08

961 Kata
M a s C a p t a i n "Huftt, untung lo milih nikah, Yon." Ucap Cia setengah berbisik. Iona melihat sekitar kampus. "Gue juga bingung harus milih apa! Di satu sisi pilihan TKW sama menikah itu sama-sama mengekang masa muda gue dan di sisi lain gue juga gak tega sama ortu gue." Ucap Iona mengeluarkan keluh kesahnya. "Gue yakin. Kalo niat lo baik, jodoh lo pasti orang baik." Ucap Cia. Iona mengangguk seraya tersenyum. "Aamiin. Eh si Thea kemana ya?" "Thea bilang dia izin. Dia sakit katanya." Jawab Cia. "Hah sakit? Kalo gitu nanti jenguk yuk." Ucap Iona diangguki Cia. "Eh...ketemu betina rempong." Cia menatap pemilik suara tersebut tajam. "Lo gak ada niatan buat minta ttd jongkok ehh apa sih ya namanya jeon...jeon." Ebi berusaha mengingat nama artis Korea. "Gue ada niatan buat nguburin lo hidup hidup! Mau lo!" Sarkas Cia. "Wuih jangan lah...kan sayang kegantengan babang jongkok bangsul tamvan sedunia ini." Ebi menaik turunkan alisnya. Cia memejamkan sekilas matanya. Ia menarik napas dalam. "Eh eh santai sis...kita temenan, peace." Ebi menunjukkan dua jarinya lalu berpose se-lucu mungkin seperti sedang di foto. "Pergi gak lo! Pergi monyet bangsul jelek sedunia!!!!" ___ -Rumah Thea "Lo sakit apa?" Tanya Iona pada Thea yang saat ini sedang terduduk lesu di ranjang. "Pusing biasa aja kok." Jawab Thea dengan senyuman kecil. "Nih minum dulu obat lo." Cia menyodorkan gelas serta obat pada Thea yang ia ambil dari mamanya Thea. "Istirahat biar cepet sembuh. Mikirin apa sih lo sampe sakit gini? Roman romannya lo lagi galau soal cinta ya?" Cia menebak. Thea terdiam. Kok bisa-bisanya Cia tau apa yang sedang Thea rasakan saat ini? Fyi, saat dimana Farel mengajak Iona untuk menjadi pasangan ke pesta, hati Thea langsung berdenyut nyeri. Namun sebisa mungkin ia menetralkan raut wajah kecewanya dengan tersenyum. Thea kemudian menggeleng. "Apaan sih sok tau lo." "Halah, lo gak bisa boong dah. Kebaca dari muka lo ciri-ciri orang yang lagi galau soal cinta." Ucap Cia lagi. Thea terkekeh. "Apaan sih enggak!" "Lo suka sama siapa sampe sakit begini?" Tanya Iona. "Suka apanya? Gue lagi gak suka sama siapa-siapa. Tapi gue cinta sama Farel, Yon! Iona tersenyum jahil mencari kebohongan di wajah Thea. "Apa? Serius ga ada." Iona manggut-manggut percaya. "O iya lo bawa apa nih? Makanan atau--" "Wah bocah modus. Bisa-bisanya ya lo lagi sakit gini malah nanyain kita bawa apa!" Heran Cia. Thea terkekeh. Sebenarnya ia berkata seperti itu untuk mengalihkan topik. "Nih kita bawa makanan kesukaan lo." Iona menunjukkan paper bag dengan nama brand makanan ternama. Mata Thea berbinar. "Ehehe makasih loh ya." Iona dam Cia tersenyum. "Gimana kemarin malem? Lancar pestanya? Spesial banget gak" hubungan Iona sama Farel. Thea terkekeh didalam hati. Perkataan terakhir itu hanya ia simpan di benaknya. "Ya gitu deh...gak ada yg spesial." Jawab Iona seraya duduk di kursi belajar Thea. "Iya gada yang spesial. Tapi kalo gue sama Reno sih spesial banget." Cia mesem-mesem sendiri. Cinta. Satu kata penuh makna itu ternyata mampu mengubah segalanya. Cia yang notabenenya cuek parah, saat terkena virus cinta langsung mesem-mesem sendiri. Thea yang notabenenya gadis humor dan ceria, saat terkena virus cinta langsung seperti saat ini. Lebih tepatnya Thea terkena virus cemburu deng. Mata Iona bergerilya ke meja belajar Thea yang terdapat susunan buku-buku berbaris rapi. Dan ada 1 buku yang membuatnya tertarik, yaitu buku seperti agenda dengan cover berwarna pink tua. Iona menarik buku tersebut dari barisan buku-buku. Disaat yang bersamaan, Thea melirik Iona dan langsung melotot melihat buku catatan khusus untuk perasaannya berada di orang yang tak tepat. "Yona jangan! Plis balikin ke gue." Pekikan Thea mengejutkannya. "Wahh ada apa tuh didalam buku itu? Keanya ada..." Ucapan Cia menggantung. "Itu buku diary plis jangan di baca ya..." Mohon Thea. "Gak boleh nih baca dikit aja?" Tanya Iona dan langsung mendapati gelengan mantap dari pemilik buku tersebut. "Sedikit aja elah." Cia menimpali. Ternyata dia juga keppo. "Gakkk." Rengek Thea. "Oke oke gak dibaca." Iona terkekeh seraya memberikan buku diary pada Thea. "Kenapa sih gak boleh?" Heran Cia. "Bayangin aja buku diary lo di baca sama orang, lo mau gak?" Ucap Thea. "Kalo gitu gak usah dibayangin. Gampang." Cia tersenyum miring. Thea mendengus. "Besok lo masuk kuliah kan?" Tanya Iona. "M...kayaknya sih iya tapi kalau udah baikan." "Halah bilang aja lo mau absen biar bisa marathon drakor." Ucap Cia. "Hehehe." Thea cengengesan. "Oh iya," Cia menggantungkan ucapannya. Matanya melirik ke arah Iona. Iona yang paham hanya menggigit bibir bawahnya. "Apa?" "Yona," Cia melirik lagi Iona yang hanya terdiam. "Kenapa Yona?" Bingung Thea saat Cia terus saja menggantung ucapannya. "Yona dijodohin sama orang tuanya." Lanjut Cia. Spontan Thea melotot menatap Iona. "Hah? Mi apa lo?" "Mi oyeng." Sahut Cia pelan. "Yona serius? Lo mau dijodohin? Sama siapa eh? Ganteng gak? Atau mukanya kek bapak bapak lagi? Oh atau jangan jangan lo dijodohin sama om om p*****l lagi?" Cerocos Thea tanpa titik dan koma. Iona terkekeh. "Gue juga gak tau kek gimana orang yang mau dijodohin sama gue. Tapi intinya, itu buat ortu gue bahagia." "Ih lo kok gitu sih mau aja ngorbanin masa depan lo. Kalo gue sih ogah." Ucap Thea. "Ya itu mah elo! Gak ada bales jasa nya sama ortu. Kalo Iona mah tau diri." Cibir Cia. "Maksud lo gue gak tau diri? Gitoh?" "Ya...kalo lo nyadar sih begitu." Thea mencebikkan bibirnya. Cia kalo ngomong langsung nusuk ke tulang. Tapi Thea tidak menganggap omongan itu serius. "Canda elah gitu doang ngambek lo! Senyum dong senyum." Cia menarik kedua pipi Thea untuk membentuk lengkungan. "Kita diundang kan? Apa enggak? Eh gimana gimana? Ayo dong klarifikasi, para paparazzi udah gak sabar ini." Ucap Thea dengan tangan seperti mic yang terarah ke Iona. "Heboh banget sih lo udah kayak denger berita Kim Taehyung nikah sama gue." Ucap Cia. "Yeee ngarep lo!" M a s C a p t a i n
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN