Diki menelan salivanya saat pria sangar yang berteriak ke arahnya itu mendekati Diki dan menatap tubuh Diki dari bawah sampai akhir.
"Saya belum pernah lihat dia, Alvin? Dia siapa?" tanya pria paruh baya yang terlihat begitu garangnya dengan tubuh yang kekar dan mata yang melotot.
"Dia teman baru, Alvin. Keturunan keluarga Wington Paman!" jawab Alvin berbohong.
"Oh, mereka ternyata punya keturunan blasteran juga, Paman kira turunan Wington itu anak-anaknya gak ada yang blasteran kayak dia, mereka kan keturunan lokal?"
Alvin tersenyum karena memang keturunan keluarga itu tidak ada yang seganteng dan setampan Diki yang mempunyai hidung mancung dan mata hazel seperti dari keturunan Spanyol.
"Dia beda, Paman. Dia baru datang dari luar negeri dan wajahnya di operasi plastik biar mirip orang luar!" Alvin berbohong agar tidak banyak pertanyaan terus yang keluar dari mulut pamannya yang agresif serta garang.
'Alvin berbohong tentang keadaanku?' dalam batin Diki dan malah ingin tertawa.
"Yasudah kalau begitu."
"Baiklah, kalau begitu aku masuk ya, Paman!" jawab Alvin lalu menarik tangan Bella dan Diki untuk segera pergi dari sana.
Lalu, sampailah mereka semua di kamarnya Alvin. Dan mereka pun duduk di kamar mewah yang luas serta megah itu. Bella sudah sering kesana, jadi dia bersikap biasa saja, tetapi Diki? Dia begitu takjub akan indah dan megahnya kamar Alvin, kamar Alvin luasnya seperti rumah Mahira yang ada di desanya.
"Mangap aja, Lo! Nih, baca!"
Tiba-tiba Alvin memberikan Diki buku untuk dibaca. Diki pun terkesiap lalu membuka buku itu dan membaca isinya.
"Buku tentang persenjataan?" tanya Diki.
"Ya, sebelum Lo langsung menyentuh benda itu. Maka Lo harus cari tahu dulu cara menggunakannya!" titah Alvin.
Alvin ingin Diki membaca dulu cara menggunakan senjata mematikan yang akan mereka pelajari itu, agar Diki mempunyai wejangan untuk memulai.
"Vin, lebih baik kita langsung praktek saja sambil memberitahukannya! Soalnya lama lah, Vin." terang Bella ingin langsung belajar di lapangan karena agar bisa cepat-cepat mencari ayahnya. Bella ingin segera mencari ayahnya itu.
Pria itu nampak berpikir, "Gue takut dia susah belajar!" terang Alvin tertawa.
Diki menatap Alvin, "Aku akan cepat belajar, demi Pak Harianto yang harus segera kita temukan." Diki bertekad untuk belajar dengan cepat.
Baiklah Alvin pun akhirnya menyetujuinya. Lalu, Mereka pun pergi masuk ke dalam markas khusus penyimpanan persenjataan.
Diki lumayan gugup melihat senjata api itu. Ia tidak pernah melihatnya sedekat dan se-asli ini.
"Untuk sekarang, kita hanya akan belajar cara menembakan peluru ke arah yang tepat! Dan kita hanya akan belajar dengan senjata api kecil ini saja, walaupun kecil tapi senjata api ini sangat mematikan." terang Alvin sambil memegang senjata api itu dengan sangat lihai dan keren. Lalu, Alvin memasukan peluru itu ke dalam senjata api yang dipegangnya dan mengaktifkannya.
Diki memperhatikan ketika Alvin mencontohkannya cara untuk mengisi peluru dan mengaktifkan senjatanya. Alvin menjelaskan semuanya dengan sangat detail, tetapi tiba-tiba saja.
Dorrr!!!
Tiba-tiba saja Alvin melayangkan peluru ke penjuru jendela luar.
Diki terkesiap dan tidak menyangka kalau Alvin langsung menembak tiba-tiba.
"Terkejut?" tanya Alvin.
Diki menganggukan kepalanya pelan.
Sedangkan Bella? Ia juga terkejut dan terkesiap, hanya saja ia sudah biasa karena memang sering ke rumah Alvin.
"Ketika kita berhadapan dengan musuh, kita tidak tahu kapan mereka akan menyerang ke arah kita. Jadi, kita harus selalu waspada dan menyiapkan mental serta senjata yang sudah matang. Lo lihat itu?" Alvin menunjuk ke luar jendela.
"Gue gak sembarangan menembak, di luar itu ada burung yang melintas. Tatapan yang harus Lo punya itu harus tajam dan fokus, agar Lo bisa mengenai sasaran, walaupun gue melihatnya dari samping, tapi tatapan gue fokus," terang Alvin, lalu mereka bertiga pun pergi keluar untuk melihat apa yang Alvin bilang soal burung yang telah ia tembak.
Dan benar saja begitu sampai di luar mansion itu, mereka bertiga melihat ada burung yang sudah terkapar tidak berdaya karena terkena tembakan Alvin. Kondisi burung itu mengenaskan dan tubuhnya hancur.
Alvin tersenyum, "Lihat kan keahlian gue?" tanya Alvin sombong.
Diki pun merasa kagum dengan keahlian Alvin.
"Ya, Alvin. Kamu luar biasa keren. Aku, jadi teringat akan orang jahat yang telah menculik Pak Harianto itu, mereka orangnya kuat-kuat dan menembak dengan sangat lihai, untung saja aku bisa menghindarinya," jelas Diki.
Diki pun menceritakan tentang pertarungannya dengan para penjahat yang telah membawa Pak Harianto, dan menceritakan bagaimana dirinya bisa lolos.
Sedangkan Bella ia terus mengamati. Bella juga ingin belajar untuk bisa memegang senjata api.
"Ya berarti mereka memang bukan orang sembarangan. Kita harus benar-benar membuat persiapan mental serta taktik pintar. Sekarang kita mulai, coba Lo pegang senjata ini!" Alvin menyuruh Diki untuk memegang senjata.
Tidak seperti pemula biasanya, Diki malah terlihat biasa saja saat memegang senjata itu. Diki terlihat santai dan tidak gemeteran. Biasanya orang pemula yang baru memegang senjata itu pasti akan ada rasa kaku dan gugup, tapi Diki tidak dia malah memegang itu seperti memegang mainan saja.
Alvin pun merasa aneh dengan respon dari Diki, yang tidak terlihat gugup saat memegang senjata itu.
"Sekarang, Lo masukan peluru serta aktifkan senjatanya!" suruh Alvin.
Tadi Alvin hanya memasukan satu peluru sehingga ia menyuruh Diki untuk memasukan peluru lagi.
Bella yang membawa peluru untuk cadangan latihan pun langsung memberikan peluru itu terhadap Diki. Sekarang mereka sudah berpindah tempat ke lokasi tempat khusus berlatih menembak.
Diki pun menuruti apa yang Alvin perintahkan dan langsung mengisi senjata api itu dengan peluru. Diki langsung paham walapun Alvin menjelaskannya dengan satu kali penjelasan saja.
"Coba Lo tembak tanda itu!" Alvin menunjuk ke gambar bulatan yang memang sudah biasa menjadi sasaran tembakan orang yang sedang belajar.
Diki pun di pakaikan penutup teliga serta kacamata khusus, karena ia masih belajar.
Sedangkan Bella? Ia duduk mengamati di belakang mereka.
Diki pun mengangguk lalu merentangkan tangannya ke depan dengan memegangi senjata api itu. Diki menatap tajam ke arah sasaran dan fokus menatap tanda itu.
Alvin menghitung satu, dua, tiga.
Dorrr!!!
Diki menekan pelatuk dan hampir berhasil mengenai tanda yang sudah di siapkan itu, hanya melenceng lima sentian saja.
Alvin tertawa, "Cukup bagus untuk pemula! Hampir-hampir!"
Diki pun tersenyum karena bisa menembak dengan lihai seperti itu, padahal dirinya baru pertama kali menekan pelatuk itu.
Sedangkan Bella ia langsung tepuk tangan karena takjub Diki bisa langsung hampir mengenai sasaran, Diki memang mempunyai kemampuan dan skill hebat yang jarang di temukan oleh orang biasa.
"Sekarang! Tembak ke arah kepala, Lo!"