09

1054 Kata
M a s C ap t a i n Malam ini adalah malam terbimbang untuk Iona. Di ruang tamu sekarang sudah ada keluarga calon pria. Iona menghela napas seraya menatap pantulan dirinya di cermin. Tok...tok.. Cklek. "Iona kenapa kamu belum siap-siap?" Omel Arini saat melihat Iona belum juga memakai dress yang ia perintahkan. "Cepet Iona jangan ngulur waktu!" Ucap Arini. "Iya ma." Arini kembali menutup pintu. Dan iona segera bersiap-siap. 10 menit kemudian... Cklek. Arini mengulum senyum kecil melihat bagaimana cantiknya Iona malam ini. Tapi seketika luntur saat menatap wajah Iona yang wajahnya mirip sekali dengan... "Ayo." Ajak Arini. Iona mengangguk. Mereka pun menuruni tangga seraya bergandengan. -Ruang tamu. "Maaf ya Sari, Arlan nunggu lama." Ucap Arini sopan pada calon besannya. "Iya gapapa. Ini anak mu?" Wanita bernama Sari itu terlihat terbengong kagum saat menatap Iona. "Cantik banget sih." Pujinya. Iona mengulum senyum membuat lesung pipi gadis itu terlihat sangat dalam. Namun senyum itu adalah senyum yang tidak bisa di jelaskan lewat kata-kata. "Iya pasti cantik dong." Amri menyahut. "Lalu kemana anak kalian?" Lanjut Amri saat anak Sari dan Arlan belum terlihat. "Dia lagi di jalan pulang dari bandara untuk izin." Jawab Sari. "Ayo duduk sini yuk." Sari menarik lembut tangan Iona untuk duduk di sampingnya. "Nama tante Hasna Sari dan ini om Arlando. Kami teman rekan kerja papa kamu." Ucapnya memperkenalkan diri. Iona lagi lagi hanya tersenyum. "Anak tante udah kerja, dia seorang pilot." Iona terperangah. Seorang pilot? Jadi, berapakah umur calon suaminya itu? Apa benar yang dikatakan Thea kalau nanti ia akan dijodohkan oleh bapak bapak? Yaampun. Memikirkan itu membuat Iona bergidik ngeri. Namun ia hanya bisa pasrah. "Aku Iona putri, Tante, Om." Ucap Iona sopan. Arlan dan Sari tersenyum. "Nama kamu cantik seperti orangnya." Puji Sari. Iona tersenyum lebar. "Makasih tante." "Kamu kuliah semester berapa?" Arlan bertanya. "Semester 5 Om." Ucap Iona sopan. "Jurusan apa kalo boleh tau?" Tanya Arlan. "Jurusan sastra Inggris, Om." Ucap Iona. "Wah hebat menantu ku." Puji Sari. "Hey masih calon." Amri memperingati membuat yang lainnya tertawa. Hingga suara bariton membuat percakapan mereka terhenti. "Assalamualaikum." Ucap seorang pria dari arah pintu. "Waalaikumsalam." Jawab semuanya dan serentak menoleh ke arah pintu. Iona yang tadinya berwajah biasa saja kini melotot lebar saat melihat pria yang kemarin bertemu di pesta. Sekarang dia ada disini? Berarti, anak tante Sari dan om Arlan adalah pria itu? Yaampun kenapa dunia sesempit ini? Iona mengalihkan tatapannya sebelum mata mereka itu saling bertemu. "Nah ini dia. Akhirnya kamu datang juga." Ucap Sari pada sang anak. "Maaf semuanya, tadi ada urusan sebentar." Ucapnya sopan. Yang lain mengangguk mengerti. "Iya gapapa. Iona, itu calon suami kamu sudah datang." Ucap Arini. Otomatis mata pria itu menatap ke arah Iona yang dimana saat ini ia sedang menyembunyikan wajahnya. Dengan terpaksa, Iona pun menampakkan wajahnya lalu tersenyum kikuk. Bagai petir datang mendadak, pria itu terkejut bukan main saat melihat Iona. Tenyata yang akan dijodohkan dengannya adalah gadis menyebalkan itu? Gadis yang selalu membuatnya sial. Boleh gak sih dua-duanya menghilang? Tolong panggilkan siapapun untuk membawa mereka agar menghilang. M a s C a p t a i n "Nama saya Zacharie Arkanzo. Panggil saja Arkan." Ucap pria bernama Arkan itu dengan malas saat berkenalan dengan Iona. "Nama saya Iona Putri." Iona membalas jabatan tangan Arkan. Tersenyum simpul. Kedua orang tua mereka saling melemparkan senyum bahagia. "Yuk langsung aja untuk menentukan tanggal pernikahannya." Hah? Yaampun tante, Iona bahkan belum menjawab setuju atau tidaknya dengan perjodohan ini. "Kalian berdua sudah setuju kan dengan perjodohan ini?" Tanya Arlan seakan mengerti apa yang menjadi pertanyaan Iona. Iona yang hendak menjawab seketika terpaku saat Arini mencubit pahanya. "Gimana Arkan dengan kamu?" Tanya Arlan pada sang anak. "Ya Arkan setuju." Ucap Arkan. Walaupun berat sekali rasanya. "Kalau Iona?" Tanya Arlan. Iona terdiam sejenak lalu mengangguk pelan seraya tersenyum kecil. "Iona setuju." "Oke. Kalau gitu gimana tanggal pernikahannya seminggu lagi?" "HAH?!" Pekik Iona dan Arkan secara bersamaan. "Gak kecepetan Pa?" Tanya Arkan. Iona mengangguk membenarkan ucapan Arkan. "Gak dong, kenapa kurang cepat? Mau dipercepat lagi? Oke kalau gitu tiga hari lagi." "HAH?!" Pekik Arkan dan Iona secara bersamaan. Lagi. "Maks--" "Gak ada bantahan. Kamu kan maunya jadi lebih cepat, jadi tiga hari lagi adalah pernikahan kalian." "Pa tap--" "Lagipula kamu dikasih libur seminggu kan? Jadi jangan sia-siakan kesempatan itu." Final Arlan benar-benar tak terbantahkan kepada Arkan. ___ Suasana hening walaupun terdapat dua orang di ruang tamu saat ini. Kedua orang tua Arkan dan Iona telah meninggalkan mereka berdua untuk saling mengenal lebih dekat. Namun bukannya mengobrol atau semacamnya, kedua orang beda jenis kelamin ini malah saling diam. "Kamu yakin mau nikah sama saya?" Arkan memulai percakapan setelah beberapa menit sunyi. "Ya gimana lagi." "Gimana lagi apa? Kalau gak mau, tinggal bilang jangan dipaksakan." Ucap Arkan. "Ya gimana lagi saya mau." Ucap Iona. Arkan mengernyit. Ada apa dengan gadis ini? Tidak beres otaknya. "Umur saya lebih tua dari kamu. Berapa umur kamu?" Ucap Arkan. "Kenapa anda nanyain umur saya? Kepo ya?" Arkan mendengus. Kenapa ia harus bertemu dengan gadis seperti Iona sih? Bahkan di dalam mimpinya ia belum pernah bertemu dengan orang seperti Iona. Sepertinya Iona akan masuk kedalam list hidupnya yang paling akhir. Alias terabaikan. "Umur saya 25." Ucap Arkan. "Emang saya nanya ya?" Ucap Iona cuek. Sebenarnya ia mengulur seperti itu agar ia yang lebih dulu tau umur Arkan hehe. Wah bener-bener nih cewek! Suasana kembali hening. "Saya 20." Akhirnya Iona menyuarakan umurnya. "25 gak tua tua banget sih..kecuali kalau emang dari sananya tua tuh." Arkan mengernyit. "Maksud kamu? Saya tua dari sananya?" "Bukan saya loh ya yang bilang." Iona terkekeh. 'Lucu juga ngerjain nih om om. Aslinya dia ganteng. Tapi males ah kalo jujur, nanti dia blushing lagi. Bohong dikit gapapa kali ya hahaha.' -batin Iona tertawa. "Daripada kamu gak tua gak muda, tapi kayak anak-anak." Ucap Arkan. WAH KAYAKNYA NIH OM-OM MAU BALES DENDAM! "Kalo saya kayak anak-anak kenapa anda yang tua mau?" Arkan refleks melotot. Waduh, perang akan dimulai sepertinya. "Saya sih terpaksa. Sebenarnya saya malas punya istri kekanak-kanakan seperti kamu. Tapi demi orang tua saya, saya gak bisa nolak." Ucap Arkan tak mau kalah. Iona terdiam. Sial, ia kalah tempur kata-kata kan jadinya. Ayo pikir Iona, pikir! "Dasar jones! Bilang aja gak laku!" Ketus Iona sembari bangkit dari duduknya lalu melenggang pergi meninggalkan Arkan yang sedang menatapnya tajam dan kesal menjadi satu. M a s C a p t a i n
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN