Bella tercekat ketika melihat ada pemimpin perusahaan Velopmant Group yang menghampiri Diki dan anaknya.
Saat ini posisi Diki sedang di pegang oleh tangan anak dari pemimpin perusahaan itu, dan pemimpin perusahaan itu menatap tajam ke arah Diki.
Diki terkesiap dan gemetaran ketika melihat tatapan tajam dari ayah wanita yang telah bertabrakan dengannya tadi.
Wanita muda itu pun mengatakan semuanya kepada ayahnya itu. Dia ingin menjadikan Diki babunya satu hari ini untuk menebus kesalahannya. Padahal hanya kesalahan tabrakan kecil saja bisa sampai harus seperti ini? Maklum anak orang kaya.
Dan pria yang menjadi pemimpin Velopmant Group itu pun terlihat menyetujui dengan apa yang telah dikatakan oleh anaknya.
"Kamu dengar? Apa yang dikatakan oleh anak saya, kamu harus menurutinya!" titah pria pemimpin perusahaan itu, lalu mengusap pucuk kepala wanita di depannya sambil melangkah pergi.
"Baiklah, mulai sekarang panggil saya Nona Aiko!" suruh wanita muda itu sambil menggusur tubuh Diki akan membawanya ke sebuah tempat.
Bella terkesiap karena melihat Diki yang akhirnya, digusur oleh anak dari pemimpin perusahaan Velopmant Group itu.
Setelah beberapa saat, akhirnya Alvin pun datang.
"Aku tidak menemukan petunjuk apapun, Bell!" terang Alvin berbicara kepada Bella.
Bella menarik nafasnya, "Ada yang lebih gaswat, Vin. Diki malah dibawa pergi oleh Aiko!"
"Apa? Kenapa bisa? Aiko anak dari pemimpin perusahaan ini?" tanya Alvin.
"Iya!"
Bella pun menjelaskan semuanya kepada Alvin tentang kejadian apa yang dialami oleh Diki.
Alvin pun berharap kalau Diki tidak membuat kesalahan yang akan sampai mengancam nyawanya sendiri.
***
Aiko dan Diki terlihat sedang berada di mansion tempat dimana Aiko tinggal.
Aiko itu pun menyuruh Diki untuk menemaninya main game. Gila? Ya aneh dan gila, kenapa Aiko ini menghukum Diki hanya untuk bermain-main saja?
"Gue lihat penampilan Lo cupu banget, gue yakin kalau Lo itu sebenarnya seorang kutu buku, kan?" tanya Aiko asal.
"Asal Lo tahu, gue sebenarnya butuh teman, gue gak punya teman karena semua orang minder dan takut akan status gue yang menjadi anak terkaya nomor satu di kota ini!"
Aiko ternyata kesepian dan membutuhkan seorang teman. Hidup Aiko kurang kasih sayang karena ayahnya selalu sibuk bekerja dan memimpin perusahaan. Dan saat Aiko menabrak Diki, ada rasa ketertarikan begitu melihat Diki yang memakai kacamata bulat dan tampilan cupu. Entah mengapa Aiko tertarik kepada Diki yang padahal menyembunyikan ketampanannya.
Sedangkan Diki, ia merasa heran dan aneh karena hukumannya adalah bermain game seperti ini, dan ternyata itu alasannya? Ternyata hidup sebagai orang terkaya di satu kota ini pun mempunyai kelemahan? Diki kira hanya dirinya yang mempunyai penderitaan karena hidup sebagai pria termiskin, nyatanya yang kaya juga mempunyai penderitaan. Diki pun diam sambil memainkan gamenya.
Setelah beberapa saat.
"Yasudah Nona Aiko, kalau begitu saya pamit pulang dulu, ya? Saya ada pekerjaan."
Diki berharap bisa terbebas dari Aiko, karena niatnya kan ingin mencari Pak Harianto. Kenapa juga malah bisa seperti ini?
Eh, tunggu. Tiba-tiba Diki mempunyai ide, kan sudah terkuak orang yang menculik Pak Harianto itu adalah orang-orang dari perusahaan Velopmant Group? Jadi, ia bisa mencari tahu di mansion tempat tinggalnya Aiko ini, ya mungkin Tuhan sudah memberikan jalan untuknya dengan langsung membawa Diki ke sarang tempat tinggalnya langsung orang yang telah menculik Pak Harianto, untuk bisa mencari pentunjuk.
"Sebenar lagi, ya!" pinta Aiko.
Aiko masih merasa nyaman dekat dengan Diki. Jadi, ia masih ingin bersama dengan Diki saat ini.
Akhirnya Diki pun menyetujuinya sambil mencoba untuk mencari tahu tentang apa yang telah ayahnya Aiko lakukan? Maksudnya, apa yang sedang mereka kerjakan atau, apakah sekarang mereka sedang menahan seseorang? Diki berharap bisa dapat mendapatkan informasi dari anaknya.
Diki pun mencoba bertanya dengan pelan dan hati-hati.
"Kalau boleh tahu, Nona. Apakah Nona menyayangi ayah Nona? Terlihat sekali kalau dia menyayangi Nona Aiko?" Diki mencoba untuk memulai dengan pertanyaan basa-basi.
"Papa sayang gue, tapi Papa selalu memprioritaskan pekerjaannya," jawab Aiko terlihat lemas.
Diki menghela nafas panjang, "Apakah Nona pernah melihat bagaimana Papa Nona dalam bekerja?" tanya Diki berusaha untuk santai.
Wanita muda itu nampak berpikir.
"Ya namanya pemimpin perusahaan, dia kerjanya bersama berkas-berkas penting dan dengan laptop saja. Sesekali Papa juga pergi ke suatu tempat, entah tempat apa? Maksudnya tempat yang tersembunyi, karena kalau hanya ke tempat biasa, seperti meeting dengan klien gue suka dibawa-bawa, tapi ada satu tempat rahasia yang kalau gue nanya dia mau kemana, jawabannya mau ke tempat penting dan rahasia."
Diki dengan seksama mencerna apa yang dikatakan oleh Aiko. Semudah ini jalan Diki untuk menggali informasi.
"Sebenarnya, gue juga penasaran akan tempat rahasia itu, karena Papa pernah bilang kalau tempat itu kejam, sehingga papa tidak membawa gue kesana. Padahal pada dasarnya papa suka bawa gue kemana-mana."
Diki pun mengingat apa yang telah disampaikan oleh Aiko ini. Tugasnya sekarang mencari tahu tentang dimana tempat rahasia ini. Kayaknya ini benar-benar rahasia sehingga anaknya saja tidak mengetahuinya. Diki penasaran, apakah ada hubungannya dengan penculikan Pak Harianto? Mungkinkah Pak Harianto di culik disana.
Setelah beberapa saat, Aiko pun mengajak Diki berkeliling di mansion tempat tinggalnya Aiko.
Dari tadi baru masuk, sampai sekarang sebenarnya, kepala Diki sakit karena terus terputar adegan-adegan aneh yang ada di kepalanya. Diki pun tidak mengerti dan malah membuatnya merasa pusing dan sakit.
Diki pun memegangi kepalanya yang terasa sakit itu. Aiko yang bersama Diki itu terlihat menatap aneh dengan sikap Diki yang terus memegangi kepalanya.
"Lo baik-baik saja kan?" tanya Aiko.
Dari tadi Diki memegangi kepalanya dan membuat Aiko merasa heran dan menyangka kalau mungkin Diki sedang tidak baik-baik saja.
Diki pun menggelengkan kepalanya pelan karena ia tidak mau menjelaskan apa yang ia rasakan di kepalanya ini.
"Yasudah, kalau begitu Lo boleh pulang! Kita sudah berkeliling di mansion tempat gue tinggal ini, sekarang gue ijinkan Lo pulang, tapi sebelum pergi katakan siapa nama Lo?" tanya Aiko.
Dari tadi mereka bersama tadi belum sempat berkenalan. Diki pun menatap Aiko lalu menjulurkan tangannya.
"Panggil saya Diki, Nona!" terang Diki.
Mereka pun berkenalan.
"Yasudah, Diki. Thanks karena Lo telah temani gue yang lagi boring setiap hari ini. Sekarang Lo boleh pulang. Lo tahu kan jalan keluar dari mansion ini?" tanya Aiko.
Diki mengangguk, karena ia sudah melihat setiap inci dan sudut dari mansion ini. Termasuk tempat kerja ayahnya Aiko ini, yang ingin Diki selidiki nanti.
"Terus siksa dia sampai dia mengatakan tentangnya!"