05

1126 Kata
M a s C a p t a i n Sudah dua hari Iona tidak kembali ke rumah. Bahkan ia tidak menyalakan ponselnya sama sekali. Iona mengambil ponsel dari dalam tas dan hanya ditaruh di meja rias milik Cia. Ia sudah memberi kabar pada Farel kalau ia mau untuk menjadi pasangan Farel ke pesta lewat ponsel milik Cia. "Apa sih ini?" Bingung Iona melihat sebuah kotak dengan hiasan pita yang cantik. "Yon, udah lo buka paketnya?" Cia yang baru saja keluar dari kamar mandi berujar. "Ini apa? Dan dari siapa?" "Ya mana gue tau. Lo buka aja siapa tau ada petunjuk." Ucap Cia. Iona langsung melepaskan pita hanya sekali tarikan. Kemudian membuka penutup kotak. Ia mengambil sebuah gaun dari sana. "Gaun?" "Mungkin dari--eh ini ada surat nya." Cia mengambil sepucuk surat yang terselip lalu membacanya. Dear Iona Putri. Ini gaun untuk lo, dipakai ya. Pasti lo sangat cantik pakai gaun ini. Your future. Farel Aryasatya "Tuh kan bener dari cowok lo." Celetuk Cia. "Heh, ngadi ngadi lo." "Yaudah sana pake. Dandan yang cantik malem ini. Btw gue juga diajak." Ucap Cia membuat Iona terkejut. "Kok lo gak kasih tau gue? Diajak sama siapa? Jadi pasangan juga?" Cerocos Iona keppo. Cia mengangguk. "Gue diajak sama...Reno." Ucap Cia riang gembira kemudian berlalu ke lemari pakaian. "Ini gaun dari dia." Cia menunjukkan gaun cantik pada Iona. "Gila. Lo kenapa baru sekarang kasih tau gue!" "Abisnya Reno bilangnya sore tadi pas mau balik." Drrrt Ponsel Cia bergetar. Gadis itu melesat mengambil ponsel. Membuka sebuah pesan. "Dari Farel. 15 menit lagi gue datang bilang ke Iona." Cia membacakan pesan yang Farel kirim. Ddrrtt Notif pesan masuk lagi. Kali ini bukan dari Farel maupun Reno melainkan dari Adam sang kakak. Aci ke tempat rahasia sekarang! Alis Cia mengernyit. Ia melirik Iona yang saat ini sedang bersiap-siap. "Yon, bentar ya gue keluar dulu." Iona mengangguk. "Iya." ___ Cklek. Cia membuka pintu kamar sang kakak. Keningnya berkerut melihat sang kakak lesu bagaikan tak ingin hidup. "Bang, lo kenapa dah?" "Ci, bener Yona mau jalan bareng cowok?" Tanya Adam lesu tak bersemangat. Cia menahan tawa. Rasanya ia ingin tertawa ngakak pada sang kakak yang gaya nya seperti ABG. Padahal sudah bangkotan. Dapet masalah percintaan aja seperti orang tak b*******h hidup. "Enggak." "Serius lo enggak?" Tanya Adam. Semangatnya kembali lagi. "Iya serius. Enggak salah lagi bhahahaha." Adam kini mleyot ditambah depresot. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kasur. "Ci....huaaa kok Yona mau jalan bareng cowok sih huaaaaaaaaa." "Bukan jalan lagi bang, tapi dansa bareng, saling pegangan tangan, suap-suapan terus--" "Stop Ciiii abang gak kuattt!" Teriak Adam sambil menutup kedua telinganya. "Kalo gini mending abang minum sianida dah." Cia mengernyit. "Hah? Apaan itu?" "Pembasmi pucuk." "Pucuk apaan sih bang?!" "Ulet Aci! Kan ada tuh iklannya pucuk pucuk pucuk.." Cia mendesah, "Oh yaudah sana minum aja." Adam mendelik. "Kok kamu gitu sih jadi adek. Seharusnya kasih ide gitu buat gagalin rencana tuh cowok yang mau ngajak Yona jalan. Bukan malah dukung abang buat minum sianida!" "Lah kan abang yang mau." Cia melirik jam digital yang nempel di dinding. "Dah ah Cia mau siap-siap." "Heh mau kemana lo?" "Mau jalan sama pacar!" Teriak Cia sebelum tubuhnya menghilang dibalik pintu yang tertutup. M a s C a p t a i n -Rumah Alfredy Setelah mobil Farel terparkir, Farel membuka seat belt dengan gerakan cepat. "Tunggu Yona!" Pekik Farel membuat Iona berhenti membuka seat belt. Iona menatap Farel bingung. "Kenapa?" "Jangan turun dulu. Pokonya jangan aja." Ucap Farel. "Lah emang--" Ucapan Iona terhenti saat Farel sudah keluar lebih dulu. Iona menatap depan dimana saat ini Farel berlari ke arah samping. Ternyata cowok itu hendak membukakan pintu untuk Iona. "Ayo silahkan turun my future." Ucap Farel sambil menyodorkan tangan kanannya layaknya Iona adalah tuan puteri. Iona terkekeh geli. Namun ia tetap menggenggam tangan Farel. "Makasih udah bantuin gue turun." Ucap Iona. "Sama-sama. Tapi ini khusus untuk seorang Iona Putri yang cantik malam ini." Ucap Farel. Iona hanya terkekeh. Mereka berjalan memasuki rumah mewah yang sudah dihias berbagai macam pernak-pernik ulang tahun. Mata Iona berbinar melihat dekorasi di sebuah aula yang luas. Indah ya walaupun bertema club sepak bola chelsea. Namun penyusunannya telihat sangat menarik. "Woy bro! Dateng juga lo!" Sapa si dalang acara semua ini. Alfredy. "Dunia runtuh ngeliat lo, Iona. Lo cantik banget." Puji Alfredy berlebihan. "Makasih." "Heh! Mata lo!" Tegur Farel. "Hehe maaf." Alfredy cengengesan. "Yaudah kalian nikmatin gih pestanya. Gue mau ke belakang dulu." "Boker mulu lo!" Ucap Farel meledek. "Anj--bukan. Gue ada urusan bentar ama bonyok." Sahut Alfredy. Ia melirik sekeliling yang rupanya mendengar penuturan laknat dari Farel. Argh. Membuatnya malu di depan umum. Iona dan Farel tertawa. "Lo mau apa? Dansa? Ke ruang dansa yuk." Ajak Farel menunjuk sebuah aula dansa. "E...bentar gue haus." Ucap Iona sambil celingukan. DUH CIA MANA SIH. "Oh yaudah. Gue tolong ambilin ya. Gue disana." Farel menunjuk sebuah ayunan. Iona mengangguk. ___ Iona merogoh saku. Tapi kenapa tidak ada? Ah bodoh. Ini kan gaun. Mana ada saku. Mata Iona terus celingukan mencari keberadaan Cia. Sayangnya ia tidak membawa ponsel. Gak tau kenapa, rasanya Iona tidak ingin kemana-mana jika tidak ada teman. Iona menghela. Ia melangkah ke tempat dimana minuman berada. Siapa tau ia bertemu dengan Cia disana. Setelah sampai, Iona terdiam sejenak untuk menikmati minuman. Sekaligus istirahat sejenak karena sedari tadi ia terus mencari-cari Cia yang batang hidungnya tidak kelihatan sama sekali. Tiba-tiba saja mata Iona melotot saat melihat seorang wanita dan pria setengah baya yang tak jauh dari keberadaannya. Mama, papa? Spontan Iona menaruh gelas ke meja. "Yaampun! Kenapa ada mereka? Aduh gawat!" Dengan tergesa-gesa, Iona berlari ke luar area menuju toilet. Matanya terus menatap belakang berharap kedua orangtuanya itu tidak melihat dirinya. BRAK. "Kyaaa-!" BRUK. Seorang pria yang tengah keluar dari toilet kini ambruk kala Iona menabrak tubuhnya. Iona yang takut pun menutup matanya, detik berikutnya ia terheran kenapa tubuhnya tidak merasakan sakit. Sejurus kemudian, Iona spontan membuka matanya saat merasakan bibirnya menyentuh--OMG!!! Mama Papa tolongggg ciuman pertama Iona untuk suami Iona nanti hilang. Iona gak suci lagi mama papa!!!! Dengan segala salting, Iona bangkit. Gugup dan gemetar menyelimutinya. Ia mengalihkan pandangannya karena malu. Semua cacian ia ucapkan untuk dirinya sendiri di dalam hati. "Kalo jalan yang bener bisa gak?!" Omel pria itu. "I-iya maaf. Saya bener sumpah demi Allah gak sengaja. Serius eh dua rius deh ah serahlah pokonya saya gak sengaja. Maapin saya pak maaf." Cerocos Iona. 1, 2, 3... Iona menoleh dan....Astaga! Iona terpaku saat melihat sosok pria itu. Dia adalah pria yang ada di wahana permainan waktu itu. Yang marah marah waktu Iona tak sengaja menyiram air panas ke seorang wanita. Namun, yang lebih parahnya yang membuat Iona membeku adalah saat ia melihat bibir pria itu terdapat lipstik miliknya. SUMPAH DEMI APAPUN IONA MALU! M a s C a p t a i n
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN