Diki mengintip diam-diam ke dalam gua tersebut. Dan ia melihat pria paruh baya yang pernah ia tolong sedang diikat oleh tambang besar seperti salib.
Diki pun bersyukur karena ternyata Pak Harianto itu masih hidup. Hanya saja ternyata dia dikurung di dalam gua dan disiksa seperti ini. Sungguh kejam Pak Hachiro yang telah mengurung dan menyiksa Pak Harianto dan dia lah yang menjadi dalang dalam semua ini.
Diki penasaran dengan apa yang Pak Hachiro inginkan sampai bisa berbuat seperti ini? Kasihan Bella, kalau dia tahu ayahnya dikurung dan disiksa seperti ini, pasti hatinya sangat hancur.
Diki pun memukul batu dengan tangannya yang ada di hadapannya yang menjadi tempat dirinya bersembunyi sekarang. Diki geram melihat pak Harianto yang terus ditampar oleh Pak Hachiro, rasanya ia ingin langsung menyelamatkan Pak Harianto sekarang juga, tapi ia harus berpikir agar bisa membebaskannya tanpa ketahuan oleh mereka. Diki pun berpikir sejenak bagaimana caranya untuk menyelamatkan Pak Harianto.
Pak Hachiro memegangi kedua pipi Pak Harianto dengan kasar dan ditekan kuat-kuat.
"Masih tidak mau berbicara, maka akan saya robek mulutmu!" ancam dari Pak Hachiro.
Diki yang mendengar semakin geram saja. Ia pun langsung mengaktifkan senjatanya dan menembakan ke area luar gua.
Dorrr!!!
Sebenarnya bisa saja Diki menembak ke arah mereka, tapi ia tidak mau melakukan itu, soalnya dia bukan manusia yang berhati dingin serta Diki tidak ingin membuang waktu untuk bertarung. Yang Diki pikirkan adalah ingin segera pergi dari sana dan membawa Pak Harianto.
Pak Hachiro dan para penjahat itu pun terkesiap mendengar ada suara tembakan dari arah luar gua. Mereka pun langsung berlari untuk mengecek ada apa disana. Mereka langsung menyiapkan senjata api yang mereka pegangi, lalu berlari keluar gua.
Sedangkan Diki, ia masih bersembunyi menunggu mereka semua keluar.
Ketiga penjahat itu keluar gua untuk mengecek, tapi Pak Hachiro masih berada di dalam gua.
Diki pun kembali menembak ke arah luar sambil dirinya bersembunyi di balik batu, ia berharap Pak Hachiro juga pergi ke luar karena kembali mendengar suara tembakan lagi.
Dorrr!!!
"Sial? Siapa yang membuat kerusuhan di luar gua?" gumam Pak Hachiro merasa kesal.
Mereka menyangka kalau asal tembakan itu berasal dari luar. Padahal asal dari suara tembakan itu berasal dari bibir gua.
Terdapat lekukan di depan pintu gua itu, sehingga mereka tidak bisa menyadari dari mana asal dari suara tembakan itu berada.
Diki langsung kembali bersembunyi di balik batu di dalam gua itu. Setelah menembak Diki langsung kembali berlari memasuki gua dan bersembunyi di balik batu-batu yang ada di dalam gua sehingga dirinya pun tidak bisa ketahuan.
Pak Hachiro pun langsung pergi keluar untuk mengecek. Setelah berada di luar ia tidak menemukan apapun, tapi ia mencari sesuatu. Ia takut kalau sampai ada penyusup di dalam area ini, jadi ia berkeliling untuk mencari suara tembakan tersebut.
Para suruhannya juga sama, mereka semua pun mencari kesana-kesini.
Diki yang sudah merasa aman. Ia pun langsung bergegas menghampiri Pak Harianto.
Pak Harianto terbelalak karena ada seorang pemuda yang membantu membukakan ikatan tali tambang yang melilit tangannya.
"Kamu siapa, Nak?" tanya Pak Harianto tidak bisa mengenali Diki karena memakai topi dan masker yang menutupi wajahnya.
"Sudah, kita tidak punya banyak waktu. Ayo ikuti saya." ajak Diki menggusur tubuh Pak Harianto untuk berlari bersama dengannya.
Sebelum keluar, Diki dan Pak Harianto bersembunyi kembali di batu dekat dengan pintu keluar. Sehingga saat Pak Hachiro dan para penjahatnya masuk kembali, Diki pun bisa langsung pergi keluar.
"Ayo masuk, Pak!" ajak Diki menyuruh Pak Harianto memasuki mobil mewah yang tadi di bawa Diki untuk mengantar Pak Hachiro.
Tanpa pikir panjang, Pak Harianto pun menurut dan mereka pun memasuki mobil.
Diki mengemudikan mobilnya dengan cepat agar bisa secepatnya pergi dari sana.
Sambil menyetir, Diki pun memberikan Pak Harianto tisu yang ada di dalam mobilnya karena melihat darah yang bercucuran di area sudut mulutnya dan tubuhnya yang terkena luka cambukan.
"Apakah benar kalau bapak adalah Pak Harianto?" tanya Diki di sela-sela mengemudikan mobilnya.
Pak Harianto mengelap sudut bibirnya sambil meringis kesakitan karena rasanya begitu perih.
"Iya, Saya Harianto. Kalau boleh tahu kenapa kamu mau menyelamatkan saya?" tanya Pak Harianto.
Diki pun membuka topi dan masker yang ia pakai.
Pak Harianto terlihat begitu terkejut melihat wajah Diki yang begitu tampan dengan mata hazel seperti yang pernah menyelamatkannya waktu itu.
"Kamu orang yang telah menyelamatkan saya waktu itu?" tanya Pak Harianto.
Diki mengangguk.
"Wajahmu pangling dari pertama kali kita bertemu sampai saat ini. Mungkin karena ada janggut yang menghalangi ketampananmu waktu itu!" ujar Pak Harianto.
Hati Pak Harianto bertanya-tanya karena wajah pemuda ini sama seperti wajah atasannya dulu. Apakah pemuda ini adalah pemuda yang dibawa oleh temannya waktu itu? Pikir Pak Harianto.
Tapi kalau begitu, bagaimana bisa dia kemari? Bukannya Pak Harianto sudah melarang saudaranya untuk membiarkannya pergi ke kota ini?
"Pak kenapa melamun?" tanya Diki.
"Kamu? Kamu—!"
Pandangan Pak Harianto menjadi blur dan gelap, ia tidak bisa mempertahankan kesadarannya karena tubuhnya sudah drop terkena begitu banyak penyiksaan beberapa hari ini.
Diki cemas melihat Pak Harianto terlihat tidak sadarkan diri.
"Astaghfirullah, Pak! Bangun Pak!"
Diki berusaha memanggil-manggil nama Pak Harianto agar bisa terbangun. Apa yang akan diucapkan oleh Pak Harianto membuat Diki penasaran. Kenapa sih Pak Harianto harus pingsan sekarang? Padahal Diki ingin bertanya kepadanya.
"Ya ampun, sekarang harus bagaimana?"
Diki bingung sekarang karena Pak Harianto harus segera diobati, sedangkan jarak ke rumah sakit juga masih jauh. Sekarang tepatnya Diki masih berada di dalam perjalanan yang penuh dengan hutan lebat.
Diki ingin menghentikan dulu mobilnya, tapi ia takut karena tempat ini masih tidak jauh dengan gua tadi.
Diki pun terus mengelap keringatnya karena merasa gugup akan keadaan Pak Harianto.
Dertttt … Dertttt ….
Tiba-tiba saja ponsel yang ada di sakunya bergetar.
Diki langsung mengangkat ponsel yang ada di sakunya. Diki memakai celana miliknya dan atasan sopir milik si supir tadi. Jadi, ponselnya masih aman ada di dalam kantungnya. Untung saja sebelum ke perusahaan Velopmant Group Alvin memberikan Diki ponsel, jadi sekarang mau menghubungi siapapun mudah.
Diki langsung menekan tombol jawab.
[Ya Hallo] jawab Diki.
[Diki apa kamu gapapa? Apa kamu masih bersama dengan Aiko? ] tanya Bella yang menelepon, ia cemas dengan keadaan Diki yang dibawa ke mansion milik Pak Hachiro.
[Alhamdulillah, Bell! Aku tidak apa-apa]
[Arghhhh!!!!]