"CK, dasar pria miskin!" hina Alvin tersenyum mencemooh.
Bella tidak terima kalau Diki dihina seperti itu. Ya walaupun Diki baru ia kenal tapi ada sedikit rasa tertarik dan penasaran karena Diki orang misterius baginya.
"Alvin, kamu jangan hina Diki seperti itu dong. " Bella melarang Alvin untuk menghina Diki.
"Yaudah gapapa, aku memang orang miskin, Kok." sambung Diki merendah.
Diki pun mengambil tas ranselnya berniat untuk mencari pakaian lain, walaupun ia bingung karena tidak ada lagi pakaian yang layak.
Tiba-tiba saja Bella merebut tasnya, "Sudahlah Diki, kalau memang tidak ada baju lain kita beli saja yang baru, biar Alvin yang bayar, yah." Bella menatap Alvin berharap kalau Alvin setuju.
"Kenapa harus aku, Bell?" tanya Alvin tidak mengerti dan tidak mau.
"Ya terus mau aku? Ya aku gapapa sih karena sanggup, tapi kamu masa gak malu dikalahkan oleh wanita cuma masalah duit. Katanya kamu milyuner?" sindir Bella lalu melihat ke dalam tas ranselnya Diki.
"Hmm, iya, iya, biar aku deh yang bayar!" Alvin pun akhirnya mau, walaupun harus didesak dulu oleh Bella.
Bella mengerutkan keningnya ketika melihat ada selembar foto wanita muda yang cantik.
"Diki ini siapa?" tanya Bella kepada Diki yang sedang melamun.
Diki pun menoleh ke arah Bella yang menunjukkan foto kekasihnya.
"Bella." Diki merebut foto itu dengan pelan.
"Ini adalah wanita yang aku cintai, aku semangat hidup dan berjuang demi dia. Dia adalah cintaku!" terang Diki lalu memandangi foto kekasihnya Mahira.
Alvin pun merebut dengan paksa foto yang sedang Diki pegang.
Alvin tertawa ketika melihat foto itu, "hmm Lo luar biasa juga ya, bisa dapat wanita cantik kayak dia. Padahal Lo kere banget coy!" Alvin terus saja menghina Diki dan Alvin tidak percaya kalau ternyata ada yang mau dengan pria kere seperti Diki karena selama ini, di matanya wanita itu matre.
Diki tersenyum, "Karena cinta itu buta dan dia mencintai aku dengan tulus, sehingga dia tidak memandang bagaimana kondisiku yang hina ini."
"Udah ah, aku gak mau menyaksikan yang melow-melow kayak gini. Ayo kita berangkat untuk make over Diki dan kita latih supaya dia jadi orang yang pandai dalam memegang senjata!" ajak Bella menuntun Alvin dan Diki keluar kontrakan sempit Diki.
Singkat cerita Diki dibawa ke toko mewah langganan Alvin.
Alvin pun memanggil pramuniaga toko, "Tolong make over pria lusuh ini menjadi menawan! Carikan dia pakaian yang bagus, jas mewah dan sepatu, serta buang janggutnya yang jelek itu!" suruh Alvin.
Diki memang saat ini memiliki janggut yang lumayan tebal karena memang tidak terurus dan janggutnya itu membuatnya menghalangi ketampanannya.
"Baik, Pak. Akan saya laksanakan," jawab pramuniaga toko itu dan mengajak Diki untuk mengikuti dirinya.
"Kamu juga mau belanja, Bell? Kalau mau silahkan saja!" suruh Alvin.
Bella bersemangat, "Aku mau, aku mau cari baju yang khusus untuk wanita bertarung, baju yang dilapisi dengan alat pertahanan yang kuat." terang Bella.
Alvin pun jadi, kepikiran kesana, "Bagus Bell ide kamu, kita akan buat baju pertahanan nanti. Aku akan bicara kepada pemilik toko untuk membuatkan baju khusus untuk menahan serangan yang terbuat dari logam yang tipis dan dimasukan di sela pakaian, ya itu bisa membantu menahan serangan agar tidak terlalu sakit!" terang Alvin sambil memikirkan ide itu.
Sebenarnya Bella asal bicara, tapi nyatanya kalau sudah bicara dengan pemilik perusahaan bersenjata ucapannya jadi, dipikirkan. Bella pun tersenyum.
Beberapa menit kemudian Diki datang dengan gagahnya bahkan sampai Bella dan Alvin pun tidak bisa mengenali Diki yang sedang dibawa oleh pelayan toko.
Bella menyemburkan minuman yang diminumnya karena melihat ada lelaki tampan yang menghampirinya bersama dengan pelayan toko.
Bella terbelalak lalu menggoyangkan tubuh Alvin yang terlihat tertidur karena merasa ngantuk harus menunggu Diki.
"Vin, lihat ini, Vin bangun!"
Alvin pun menggosok matanya dan membuka mata. Mata Alvin terbelalak ketika melihat pria tampan dan gagah yang ada di hadapannya.
"Siapa dia, Bell?" tanya Alvin terkesiap.
Sedangkan Diki ia malah tersenyum dengan memegangi jas mewah yang ia kenakan ini.
Diki pun merasa kalau ini bukanlah dirinya. Jas mewah elegan yang mahal membuat tampilannya menjadi gagah dan sungguh luar biasa tampan. Dalam hidupnya ia tidak pernah membayangkan bisa memakai pakaian seperti sultan ini.
Dan wajah yang sudah di make over dengan perawatan untuk membersihkan wajahnya yang kusam pun sekarang membuat wajahnya bersinar bersih berseri. Janggutnya pun dibuang dan menampakan dagu Diki yang tajam dengan sedikit belahan di tengahnya membuat wajah Diki semakin mempesona.
"Dia, Diki!" jawab Bella terpesona melihat ketampanan Diki.
Alvin kembali menggosok matanya karena takut kalau ia salah lihat.
"Ini, aku Diki!" Diki pun akhirnya berbicara.
"Hah, tuh kan. Berkat gue Lo jadi, ganteng!" Alvin pun ingin selalu jadi, yang berjasa sehingga berkata seperti itu.
"Iya, Alvin. Makasih ya." Diki pun berterima kasih.
"Tampilan kamu ini berubah total, dan membuat kamu terlihat seperti milyuner." puji Bella.
"Amin." Diki malah mengaminkan doa Bella, ia berharap pujian itu menjadi kenyataan.
"Dahlah, kita ini mau cari bapaknya Bella, buka mau gaya-gayaan. Yang jelas gue make over Lo itu agar Lo gak malu-maluin ketiak masuk rumah gue dan bokap gue usir Lo. Jadi, Lo sekarang jangan banyak tingkah!" Alvin cemburu.
"Iya, Alvin. Aku tahu," balas Diki sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
***
Mereka semua sudah sampai di mansion tempat Alvin tinggal.
Diki terenyuh melihat begitu mewah dan indahnya rumah yang seperti istana ini. Ia pernah melihat rumah seperti ini di koran yang hanya bisa ditinggal oleh orang-orang miliarder, Diki tidak menyangka kalau sekarang dirinya bisa masuk ke rumah kerajaan seperti ini.
"Eh, malah mangap! Ayo masuk!" ajak Alvin jutek.
Diki pun mengangguk lalu masuk ke dalam mansion tersebut diikuti oleh Bella.
Begitu masuk mereka disambut oleh para maid di depan pintu masuk yang mengenakan pakaian yang sama dan membungkuk di hadapan Alvin.
"Wah, kita seperti raja saja ya, Vin?" ucap Diki berbisik kepada Alvin.
Alvin hanya menyunggingkan senyuman sombong di bibirnya, lalu mereka pun melangkah ke arah tangga.
Sambil melangkah, Diki terus saja memperhatikan setiap inci dan sudut dinding yang terukir indah sempurna itu.
Tiba-tiba? Di dalam otak Diki ada kelebat bayangan anak kecil yang sedang bermain di rumah mewah yang sama seperti ini. Diki pun berusaha untuk mengingat tapi sayang kepalanya malah menjadi sakit.
"Jalannya lihat ke depan Diki!" ucap Bella yang dari tadi melihat Diki berjalan melihat samping. Bella takut Diki terjatuh karena terus menatap samping.
Tiba-tiba suara sangar menghentikan langkah mereka.
"Berhenti!!!"