Terangkan

1025 Kata
Bella cemas akan keadaan Diki dan ia pun menghubungi nomor ponselnya. Saat sedang berbicara lewat telepon tiba-tiba saja ada suara senjata api yang terdengar di ruang tamu. "Arghhhh!!!" Bella menjerit karena terkejut dan langsung mematikan ponselnya. Di tempat Diki ia terkesiap bukan main karena mendengar kalau Bella sudah menjerit barusan. Hatinya cemas, dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi terhadap Bella? "Bell? Bella? Apa yang terjadi disana, Bella?" tanya Diki terhadap ponselnya yang ternyata panggilannya sudah terputus. Diki menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu, kembali menelpon ke nomor Bella. Setelah beberapa kali menelepon, tapi sayang nomor Bella sudah tidak bisa di hubungi lagi dan Diki pun menjadi semakin panik saja. "Alvin? Ya aku harus menghubungi nomor ponsel Alvin," gumam Diki berniat untuk menghubungi nomor Alvin. Diki pun mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Alvin dan syukurnya ponsel Alvin bisa dihubungi. Diki menceritakan semua tentang Bella yang menghubungi dirinya dan tiba-tiba menjerit saat bertelepon dengannya sampai-sampai nomor Bella tidak bisa dihubungi kembali. Disana Alvin pun mengerti dan berniat untuk pergi mengecek keadaan Bella. Setelah berhasil menghubungi Alvin, Diki pun memandang ke arah Pak Harianto yang masih belum sadarkan diri di sampingnya. Diki pun berniat untuk mengobati luka Pak Harianto dengan cara yang telah dilakukan oleh Ni Nineung waktu itu terhadap dirinya yang terluka pada saat terjatuh dari sungai. Soalnya kalau sampai tidak langsung diobati, Diki takut tubuh Pak Harianto tidak bisa menahan rasa sakit itu dan sampai meninggal. Pikir Diki negatif! Ditambah jarak ke rumah sakit pasti sangat jauh dan Diki pun tidak mempunyai uang banyak. "Baiklah, Pak. Lebih baik kita obati luka bapak di hutan ini." Diki berbicara kepada Pak Harianto yang masih belum sadarkan diri. Lalu, Diki pergi keluar dari mobil dan akan mencoba mencari obat dari dedaunan yang mungkin ada di hutan sekitaran sini. *** Pak Hachiro marah kepada para anak buahnya karena mereka semua nyatanya telah di bodohi oleh seseorang. Pak Hachiro pun menelpon ke anak buahnya yang berada di kota untuk membuat rencana baru. "Kita harus atur strategi, kalau memang si Harianto itu tidak bisa kita buat untuk membuka mulut! Maka, keluarganya yang akan menanggung akibatnya!" terang Pak Hachiro menyeringai. Pak Hachiro berniat untuk membawa orang yang mungkin Pak Harianto sayangi. Pak Hachiro pun mencoba untuk kembali pulang dengan keluar dari gua dan mencari mobilnya. Dan ternyata mobilnya telah hilang. "b******k? Dimana mobilku?" teriak Pak Hachiro geram dan kesal ketika melihat mobilnya yang tidak terparkir seperti saat dirinya baru pertama kali sampai. Lalu, ia pun menendang ketiga anak buahnya karena merasa kesal dan melampiaskan kepada mereka bertiga. "Ternyata si sopir itu palsu! Bisa-bisanya dia menyelinap ke mansionku yang dijaga dengan ketat dan menyamar sebagai sopir? Siapa dia?" tanya Pak Hachiro kesal. Sekarang Pak Hachiro menyadari kalau orang yang menjadi supirnya tadi adalah seorang penyelusup, dan ia menyesal kepada dirinya sendiri yang tidak jeli sampai karena kebodohannya sendiri Harianto bisa melarikan diri. "Kami tidak tahu, Bos. Kami tidak melihat orang itu!" jawab salah satu anak buahnya. "Saya gak tanya sama kamu! Tapi, saya tanya kepada diri saya sendiri," terang Pak Hachiro asal. Pak Hachiro pun terlihat sedang mengambil ponselnya. Entah siapa yang akan dia hubungi. Telepon pun tersambung …. [Ya Hallo, Bos!] ucap Pak Hachiro yang tengah mengangkat teleponnya. [ …. ] [Begini, Bos. Si Harianto itu masih enggan untuk membuka mulut, dan dia malah bisa lari dari cengkraman anak buah saya] ucap Pak Hachiro menerangkan. [ …. ] [Jangan marah-marah dulu lah, Bos. Saya ada taktik baru nih] [ …. ] [Iya, iya. Tenang aja, pokoknya misi akan dijalankan dengan baik! Hanya membutuhkan sedikit waktu lagi!] *** Diki mencoba meremas dedaunan yang sudah didapatkan di hutan ini. Serta sudah membasuh luka Pak Harianto menggunakan tisu, lalu menempelkan ramuan obat dedaunan herbal kepada badan Pak Harianto. Setelah beberapa saat, akhirnya Diki memutuskan untuk kembali mengemudikan mobilnya agar bisa segera sampai di rumah Bella. Waktu sudah mulai malam, dan perjalanan ke rumah Bella membutuhkan waktu dua jam-an lagi. Diki sudah merasa sangat lelah karena terus-terusan mengemudi tanpa beristirahat. Akhirnya Diki memutuskan untuk beristirahat dulu dan memakan sesuatu karena perutnya merasa kelaparan. "Untung ada makanan di dalam mobil ini, lumayan bisa mengganjal rasa lapar pada perut ini!" gumam Diki mengambil sebuah kotak yang berisikan makanan. Tadi, disaat Diki mengemudi untuk Pak Hachiro, mereka membeli makanan untuk bekal perjalanan dan masih ada sisanya sehingga bisa Diki makan. Diki menatap wajah Pak Harianto yang terlihat matanya sedang menyerjap. "Alhamdulillah, syukurlah kalau bapak sudah sadar!" ucap Diki bersyukur karena Pak Harianto sudah sadarkan diri. Diki pun langsung memberikan Pak Harianto minum agar bisa lebih segar. Setelah memberikan Pak Harianto minum, Diki juga memberikan makanan kepada Pak Harianto. Saat ini mobil mereka berada di taman besar di kota yang dekat dengan rumah Pak Harianto dan Bella. Pak Harianto yang juga merasa lapar langsung memakan apa yang Diki sodorkan. Untung saja makanannya cukup untuk mengganjal kedua perut pria ini. Setelah selesai makan, Diki berniat akan menanyakan apa yang menjadi alasannya pergi ke kota. Diki tidak bisa menunggu lagi ia sudah sangat tidak sabar. "Pak, ada yang saya mau tanyakan. Saya ini datang ke kota untuk mencari orang yang bernama Pak Harianto. Semoga saja orang yang saya maksud adalah bapak!" terang Diki dengan penuh pertanyaan dan penasaran yang besar. Diki berkata sambil menatap tajam wajah di depannya ini. Pak Harianto terlihat terkejut mendengar apa yang telah Diki terangkan. Apakah pria muda ini adalah anak yang sudah Pak Harianto berikan kepada Bi Ina waktu itu? "Apa yang kamu inginkan dengan mencari saya?" tanya Pak Harianto. "Saya juga tidak tahu, Pak. Saya di suruh saudara saya dari kampung untuk datang ke kota agar bisa merubah jati diri saya. Dan bisa mengetahui jati diri saya yang sesungguhnya. Padahal saya dari kecil tinggal di kampung dan orang tua saya sudah meninggal." "Tapi, tiba-tiba saja saudara saya memberikan secarik kertas alamat untuk bisa saya temui di kota." terang Diki panjang kali lebar. "Siapa nama saudara kamu?" "Bi Ina!" jawab Diki dengan cepat. Deg!!! Sudah Pak Harianto kira kalau pria ini adalah tuan kecilnya. Kenapa bisa Bi Ina membiarkan dia datang kemari? Padahal Pak Harianto sudah mewanti-wanti agar jangan sampai anak ini pergi lagi ke kota. Nyawanya ini sangat terancam. "Kamu bukan siapa-siapa, jadi pergilah kembali ke desamu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN