"Apa maksudnya, Alvin?"
Bella sungguh terkejut mendengar apa yang telah Alvin katakan.
Sedangkan Diki ia juga tertegun mendengarnya. Masa Alvin menyuruh dirinya untuk bunuh diri?
Alvin tertawa, "Nyali Lo sampai mana? Gue mau tahu?" selidik Alvin.
Alvin ingin menguji nyali Diki, apakah Diki akan menerima tantangan dari Alvin? Atau langsung menciut ketika Alvin mengatakan itu?
"Kalau Lo mau melanjutkan latihan ini, maka turuti apa yang gue katakan! Lakukan itu di kepala Lo saat gue memberikan aba-aba!" suruh Alvin.
Bella tidak terima dan langsung melarang Alvin untuk menyuruh Diki berbuat seperti itu.
"Jangan ini bahaya, itu tandanya Alvin ingin kamu mati, Diki. Ayo, kalau seperti itu kita pergi saja! Kita berdua bisa cari bapak!" Bella langsung menggusur tangan Diki untuk pergi. Alvin gila? Mana mungkin Diki harus latihan uji nyali seperti ini?
Diki menatap Alvin, ia yakin kalau Alvin hanya mengujinya saja. Maka, kalau begitu ia akan menuruti semua yang Alvin perintahkan.
Diki melepaskan tangan Bella yang sedang menggusurnya.
"Aku akan tetap latihan, Bell."
Diki pun langsung mengambil kembali senjata api yang tergeletak di meja.
Alvin menyeringai dan menatap Diki. Alvin memperhatikan apakah tubuh Diki akan gemetaran atau bagaimana saat meletakan senjata api itu di kepalanya?
Alvin menelan salivanya, ternyata Diki tidak gemetaran saat memegang senjata api yang sudah terletak di kepalanya.
"Oke, Diki. Kalau gue udah hitung sampai tiga, maka Lo tekan pelatuknya. Sekarang tanpa pengaman apa-apa, oke." Alvin sungguh-sungguh.
"Jangan Diki, ini kamu mau bunuh diri atau bagaimana? Aku penasaran akan siapa kamu Diki, ayo kita cari bapak dan kita ungkap siapa kamu! Jangan mati dulu, Diki!" ajak Bella menahan Diki.
Diki tidak menggubris apa yang Bella katakan. Tatapannya terfokuskan terhadap Alvin yang sama-sama menatap tajam dirinya.
Alvin mendekati Diki dan sekarang tubuhnya berhadapan dengan Diki dengan jarak setengah meteran saja.
"Satu! Dua …," Alvin tersenyum melihat Diki yang masih menatap tajam dirinya dengan senjata api yang sudah ada di kepalanya.
Sedangkan Diki ia bersiap dengan tubuh yang tidak bergetar.
"Ti----"
Dorrr!!!
Alvin langsung mengarahkan senjata itu ke langit.
Ya Alvin hanya ingin mengukur dimana ketegangan Diki saat Diki sedang berada di dalam bahaya.
Sedangkan Diki ia tersenyum, ia juga tidak sebodoh itu. Diki tadi memang mengarahkan senjata api itu terhadap kepalanya, tapi pas hitungan ketiga, ia melenceng-kan senjata api itu untuk menggeser ke bagian belakang, tapi tiba-tiba saja Alvin sendiri yang langsung mengarahkan senjata api itu ke atas.
Bella dari tadi menutup matanya karena tegang. Pas ia mendengar suara tembakan ia pun menutup telinganya.
"Good job! Lo benar-benar bukan orang biasa, Diki!"
Bella langsung membuka matanya, ia terkejut karena ternyata Diki baik-baik saja.
Sedangkan Diki ia pun langsung memeluk Alvin.
"Aku tahu kamu tidak sejahat itu!"
Alvin langsung melepaskan dekapannya.
"Ih, jangan sok peluk-peluk. Gue mau nolongin Lo karena ingin selamatkan Pak Harianto bersama. Karena Lo yang tahu ciri-ciri penjahat itu!" tandas Alvin.
***
Sekarang Diki bersama Bella dan Alvin sedang berada di lokasi saat Diki menyelamatkan pria paruh baya yang ternyata Pak Harianto itu.
Diki menunjukan setiap tempat yang ia lewati. Dan mereka bertiga berharap menemukan sesuatu disana, seperti petunjuk atau apapun itu bentuknya. Lalu, mereka bertiga pun mengecek lokasi dimana Diki hampir ditembak oleh penjahat itu.
Alvin menahan Diki yang sedang berjalan.
"Inikah, peluru yang akan ditembakkan ke arah, Lo?" tanya Alvin yang tidak sengaja menemukan peluru yang sudah tertimbun dengan sedikit tanah, tapi walaupun begitu, Alvin sangat jeli sampai bisa menemukannya.
Diki pun menghampirinya, "Ya mungkin saja itu," jawab Diki.
"Ayo kita kembali ke mansion, akan aku cek merek peluru ini di laptop!" ajak Alvin.
***
Alvin membuka laptopnya yang tertinggal di mansion.
Sedangkan Diki, ia menemani Alvin duduk di sampingnya bersama Bella.
Alvin terlihat sedang mengetik sesuatu. Diki pun terus memperhatikan dan merasa ia sering memegangi benda itu dulu. Mungkinkah itu mimpinya? Atau apa? Pikir Diki tidak mengerti, tapi ia merasa tidak aneh dengan benda itu.
Alvin mengecek data nama peluru seperti itu di laptopnya menggunakan web.
Diki tahu apa yang dimaksudkan oleh Alvin, ia ingin mencari tahu dimana tempat pembelian peluru itu, lalu akan mengecek siapa yang membelinya.
"Alvin, tunggu! Biar aku yang melakukannya!"
Diki ingin mengetik sesuatu yang ada di dalam otaknya, entah apa yang ia pikir karena ia merasa sering sekali menggenggam benda kotak tipis seperti itu dalam mimpinya.
Alvin dan Bella terlihat menatap aneh ke arah Diki, seolah ragu akan kemampuan teman mereka ini, tapi Alvin teringat akan kemampuan Diki soal bermain senjata api, jadi ia pun membolehkan Diki untuk berbuat yang ia mau.
Alvin pun memberikan laptopnya kepada Diki.
Diki membuka web yang ada di ingatannya. Diki mengingat kalau nama web pelacak nama produk-produk yang pernah ia buka dulu. Entah apa ini? Hanya saja bayangannya soal mengetikkan sesuatu, Diki mengingat itu.
Diki terus mengetik nama peluru itu di web lalu munculah berbagai informasi yang diperlukan.
"Di toko dekat perbatasan tempatnya!" gumam Diki sambil memegangi kepalanya. Diki berhasil menemukan lokasi penjualan peluru dengan merek tersebut.
Nyatanya kepala Diki sakit karena dari tadi mencoba mengingat sesuatu yang terus ada di dalam benaknya. Hanya saja bayangan kakek tua dan anak kecil yang terputar di adegan otaknya itu.
Alvin pun langsung menelpon seseorang untuk menyelidiki siapa saja yang biasa membeli peluru dengan merek itu.
Bella menepuk pundak Diki.
"Ternyata kamu juga bisa menggunakan laptop!" puji Bella.
Bagaimana Bella tidak menyangka kalau Diki bisa melakukan ini, nyatanya saja kan Diki berasal dari kampung.
Diki juga merasa aneh dengan dirinya, yang tiba-tiba bisa menggunakan laptop dengan nalurinya dan bayangan di memorinya itu, rasanya ia ingin segera menemui Pak Harianto untuk memecahkan jati dirinya yang penuh teka-teki ini. Gara-gara Bi Ina saudaranya yang tidak mau mengatakan yang sejelasnya. Dirinya jadi, merasa penuh teka-teki seperti ini? Berada di tempat mewah serta berteman dengan milyuner kenapa bisa membuat Diki berhalusinasi seperti ini? Ya Diki menyimpulkan bahwa dirinya berhalusinasi karena selalu ada bayangan aneh menerpa otaknya.
Tiba-tiba saja ia pun teringat kepada Mahira. Hatinya tiba-tiba terasa sakit akan kerinduan yang menyapa hatinya.
'Mahira, aku merindukan kamu. Sedang apa kamu sekarang?' dalam batin Diki memikirkan kekasihnya yang jauh di desa itu.
"Sambil menunggu kabar dari suruhan gue, coba jelasin sama gue bagaimana ciri-ciri penjahat itu?"