M a s C a p t a i n
Keesokan harinya..
Jum'at , 08.30 wib
Hari ini adalah hari yang paling bersejarah. Dimana dua manusia berbeda jenis kelamin disatukan oleh takdir dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Iona menatap pantulan wajahnya yang sedang di makeover dari cermin.
"Mbak ini gak ketebelan?" Tanya Iona merasa makeup di wajahnya terlalu tebal dan menor.
"Et si Yona! Udah lo diem aja mbak periasnya yang paling tau! Udah lo diem!" Itu suara Cia.
"Makeup pengantin memang seperti ini sis. Malahan sistah tambah cantik." Ucap perias tersebut
Iona mengulum senyum.
"Anjir sahabat gue nikah dong!!!" Pekik Thea.
"Iyalah emang lo jomblo karatan." Ucap Cia.
"Sst diem bego gua lagi rekam ini!" Ucap Thea.
Cia yang sedang memperhatikan Iona menoleh menatap Thea. Ia geleng-geleng kepala. Aneh.
"Hii gaes, hari ini Iona Putri bakalan menikahhh nah ini mukanya gaes cangtip syekalih epribadehhh!" Thea merekam wajah Iona dan segera ditutupi oleh kedua tangan Iona.
"Oke gaes calon pengantinnya malu-malu kita lanjut nanti pas akad ya gaes..." Ucap Thea di kamera. Ia lalu mem-pause rekamannya.
"Gila mukanya Iona beda banget sampe pangling gue." Ucap Thea lagi mendrama sambil tersenyum menatap Iona dari pantulan cermin.
"Oke udah selesai. Duh duh duh sistah cantik banget." Ucap perias lalu merapihkan alat makeup.
Iona terkekeh. Cia dan Thea mengangguk setuju.
Cklek.
Pintu terbuka menampakkan mama dan tante Sari.
Ternyata keluarga calon mempelai pria sudah tiba.
"Kamu tambah cantik Iona." Puji tante Sari sembari menyentuh dagu sang calon menantu.
"Makasih tante." Ucap Iona pelan sembari tersenyum.
"Ayo kita keluar, akadnya udah mau dimulai." Ucap Arini.
Iona mengangguk. Lalu Sari dan Arini berjalan dikedua sisi Iona. Menggiring pengantin wanita untuk turun ke lantai bawah.
Thea mengambil ponselnya dikasur dan mulai merekam.
"Udah ge gak usah direkam malu-maluin!" Bisik Cia.
"Ck elah biarin aja sih buat kenang-kenangan." Ucap Thea.
Sesampainya dibawah, semua mata memandang Iona yang terlihat sangat cantik. Banyak yang tersenyum dan mengagumi wajah cantik Iona.
Arkan menatap Iona membuat Iona dibuat malu. Kemudian Arkan mengalihkan pandangannya ke penghulu didepannya.
Iona beralih duduk dengan anggun disamping Arkan. Lalu Tante sari memakaikan seutas kain di kepala kedua pengantin.
"Baik kita mulai," Ucap penghulu sembari mengulurkan tangannya.
Arkan membalas uluran tersebut. Tangannya mendadak gemetar.
Sebelum memulai, pak penghulu berdeham.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Zacharie Arkanzo Barack bin Arlando Muhamad Barack dengan Iona Putri binti Amrizal Sholehudin dengan maskawin seberat 100 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap penghulu.
Arkan menghirup napas dalam. "Saya terima nikah dan kawinnya Iona Putri binti Amrizal Sholehudin dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
Iona menahan air matanya yang hampir luruh mengingat ia takut maskara di matanya nanti bisa luntur.
"Bagaimana para saksi? Sah?" Ucap penghulu
"SAH!" Ucap para tamu antusias.
"Alhamdulillah, Al-Fatihah." Ucap penghulu.
Semua orang mengadahkan tangan lalu berdoa.
Setelah berdoa, Arkan memakaikan cincin ke jari manis Iona.
Iona menatap wajah Arkan yang setiap hari selalu tampan dan segar.
Arkan menatap Iona membuat gadis itu mengalihkan pandangan lalu memakaikan cincin ke jari manis Arkan.
Iona kemudian mencium punggung tangan Arkan dengan lembut. Lalu Arkan mencium kening Iona.
Disana Thea seperti cacing kepanasan melihat adegan sahabatnya yang membuat jiwa jomblo akutnya meronta-ronta.
"Nikah makannya jangan virtual mulu, nyesek." Sindir Cia.
M a s C a p t a i n
"Aaaa Iona lo udah sah!" Pekik Thea saat kebagian untuk salaman dengan kedua pengantin.
Cia yang melihat itu menarik napas lalu membuang mukanya sambil menepuk kening.
Sumpah demi apapun Cia malu.
Iona tertawa lalu keduanya berpelukan.
Sebelum melepaskan pelukan, Thea berbisik. "Malem pertama semoga lancar." Ucapnya terkikik.
Pelukan mereka terlepas. Iona memelototi Thea.
"Samawa ya...longlast until jannah!" Ucap Thea heboh pada Iona.
"Gini amat punya sahabat." Batin Iona.
Iona mengangguk sembari tersenyum. "Makasih Thea."
"Gatau lagi gue...malu!" Bisik Cia pada Iona setelah mendapat giliran.
Iona hanya tertawa kecil.
"Samawa ya bebeb." Ucap Cia diangguki Iona.
"Makasih Cia." Iona tersenyum.
Iona menghela saat melihat antrian tamu yang masih banyak.
"Pak," Panggil Iona.
Arkan menoleh sekilas.
"Hm?"
"Capek pak."
"Bentar lagi selesai."
Iona bungkam dengan bibir manyun kedepan. BENTAR LAGI MULU.
PEGEL NIH GUE!
SELESAI ACARA POKONYA LU HARUS GENDONG GUE!
BODO AMAT!
Setelah bersalaman dengan para tamu selesai, kini saatnya sesi foto dengan keluarga.
-
20.00 wib
Acara sudah selesai.
Dan malam ini Arkan memutuskan untuk langsung tinggal di rumah miliknya. Rumah yang ia beli dari gaji yang ia tabung.
Dan sekarang semua keluarga kedua belah pihak sedang berkumpul di ruang keluarga rumah orangtua Arkan. Suasana mendadak mellow karena Iona akan diboyong Arkan.
Iona memeluk Arini.
"Ma, maafin Iona kalau ada salah. Mama jaga diri baik-baik ya." Ucap Iona ditengah pelukannya.
"Iya, kamu harus patuh sama suami kamu."
Keduanya melepaskan pelukan. Arini mengusap pipi Iona sejenak.
Iona mengangguk sembari menyeka air matanya. Kemudian ia beralih memeluk Amri.
"Pa, maafin Iona kalau ada salah. Papa jaga kesehatan ya jangan kebanyakan merokok." Ucap Iona.
Keduanya melepaskan pelukan. Amri mengangguk seraya tersenyum lalu mengusap air mata Iona.
"Kak Iona..." Ucap manja seorang gadis lalu memeluk Iona erat.
"Kakak jaga diri baik-baik ya kak." Gadis itu melepaskan pelukan. Menatap Iona lekat.
"Kakak harus sabar ngadepin bang Arkan, dia orangnya cuek parah, irit ngomong, ngeselin, ucapannya nyelekit banget karena dia tuh orangnya to the point gak suka bertele-tele. Pokonya siapin kekuatan aja kak saran aku supaya gak kena mental." Ucap Jasmine panjang lebar.
Arkan menatap sang adik tajam. Sedang yang ditatap nyengir tak berdosa.
"Ternyata bukan gue doang yang ngerasa kek gitu. Jasmine juga. Duh bakalan bertahan berapa lama ya gue sama pak Arkan?" Batin Iona.
Iona terkekeh kemudian mengangguk.
"Pasti." Ucap Iona.
M a s C a p t a i n
Rumah Arkan, 20.30 wib
Iona memandang sekeliling rumah Arkan yang lumayan besar. Ia lalu menggeret koper ke sofa dan duduk disana.
Iona menguap. Ngantuk sekali ditambah tubuhnya pegal seperti ingin remuk.
"Pak ini beneran rumah bapak?" Tanya Iona pada Arkan yang baru masuk bersama kopernya.
Arkan tak menjawab. Ia langsung berjalan ke sebuah kamar.
Iona mengerutkan dahinya. "Ditanya malah gak dijawab. Positif thinking aja mungkin pak Arkan congenya numpuk." Iona bermonolog.
Mata Iona menyipit melihat sebuah foto di bingkai. Ia lantas menghampiri benda tersebut dan mengambilnya.
Iona mengulum senyum menahan tawa melihat foto tersebut. Disana terdapat anak kecil sedang memegang lolipop sambil nyengir memperlihatkan gigi besar yang tidak rata.
"Kenapa kamu?"
Suara itu membuat Iona menoleh dan menemukan Arkan.
Arkan menatap benda yang dipegang Iona lantas merebutnya cepat.
"Coba pak nyengir?" Ucap Iona sambil menahan tawanya.
Arkan memalingkan wajahnya dengan ekspresi malas.
"Udah malem, tidur." Singkat Arkan tak bernada.
"Nyengir dulu pak mau saya samain sama foto kecil bapak." Ucap Iona. Walaupun ia sudah tahu gigi milik Arkan tertata sangat rapi namun Iona hanya ingin mencairkan suasana.
"Gak lucu. Gak usah ketawa."
"Ih kata siapa? Lucu tau." Ucap Iona.
Arkan mendengus. Ia menaruh foto tersebut ke tempat semula, lalu menarik tangan Iona dan gagang koper menuju sebuah kamar.
Iona menatap kamar yang terdapat koper milik Arkan.
"Lho kenapa ada koper bapak?"
Arkan mengangkat sebelah alisnya.
"Kita gak pisah kamar?" Ucap Iona lagi.
"Kamu istri saya bukan musuh." Ucap Arkan.
"Anjir gue dianggap istri cuyy! Gue kira kagak." Batin Iona sambil menahan senyum.
"I-iya pak." Ucap Iona masih menahan senyumannya. Iona pun masuk kedalam kamar.
_
Iona menatap sekeliling kamar Arkan yang luas dan rapi. Ada beberapa miniatur pesawat dan juga foto Arkan saat kelulusan sekolah penerbangan yang terpajang di dinding.
Arah pandang Iona berhenti di Arkan yang baru saja datang. Selalu sama, wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Ini kita.. ehm maksudnya Pak Arkan sama saya tidur satu..." Iona tidak melanjutkan perkataannya.
"Kamu mau tidur dimana emang?"
Iona mengangkat kedua alisnya. Entah kenapa berduaan di dalam kamar bersama Arkan membuat hawa menjadi panas dan gugup.
"Kasur... lah." Dari nada bicara Iona yang ambigu yang Arkan dengar, terlihat jelas kalau Iona sedang gugup.
"Kamu gak nyaman seranjang sama saya?"
Iona menggeleng cepat. "Ehh gak gitu. Saya cuma ehm..belum terbiasa."
Arkan tidak mengatakan apapun lalu berjalan menuju sofa di kamar setelah mengambil bantal.
"Kamu bisa tidur di kasur." Ucap Arkan lalu melenggang ke kamar mandi.
Iona menatap ke arah bantal yang tergeletak di sofa. Ia jadi tidak tega membiarkan Arkan tidur di sofa.
BENER-BENER LU YON.
PARAH LU!
PAK ARKAN YANG PUNYA KAMAR, MALAH LU YANG NGATUR.
TAPI GIMANA LAGI GUE BELUM BISA SERANJANG SAMA PAK ARKAN.
MAAFIN SAYA PAK.
SEMOGA BAPAK DIBERIKAN AKHLAK YANG MULIA SEHINGGA TIDAK MENGUTUK SAYA.
M a s C a p t a i n