06

1119 Kata
M a s C a p t a i n Tanpa aba-aba, Iona menarik tangan pria itu ke dalam toilet. "Heh kamu apa--" "Sssttt!" Iona meletakkan telunjuk di depan bibir pria itu. Tapi tidak menempel. Iona mengambil tissue yang tersedia di toilet, ia sedikit membasahkan benda halus tersebut lalu beralih ke bibir pria itu. "Maaf pak, saya lancang." Awalnya pria itu memberontak, namun saat tissue tersebut bergerak lembut di bibirnya seketika ia terdiam. Seperti ada magnet tersendiri dari gadis di depannya. Pria itu mendadak membeku. Jantungnya berdegub kencang. Tersadar, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jangan kalian pikir Iona tidak merasakan apapun. Salah besar. Justru jantungnya lah yang paling berdisko ria saat ini bahkan tangannya gemetar namun sebisa mungkin Iona terlihat profesional. "Yah pak masih ada sisa lipstik nya, gimana dong pak?" Tanya Iona polos. "Kamu bersihin sampai benar-benar bersih." Nah kan ada magnet tersendiri dari Iona. Usapan halus dan lembut dari tangan Iona seakan candu baginya. Ah tidak tidak. Apa sih! "Sini biar saya saja." Ketus pria itu mengambil alih tissue dari tangan Iona. Iona sedikit menjauhkan tubuhnya yang mungkin saat ini akan gemetar hebat seperti tersetrum. Tapi setruman ini entah kenapa berbeda, ini seperti setruman cinta. Ih lo kenapa dah. Iona gila! "Lain kali kalau lari liat ke depan. Bukan kebbelakang!" Iona tersentak dari lamunannya. "Sungguh ku terpuruk dalam lamunan." Batin Iona. "I-iya maaf pak." "Umur saya masih muda. Berhenti panggil saya pak." Ucapnya. "I-iya maaf om." "Saya bukan om kamu." Iona menatap pria itu. Keningnya berkerut. Duh kalau tadi ia tidak melihat orangtuanya kejadian ini pasti tidak akan terjadi. "Iya maaf bang." "Kamu pikir saya pedagang?!" Ketusnya. Lah nih orang kenapa sih sewot banget. Ok Iona. Tarik napas. Sabar "Terserah anda aja deh." Ucap Iona gemas sendiri. Hening. Entah kenapa tidak ada satu pun orang yang datang ke toilet ini. "Mas--" "Yang--" Spontan mereka terdiam saat mereka berbicara secara bersamaan. "Bapak--em...anda duluan." Ucap Iona meleset. "Yang tadi lupakan! Anggap saja kita gak pernah bertemu." 'Lah gimana sih?' Batin Iona. "I-iya kalau gitu saya permisi." Iona melenggang pergi M a s C a p t a i n Iona terus celingukan memperhatikan sekitar. Ia takut orang tuanya melihat dirinya pesta ini. Tapi. Bagaimana kedua orang itu bisa ada disini? Masa iya mereka berteman dengan Alfredy? Dan, masa iya Alfredy berteman dengan orang yang notabenenya sudah lanjut usia? Lahh kocak kan? Iona mindik-mindik saat sudah sampai di aula yang sudah ramai dengan para tamu. 'Puk' Seseorang menepuk pundak Iona dari belakang. "Aaa!" Pekik Iona dengan tangan refleks melayang di udara seraya berbalik badan. Plak! "Awh!" Ringis Farel saat ia terkena tabokan dari tangan Iona yang melayang tadi. "Yaampun Rel, gue minta maaf gue gak sengaja." Ucap Iona merasa bersalah. "Lo sih ngagetin gue." "Iya gapapa. Untung sayang." Ucap Farel santai seraya mengusap pipi kirinya. "Usapin dong biar cepet sembuh." Katanya lagi. Iona mengulum senyum. "Maaf ya Rel, aduh.." Iona terkekeh geli. Tangannya tergerak mengusap pipi Farel yang terkena tabokannya. "Lo kemana aja sih? Gue nungguin lo tau di ayunan." "Gue....e...nyari si Cia. Dia juga ikut kesini." Ucap Iona bingung sendiri. "Sama Reno kan? Dia tadi bareng gue di ayunan" Ucap Farel. "Dia juga nyari lo tapi lo gak dateng dateng." "Terus sekarang kemana dia?" Tanya Iona dengan mata celingukan refleks menyudahi usapan di pipi Farel. "Disini." Ucap Farel. "Hah? Dimana?" Iona semakin celingukan. Farel menghela, tangannya menangkup pipi Iona untuk menghadapnya. "Disini, calon ayah dari anak-anak lo." Iona tertawa. "Hahaha receh lo." Lalu memukul lengan Farel. "Serius gue, gak usah ngereceh deh." Farel terkekeh. "Disana, tuh lagi kumpul buat tiup lilin. Yuk kesana." Ajak Farel. Iona mengangguk. Saat berjalan, Iona merasakan jemarinya di genggam erat oleh cowok disampingnya. ___ "Tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga. Sekarang juga sekarang juga." Begitulah nada seriosa dari para tamu. Alfredy dengan senyumannya yang merekah pun meniup lilinnya. Tepukan tangan riuh menggema di aula. Alfredy memotong kue pertama yang ia persembahkan untuk kedua orang tuanya. Beralih ke adiknya lalu ke sahabatnya. Farel dan Reno. Iona terlihat pucat pasi saat Farel terus menggenggam jemarinya tanpa sedikit pun celah untuk ia terbebas. Masalahnya, jika Farel nanti memakan kue dari suapan Alfredy, orang tua Iona bisa melihatnya. Dan Iona tidak ingin mamanya yang terkenal bak iblis itu menghancurkan acara orang. Terlebih lagi ini adalah acara sahabatnya Farel. Jika acara ini berantakan, Alfredy beserta keluarga akan malu dan Farel sebagai orang yang mengajaknya pasti juga akan ikutan malu. "Rel...lepasin gue, gue kebelet." Dusta Iona. "Tunda dulu, gue belum dapet bagian kue nih." Ucap Farel. Ya Tuhan, lo malah mikirin kue sih. Orang kaya tinggal beli kan bisa. "Gak bisa Rel, udah diujung." "Yaudah sana, nanti gue nyusul." Yeaaaas! Iona mengangguk. Ia pun segera berlari menjauh. ___ Iona berjongkok menunggu Farel yang katanya akan menyusul nya ke toilet. Namun batang hidung cowok itu belum terlihat. "Nih." Iona menatap sebuah topeng lalu beralih ke orang yang menyodorkan benda tersebut. "Lo lama banget sih." Iona bangkit lalu mengambil topeng dari tangan Farel. "Tadi gue ngobrol dulu sama calon mertua." Ucapnya. "Hah? Siapa calon mertua lo?" "Siapa lagi? Bokap nyokap lo lah." Duh Farel! Boleh ga sih gue berkata kasar. "Terus bonyok gue gimana?" "Gak gimana gimana. Mereka seneng gue bisa jadi menantu nya." Ucap Farel. Iona memutar bola matanya jengah. "Mereka udah balik kan?" "Udah. Sekarang ayo kita dansa topeng." "Lah topeng lo mana?" "Ini." Farel menunjukkan topeng dengan bulu indah berwarna biru tua pada Iona. "Bukan itu. Maksud gue topeng monyet bahahahaha." Tawa Iona pecah. "Ah lo jadi makin sayang." Farel menyubit lembut pipi Iona sambil terkekeh. -Ruang dansa "Oke, kita mulai aja ya dansa nya." Ucap sang MC. "Udah berpasangan kan semuanya?" "Sudah!" Jawab peserta dansa serempak. Klek. Lampu ruangan dansa mati. Hanya ada beberapa lampu cadangan membuat ruangan sedikit termaram. Lagu romantis berputar mengiringi berjalannya dansa. Lalu saat sang MC berkata. "Lepaskan pasangan wanita kalian!" Semua para lelaki melepaskan wanita mereka agar bisa bergulir dengan yang lainnya. Dan disana, terlihat Iona sudah mendapatkan pria. Mereka lanjut berdansa. Terpaksa ia harus terpisah dari Farel walaupun ia bertanya-tanya siapakah pria yang saat ini sedang berdansa dengannya. Iona melotot saat tangan pria itu menarik pinggangnya untuk lebih dekat. Wajah mereka kini hanya berjarak sejengkal. Jika saja tidak ada penghalang dari hidung topeng yang lancip, bisa dipastikan bibir keduanya bertemu. Iona bisa merasakan napas mint dari pria itu. Ah ia jadi penasaran siapa sih pria ini? Kenapa rasanya ia ingin memeluk possesive pria ini. Termakan waktu, lagu dansa berhenti karena durasinya sudah habis. Serentak dansa pun begitu. Lampu menyala, ruangan kembali menjadi terang. "Oke buka topeng kalian!" Perintah MC. Yang lain membuka topeng mereka begitupun Iona. Dan... What the f*ck. Iona melotot begitupun pria tersebut saat mereka kembali dipertemukan. M a s C a p t a i n
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN