07

1039 Kata
M a s C a p t a in "Iona." Suara panggilan dari Cia membuat Iona berdeham. "Hm?" Tak ada sahutan, Iona berpaling dari buku di tangannya menatap Cia yang tengah memandanginya. Kening Iona berkerut. "Kenapa?" "Orang tua lo kesini." Iona spontan melotot. "Hah?! Kok mereka bisa tau?" Cia menggeleng tak tau. "Gimana dong? Gue pasti di habisin sama mereka." Rengek Iona mulai panik. Cia terdiam tak tau apa yang harus ia lakukan. "Lo pulang aja. Kalo ada apa-apa telpon gue. Hape lo udah gue charger." Cia menunjuk ponsel Iona di atas nakas. "Gue takut tapinya..." Lirih Iona. "Emang se-kasar apa sih orang tua lo selain main tangan?" "Main tangan itu paling kasar bagi gue." Ucap Iona. "Udah lo tenang aja. Sebagai antisipasi," Perkataan Cia terhenti. Gadis itu melangkah untuk mengambil ponsel milik Iona. Iona yang tidak tau apa yang dilakukan Cia hanya terdiam. "Telpon lo udah tersambung ke hape gue. Jadi nanti kalo orang tua lo kasar atau segala macam yang nyakitin lo, gue langsung ke rumah lo kalo perlu bawa polisi." Cia melanjutkan perkataannya. "Jangan bawa polisi, Ci. Gue gak mau masalah ini jadi runyam." Jeda menghela napas. "Yaudah gapapa. Makasih atas kekhawatiran lo. Gue bisa kok nanganin ini." "Yakin lo?" Tanya Cia ragu. Iona mengangguk. "Gue udah kebal Ci." "Sekebal-kebalnya lo, lo pasti merasa tertekan." Cia berjalan menghampiri Iona. "Udah ikutin cara gue. Lo gak perlu takut jadi runyam. Lo punya gue, gue punya ortu, ortu gue punya kenalan pengacara. Gampang tinggal jeblosin mereka ke penjara." Lanjut Cia menggebu. Final. Iona menghela napas lalu mengangguk. ___ "Udah lo gak perlu takut." Bisik Cia menenangkan saat mereka sedang berjalan menuruni anak tangga. Iona menganguk kecil. Setelah menuruni tangga, Iona dan Cia menghampiri kedua orang tua mereka yang sedang mengobrol di ruang tamu. "Nah itu Yona." Ucap Lita. Iona tersenyum simpul pada Lita. Namun saat matanya menatap Arini yang memberikan tatapan tajam padanya, Iona mengalihkan tatapannya. "Terimakasih ya om dan tante udah izinin aku nginep disini. Maaf kalau merepotkan." Ucap Iona pada Lita. Tangan Cia setia berada di pundak Iona. Lita mengangguk lalu tersenyum tulus. "Gapapa sayang. Kamu mau nginep berapa hari pun kita welcome kok." Ucapnya hangat dan lembut. Iona tersenyum. "Terimakasih Evan, Lita atas kebaikan kalian. Kalau gitu kami pamit." Ucap Amri. Evan dan Lita selaku kedua orang tua Cia mengangguk. "Ya sama-sama." Jawab Evan. "Ayo Iona." Amri menarik tangan Iona. Mereka pun melenggang keluar. M a s C a p t a i n -Rumah "Kamu kenapa gak pulang selama dua hari hah?!" Amri menatap Iona marah. "Papa tau darimana aku ada di rumah Cia?" Tanya Iona tanpa menjawab perkataan Amri. "Kamu gak usah mengalihkan pembicaraan! Papa tanya, kenapa gak pulang selama dua hari?!" Amri mengulangi. "Tau ni anak! Lu gak punya malu nginep di rumah orang? Gak tau malu banget ya lu!" Arini bersuara. Napas Iona menggebu, amarahnya sudah mencapai puncak namun masih ia tahan. "Cukup sekali Iona lu buat masalah! Keluarga ini bisa berantakan kalau lu seperti ini! Lu itu adalah penyebab dari kekacauan keluarga ini!" Ucap Arini lagi. "Bersyukur lu masih kita urus!" Lanjut Arini. "Aku gak mau disini karena aku selalu tersiksa sama mama! Mama yang mulai! Mama yang ngajak aku ribut, mama kasar, baik itu perkataan maupun perlakuan! Mama pikir aku bisa tahan? Anak mana yang bisa tahan saat ibunya seperti itu!" Ucap Iona melampiaskan amarahnya yang tertahan. "Gua kayak gitu kalau lu gak mulai! Lu yang--" "Ma tenang!" Ucap Amri sedikit menaikkan oktaf suaranya. Amri beralih menjadi duduk. Ia menarik tangan Iona untuk duduk di sampingnya. "Kamu tau, kenapa mama seperti itu?" Iona hanya terdiam. "Karena perusahaan kita lagi di ambang kebangkrutan." Lanjut Amri melembut. "Terus, apa aku peduli?" Ucapan Iona membuat Arini melotot. "Mama bilang aku gak dapet hak sepeser pun kan? Kenapa aku harus peduli?" "Siapa yang bilang kamu gak dapet sepeser pun? Dari bayi sampai sekarang kamu dewasa apa itu gak dapet sepeser pun?" Ucap Amri. "Kami menyekolahkan kamu bertahap sampai sekarang kamu kuliah kami masih memberikan kamu hak, Iona!" Iona tak bergeming. "Saat itu mama lagi frustasi makanya dia bilang kayak gitu. Kami juga pusing dengan perusahaan, maka dari itu kamu bantu juga ya untuk membangkitkan perusahaan supaya kembali normal." Ujar Amri. "Ya, aku gak akan ngulangin ini lagi." Ucap Iona. "Bukan hanya itu," Iona menatap Amri tak mengerti. "Apa?" Tanya Iona. "Kamu mau kan menikah dengan anak teman papa?" Spontan mata Iona melebar. Disana, Cia juga melotot tak percaya saat mendengar Iona ingin dijodohkan. "Kenapa harus menikah? Iona bisa gak ngulangin kesalahan itu lagi tapi gak harus menikah, pa!" Jawab Iona. "Apa kita pernah minta tolong ke kamu selain ini? Kemana balas budi kamu?" Ucap Arini yang kini memakai aku-kamu. "Ini gak susah kok. Lagipula kita menjodohkan kamu sama lelaki yang gak miskin. Setara sama keluarga ini jadi kamu gak perlu takut untuk gak bisa hidup enak!" Lanjut Arini. "Ini bukan masalah miskin kaya--" "Kita sudah diambang kebangkrutan, Iona!" Gertak Arini. Hening. Jeda menghela napas sebelum Arini kembali berkata. "Kami kasih pilihan mudah. Menjadi TKW atau menikah dengan anak teman papa?!" Iona melotot. Apa? TKW? Tenaga Kerja Wanita yang kerjanya di luar negri tapi jadi pembantu? Yaallah. Sungguh tega mamanya ini. "Bukan maksud gimana-gimana, kamu pikir deh kalau kita bangkrut kan gak ada lagi yang bisa membayar uang kuliah, sehari-hari paling kita makan hanya dengan nasi campur garam. Apa kamu mau?" Amri berujar. Kenapa semuanya jadi Iona yang seakan menanggung kebangkrutan perusahaan mereka? Seakan Iona-lah yang disuruh mencari sumber kejayaan untuk mereka lagi. Tapi apa yang mereka lakukan pada Iona? Gak lebih dari main tangan dan perkataan yang jahat. Yang juga bisa merusak mental dan psikis. "Iona jangan. Jangan mau jadi TKW! Lebih baik lo menikah aja!" Cia mencoba menyuarakan lewat telpon yang masih tersambung, namun Iona tidak sadar akan itu karena tidak dalam mode loudspeaker. "Kita banting tulang untuk kamu, tapi ini balas budi kamu ke kita?" Tanya Arini dengan nada seakan Iona orang paling jahat di muka bumi. Iona masih diam tak bergeming. Diam untuk memikirkan apa yang harus ia katakan. TKW atau Menikah? Kedua pilihan itu sama-sama mengekang masa mudanya. Itu sulit diterima olehnya. "Pikirkan dengan matang ya Iona." Ucap Amri. Lalu ia dan Arini melenggang untuk pergi. "Iona mau menikah!" M a s C a p t a i n
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN