11

1366 Kata
M a s C a p t a i n "Seperti biasa!" Ucap Arini. Iona hanya berdeham. Jika Arini berkata demikian, itu artinya ia harus membereskan rumah seperti mencuci piring bekas sarapan saat ini. "Mama mau kemana?" Tanya Iona saat melihat Arini berpakaian rapi. "Mama mau arisan." Setelah menjawab, Arini berlalu keluar. Hari ini Iona tidak masuk kuliah. Karena kata mama, Arkan akan datang. Iona bingung untuk apa om om itu datang. 20 menit kemudian... Iona merebahkan tubuhnya di kasur setelah pekerjaan rumahnya selesai. Rumah sudah kinclong, bersih, nyaman dan wangi. Iona memang rajin ya pemirsah. Ia beralih ke ponsel. Membuka grup chat. Ciwi ciwi somplak? Grup Basoaci Yon ingat pesan gue, jangan sampe pas malem pertama lo ngompol yon ? Theatea Anjir ngakak ci belom juga nikah udah kawin aja???tapi sih kalo lo belom mahir soal anu konsultasikan aja ke cia dia kan ahli udah pake predikat spesialis Theatea •stiker ngakak kwon yu-li Basoaci •stiker fu*k Basoaci Najis tralala. Laki aja belom punya gimana bisa berpengamalan Theatea Berpengalaman supriyanto! Basoaci •stiker bocil mirip dora cuma mukanya item Iona terkekeh lalu terhenti menscroll lebih lanjut saat bel pintu berbunyi. Ia melempar ponsel ke kasur lalu berlari turun kebawah. "Tunggu!" Pekik Iona saat orang itu terus menerus menekan bel. CKLEK. Iona membuka pintu dan hendak marah namun tidak jadi saat matanya menangkap sesosok pria tampan berdiri menjulang di depan pintu. Gadis itu terpaku. Menikmati pemandangan yang sayang kalau dilewatkan. Detik berikutnya Iona mengerjap saat Arkan menjentikkan jarinya. Aha! Iona punya ide. "I'm sorry who are you?" Tanya Iona berlagak menjadi oon. Dan sok ke bule-bule-an padahal mah bulepotan. Arkan menatap Iona malas. "Gak usah ngulur waktu saya." "Pardon, I didn't catch that?" Arkan mendengus. Lalu sedikit membungkukkan tubuhnya, wajahnya perlahan mendekat ke wajah Iona. Hal itu membuat Iona memundurkan kepalanya sembari menahan napas. "Anjirt pak Arkan kenapa tambah ganteng kalo dari deket sih mana wangi lagi dahlah aku kejang-kejang makkk!" Batin Iona menjerit. "Gak usah sok Inggris kalo bedain beach sama b***h aja belum bisa." Ucap Arkan seraya mendorong kening Iona dengan telunjuk. Arkan menegakkan tubuhnya kembali. Kening Iona berkerut tanda ia bingung. Benar juga ya. Pengucapan kata beach dan b***h kan hampir mirip. "Beach itu pantai kalau b***h itu jalang." Koreksi Iona. "Cepet siap-siap! Pakai pakaian yang sopan! Pronounciation masih amburadul aja gayanya se-langit!" Ucap Arkan. Iona menatap Arkan tajam. "Dih nih om om ngeraguin gue!" Gumam Iona namun masih tertangkap oleh indra pemdengaran Arkan. "Apa kamu bilang?" Tanya Arkan dengan tatapan menjurus tajam. Iona gelagapan. "Hah enggak kok. Mas captain jangan marah marah ih nanti ganteng nya ilang." Iona spontan melotot. Tangannya berkali-kali memukul mulut laknatnya. Dia bilang kalau Arkan tampan? Ya memang tampan, tapi kan gak harus jujur juga kali. Rasanya Iona ingin nyemplung ke laut aja. "Jangan ge'er pak." "Saya sadar saya ganteng. Jadi cepat sana siap-siap! Pakai pakaian yang sopan." Ucap Arkan. Tuh kan. Kepedean banget jadinya. Sekali dipuji ngelunjak lu om! "Heh cepat sana pakai pakaian yang sopan!" Arkan menjentikkan jarinya di depan wajah Iona. Iona mengernyit. "Lah pakaian saya udah sopan kok, tuh liat." Iona menunjukkan sweater pink yang ia pakai ke Arkan. "Celana kamu!" Hah apa?! Iona menunduk menatap celana yang ia pakai. Mata Iona melotot lebar pada celana pendek yang ia kenakan. "Ih pak! Tutup mata belom sah!" Pekik Iona. Arkan mendengus. "Sana cepat ganti atau saya--" "Iya iya ini saya meluncur ke kamar. Bapak jangan macem-macem ya!" Ucap Iona mewanti-wanti lalu berlari menuju kamarnya. "Masuk aja Pak!!" Teriak Iona sebelum hilang dibalik tembok. Arkan mengernyit bingung. Macam-macam untuk apa? Padahal ia ingin bilang 'atau saya akan tinggalin kamu' Gadis aneh. Arkan membuka pintu lebih lebar. Ia menatap sekeliling rumah yang terlihat sangat bersih dan terasa sejuk, nyaman serta wangi. Pria itu melangkah masuk lalu duduk di sofa. Sembari menunggu Iona, pria itu memainkan ponselnya. Namun tak fokus saat perkataan Iona tiba-tiba berputar di otaknya. Mas captain jangan marah marah ih nanti gantengnya ilang Sadar atau tidak, lengkungan dibibir Arkan terbit. Namun itu tak lama saat ia mendengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Iona datang dengan pakaian casual. "Emang kita mau kemana sih?!" Tanya Iona seketika wajah Arkan berubah menjadi flat. "Butik." Iona mendengus. "Kenapa?" Tanya Arkan. "Kenapa harus ke butik segala pak? Sedangkan nikahnya aja private." Ucap Iona. Maksud private itu adalah menikah di sebuah gedung namun tamu undangannya hanya rekan kerja dari keluarga dua belah pihak. "Terus mau pake apa? Baju compang-camping? Itu sih kamu saja saya mah enggak." Ucap Arkan. Iona melotot. Ya gak baju compang-camping juga supriyanto! "Lu kira gue gembel apa?!" Batin Iona. "Gak gitu juga pak maksudnya-" Arkan melirik jam tangannya. "Saya gak punya waktu nih. Kalo kamu mau baju compang-camping saya bisa sewa sama orang yang tinggal di bawah kolong jembatan. Take it easy saja." Ia kemudian melenggang keluar. Iona menatap punggung Arkan tajam ditambah tangannya meremas rambut dengan kesal. Tarik napas. Buang. Hffft. "Untung ganteng sumpah! Kalo enggak udah gue kasih piranha lu!" Ucap Iona lalu berjalan menyusul Arkan. M a s C a p t a i n Butik. 09.30 wib Iona memasuki butik lebih dulu karena Arkan sedang menerima panggilan dan ia langsung disambut oleh salah satu pegawai disana. "Ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya kepada Iona. Iona mengerjap sekali lantas mengangguk kaku. "Iya. Tapi.. sebentar, tunggu calon--ehmm maksud saya.. tunggu-" "Ekhem!" Dehaman itu membuat Iona menoleh dan menemukan Arkan yang kini berdiri di sampingnya. Iona menghela napasnya. LAMA AMAT SIH LO TELPONAN DOANG! Pegawai tersebut tersenyum melihat Arkan. "Pak Arkan, apa Bapak ingin mengambil pesanan?" Arkan menganggukkan kepalanya sekali. "Sekalian sama pakaian untuk dia." "Baik, mari ikut saya." Arkan dan Iona mengikuti langkah pegawai tersebut. Iona sesekali terkagum oleh design setiap pakaian disana. Arkan menghentikan langkahnya sejenak ketika Iona tidak ada di sampingnya. Pria itu menoleh, dan menemukan Iona tengah fokus pada pakaian di depannya. Arkan menghela napasnya, malas mengeluarkan suara emasnya, Pria itu menghampiri Iona. "Kamu ngapain disini?" Iona menoleh menatap Arkan sekilas. "Bagus Pak." "Yang mana?" Tanya Arkan sambil menatap jejeran pakaian di depannya. "Ini." Iona menunjuk baju blouse lengan panjang berwarna pink. "Bagus banget, tapi harganya mahal. Tapi worth it lah, bahannya bagus." Arkan melirik baju tersebut lalu kembali menatap Iona. "Yaudah sana, saya mau angkat telpon." Iona menatap Arkan jengah. "Siapa sih yang nelpon? Istri Bapak ya?" "Kalo saya punya istri gak mungkin saya mau nikah sama kamu." Ucap Arkan datar, namun tatapannya tajam. Iona nampak berpikir. "Iya juga sih." "Yaudah sana." Iona mendelik. BUSET BRO! GUE SIH O AZAYAKAN. "Iye!" Dengan malas, Iona pun menghampiri pegawai yang berdiri mematung menunggu mereka, dan ikut bersamanya. __ Begitu peresmian nikah ditentukan 3 hari lagi, keluarga Arkan mempersiapkannya secara cepat dibantu rekan yang lainnya. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa hingga hari dilaksanakannya akad nanti. "Sahabat saya diundang kan, Pak?" Tanya Iona memecahkan keheningan di dalam mobil. Arkan menoleh sekilas. "Terserah kamu." "Oke diundang. Rekan kerja Bapak?" "Beberapa." Ucap Arkan singkat. Iona menggangguk-anggukkan kepalanya. HENING. Beberapa menit kemudian, mobil Audi Q8 berwarna putih milik Arkan terparkir di rumah Iona. Gadis itu pun membuka seatbelt, namun menatap Arkan sejenak. "Hati-hati Pak, kalo ada belokan lurus aja." Tersenyum sekilas, Iona lalu keluar dari mobil. Arkan menghela napasnya. Apakah benar Iona jodohnya? "Iona tunggu!" Iona menghentikan langkahnya, ia menoleh dan menemukan Arkan yang berlari kecil ke arahnya. "Kenapa, Pak?" "Ini." Arkan menyodorkan sebuah paper bag ke arah Iona. Membuat gadis itu mengernyit bingung. "Apa ini? Mahar?" Tanya Iona. "Bukan." Jawab Arkan malas. "Terus apa? Emas batangan ya? Atau hati Pak Arkan untuk saya?" Arkan semakin menatap Iona dengan datar. Tak mau kepalanya pusing karena ucapan Iona yang semakin kesana kesini tidak jelas, Arkan meraih tangan Iona lalu menyangkutkan tali ke lengan gadis itu. "Saya pulang." Arkan membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam mobil. Sementara Iona mematung di tempat sembari menatap kepergian mobil Arkan. "Ini apa sih?" Gumam Iona, menatap paper bag di tangannya. Karena penasaran, gadis itu pun membukanya. Seketika, Iona melotot melihat isi di dalamnya. Menatap tak percaya sebuah baju blouse warna pink yang ia suka di butik tadi. "Gila! Pak Arkan beliin gue baju blouse? Kesambet apaan tuh orang?" Gumamnya masih tak percaya. Sejurus kemudian, senyuman dari bibirnya terbit. M a s C a p t a i n
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN