Setelah Aiko pergi, Diki pun langsung menyelinap ke ruang kerja ayahnya Aiko. Diki sempat bertemu dengan beberapa maid yang ada disana, tapi dengan sigap Diki pun bersembunyi di balik pilar-pilar yang ada di ruangan itu, sehingga para maid yang berlalu-lalang kesana kemari pun tidak bisa melihat Diki yang berjalan ke arah ruangan kerja Pak Hachiro. Diki pun saat ini sudah berada di depan ruang kerjanya ayah Aiko. Diki mencoba untuk membuka sedikit celah pintu tersebut untuk mengintip.
"Terus siksa dia! Sampai dia mengatakan tentangnya!"
Diki mendengar pria paruh baya itu mengatakan itu terhadap ponselnya.
Mendengar apa yang telah ia dengar, membuat Diki menganalisa kalau yang pria tua itu maksud adalah Pak Harianto. Karena, waktu Diki menyelamatkan Pak Harianto di jalan waktu itu, Diki juga mendengar para penjahat itu menanyakan tentang keberadaan seseorang.
Ayah Aiko itu terlihat menoleh ke arah pintu. Diki pun dengan sigap langsung bersembunyi dan menempelkan badannya di dinding mewah itu.
Diki berpikir bagaimana caranya untuk bisa masuk ke dalam untuk mencari petunjuk tentang tempat yang dipakai untuk mengurung serta menyiksa Pak Harianto.
'Ya Tuhan, berikan aku celah agar bisa masuk ke dalam!' dalam batin Diki memohon.
Diki mencoba kembali mengintip, dan akhirnya ia mendengar sesuatu lagi. Untung saja ayahnya Aiko itu berbicara dengan keras, sehingga Diki yang sedikit membuka pintu masuknya pun, bisa mendengar apa yang pria paruh baya itu katakan.
"Ya Sudah! Biar saya kesana sekarang!"
Diki mendengar kalau ayahnya Aiko itu mau pergi ke suatu tempat.
Karena takut ketahuan. Akhirnya, Diki pun memutuskan untuk mencari tempat persembunyian untuk menunggu ayahnya Aiko pergi ke tempat yang dimaksudnya.
Diki pun berniat untuk mengikuti ayahnya Aiko yang akan pergi. Diki berniat mengikutinya diam-diam.
Diki langsung hendak berlari keluar mansion. Untung saja para maid yang melihatnya tidak bertanya apapun karena tadi mereka tahu kalau Diki datang bersama dengan Aiko.
Setelah sampai di luar mansion, Diki menatap kesana kemari untuk mencari kendaraan mana yang akan digunakan oleh ayahnya Aiko itu.
"Dia kan, pemimpin perusahaan Velopmant Group, jadi dia pasti memilih kendaraan termewah di antara kendaraannya yang lain," gumam Diki sambil menatap para mobil mewah yang berjejer disana.
Ah, sekarang bagaimana cara Diki mengikuti mobil yang akan ditumpangi oleh ayahnya Aiko ini? Pikir Diki.
Tiba-tiba terlihat ada satu pria dengan pakaian sopir yang memasuki mobil termewah di antara mobil yang lain. Diki pun melihat situasi yang terlihat aman.
Diki pun mengendap-endap untuk mendekati mobil tersebut, Diki ingin pak sopir itu meninggalkan mobilnya.
"Pak, maaf mengganggu. Saya disuruh oleh Pak Hachiro memanggil anda, tolong temui dia dulu," ucap Diki modus kepada supir pribadinya ayah Aiko.
"Saya barusan disuruh untuk mengecek mobil yang akan dia pakai sekarang! Buat apa lagi dia memanggil saya?" tanya supir itu ke Diki.
"Entahlah, coba Bapak cek saja ke dalam. Saya takut dia marah kalau anda tidak segera datang!" ucap Diki ingin supir itu pergi dari sana.
Pria paruh baya itu beranjak.
Brugh!!!
Diki langsung memukul kepala sopir itu dengan keras. Diki ingin menyamar menjadi sopir agar bisa mengetahui kemana Pak Hachiro akan pergi.
Sopir itu pun langsung tidak sadarkan diri karena Diki memukul bagian vital kepalanya.
Diki menggusur sopir itu ke dalam pepohonan yang dikelilingi oleh semak belukar. Diki akan memakai pakaian yang dipakai sopir itu serta masker yang ia pakai dan memakai topi yang akan sedikit menghalangi wajahnya, sehingga tidak akan terkenali oleh Pak Hachiro pemimpin dari perusahaan Velopmant Group itu.
Semua ketegangan telah berlalu, Diki pun sekarang sedang stay di dalam mobil menunggu Pak Hachiro datang. Untung saja Pak Hachiro lama di dalam mansionnya, entah sedang apa dulu dia.
"Huft akhirnya aku bisa menyamar menjadi supir," gumam Diki sambil memegangi stir mobil itu.
Setelah beberapa saat, akhirnya Pak Hachiro datang dan langsung memasuki mobil dari arah belakang.
"Bawa aku ke tempat biasa!" suruh Pak Hachiro.
Diki bergeming, ia tidak tahu tempat mana yang dimaksudkan itu.
"Eumpt ke tempat mana, Pak?" tanya Diki dengan suara yang sedikit ditekan agar tidak terkenali oleh Pak Hachiro. Diki tidak mau kalau Pak Hachiro sadar bahwa yang sekarang ada di hadapannya adalah orang yang tadi di bawa anaknya masuk ke mansion miliknya.
"Oh, iya. Saya lupa, kamu sopir baru ya. Nanti saya tunjukan tempatnya, sekarang lajukan saja mobilnya." suruh Pak Hachiro kepada sopir itu yang ternyata adalah Diki.
"Baik Pak!" jawab Diki.
Untung saja ternyata supir yang Diki pukul itu ternyata supir barunya Pak Hachiro, sehingga ia tidak perlu memutar otak agar bisa membuat Pak Hachiro tidak curiga terhadap dirinya.
Diki pun bernafas dengan lega, lalu melajukan mobilnya.
Perut Diki tiba-tiba mulas dan ingin buang air besar, sedangkan dirinya sedang melakukan penyamaran kan. Sekarang harus bagaimana? Diki bingung.
Pak Hachiro pun terlihat begitu gelisah dengan wajah yang memerah padam. Bisa Diki lihat di kaca spion depannya.
'aduh, bagaimana ini? Aku sudah tidak tahan?' dalam batin Diki ingin kentut.
Pak Hachiro tiba-tiba saja mencium bau yang sangat semerbak di dalam mobilnya.
"Apa-apaan ini?" teriak Pak Hachiro marah kepada Diki. Pak Hachiro terlihat kesal karena mengendus bau yang sungguh menyengat itu.
"Ma-maaf, Pak! Saya pengen ke toilet sudah tidak tahan lagi, Pak!" jawab Diki menekan suaranya.
"Kamu itu! Udah supir baru, nyusahin lagi! Ya sudah, nanti kita berhenti dulu di pom bensin!" suruh Pak Hachiro kepada Diki.
'Dari wajah sangarnya, ternyata pria tua ini ada baiknya juga!' gumam Diki.
Ternyata sebenarnya Pak Hachiro bukannya baik membiarkan supirnya untuk pergi ke toilet dulu, hanya saja dirinya sedang stress sekarang ini karena masalahnya sangat banyak. Di tambah ia akan mengumpulkan energinya untuk menemui tawanannya itu.
***
Diki dan Pak Hachiro sampai di tempat yang dituju. Tempat ini ternyata begitu jauh dari tempat mansion miliknya. Waktu yang ditempuh pun sampai menghabiskan waktu lima jam-an untuk sampai ke tempat terpencil ini.
"Kamu, tunggu saja disini! Jangan kemana-mana. Biar saya saja yang masuk ke dalam!" ucap Pak Hachiro kepada Diki. Sampai saat ini Pak Hachiro tidak menyadari bahwa sopir yang mengantarnya adalah orang yang dibawa oleh anaknya Aiko.
Setelah melihat Pak Hachiro yang sudah pergi, Diki pun keluar dari mobil karena ingin mengendap-endap ingin mengintip apa yang akan Pak Hachiro temui di tempat kumuh seperti ini.
Tempatnya terpencil, di luar saja sudah terlihat kalau tempat yang dimasuki oleh Pak Hachiro itu tempat yang kotor serta gelap seperti guha tua.
"Ternyata kamu?"