bisa menunjukan fotonya karena fotonya berada di dalam rumahnya. "Sudah lima belas tahun berlalu, saya hidup tenang dan tanpa ada masalah. Serta kamu yang sudah Bi Ina asuh di desa. Tapi, entah mengapa sekarang para penjahat itu kembali mengincar dirimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN