M a s C a p t a i n
Sabtu, 07:30 WIB
Meja makan
Iona dan Arkan saat ini sedang menyantap sarapan dalam keadaan hening.
Ddrrt.
Handphone Iona berbunyi. Gadis itu mengambil handphone lalu menatap layar.
"Pak mama nelpon." Ucap Iona.
Arkan menatap Iona, "mama siapa?"
"Ya mamanya bapak lah pak Arkan!" Geram Iona.
"Oh, ya angkat gak perlu lapor." Ucap Arkan lalu melanjutkan makannya.
Iona menggeser panel hijau, mengangkat panggilan dari sang mertua.
"Assalamualaikum Iona.." Ucap mama Sari diseberang
"Waalaikumsalam ma," Ucap Iona.
"Pagi ini kalian sibuk gak?"
"Maksud mama Iona sama pak--ehm mas Arkan?" Ralat Iona cepat.
mendengar itu, Arkan menatap Iona.
"Iya sayang. Kamu sama suami kamu."
"Iona sama mas Arkan gak sibuk kok ma. Emang kenapa ma?"
"Ada keluarga besar datang, Kakek nenek Arkan juga dateng. Kamu sama Arkan bisa datang kesini?"
"Bisa ma bisa, Iona sama mas Arkan pasti dateng kok."
"Yaudah kalau gitu mama tunggu ya, hati-hati kesininya."
"Iya ma,"
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam."
Nit.
"Kenapa?" Tanya Arkan.
"Anu pak keluarga besar bapak dateng dan kita disuruh kesana." Ucap Iona.
Arkan mengangguk tanpa menjawab.
Oke, kacang mahal kacang mahal tapi cabe malah murah. Ups
Beberapa menit kemudian...
Kegiatan sarapan sudah selesai. Iona membawa piring bekas makan ke wastafel untuk dicuci.
Arkan menatap Iona sembari memakai jaket.
"Gak usah dicuci biar ART aja." Ucap Arkan.
Iona menoleh sekilas, "gapapa pak saya takut suami saya brewokan."
Arkan mengernyit.
"Saya gak brewokan." Ucap Arkan.
Iona mengangguk, "berarti bapak bukan suami saya."
Arkan menyipit tajam, "maksud kamu?" Suara Arkan dingin namun terdengar marah.
"Iya, bapak bukan suami saya tapi ayah dari anak-anak saya." Ucap Iona sembari tersenyum ke arah Arkan.
Arkan menatap Iona datar.
"Dih senyum dong pak kalo senyum kan ketamvanan bapak terpancar." Ucap Iona sembari mengelap tangannya di kain.
"Cepet siap-siap, saya gak akan bawa perasaan hanya dengan kata seperti itu." Ucap Arkan.
Iona menatap Arkan remeh "hilih paling dalem hatinya jedag jedug itu..." Goda Iona.
Arkan mengeluarkan tatapan tajam mautnya membuat Iona ciut seketika.
"Siap mas captain!!!" Ucap Iona dengan gerakan hormat lalu segera bersiap-siap.
M a s C a p t a i n
Rumah Mertua, 08:10 WIB
Iona dan Arkan menuruni mobil setelah diparkir. Mereka berjalan masuk beriringan.
"Assalamualaikum." Ucap Iona dan Arkan.
Semua keluarga besar yang sedang mengobrol ria menoleh menatap kearah pintu.
"Waalaikumsalam..." Jawab semua orang
"Ehh pengantin baru udah dateng.." Ucap Sari.
Iona tersenyum. Matanya menatap semua orang yang tengah berkumpul.
Arkan dan Iona berjalan menghampiri kakek dan nenek. Mencium lembut tangan mereka terlebih dahulu.
Mereka lalu beralih mencium tangan Sari dan Arlan serta saudara yang lainnya.
Setelah bersalaman, Iona dan Arkan bergabung dengan keluarga besar. Mereka semua berbincang-bincang ria.
"Halo dedek namanya ciapa?" Iona menyapa bayi yang berada dipangkuan Nabila kakak sepupu Arkan.
"Halo tante Iona, nama aku Hasya." Ucap Nabila mewakili sang anak sembari melambaikan tangan Hasya.
"Hasya..." Iona mencubit lembut pipi gembul Hasya.
"Hasya umur berapa kak?" Tanya Iona sembari memainkan jari mungil Hasya.
"Seminggu lagi setahun." Ucap Nabila.
"Wahhh Hasya mau ulang tahun ya seminggu lagi..." Ucap Iona dengan suara khas anak kecil.
Nabila tertawa.
"Boleh aku gendong kak?"
"Boleh boleh. Hasya sama tante Iona yaa.." Ucap Nabila lalu memberikan Hasya pada Iona.
Iona menggendong Hasya dengan hati-hati lalu berdiri. Ia membawa Hasya jalan-jalan disekitar teras rumah melihat kupu-kupu.
Hasya terus menatap Iona membuat Iona gemas dibuatnya. Iona tersenyum lalu menggoda Hasya.
"Nih susunya Hasya."
Suara itu membuat Iona menoleh dan menemukan Arkan.
Iona mengambil botol s**u dari tangan Arkan.
"Makasih pak." Ucap Iona.
Arkan mengangguk.
Iona membuka tutup botol lalu memberikan s**u pada Hasya.
"Mamamaama." Hasya mengoceh sembari menggelengkan kepala tanda menolak.
Kemudian Hasya merentangkan tangannya kearah Arkan.
"Pak Hasya mau digendong sama bapak." Ucap Iona.
Tanpa beban, Arkan menggendong Hasya. Sesekali mengajaknya berbicara.
Iona ikut bergabung dalam percakapan Arkan dan Hasya.
Hal itu menarik perhatian Rizki ayah dari Hasya untuk meledeki keduanya.
"Cepet bikin momongan, Ar! Papa sama mama udah gak sabar pengen nimang cucu tuh!" Ucap Rizki dengan tawa jahilnya.
Arkan dan Iona menoleh secara bersamaan.
Iona menanggapinya dengan kekehan.
"InsyaAllah nanti malem." Ucap Arkan.
Iona sontak melotot ke arah Arkan.
Tubuhnya mendadak kaku.
Lidahnya kelu.
Jantungnya berdetak abnormal.
Yaampun! Benteng pertahanan gue!!!
M a s C a p t a i n
12:30 WIB
Semuanya berkumpul membentuk lingkaran dilantai yang beralaskan karpet untuk makan siang bersama.
Iona, Nabila, dan Dinda bertugas untuk menghidangkan makanan.
Setelah semua makanan terhidangkan. Ketiga wanita tersebut beralih untuk duduk.
Iona duduk disamping Arkan.
"Saya ambilin ya pak?" Ucap Iona setengah berbisik.
Arkan mengangguk.
Iona mulai menyidukkan nasi untuk Arkan.
"Untuk bang Arkan aku ambilin ya." Ucap seseorang.
Kegiatan Iona menyiduk nasi terhenti.
Iona dan Arkan menoleh menatap orang itu.
Orang itu adalah Nia adiknya Nabila.
Saat berkenalan dengan Nia. Iona merasa Nia kurang menyukainya hal itu kentara sekali saat ia bersalaman dengan Nia, gadis itu membalasnya dengan ogah-ogahan.
Tapi Iona tak memperdulikan itu. Tidak masalah Nia tidak menyukainya yang terpenting semua keluarga Arkan menyukai dirinya.
Nabila yang melihat itu menegur sang adik namun tak digubris.
Arkan menatap Iona dan Iona mengangguk kecil.
"Ini untuk saya aja." Ucap Iona lalu menyidukkan nasi untuk dirinya sendiri.
"Tante Ona aku mau itu.." Ucap balita laki-laki menunjuk buah semangka.
Iona menatap balita yang ada disampingnya sembari tersenyum lalu mengambilkan apa yang balita tersebut inginkan.
"Ini semangka untuk Zaky." Ucap Iona.
"Bilang apa sama tante Iona?" Itu adalah suara Novi ibunya Zaky.
"Maacih tante Onaaa." Ucap Zaky dengan suara menggemaskan.
Iona mengangguk sembari tersenyum lalu menyubit gemas pipi Zaky. Anak laki-laki berumur 3 tahun itu.
-
-Dapur
Kegiatan makan siang bersama sudah selesai. Kali ini Iona dan Nia yang kebagian membereskan piring-piring.
Sedangkan Nabila dan Dinda kebagian membersihkan karpet dan lain sebagainya.
Iona menaruh tumpukan piring ke tempat cuci piring disusul Nia.
"Aduhh kayaknya gue gak bisa bantu lo, gue ada urusan. Lo aja ya gapapa kan?" Ucap Nia dengan alis terangkat sebelah.
Sebelum Iona menjawab, Nia lebih dulu pergi.
Iona menatap tumpukan piring yang lumayan banyak.
"Gapapa Iona sabar...ini pahala." gumam Iona. Ia mengangguk lalu mulai mencuci piring.
"Om Alkan ambilin yogut."
Iona menoleh sekilas melihat Zaky sedang menarik-narik tangan Arkan memasuki dapur.
"Iya iya om Arkan ambilin." Ucap Arkan lalu menggandeng Zaky menuju kulkas.
Netra Arkan melihat Iona yang sedang mencuci piring.
"Lasa stobeli om." Ucap Zaky.
Arkan mengangguk lalu mengambilkan yogurt untuk Zaky.
"Ayo." Ucap Arkan lalu keluar dapur.
Iona menoleh. Ia menatap tak percaya Arkan.
Hello! Ia segede ini tapi suaminya itu gak ada inisiatif untuk membantunya?
Ini tuh keluarga besar lho! Piringnya banyaknya bukan main.
Iona mendengus. Kalo bukan suaminya sudah ia sumpah serapahi. Tapi Iona tidak mau takut karma berbalik padanya.
Iona pun kembali fokus mencuci piring sembari bersenandung.
"Ehh--" Ucap Iona terkejut lalu menoleh cepat saat merasakan rambutnya dipegang seseorang.
Ternyata itu adalah Arkan yang saat ini sedang mengikatkan rambut panjang Iona.
"Supaya gak ribet." Ucap Arkan.
Iona mengulum senyum lebar.
Arkan menggulung lengan kemeja, "kamu yang nyuci saya yang bilas." Ucapnya.
Iona mengangguk dengan senyuman yang terus mengembang.
ADUH KOK GUE BAPER SIH?
MASA IYA GUE DEMEN SAMA DIA.
GAK! OMEYGAT!
YA KALI GUE DEMEN SAMA OM-OM
M a s C a p t a i n