M a s C a p t a i n
-Kampus
Saat ini, Iona, Cia dan Thea sedang berada di kantin. Mengabiskan sisa jam istrirahat sebelum kembali berkutat ke tugas yang menumpuk.
"Serius lo udah ketemu cal--lon suami?" Bisik Thea diakhir kalimat pada Iona.
Sedangkan Iona mengangguk seraya menyeruput hot chocolate kesukaannya.
"Gimana first impression lo? Kecewa? Bahagia? Atau sedih?" Tanya Cia.
"Iya gimana? Doi lo, ganteng, B aja atau modelan kayak si udang?" Thea menimpali.
Iona terdiam. Matanya menatap kedua sahabatnya silih berganti.
"Kepo yaaaa.."
"Asem! Gue penasaran ini astogeeee!" Kesal Cia menabok lengan Iona. Iona tertawa melihat raut wajah kedua sahabatnya.
"Tau ihh gc apa Ionaaaaa!" Thea juga ikutan kesal.
"First impression ya...ya..."
"Bum bum ba bumbayah yayayayayaya!" Sahut Thea kesal. Iona terkekeh.
"Ya apa woy dari tadi ya ya ya mulu lo ah!"
Iona tertawa. "Oke oke. First impression nya sih dia cuek gitu, ngeselin, terus juga ya gitu lah." Ucap Iona bingung ingin mendeskripsikan apa tentang calon suaminya.
Cia dan Thea manggut-manggut.
"Pertanyaan gue jawab, doi gimana?" Ucap Thea.
"Btw dia gak istimewa woy enak aja. Kalo menurut gue, dogi sih ganteng--"
"Hah apa? Bentar deh. Dogi siapa jamilah?" Tanya Thea bingung.
"Dia orang gak istimewa. Dogi kan singkatannya?"
Cia dan Thea menahan tawa.
"Terah lo deh, gaskeun!" Ucap Cia kembali fokus pada topik.
"Dogi ganteng kok, pilot lagi."
"HAH? PILOT?" Ucap Cia dan Thea serempak.
"Gila, pilot calon suami idaman gue Ionaaaa!" Pekik Cia heboh.
"Iona lo enak banget sih, dijodohin eh dapet pilot lagi. Gue juga mau dijodohin ah entar gue minta ke bonyok." Ucap Thea.
Cia tertawa. Setelah tawanya sedikit reda ia berkata, "Nanti kalo lo dapetnya kayak si udang mau apa lo? Tamat kali dunia lo hahahaha."
Thea mencebik kesal. "Ya gue ogah lah kalo kayak si udang!"
"Bahahahahahaha--uhuk uhuk." Cia terbatuk saat Thea menyumpal mulutnya dengan sukro.
"Kampret!"
"Jadi kapan pernikahan lo?" Bisik Thea.
"Awalnya sih seminggu lagi, tapi karena tuh om om jadi tiga hari lagi."
"HAH?!"
"Ada apa sih ini?" Semuanya menoleh dan mendapati Farel, Reno dan Alfredy sedang menatap ketiganya heran.
Saat mata Cia bertemu dengan mata milik Reno, ia langsung mesem-mesem sendiri.
Gak aneh lagi deh. Iona dan Thea sudah menyimpulkan 100 persen kalau mereka sudah taken a.k.a pacaran.
"Eh...e...gak ada apa-apa kok ini kita lagi main truth or dare." Jawab Thea dusta.
"Wah seru tuh, gabung boleh?" Tanya Farel.
Thea, Iona dan Cia saling melemparkan tatapan.
"Ayo boleh." Kata Thea. Cia dan Iona ikut saja.
Farel, Reno dan Alfredy pun duduk di meja yang sama. Saat Farel duduk di kursi dekat Thea, gadis itu mengulum senyum senang. Tapi tak lama saat Alfredy bertanya.
"Botolnya mana?" Tanyanya.
"Kita main tod nya tangtingtung hehe."
"Lah? Kocak sih." Ucap Reno.
Ketiga gadis itu hanya saling menatap.
___
"Aaa Iona jawab." Pekik Farel saat ujung botol mengarah ke Iona.
Saat ini mereka beneran main tod. Dan mau tidak mau, ketiga gadis itu ikut dan menunda obrolan mereka.
"Truth or dare?" Tanya Cia.
"Truth aja." Jawab Iona. Dare nya anak kuliahan gak main-main loh gaes. Bisa-bisa anti-mainstream lagi.
"Panggilan romantis buat suami?" Ucap Cia yang lebih dulu memberikan pertanyaan.
Iona melotot. Pelototannya seakan berkata ish Cia mah
"E...apa ya gak perlu romantis yang penting sopan." Jawab Iona. Cia senyum-senyum gak jelas dan langsung diberi kode lewat mata oleh Iona.
"Kalo dari gue, lagi suka sama siapa?" Pertanyaan itu dari Farel. Thea menatap Farel dengan sorot yang berbeda.
"Gue belum heart-open buat siapapun. Mau fokus kuliah." Jawab Iona membuat Farel seketika langsung gimana-gimana gitu. Sedangkan Thea, ia tersenyum senang. Ternyata Iona tidak menyukai Farel.
Setelah semua pertanyaan aneh, Iona jawab. Botol pun berputar kembali. Namun permainan itu tak berlangsung lama saat bel berbunyi.
Mereka semua bangkit dari posisi wenaknya a.k.a duduk lalu berjalan bersama untuk kembali berkutat di kelas.
M a s C a p t a i n
-Pulang kuliah.
Saat bel pulang berbunyi, Farel dkk menghampiri Iona dkk yang kebetulan baru keluar kelas.
"Kenapa Rel?" Tanya Iona.
"Kita bertiga udah ngerencanain untuk liburan dan kita mau ngajak kalian. Kalian gimana?" Ucap Farel to the point.
Iona, Cia dan Thea saling tatap.
"Kapan liburannya?" Tanya Cia.
"Lusa." Jawab Reno.
Mereka saling tatap lagi. Lusa kan hari pernikahan Iona.
"Lusa gak bisa gue ada urusan." Ucap Iona. "Mending kalian berlima aja."
"Yah kalo lo gak bisa, mending diundur aja deh biar bisa bareng-bareng." Ucap Farel.
Hm, Thea tau maksud dari perkataan Farel.
"Bilang aja sih kalo maunya ada Iona." Batin Thea.
"Udah gapapa kalian aja." Ucap Iona.
"Enggak deh diundur aja. Gimana gapapa kan?" Farel bertanya pada Reno dan Alfredy.
"Fine fine aja. Lagian makin rame kan makin seru. Kalo ada yang kurang kan gak enak." Alfredy berujar. Diangguki Farel.
"Yaudah deh terserah lo pada aja. Kalo gue sih ikut ikut aja." Ucap Cia.
"Lo Thea? Ikut?" Thea mengangguk antusias saat Farel yang bertanya.
"Oke. Entar kapannya gue sama yang lainnya yang tentuin." Ucap Farel. Diangguki kelima orang disitu.
"Yaudah kalo gitu, kita cabut." Ucap Farel lagi lalu mereka melenggang pergi
___
Setelah membeli makanan di drive thru kini mereka dalam perjalanan pulang.
"Lo ngundang kita juga gak nih?" Tanya Cia sesekali melirik Iona yang ada di seat sampingnya.
"Kurang tau. Mungkin rekan kerja bonyok sama rekan kerja calon mertua." Jawab Iona.
"Tapi nanti liburan lo ikut kan?" Thea yang berada di seat belakang bertanya. Seraya menggigit burger.
"Kurang tau juga. Gimana nanti aja. Kalo gue gak ikut pun lo berdua aja yang ikut."
Mobil berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Ada beberapa pedagang cangcimen dan koran yang sekedar mampir menawarkan ke mobil Cia. Iona menoleh ke samping saat datang seorang ibu-ibu dengan wajah lesu yang kotor karena tanah meminta-minta.
"Udah biarin aja." Kata Cia acuh.
Tapi entah kenapa, Iona tidak tega. Gadis itu tidak mengindahkan perkataan Cia. Ia membuka kaca mobil lalu memberikan makanannya pada ibu-ibu itu.
"Ini untuk ibu." Ucap Iona tulus. Ibu-ibu itu tersenyum lalu pergi.
Iona menatap punggung ibu tersebut dengan iba.
"Bentar deh, kayak ada yang sama." Ucap Thea.
"Hah? Gimana gimana maksud lo?" Tanya Cia.
"Senyuman ibu tadi sekilas mirip sama Iona." Ucap Thea lagi. Kali ini ia mendapati jitakan dari Cia.
"Lo kalo mau nyamain wajah Iona jangan ke gembel dong. Kan banyak artis yang cantik kayak mbak IU gitu." Ucap Cia. "Aneh nih orang."
Thea mencebikkan bibirnya kesal. "Kan gue bilang sekilas ACI!"
M a s C a p t a i n